เข้าสู่ระบบLanjutt yaaa...
Salman, sebagaimana ayahnya Satria juga sangat paham, menyadari ada rona-rona asmara dewasa yang tersirat di antara Alice dan Rasman.“Hmm... Rasanya tidak akan semudah itu, Pa. Alice sampai saat ini posisinya masih terikat dinas ketat dengan MI6 Inggris, sedangkan Rasman sendiri berada di bawah bendera FBI Amerika,” bisik Salman lirih ke telinga ayahnya, yang langsung diiyakan oleh Jenderal Satria.“Biarkan saja semuanya mengalir apa adanya, Salman. Keduanya kan sudah sama-sama dewasa. Kelak kalau memang mereka berdua berjodoh, pasti Tuhan akan memberikan jalannya,” sahut Satria dengan bijak sembari tersenyum tenang.Acara makan pagi mewah itu pun berlanjut dengan agenda kumpul-kumpul santai keluarga besar hingga siang hari di hari Minggu yang cerah ini.Setelah dirasa puas dan sempat memberikan undangan khusus kepada Alice agar kelak mau berkunjung ke rumah kediaman pribadi mereka, Letjen Salman bersama seluruh istri dan adik-adik Rasman akhirnya berpamitan pulang.Irman Dewantara s
“Sudahlah... masa kita mau macam-macam di rumah kekak dan nenekmu. Ini sudah larut malam. Selamat beristirahat ya,” bisik Alice sembari tangan lentiknya bergerak mendorong pelan dada bidang nan tubuh kokoh milik Rasman agar menjauh.Sambil melempar senyuman manis misteriusnya, Alice lalu melangkah pergi menuju ke dalam kamarnya sendiri dan... Langsung bobok cantik untuk memulihkan staminanya.Rasman hanya bisa menyunggingkan senyum kecilnya, memandangi daun pintu kamar si cantik blasteran Inggris itu yang perlahan tertutup rapat.Rumah besar milik kakeknya ini memang saking luas dan mewahnya bener-bener sudah mirip dengan hotel bintang lima, sehingga privasi setiap orang di dalamnya sangat terjamin aman.Om-nya Manthis memang tidak di bolehkan pindah rumah. Sehingga sejak menikah dengan Shanon hingga kini, tetap tinggal di sini. Bedanya, Shanon tidak lagi kenakan cadar.“Hmm... Jinak-jinak merpati juga ternyata si agen MI6 ini...?” batin Rasman terkekeh nakal di dalam hati, teringat
“Benar seperti apa yang kamu bilang tadi, Rasman. Diam-diam memang jelas ada orang dalam yang sengaja berkhianat di internal FBI, memanfaatkan momentum kemenangan Mike Oprek sebagai Presiden Amerika yang baru. Logikanya, tak akan mungkin lembaga keamanan sekaliber Amerika Serikat bisa sampai kecolongan meloloskan uang tunai fisik yang jumlahnya tidak sedikit ini dari dalam brankas Bank of America,” cetus Letkol Manthis dengan nada bariton yang dingin sembari kembali menghela napas panjangnya.“Jadi ini semua sudah bukan sekadar dugaan lagi, Om. Masalahnya, entah siapa dalang utama pelakunya,” sela Rasman dengan wajah mengencang serius sambil ikut menghela napas panjang menahan geram.Manthis terdiam sebentar mendengar ucapan keponakannya. Dia menatap lekat ke arah wajah ketiga orang anak muda di hadapannya ini, lalu menyunggingkan sebuah senyuman kecil penuh arti.“Siapa nama atasan langsungmu di FBI yang memegang komando sekarang, Rasman?” pancing Manthis menyelidik. Alice dan Raj kon
Namun anehnya, sampai akhirnya roda-roda mobil SUV bongsor itu berhenti tegak lurus di depan halaman rumah yang sudah bak istana saking besar dan mewahnya tersebut, mobil misterius yang membuntuti mereka tadi sama sekali tidak melancarkan aksi penyerangan apa pun.“Kurasa mereka mikir-mikir seribu kali kale, Ras? Mereka pasti tahu kalau rumah besar kakekmu ini punya sistem proteksi militer yang tidak sembarangan,” bisik Alice menyunggingkan senyum kecilnya yang teramat menawan.Dan kini, mereka semua pun melangkah turun dari kabin mobil mewah ini.Di area teras depan yang luas, ternyata sudah berdiri tegap dua orang sosok pria perkasa yang sejak tadi bersiap menyambut kedatangan mereka, siapa lagi kalau bukan sang singa tua Jenderal Satria dan sang Om, Manthis Dewantara.“Hmm... Tubuhmu sekarang terlihat makin tinggi, kokoh, dan berotot, Rasman! Eh... Tapi tunggu dulu, siapa wanita blasteran cantik di sebelahmu ini? Pacar baru kamu di luar negeri kah?” tanya Jenderal Satria sembari sep
Dengan menggunakan private jet sewaan yang kali ini tentu saja bukan Alice lagi yang menjadi pramugari seksinya, mereka bertiga melesat terbang tinggi membelah awan, otewe menuju ke kota Jakarta, penerbangan ini langsung tanpa transit!Rasman sendiri tentu saja merasa bak pulang kampung halaman lagi setelah beberapa tahun lamanya tak pernah menginjakkan kaki di Jakarta.Maklum, selama ini dia terlampau sibuk dengan tugas-tugas beratnya sebagai seorang agen lapangan FBI di Amerika Serikat, sampai-sampai urusan kuliahnya di sana jadi ikut molor kelarnya akibat taruhan nyawa di lapangan.Raj dan Alice tampak menjadi orang yang paling antusias kali ini. Sebab, keduanya mengaku sama sekali belum pernah berkunjung ke Jakarta sepanjang hidup mereka, sehingga di sepanjang penerbangan mewah ini mereka sering terlihat tertawa bersama sambil bercanda ria untuk mengusir rasa jenuh.“Jangan kebanyakan tertawa dulu. Siapa tahu setibanya kita di Jakarta nanti, musuh-musuh besar kita justru posisinya
Suasana di dalam bangunan tua itu seketika terasa semakin mistis dan mencekam. Embusan angin malam pelabuhan bertiup melewati celah jendela, membawa serta gema rintihan wanita yang tampaknya sedang berada dalam kondisi tersekap menahan rasa sakit.Rasman menurunkan moncong senjatanya, menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan detak jantungnya.Di balik kacamata cokelatnya, otaknya dipaksa berpikir keras secepat kilat. Membiarkan Si Mata Satu lolos, berarti kehilangan jejak emas menuju kapal kargo bermuatan 45 miliar dolar milik Jack Bone.Namun, mengabaikan suara jeritan wanita di dalam rumah yang baru saja ia bantai ketiga pengawalnya ini juga bertentangan dengan prinsip kejantanannya sebagai yang tidak pernah tega membiarkan wanita menderita.Rasman akhirnya memutuskan untuk lebih memilih menolong orang yang berteriak minta tolong tadi.Dia pun segera membatalkan bidikan senjatanya, berbalik arah dengan gerakan tangkas, dan melangkah masuk kembali ke dalam ruangan pengap bangunan t







