تسجيل الدخولLimosin hitam itu meluncur membelah jalanan kota London yang basah. Di dalamnya, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecahkan oleh suara napas Lexy yang masih memburu.
Dante duduk di hadapannya, sibuk dengan tablet di tangan, seolah-olah wanita yang baru saja ia culik itu hanyalah kursi kosong.
"Kau tidak bisa melakukan ini kepadaku, Dante." Ucap Lexy memecah kesunyian. "Ini penculikan. Aku bisa melaporkanmu ke polisi!"
Dante tidak mengangkat wajahnya. Jari-jarinya tetap bergerak lincah di atas layar iPadnya.
“Polisi?” Dante tertawa mengejek.
"Coba saja. Ponselmu ada di saku jasku, dan sopir ini digaji mahal untuk tidak mendengar apapun kecuali perintahku."
"Dasar brengsek! Kau pikir uangmu bisa membeli segalanya?" Lexy semakin emosi dibuatnya.
Dante akhirnya mendongak. Matanya yang dingin menatap Lexy datar.
"Uangku tidak membeli segalanya, Lexy. Uangku membeli waktu dan hasil. Dan malam ini, aku butuh keduanya darimu."
Beberapa menit kemudian, limosin itu berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit—Mayfair— dengan pengamanan super ketat. Lexy digiring masuk ke dalam lift pribadi yang meluncur cepat menuju penthouse di lantai teratas. Begitu pintu lift terbuka, Lexy disambut oleh kemewahan yang terasa mencekik. Marmer putih, kaca setinggi langit, dan pemandangan kota London yang berkilau di bawah sana.
Dante melempar tabletnya ke atas meja kaca dan menuangkan wiski ke dalam gelas kristal.
"Duduklah."
"Aku lebih suka berdiri. Supaya lebih mudah lari saat kau mulai melakukan hal gila kepadaku."
Dante menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak asing di wajah kakunya.
"Lari ke mana? Kau butuh akses biometrik untuk keluar dari sini. Sekarang, bukalah dokumen itu."
Tepat di atas meja, terlihat sebuah map kulit hitam yang menunggu untuk dibaca. Lexy membukanya dengan tangan gemetar. Matanya membelalak ketika membaca baris pertama dalam dokumen itu.
"PERNIKAHAN KONTRAK?! DUA TAHUN?! APA-APAAN INI?! KAU BILANG SEBELUMNYA HANYALAH TUNANGAN!”
Lexy menatap Dante dengan tidak percaya.
"Kau benar-benar gila! Aku bahkan tidak mengenalmu!"
"Kau mengenalku dari berita. Itu sudah cukup bagimu," sahut Dante sambil menyesap wiskinya.
"Perusahaan keluarga Maverick sedang dalam pengawasan dewan komisaris, Lexy. Mereka ingin aku terlihat stabil. Seorang pria yang berkeluarga lebih dipercaya daripada pria yang sering digosipkan dengan model atau para jalag di luaran sana."
"Dan kau memilihku? Seorang fotografer yang baru saja kau ancam penjarakan?"
"Karena kau adalah satu-satunya orang yang memiliki bukti yang bisa menghancurkanku. Dengan menjadikanmu istriku, secara hukum kau tidak akan bisa bersaksi melawanku. Kauu adalah aset sekaligus ancaman yang harus kujinakkan dalam satu paket."
Lexy tertawa hambar.
"Menjinakkan? Kau pikir aku hewan peliharaan?"
"Kau adalah wanita yang butuh uang, Lexy. Aku sudah memeriksa latar belakangmu. Adikmu butuh biaya operasi transplantasi jantung, bukan? Dan apartemenmu akan disita minggu depan."
Lexy terdiam. Wajahnya memucat.
"Kauu... kau memata-matai hidupku?"
"Aku melakukan riset pasar sebelum berinvestasi," Dante mendekat, meletakkan gelasnya, lalu menumpukan kedua tangan di kursi tempat Lexy berdiri, memojokkannya.
"Seratus juta dolar. Itu bayaranmu setelah dua tahun. Semua hutangmu lunas, adikmu mendapat perawatan terbaik di dunia, dan kau bisa membuka galeri fotomu sendiri di Paris jika mau." Ucap Dante dengan entengnya tanpa memikirkan jumlah fantastis itu.
"Tidak! Aku tidak menjual diriku! Kebebasanku tidak dijual kepada pebisnis licik sepertimu."
"Benarkah? Coba tanya pada dirimu sendiri. Apa gunanya kebebasan kalau adikmu mati karena kamu terlalu idealis?"
Lexy mengepalkan tangannya. Ia tidak memungkiri jika adiknya memang membutuhkan biaya pengobatan.
"Apa syaratnya? Selain pura-pura mencintaimu di depan kamera?"
Dante menarik diri, memberikan Lexy ruang untuk bernapas, walau hanya sedikit.
"Aturannya sederhana. Pertama, tidak ada hubungan fisik kecuali jika diperlukan untuk akting di depan umum. Kedua, kau harus tinggal di sini, di bawah pengawasanku dua puluh empat jam. Ketiga, tidak boleh ada rahasia di antara kita. Jika kau bertemu mantanmu atau siapa pun, aku harus tahu."
"Dan bagaimana kalau aku menolak?"
Dante berjalan menuju jendela besar, membelakangi Lexy.
"Maka besok pagi, foto-fotomu di lorong Astoria akan diubah menjadi bukti bahwa kau mencoba memerasku. Karirmu akan tamat, namamu tercoreng, dan adikmu... yah, kau tahu sendiri jawabannya."
"Kamu benar-benar iblis!" Desis Lexy.
"Aku seorang pengusaha. Aku memberikan penawaran terbaik untuk masalah yang kau buat sendiri," Dante berbalik, menyodorkan sebuah pena emas padanya.
"Tanda tanganilah, atau kau akan meghadapi konsekuensinya."
Lexy menatap pena itu, lalu menatap pria di depannya.
Dante Maverick bukan hanya seorang billionaire, dia benar-benar badai yang tidak bisa dihindari.
Dengan sisa harga diri yang tersisa, Lexy menyambar pena itu.
"Jangan harap aku akan bersikap manis padamu saat semua ini dimulai, Dante."
"Aku tidak butuh kau manis, Lexy. Aku hanya butuh kau patuh padaku."
Sret. Sret.
Tanda tangan itu terukir di atas kertas. Lexy merasa dirinya seperti baru saja menandatangani surat penyerahan jiwanya.
"Bagus," ucap Dante dingin.
"Sekarang, gantilah bajumu. Kita punya acara amal dalam dua jam. Dunia harus melihat calon istriku untuk pertama kalinya."
"Dua jam? Aku bahkan belum mandi!"
"Marcus sudah menyiapkan penata rias di kamar sebelah. Cepatlah, Lexy. Di duniaku, terlambat berarti membuang waktuku yang mahal dengan sia-sia.”
Puri Sterling di atas tebing itu kini hanyalah tumpukan arang yang memerah di bawah langit Skotlandia, namun di sebuah griya tawang hotel butik paling eksklusif di tepi Loch Ness, suasana justru berbanding terbalik. Kelegaan yang luar biasa menyelimuti tim kecil itu setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang eksperimen genetik.Dante baru saja selesai mandi, mengenakan kemeja putih yang dibiarkan terbuka di bagian atas, memperlihatkan perban di bahunya. Ia melangkah ke ruang tengah dan menemukan istrinya sedang duduk santai dengan segelas anggur di tangan, sementara Silas dan Marcus berdiri di dekat meja kayu besar."Daniel, lihat ini," Lexy mengangkat kartu hitam Centurion milik Dante yang kini berada di jemarinya. "Aku baru saja memberikan kode akses penuh kepada Silas dan Marcus. Aku menyuruh mereka pergi ke pusat perbelanjaan di Inverness besok pagi untuk membeli apapun yang mereka inginkan."Dante menghentikan langkahnya, menatap kartu kreditnya, lalu menatap dua pengawalny
endaraan Maverick yang berlapis baja terhenti sekitar satu mil dari gerbang utama, tersembunyi di balik barisan pohon pinus yang lebat. Di dalam kendaraan yang sempit dan dipenuhi layar digital, suasana terasa sangat mencekam.Dante sedang memeriksa senjata pendeknya dengan gerakan yang presisi. Wajahnya diterangi oleh cahaya biru dari monitor. Di sampingnya, Marcus sedang menyesuaikan headset komunikasinya."Silas, bagaimana keadaannya?" tanya Dante."Penghitung mundur aktif," sahut Silas, jarinya menari di atas papan ketik. "Dalam tiga detik, aku akan meretas virus ke dalam pusat daya mereka. Tiga... dua... satu... Sekarang."Di kejauhan, lampu-lampu yang menyinari tembok puri Sterling berkedip-kedip, lalu padam total. Kegelapan menelan bangunan itu dalam sekejap."Semua sistem pertahanan mereka sudah buta," lapor Silas. "Kita punya waktu dua puluh menit sebelum protokol darurat manual mereka aktif. Setelah itu, mereka akan menyadari ini bukan sekedar gangguan listrik."Dante menole
Pukul sepuluh malam, suasana terminal Jet pribadi di bandara Heathrow eksklusif itu sunyi, hanya ada suara langkah kaki yang bergema di lantai marmer yang dipoles mengilap. Di luar, jet pribadi Gulfstream G700 milik Maverick Corp sudah menunggu dengan mesin yang mulai menderu halus, siap membelah langit menuju utara, menuju Skotlandia."Kau yakin ingin membawa semua lensa kamera itu?" tanya Dante, melirik tas kamera milik istrinya yang dibawa oleh salah satu staf pengawalnya."Iya. Ketika kita menghancurkan markas terakhir Sterling, aku ingin memastikan aku menangkap setiap momen kehancuran itu dalam resolusi tinggi, Daniel.""Kau benar-benar fotografer yang haus darah. Aku suka itu." Mereka berhenti sejenak, menyerahkan paspor kepada petugas bandara. "Selamat malam, Nona. Paspor Anda?" petugas itu bertanya dengan suara yang tiba-tiba berubah menjadi sangat ramah, mengabaikan Dante yang berdiri tepat di samping Lexy.Lexy menyerahkan paspornya. Petugas itu membukanya, membacanya pe
Dante dan Lexy akhirnya kembali ke Mayfair setelah malam yang penuh ketegangan dan kemenangan atas Subjek 03.Dante melepaskan dasi kupu-kupunya. Matanya tak lepas dari Lexy yang berdiri di tengah ruangan, masih mengenakan gaun merah darah yang memamerkan setiap lekuk tubuhnya yang menggoda."Kau luar biasa malam ini, baby girl," suara Dante terdengar serak oleh gairah yang sudah ia tahan sejak di galeri."Kau juga. Aku belum pernah melihatmu seberbahaya itu saat menghadapi Subjek 03. Tanpa kekuatan super, kau justru lebih... Seksi."Dante menyeringai. Ia menarik pinggang Lexy, merapatkan tubuh mereka hingga tak ada celah. "Itu karena aku punya sesuatu yang tidak dimiliki mesin itu. Aku punya keinginan untuk memilikimu sepenuhnya."Tanpa menunggu lagi, Dante mencium Lexy dengan brutal. Ia melumat, menyesap setiap rasa manis di bibir istrinya. “Mhmmm…”Lexy menjambak rambut Dante, menarik pria itu ke dalam pusaran gairah mereka.Dante mengangkat tubuh Lexy, membuat kaki wanita itu mel
"Daniel, kau terus melihat ke arah balkon, ada apa?" bisik Lexy, suaranya teredam oleh riuh rendah tamu di sekitar mereka. Ia menggenggam lengan Dante, merasakan ketegangan otot di balik jas tuksedo pria itu."Ada tamu tak diundang yang butuh perhatian khusus, sweetheart. Tetaplah di dekat Silas. Jangan menjauh tanpa sepengetahuannya.""Kau tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya, kan? Bahumu belum sembuh total," Lexy menatapnya dengan kekhawatiran."Aku akan melakukan sesuatu yang cerdas. Itu jauh lebih menyakitkan bagi musuhku daripada sekedar pukulan," Dante memberikan senyum yang menenangkan. Ia memberikan kode anggukan kecil pada Marcus yang berdiri di sudut ruangan.Cup!Dante mencium bibir Lexy singkat, lalu perlahan melepaskan diri dari kerumunan, bergerak menuju pintu samping yang menuju ke area ruang penyimpanan bawah tanah. Ia sengaja bergerak perlahan, ingin pria di balkon itu mengikutinya. Dan benar saja, bayangan pirang pucat itu mulai bergerak turun melalui tangga.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman drum di telinga Dante. Ia tidak bisa tidur bukan karena rasa sakit di bahunya, melainkan karena rasa haus akan kendali yang mulai membakar jiwanya kembali.Ia bangkit dari ranjang dengan perlahan, berusaha tidak membangunkan Lexy. Dengan gigi yang terkatup menahan nyeri, ia berjalan menuju ruang kerja pribadinya. Ia duduk di kursinya, menyalakan deretan monitor yang menampilkan pergerakan saham global."Selamat pagi, Tuan Maverick. Kupikir dokter menyarankanmu untuk tidur delapan jam" "Tidur adalah kemewahan bagi orang yang tidak punya musuh, Marcus. Nyalakan sistem keamanan tingkat empat. Aku ingin melihat data aliran dana Apex Global dalam satu jam terakhir.""Kau sedang dalam kondisi pemulihan fisik, Tuan. Bukan sedang mempersiapkan perang.""Fisikku mungkin sedang lambat, tapi otakku tidak pernah secepat ini," Dante menunjuk ke layar yang menampilkan grafik merah. "Liam mengira dia bisa menj
Di kamar utama Dante, Lexy berdiri kaku di tengah karpet bulu, sementara pria itu dengan santai melepas dasi dan membuka dua kancing kemeja teratasnya."Sofa itu terlihat cukup empuk untukmu," Lexy menunjuk sofa panjang di sudut ruangan.Dante melirik sofa itu, lalu kembali menatap Lexy. "Itu sofa
Lampu hias di langit-langit penthouse masih menyala terang di kediaman Maverick. Usai acara amal yang terasa mencekik, Lexy menendang heels-nya ke sembarang arah. Kakinya lecet, dan kepalanya berdenyut karena akting senyum selama empat jam di depan kamera."Tolong buka resleting ini, Dante. Aku tid
Lantai marmer penthouse itu terasa dingin saat Lexy digiring menuju kamar rias. Ruangan itu terlihat lebih mirip butik kelas atas di Milan daripada sebuah kamar. Tiga orang berpakaian modis dan stylist sudah menunggu dengan kuas rias dan deretan gaun yang berkilau di bawah lampu kristal."Namanya
"Aku tidak suka mengulang ucapanku, David," gumam Dante sambil membenarkan letak jam tangan Rolex di pergelangan tangannya.Di bawah pendar lampu kristal yang redup, pria itu berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. Suaranya tetap rendah, hampir seperti bisikan—jenis suara yang sanggup membuat ny







