登入Jet pribadi milik Maverick Corp mendarat di Terminal Changi dengan keheningan yang mengancam.Dante melangkah turun dari tangga pesawat. Di belakangnya, Silas membawa koper berisi peralatan peretas tingkat militer, sementara tim Alpha sudah menyebar di lapangan, menyamar sebagai turis."Di mana Liam?" tanya Dante saat mereka memasuki mobil yang sudah menunggu."Dia berada di The Sapphire Vault, kasino bawah tanah miliknya di bawah Marina South," jawab Silas, jemarinya menari di atas tablet. "Sistem keamanannya menggunakan pengenalan pola nadi. Sangat sulit ditembus secara remote.""Aku ingin menatap matanya saat aku menghancurkan dunianya, Silas. Temukan dia."Sementara itu, di sebuah bunker mewah berlapis emas di bawah kasino, Liam Henderson sedang menuangkan sampanye. Ia tampak puas. Di layar monitornya, ia melihat laporan tentang kerugian finansial yang dialami Dante, meskipun ia tahu itu hanya sementara."Kau terlihat sangat bangga pada dirimu sendiri, Liam," ucap wanita dengan mi
Dante masuk dengan langkah yang sangat tenang. Ia telah melepaskan kemejanya, menyisakan kaus dalam hitam yang memamerkan otot-otot lengannya yang tegang. "Kau tahu, Ghost…" Dante memulai, suaranya terdengar sangat tenang. "Manusia normal memiliki sekitar empat puluh lima saraf yang tersebar di seluruh tubuhnya. Itu adalah jalinan yang sangat panjang untuk disiksa satu per satu."Ghost mencoba mendongak, matanya yang bengkak menatap Dante dengan sisa-sisa keberaniannya. "Kau... tidak akan mendapatkan apa pun dariku. Aku sudah mati saat aku mengambil misi ini."Dante mengambil sebuah botol kecil berisi cairan hijau neon. "Kematian adalah hadiah yang harus kau beli dariku, dan harganya sangat mahal… Kau tau? Ini adalah Neuro-Enhancer. Cairan ini akan meningkatkan sensitivitas ujung sarafmu hingga sepuluh kali lipat. Satu sentuhan jari saja akan terasa seperti tusukan pedang yang sangat panas."Dante menyuntikkan cairan itu langsung ke pembuluh darah di leher Ghost. Pria itu tersedak,
Aroma antiseptik menyengat di lorong VIP rumah sakit ternama di London. Dante duduk di depan pintu ruang operasi, masih mengenakan kemeja putih yang kini telah mengering dengan noda darah.Ia menolak untuk berganti pakaian. Ia menolak untuk makan. Ia hanya duduk diam, matanya menatap kosong ke lantai. Marcus berdiri beberapa meter darinya, tampak seperti patung yang berjaga, sementara Silas terus memantau tabletnya di sudut lain, mencoba memberikan ruang bagi sang penguasa London yang sedang hancur itu.Tak berselang lama, pintu ruang operasi itu terbuka. Dr. Arvidsson keluar dengan wajah lelah, melepaskan masker bedahnya. "Bagaimana dia?" Tanya Dante.Arvidsson menghela nafas panjang. "Secara fisik, kami sudah menghentikan pendarahannya. Luka di pipinya sudah dijahit dengan teknik bedah plastik terbaik, meskipun mungkin akan menyisakan bekas luka tipis. Tapi, Daniel..."“Tapi apa?” Tanya Dante tak sabaran."Janin itu... baru berusia enam minggu. Tendangan di perutnya menyebabkan
Kegelapan yang diciptakan Silas di area dermaga benar-benar membuat dermaga itu tampak seperti tak berpenghuni. Dante mendarat di atap Gudang. Di belakangnya, Marcus dan tiga anggota tim Alpha bergerak dengan lincah."Tuan, sensor gerak di setiap sudut sudah dilumpuhkan. Ada enam penjaga di lantai atas dan sepuluh di area utama," ucap Marcus.Dante mengangguk, memberikan isyarat untuk membagi tim. Ia berjalan ke arah lubang ventilasi. Tangannya mencengkram jeruji besi, dan dengan satu sentakan, ia mencabutnya hingga baut-bautnya terlempar berserakan."Tuan, bahu Anda—" Marcus memperingatkan."Diamlah," desis Dante. Rasa sakit di bahunya tidak ada artinya dibandingkan bayangan darah di pipi Lexy.Dante meluncur turun menggunakan kabel ke dalam kegelapan gudang. Di bawah, dua penjaga sedang berdiri di dekat tumpukan peti kayu, memegang senter yang sinarnya menari-nari di dinding."Siapa di sana?!" teriak salah satu penjaga.Dante mendarat tepat di antara mereka. Sebelum mereka sempat
Dante masuk ke ruangan bawah tanah itu tanpa suara. Di tangannya, ia menjinjing kotak hitam berlabel Black Death."Kau membuang waktu, Dante. Sudah kubilang aku tidak tau di mana mereka membawa pelacurmu itu."Dante tidak menjawab. Ia meletakkan kotak itu di atas meja, lalu membukanya perlahan. Di dalamnya, berjajar rapi instrumen bedah, penjepit saraf, dan beberapa botol cairan kimia."Kau tahu, Viktor…" suara Dante terdengar sangat tenang. "Dulu, aku sangat benci dengan apa yang dilakukan Thomas Thorne pada tubuhku. Dia memodifikasi sarafku agar aku tidak bisa merasakan sakit yang normal."Dante mengambil sebuah penjepit, lalu memutarnya perlahan."Tapi sekarang, aku menyadari kegunaan riset itu. Bukan untuk diriku, tapi untuk orang-orang sepertimu. Aku tahu persis di mana letak saraf di tanganmu yang mengirimkan sinyal rasa sakit paling murni ke otak tanpa membuatmu pingsan.""Kau... kau gila," desis Viktor, matanya mulai membelalak ketakutan melihat ketenangan Dante.Dante maju s
Ting!Ponsel Dante kembali bergetar. Menampilkan pesan kedua dari seseorang itu."Buka file-nya, Silas," perintah Dante."Tuan... mungkin sebaiknya—""KUBILANG BUKA FILENYA!" raung Dante.Tak lama kemudian, layar itu menampilkan sebuah rekaman video berdurasi sepuluh detik. Di sana, tampak Lexy yang terikat di sebuah kursi. Wajahnya yang biasanya memancarkan kehangatan kini pucat pasi. Rambutnya ditarik ke belakang oleh tangan kasar yang mengenakan sarung tangan.Dan tiba-tiba, sebuah pisau yang berkilau muncul di depan kamera. Ujung pisau itu ditempelkan tepat ke pipi Lexy."Lihatlah kecantikan yang kau puja ini, Maverick. Setiap inci kulit ini akan menjadi saksi bisu atas kesombonganmu."Sreett!Pisau itu menarik garis lurus dari bawah mata hingga ke rahang Lexy. Darah segar seketika merembes keluar, mengalir jatuh ke gaunnya yang sudah lebih dulu ternoda darah. Lexy menjerit tertahan, tubuhnya mengejang, namun mulutnya yang disumpal kain hanya bisa mengeluarkan suara erangan yang
"Aku dengar ada keributan di kamarmu tadi, Dante," ucap Victoria tanpa menoleh, matanya terpaku pada daftar tamu di layar tablet."Bukan urusanmu, Bu," jawab Dante datar.Victoria meletakkan cerutunya di asbak kristal dan mendongak, menatap Dante dengan tajam."Apa pun yang melibatkan Alexandra ada
Lantai marmer penthouse itu terasa dingin saat Lexy digiring menuju kamar rias. Ruangan itu terlihat lebih mirip butik kelas atas di Milan daripada sebuah kamar. Tiga orang berpakaian modis dan stylist sudah menunggu dengan kuas rias dan deretan gaun yang berkilau di bawah lampu kristal."Namanya
Limosin hitam itu meluncur membelah jalanan kota London yang basah. Di dalamnya, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecahkan oleh suara napas Lexy yang masih memburu. Dante duduk di hadapannya, sibuk dengan tablet di tangan, seolah-olah wanita yang baru saja ia culik itu hanyalah kursi kosong
"Aku tidak suka mengulang ucapanku, David," gumam Dante sambil membenarkan letak jam tangan Rolex di pergelangan tangannya.Di bawah pendar lampu kristal yang redup, pria itu berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. Suaranya tetap rendah, hampir seperti bisikan—jenis suara yang sanggup membuat ny







