LOGIN“Enaaak kan sayang...?” bisik Radin di tengah dengusana nafas keduanya. “Ehemmm...iyah...tapi 9 bulan yang akan datang akan lahir seorang anak sayang,” balas Putri Alika tertawa kecil sambil mendesah dan kembali 3 semprotan menyembur ke dalam rahimnya. Lanjut baca Novel asyik: SATU MILIAR DEMI KESENANGAN MAKSIMAL
“Jangan keseringan ke sini yaah...kasian akunya?” bisik Siti, saat melepas Rasman yang pamit di malam yang dingin ini.Rasman hanya senyum dan mengecup bibir merah menyala ini. “Punya kamu enak banget, aku seolah sedang belah duren ajeeeh,” canda Rasman, andai tidak di dorong Siti, pasti Rasman kembali akan menciumi bibir merah ini, tapi dengan lembut Siti minta Rasman segera pulang, karena ini sudah hampir pukul 9 malam.“Bisaaaa ajah kamu, bikin aku jadi kepingin lagi..tapi...hmm...sudahlah, ini sudah malam, kamu nggak usah nginap yaah, nggak dengan warga kampung..!” kata Siti lagi.Setelah Rasman berbalik dan meninggalkan rumah kayu sederhana ini, tanpa pemuda ini sadari, Siti Aleana berikut rumah itu... lenyap.Seolah-olah semuanya baru saja tertutup oleh halimun yang teramat gelap dan dingin, menyisakan kesunyian malam di lereng pegunungan Meratus yang mencekam."Ahh, ini baru pukul sembilan malam. Aku mau menikmati kopi ah di warung itu. Kopi bikinan Siti tadi aslinya hambar, ng
Aroma yang menguar dari kulit Siti begitu memabukkan. Wangi parfum mahal yang familiar kini bercampur sempurna dengan harum mistis alami—bau kembang malam yang basah dan manis, seolah mekar di bawah cahaya bulan.Aroma itu menempel di leher, di lekuk tulang selangka, bahkan di napasnya sendiri, membuat Rasman semakin lapar.Ia mencondongkan wajahnya perlahan.Bibirnya menyentuh bibir merah Siti dengan tekanan pertama yang lembut, lalu mengunci dengan intensitas yang dalam.Lidahnya menyusup masuk, menjelajahi rongga mulutnya dengan gerakan lambat namun menuntut.Siti memejamkan mata, tubuhnya melemas, jari-jarinya tanpa sadar mencengkeram bahu Rasman.Rasman bertahan di posisi itu, melumat bibir Siti dengan ritme yang semakin dalam dan basah.Ciuman mereka berubah dari lembut menjadi lapar. Lidah saling berkelindan, gigi sesekali menggigit pelan bibir bawah, tarikan napas keduanya tercampur menjadi satu.“Arghh...sudah lama...lanjutkan sayang, berikan aku kenikmatan yang sangat lama tid
Dalam sekejap, tubuh atletis sang CEO baru kini telah terekspos sepenuhnya di atas ranjang berkelambu, dan tersisa hanya celana dalam saja yang masih membungkus tubuh bagian bawahnya.Rasman kini benar-benar telah terjebak sepenuhnya tanpa daya di dalam sarang sang mawar liar lereng Meratus ini.Wajah jelita Siti kini pelan-pelan berubah secara mengerikan di dalam remang kamar berkelambu.Mata hitam indahnya yang semula memikat dan penuh pesona mendadak menghilang, berganti tanpa manik yang berwarna keruh layaknya sepasang mata bangkai yang mati dan dingin.Hawa ruangan langsung turun drastis, diselimuti aroma mistis yang mencekam.Kedua tangannya pun ikut berubah mengerikan. Kuku-kukunya yang semula pendek dan bersih mendadak memanjang secara tidak wajar hingga berwarna hitam legam bak arang.Ketegangan semakin memuncak saat dari mulutnya keluar dua taring yang semakin lama semakin panjang.Setelah mencapai ukuran 10 centimeteran, barulah gigi taring yang tajam itu berhenti memanjang.
Dengan beragam pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya, Rasman ikutin ke mana Siti membawanya. Ternyata mereka melangkah masuk lebih dalam menuju ke ruangan tengah rumah kayu tua tersebut.Suasana di ruangan ini terasa lebih remang dan sunyi. Kini mereka duduk berhadapan di sebuah meja makan sederhana yang ada di sini.Hanya ada sebatang lilin kecil yang bergoyang ditiup angin malam, menciptakan bayang-bayang panjang di dinding...tapu anehnya sejak tadi bulu kuduk Rasman berdiri terus, dia sampai mengusap belakang kepalanya.“Bang Rasman, sebenarnya apa sih yang menarik dari diriku ini?” kata Siti Aleana sambil menatap lekat-lekat manik mata pemuda tampan ini, seolah mencoba mencari kejujuran di balik tatapan sang CEO kota besar, yang nyasar hingga ke pedalaman Loksado ini.“K-kamu itu sangat cantik, Siti. Badan kamu bagus... Setiap lelaki bujang di luaran sana pasti banyak yang akan suka dan terpikat denganmu,” sahut Rasman dengan suara yang mendadak gagap, meraba kembali detak jan
Hari berikutnya...Kabut tipis beraroma tanah basah mulai turun menyelimuti pematang sawah saat langit meredup menjadi jingga keabu-abuan.Rasman sudah berada di tempat ini lagi, namun seiring berjalannya waktu, seuntai rasa aneh mendadak menyusup ke dadanya.Mengapa hari ini si cantik Siti Aleana sama sekali tidak terlihat? Hawa dingin yang tidak biasa mulai menusuk tengkuknya, seolah-olah seluruh alam di sekitar tempat itu mendadak hening tanpa suara jangkrik sedikit pun.Matahari pun terlihat mulai tenggelam di ufuk barat, suasana mistis di desa lereng Gunung Meratus ini begitu terasa, apalagi suara binatang malam mulai nyaring terdengar.'Apakah dia tidak pergi ke sawah hari ini?' batin Rasman.Rasa penasaran klan Dewantara yang telah bercampur hawa mistis dari ilmu penghalat di tubuhnya justru menuntun langkah kakinya berayun perlahan membelah keremangan, menuju ke arah rumah tua milik Siti.Rumah kayu tua itu terlihat sangat sepi dari kejauhan. Lampu minyak di teras luar juga tid
Akhirnya rangkaian ritual melelahkan ini selesai dengan sempurna. Dan kini, keduanya sudah duduk santai di ruang dalam, menikmati cangkir kopi panas yang mengepul wangi yang baru saja disediakan oleh istri Kakek Supardi.Rasa hangat kafein itu perlahan mengembalikan kesadaran taktis Rasman.Kakek Supardi menyesap kopinya sedikit, lalu melemparkan tatapan mata tuanya yang tajam namun bersinar jenaka ke arah pemuda di depannya.“Kulihat selama beberapa hari ini kamu suka banget jalan-jalan ke arah area persawahan yang berada di ujunhg desa ini tiap sore menjelang senja. Apakah ada sesuatu hal yang sangat menarik bagimu di sana, Nak Rasman?” pancing Kakek Supardi sambil tersenyum penuh arti.Rasman yang sedang memegang cangkir sempat tersentak kecil, namun buru-buru menyembunyikan keterkejutannya di balik wajah polosnya, dia sedut rokoknya untuk redakan rasa gugup ini.“Ahh... cuma jalan-jalan santai saja, Kek. Sekalian untuk melatih dan melemaskan otot-otot tubuhku yang sempat kaku pasca







