เข้าสู่ระบบLanjutt yaaa...
“Madam Angel Russo itu bukan sembarang musuh. Di permukaan, dia dikenal sebagai tangan kanan kepercayaan dari Presiden Amerika Serikat saat ini, Mike Oprek. Hebatnya lagi, wanita itu sekarang memegang jabatan yang sangat krusial sebagai Direktur Utama FBI.Di balik topeng hukum dan pemerintahan dunia luar itu... dia adalah bos besar tertinggi yang mengendalikan seluruh jaringan mafia internasional berdarah dingin bernama The Viper!”Rasman kemudian mulai menjelaskan secara mendetail bagaimana guratan kekejaman kelompok jahat tersebut, mulai dari jaringan tentara bayaran terlatih yang membajak kapal milik Johanes dan Patrick.Perdagangan aset ilegal berskala internasional, hingga motif rahasia mereka yang kini mulai mengirimkan utusan khusus ke pedalaman Kalimantan demi memburu nyawa keturunan klan Dewantara.“Dan jangan lupa, perbuatan kita yang membantai habis kelompok di The Viper di kapal yang mereka bajak, itu sama dengan membuka front dengan mereka,” cetus Rasman lag.Irman mende
Bibi Arumi menarik napas panjang, menikmati hidangan makan malam di rumah besar Muara Wis yang terasa sangat nikmat.Hatinya kini benar-benar merasa plong dan tenang setelah lepas dari cengkeraman teror. Sembari menyuap makanannya, wanita setengah tua itu mulai membuka lembaran kisah kelam masa lalu mantan suaminya.“Semenjak keluar dari penjara dua tahun lalu, setelah mendekam di balik jeruji besi selama dua belas tahun lamanya, kelakuan si Gobang itu ternyata langsung kumat lagi sebagai penjahat kambuhan,” kata Bibi Arumi sambil mengembuskan napas berat. “Dulu, ayah kalianlah, Jenderal Salman, yang menjebloskannya ke penjara. Tapi bukannya bertobat dan insaf, dendamnya setelah bebas justru malah makin menjadi-jadi dan gelap mata.”“Maafkan aku ya, Bik... tadi di gudang aku sempat sembrono dan menuduh Bibi yang macam-macam,” sela Irman dengan wajah yang memerah karena merasa malu hati.Remaja bangor itu merasa bersalah karena sempat menaruh curiga berlebih pada adik tiri dari almarhum
Bibi Arumi semakin tergugu di lantai, wajahnya pucat laksana mayat karena seluruh kedok muslihatnya telah telanjang bulat di depan dua bersaudara Dewantara.“I-iya Rasman... Irman benar,” ratap Arumi pasrah, air matanya membanjiri pipi. “Aku terpaksa berbohong karena nyawaku diancam oleh Gobang, mantan suamiku ini! Dia tahu kalau kak Salsa dulu pernah punya hubungan dengan Jenderal Salman.""Dia memanfaatkan fakta itu dan memaksaku mengaku sebagai ibu kandung Irman agar rencana penculikan ini berjalan mulus... Aku dijepit, Rasman...Irman! Kalau aku tidak menurut, dia akan membunuhku!”Irman kaget...dia lalu menghela nafas, rasa sesalnya kontan keluar, karena dia keburu nafsu tadi. Rasman...seperti halnya gaya ayahnya, juga Om Manthis Dewantara, tetap tenang, dia grasa-grusu macam si Irman ini.Rasman mengalihkan pandangan matanya yang setajam silet ke arah Gobang yang sedang meringis memegangi bahunya yang berdarah-darah.Langkah kaki Rasman yang berat melangkah mendekat, lalu sepatu b
Siasat Irman untuk mengulik emosi lawan terbukti sukses besar, ia tidak hanya berhasil mengulur waktu berharga, namun juga berhasil membongkar jaring kebohongan Gobang yang ternyata menyembunyikan identitas Dayang selama ini.Di luar dinding gudang, suara deru halus mesin mobil SUV Rasman yang melaju senyap kini telah berhenti tepat di area vegetasi rawa, bersiap menyelamatkan sang adik dari penyekapan ini....!Irman tertawa lagi, sebuah tawa lepas yang sengaja ia rekayasa agar wajahnya yang glowing tidak memperlihatkan keterkejutan yang nyata setelah menyadari bahwa Dayang sebenarnya adalah anak kandung dari si Gobang ini.“Tapi, anak kamu emang the best, Om Gobang. Mungkin nanti kalau aku sudah keluar dari sini, dia akan kujadikan selir pribadiku selamanya,” sahut Irman cuek dengan gaya menyebalkan yang luar biasa, sehingga Gobang makin emosi jadinya.Anak kandungnya di olok-olok begicuuuuuu....Plakkk...!Kepala Irman kontan kena geplak tangan tua Gobang yang marahnya sudah tidak ke
“Aku kebal terhadap senjata tajam berkat ramuan Kakek Ukai, tapi kalau dadaku ditembus peluru rakitan itu dari jarak dekat, tamat riwayatku di usia ke-17 tahunan ini,” pikir Irman, menimbang risiko dengan sangat matang.Kematangan berpikir yang langka untuk remaja seusianya, sebuah bukti bahwa darah dingin klan Dewantara mulai mengalir kuat di dalam dirinya.Irman kemudian mengalihkan pandangannya pada Bibi Arumi yang berdiri agak di belakang, wajah wanita itu tampak cemas dan tidak tenang setelah mendengar ancaman mutilasi dari Gobang tadi.“Wanita ini... dia adik tiri Bu Salsa. Dia tahu siapa aku, tapi dia tega menjebakku demi uang,” batin Irman, rasa kecewa dan amarah bercampur aduk.Namun, insting cerdiknya melihat sebuah celah. Bibi Arumi adalah titik lemah dari komplotan ini. Wanita itu tidak sekejam Gobang, dia hanya serakah dan dimanfaatkan.Irman sengaja mendongak, menatap Bibi Arumi dengan tatapan mata yang dibuat layu, sayu, dan penuh kepasrahan, memancing rasa bersalah di d
Mendengar perdebatan sengit di depannya, otak cerdas milik Irman yang biasanya bengal kini mulai bekerja taktis.Di balik rasa perih di kepalanya, ia kini sudah bisa merangkai seluruh potongan teka-teki dari kisah kelam ini dengan sangat gamblang di dalam benaknya.“Oalah... jadi dugaanku dan Abang Rasman benar seratus persen! Wanita tua yang mengaku sebagai ibuku ini memang sengaja diumpankan oleh gerombolan bajingan ini ke rumah Kakek Arman. Semua itu hanya taktik kotor agar mereka bisa menjebak dan menculik diriku, lalu ujung-ujungnya... pasti mau memeras dan meminta uang tebusan gila-gilaan!” batin Irman menggeram murka di dalam hati, bersiap memutar otaknya untuk bertahan hidup sampai sang abang datang melancarkan serbuan balasan.“Ingat pelajaran saat terjebak, tetap tenang dan jangan pernah perlihatkan rasa takut di depan musuh!”Samar-samar nasihat berharga dari sang kakek, Satria Dewantara, mendadak menyentak lubuk hati Irman.Remaja yang semula sempat dirayapi rasa gugup itu







