LOGIN
Bugh!
Suara benturan punggung dengan tembok terdengar nyaring. Bricia meringis kecil, rasa nyeri langsung menjalar di punggungnya. Belum sempat ia bereaksi, kedua tangan Leo sudah lebih dulu menangkup kedua dadanya. Lelaki itu meremasnya tanpa perasaan lalu mulai mendekatkan bibirnya di sepanjang leher Bricia. Kening Bricia berkerut. Ia sungguh mulai lelah dengan kejadian yang terus berulang seperti ini. Tak ada lagi kelembutan dan rasa memuja di saat ia dan Leo bercumbu. Leo terus berbuat sesuka hatinya memperlakukan tubuhnya. “Sakit, Leo,” keluhnya lirih. Ia mulai jengah dengan semua ini. Leo menghentikan gerakannya. Rahangnya mengeras, rahang itu seperti menahan amarah yang hampir meledak. “Cukup diam dan nikmati aja,” suaranya berat seperti sebuah perintah. Kemudian, ia kembali mengecup rahang kiri Bricia. Tangannya juga semakin intens meremas dada sekal milik sang kekasih. Bricia menggeleng, ia menarik wajahnya menjauh. Jelas ia menolak dengan apa yang dilakukan kekasihnya. Ini bukan hanya tentang kepuasan Leo, tapi harusnya ini juga menjadi kenikmatannya. Tapi justru ia semakin merasa hanya dieksploitasi tanpa perasaan. Kesal, Leo menurunkan kedua tangannya dari dada Bricia. Tatapannya berubah tajam, kilat marah melintas di matanya. “Kamu tahu, aku paling nggak suka kalau kesenanganku diganggu!” bentaknya. Bricia menatapnya dengan napas tak beraturan. “Tapi kamu udah keterlaluan, Le. Kamu bahkan nggak mikirin aku menikmati apa nggak!” “Sial!” Leo berbalik kasar, kakinya menendang udara di depannya. Napasnya terdengar berat dan rahangnya menegang. Ia frustrasi, bukan hanya karena penolakan, tapi juga karena Bricia membuatnya kehilangan kendali. Hasratnya sudah terasa di ujung kepalanya, tapi justru Bricia terlihat menolaknya. Sementara di belakangnya, Bricia hanya berdiri diam. Tubuhnya masih gemetar, tapi matanya menatap punggung Leo dengan rasa yang bercampur antara takut, marah, juga kecewa. Dan semua rasa itu perlahan meluruhkan perasaan yang selama ini ia banggakan. “Aku pulang!” Tanpa menunggu reaksi Leo, Bricia membuka pintu apartemen dan melangkah keluar. Tak ada lagi alasan untuk bertahan, semua ini hanya buang waktu. “Bricia! Kembali!” teriak Leo dari dalam. Suaranya menggema, tapi Bricia tak menoleh. Kali ini, langkahnya tak lagi ragu untuk pergi. Wanita itu berjalan mantap melewati lorong, begitu tiba di depan lift bukannya memencet tombol lift dan masuk, ia justru menyandarkan dahinya di dinding yang dingin di depannya. Lalu kilatan samar kebersamaan mereka selama satu tahun terakhir terbayang di kepalanya. Dulu, ia dan Leo saling mencintai dan memuja. Mereka saling menyentuh dengan penuh perasaan. Bahkan peluh yang bercucuran selalu ditutup dengan erangan kepuasan keduanya. Namun, setelah beberapa bulan terlewati semuanya berubah. Leo selalu bermain kasar, bahkan pernah melakukan penyatuan mereka dengan mencekik leher Bricia. “Hah! Ini gila,” lirihnya. “Aku nggak mungkin terus bertahan di sini. Tapi masalahnya... aku cinta sama dia.” Bodoh. Memang itu kenyataannya. Bricia mulai lelah, tapi ia juga tak kunjung beranjak pergi. Akhirnya, dengan sisa tenaga yang ia punya tangannya memencet tombol lift. Saat pintu itu terbuka, kakinya melangkah pelan membawa gundah yang mengekang hatinya. *** Setelah perjalanan panjang dari apartemen Leo, mobil Bricia memasuki halaman rumahnya. Dahinya berkerut dalam mendapati sebuah mobil asing terparkir di depan garasi. Namun, apa peduli Bricia, karena sudah dipastikan itu milik teman Papanya. Begitu kakinya melangkah ke ruang tamu, telinga Bricia langsung disambut suara tawa yang bergema. Dari arah sofa, Papanya duduk santai bersama Louisa, kekasihnya, dan seorang pria dewasa di seberang meja. Wajah pria itu asing, sepertinya baru kali ini Bricia melihatnya. “Sudah pulang kamu, Bri? Sini... Papa kenalin sama teman Papa. Ah, lebih tepatnya adik tingkat Papa,” panggil Eric sambil tersenyum lebar. Bricia mendekat perlahan, matanya langsung meneliti sosok pria matang di depannya. “Kenalkan, ini Andrew Darwis. Teman lama Papa.” Pria yang disebut masih tampak gagah. Kemeja berwarna navy yang melekat ditubuhnya bahkan semakin menambah aura mahal dan seksi. Ia berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Bricia. “Andrew,” ucapnya mantap. Tatapannya tajam, seolah menembus balik manik mata Bricia. “Bricia Averina Prayudha,” balas Bricia tak kalah tenang. Manik keduanya bertemu saling menatap tajam, tegas, seolah tak ada yang mau mengalah. Andrew tersenyum tipis. “Nama yang cantik, seperti pemiliknya.” Eric terkekeh kecil melihat tatapan keduanya yang bertaut terlalu lama. “Alihkan pandanganmu, Andrew,” godanya. “Putriku tidak gampang dibuat terpesona sama orang baru.” Andrew hanya tersenyum samar, tapi matanya masih belum lepas dari wajah Bricia. “Justru itu yang menarik,” katanya pelan, nadanya dalam, seolah sengaja dibiarkan menggantung. Bricia mengangkat alis, sudut bibirnya terangkat sedikit. Ada sesuatu dalam cara pria itu berbicara. Terlalu tenang tapi juga terlalu percaya diri. “Bri ke kamar dulu, Pa,” kata Bricia cepat, ia mencoba mengalihkan suasana. “Baiklah,” jawab Eric santai. Saat Bricia berbalik, ia masih bisa merasakan tatapan Andrew di punggungnya. Tatapan yang entah kenapa membuat bulu kuduknya meremang. Antara tidak nyaman dan anehnya, sulit dijelaskan. *** Keesokan harinya, seperti biasa, Bricia datang ke kampus untuk mengurus administrasi kelulusannya sebelum wisuda. Menjelang siang, semua sudah rampung. Ia melangkah menuju area parkir sambil mengecek pesan di ponselnya. Tapi tinggal beberapa langkah dari mobilnya, seseorang tiba-tiba menarik lengannya dengan keras. “Leo?” Bricia terperanjat, tubuhnya terhuyung ke belakang. Tanpa sempat berkata apa-apa, Leo menariknya menuju mobilnya yang terparkir di tepi jalan. “Masuk,” ucapnya dingin. “Lepas, Le! Aku nggak mau!” seru Bricia sambil berusaha melepaskan diri. Tapi genggaman tangan Leo terlalu kuat, membuatnya tak berkutik hingga akhirnya terduduk di kursi penumpang dengan wajah masam. “Ngapain sih narik-narik kayak gini?” suara Bricia tajam, ia menahan kesal dan malu karena beberapa mahasiswa mulai memperhatikan. Leo tidak menjawab. Ia hanya menatap Bricia tajam, lalu menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraannya pergi dari kampus. Beberapa menit kemudian, mobil itu memasuki area basement apartemen Leo. Bricia menghela napas berat. Begitu mobil berhenti, ia langsung menarik handle pintu. Tapi terkunci. “Buka! Aku mau pulang!” katanya keras. Leo menoleh cepat. “Kita belum selesai.” “Apa lagi? Aku udah capek, Le.” “Kamu pikir aku nggak?” balasnya cepat. Bricia menatapnya tajam. “Kalau sama-sama capek, ya udah. Sudahi aja semuanya.” Leo mendekat cepat, jaraknya tak bersisa. Tangannya lalu terangkat, mencengkeram leher Bricia membuat wanita itu terkunci di tempatnya. “Kamu selalu membuatku kehilangan akal, Bri,” desis Leo pelan tapi tajam. Bricia memejamkan matanya, lalu dengan sisa tenaganya ia mendorong dada Leo dengan keras. “Jangan dekat-dekat aku!” serunya. Leo terhuyung sedikit, tak menyangka dorongan Bricia sekuat itu. Saat ia hendak menahan, Bricia lebih cepat bergerak. Tangannya menekan tombol kunci, dan pintu sampingnya langsung terbuka. Tanpa pikir panjang, Bricia keluar dari mobil dan berlari ke arah pintu keluar basement. Napasnya terengah, tapi langkahnya tak berhenti. Hingga ia melihat sebuah mobil melintas tak jauh di depan dan tanpa ragu, Bricia menghadangnya. Sang pengemudi sontak menginjak rem, suara decit ban pun terdengar keras. Begitu mobil berhenti, Bricia langsung membuka pintu penumpang. “Tolong, saya ikut, dan cepat pergi dari sini,” katanya panik. “Bricia?” Bricia langsung membeku, ia tatap lelaki yang kini juga menatapnya dengan heran. “Om Andrew?” “Kamu kenapa?” “Plis jangan tanya apa-apa dulu, Om. Yang penting kita keluar dari sini,” pintanya cepat. Dan kali ini Andrew menurut, ia memilih melajukan mobilnya. Namun, belum sempat ia menarik gas mobilnya, mata Andrew menangkap sesuatu di leher Bricia. Luka yang masih basah dan memerah. Refleks, tangannya terangkat hendak menyentuhnya. “Ini… kenapa, Bri?”Pagi harinya, bahkan sebelum matahari muncul, kediaman Eric sudah diliputi kepanikan. Louisa muntah-muntah sejak pukul empat pagi. Suara muntahnya membuat seisi rumah terbangun. Eric adalah orang yang paling kalang kabut. Namun setiap kali ia mencoba mendekat, Louisa justru semakin mual dan tak segan memarahinya. Bau Eric, gerakan paniknya dan semuanya membuat kondisi Louisa memburuk. Itu membuat Eric frustrasi setengah mati. “Udah,” cegah Bricia sambil menahan langkah Eric yang hendak masuk ke kamar. “Papa diem di ruang tamu aja. Biar aku yang jagain Louisa.” “Tapi, Bri—nggak bisa gitu dong,” Eric membalas dengan nada tertekan. “Papa itu khawatir.” “Aku tahu, Pa. Tapi setiap Papa masuk, Louisa makin parah.” Bricia menatap ayahnya tegas. “Udah, jangan ngeyel. Duduk di ruang tamu, ya.” Eric terdiam. Bahunya turun dan tubuhnya terlihat lesu. Akhirnya ia berbalik dan melangkah ke ruang tamu. Namun setiap dua langkah, ia menoleh ke arah kamar Louisa, bibirnya maju, menyimpan rasa k
Setelah situasi kembali kondusif, Andrew dan Bricia berpindah. Mereka duduk bersebelahan, dengan Bricia masih memeluk Andrew, dengan wajahnya bersandar di dada lelaki itu. Ada rasa tenang yang akhirnya ia dapatkan. Tenang yang pelan-pelan menenangkan detak jantungnya dan membuatnya enggan beranjak. Apalagi ketika wangi bergamot yang bersih bercampur vetiver dan kayu sandal menguar lembut dari tubuh Andrew. Aroma khas lelaki dewasa yang mahal, rapi, dan menenangkan, menusuk indera penciumannya, membuat Bricia semakin larut dalam pelukan itu. Lengannya mengencang, jemarinya mencengkeram punggung Andrew seolah takut ketenangan itu pergi begitu saja. Andrew menunduk sedikit, dagunya menyentuh puncak kepala Bricia. Tangannya mengusap punggung perempuan itu perlahan dan ritmis, seperti sedang menenangkan anak kecil yang baru saja melewati mimpi buruk. “I’m here, Baby,” bisiknya rendah. “You’re safe with me.” Bricia memejamkan mata. Setelah beberapa hari yang terasa panjang , akhirny
Tak terasa, satu minggu telah berlalu. Tak ada teror susulan yang menghampiri Bricia. Semua berjalan seolah kembali ke awal, tenang dan normal. Trauma yang sempat mencengkeramnya perlahan mulai terkendali. Sesekali ia masih tersentak setiap kali notifikasi pesan masuk, tetapi tak lagi disertai gemetar yang melumpuhkannya. Hanya rasa was-was kecil dan itu pun kini mudah ia atasi. Sabtu ini, Bricia sudah meminta izin pada Eric untuk datang ke kafe Andrew. Alasannya menemani Feli, meski sebenarnya itu hanya akal-akalan dua perempuan itu. Karena tujuan jelas Bricia ingin bertemu Andrew. Selama satu minggu terakhir, mereka sama sekali belum bertemu karena kesibukan masing-masing. Terlebih Bricia yang sudah mulai bekerja dan bahkan sempat lembur beberapa hari lalu. Dengan menaiki taksi online, Bricia tiba tepat di jam makan siang. Suasana kafe tampak ramai, baik di lantai bawah maupun atas. Ia melangkah masuk dengan sedikit sungkan, hingga matanya menangkap sosok Feli. Tanpa ragu, B
Suasana restoran keluarga di dekat bengkel milik Gerry malam itu tampak ramai. Bukan restoran mewah, hanya tempat makan sederhana yang biasa dipenuhi keluarga kelas menengah yang ingin menikmati waktu bersama tanpa banyak formalitas. Di antara deretan meja yang terisi, di pojok ruangan terlihat Gerry dan Grace duduk berhadapan dengan kedua orang tua mereka, Romi dan Risa. Meja itu dipenuhi hidangan hangat, tawa kecil, dan obrolan ringan yang sesekali terputus oleh suara sendok dan piring yang beradu. Untuk sesaat, mereka tampak seperti keluarga utuh yang tengah menikmati malam tanpa beban. Setelah lulus kuliah di Bandung, Grace memang kembali ke Jakarta dan mulai tinggal bersama keluarga kecilnya, meski di akhir pekan. Tante yang sejak awal memang tidak memiliki keturunan, akhirnya mengasuh keponakan lain dari pihak suaminya, sehingga Grace pun bisa pulang tanpa rasa bersalah. Ia memandangi satu per satu orang tuanya. Tak ada marah, apalagi benci, karena mereka pernah menitipkanny
Dua hari berlalu dengan ketenangan. Rencana Bricia untuk ikut ke dokter kandungan pun terpaksa ditunda. Bukan tanpa alasan, ia harus menemui psikiater lebih dulu untuk mengontrol gejala panik yang kembali muncul beberapa hari lalu. Meski kondisinya perlahan membaik, dokter tetap menyarankan Bricia untuk fokus menenangkan mentalnya terlebih dahulu. Trauma lama yang tersentuh ulang membuat sistem pertahanannya goyah, dan itu tak bisa dianggap sepele. Namun, di tengah semua itu, peran Andrew terasa jauh lebih besar dari yang Bricia duga. Lelaki itu hampir tak pernah absen. Menelepon sekadar memastikan Bricia sudah makan, mengirim bunga ke rumah, juga makanan, dan itu selalu makanan yang Bricia suka. Andrew tak pernah memaksa dan bertanya terlalu jauh. Ia hanya hadir dengan caranya sendiri, tenang, konsisten, dan diam-diam menguatkan Bricia. Sedangkan rencana Bricia dan Feli untuk menyelidiki video serta paket misterius itu sementara harus ditunda. Kondisi Bricia belum memungkinka
“Ehem!” Suara deheman dari ambang pintu terdengar jelas. Andrew sejenak memejamkan mata. Ia tahu, ia tertangkap basah. Namun kali ini, ia tak berniat berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa. Jika harus, ia akan jujur pada Louisa. Sementara itu, Feli langsung menunduk. Matanya terpejam erat, dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah. Ia menyesal tak berjaga di depan pintu. Ia benar-benar tak menyangka Louisa kembali secepat ini. “Lanjutkan saja, Ndrew…” Louisa melangkah masuk dengan tenang. Ia menuju meja rias Bricia, mencolokkan charger, lalu menghubungkannya ke ponsel yang masih mati. Setelah itu, ia duduk di kursi kayu di depan meja rias. Tatapannya lurus. Mengarah pada Andrew yang masih menggenggam tangan Bricia. Andrew menarik napas dalam-dalam. Perlahan, ia mencium punggung tangan Bricia sekali lagi, lalu meletakkannya kembali di tempat semula dengan hati-hati. Setelah itu, ia memiringkan tubuhnya dan duduk menghadap Louisa. Udara di kamar itu mendadak terasa jauh lebih be







