Home / Romansa / Terikat Obsesi Sang Billionaire / BAB 3: SANDIWARA PERDANA

Share

BAB 3: SANDIWARA PERDANA

Author: Ms. Mee
last update publish date: 2026-05-03 13:50:18

Lantai marmer penthouse itu terasa dingin saat Lexy digiring menuju kamar rias. Ruangan itu terlihat lebih mirip butik kelas atas di Milan daripada sebuah kamar. 

Tiga orang berpakaian modis dan stylist sudah menunggu dengan kuas rias dan deretan gaun yang berkilau di bawah lampu kristal.

"Namanya Lexy. Pastikan dia terlihat seperti wanita yang baru saja memenangkan lotre cinta, bukan korban penculikan," titah Dante dingin di ambang pintu.

"Siap, Tuan Maverick," sahut seorang wanita paruh baya dengan aksen Prancis yang kental.

Lexy menoleh tajam. 

"Kamu tidak perlu memerintah mereka seolah aku ini manekin, Dante!"

Dante hanya melirik jam tangannya. 

"Satu jam empat puluh lima menit, Lexy. Jangan membuang waktu dengan protes kecil yang tidak akan mengubah apa pun."

Klik!

Pintu geser itu tertutup otomatis, memisahkan Lexy dari pria angkuh itu. 

Selama satu jam berikutnya, Lexy merasa seperti adonan kue yang diuleni. Rambutnya dicuci, wajahnya dipoles, dan tubuhnya dibalut gaun silk berwarna merah darah yang memeluk lekuk tubuhnya dengan ketat namun elegan.

"Sempurna," gumam sang penata rias.

Pintu geser it kembali terbuka. 

Dante muncul disana, ia sudah berganti pakaian dengan tuxedo hitam yang dijahit sempurna. Pria itu berdiri menyandar di dinding, menyesap sisa wiskinya. Matanya menyisir penampilan Lexy dari ujung kaki hingga kepala. Ada kilat tipis di matanya, namun suaranya tetap sedatar es.

"Lumayan. Setidaknya kau tidak terlihat seperti fotografer jalanan sekarang."

"Terima kasih atas pujiannya, Tuan Diktator," balas Lexy sinis sambil mencoba menyeimbangkan diri di atas heels sepuluh senti. 

"Jadi, apa naskahnya malam ini?"

Dante mendekat, aroma sandalwood dan musk miliknya kembali menguasai ruang nafas Lexy. Ia mengulurkan tangannya, merapikan sehelai rambut Lexy yang jatuh di bahu, membuat bulu kuduk Lexy meremang.

"Naskahnya sederhana. Kita jatuh cinta pada pandangan pertama di galeri seni bulan lalu. Katakan bahwa kau adalah inspirasiku dan aku adalah pelindungmu. Jangan terlalu banyak bicara, biar aku yang menangani pers."

"Dan kalau mereka bertanya kenapa semuanya begitu cepat?"

"Katakan saja aku pria yang tidak suka menunggu untuk mendapatkan apa yang kuinginkan." Dante menarik tangan Lexy, melingkarkannya di lengannya. 

"Ayo. Mobil sudah di bawah."

***

Gedung teater tempat acara amal itu terlihat sudah dikepung oleh jurnalis. 

Begitu pintu limosin milik Dante terbuka, kilatan lampu flash menyerang mereka seperti badai petir. Lexy sempat tersentak, namun cengkeraman tangan Dante di pinggangnya menguat.

"Tersenyumlah, Lexy. Ingat seratus juta dolar itu," bisik Dante tepat di telinganya, yang justru terlihat seperti sedang membisikkan kata-kata mesra bagi para fotografer.

"Aku mencoba untuk tidak mual disini, Dante," bisik Lexy balik lewat celah giginya yang tersenyum kaku.

"Tuan Maverick! Siapa wanita ini?" teriak seorang reporter dari balik pagar pembatas.

"Dante, apakah ini tunangan rahasiamu?" Tanya reporter lainnya.

Dante berhenti di tengah tangga besar, menghadap kerumunan. Ia menarik Lexy lebih rapat, telapak tangannya menempel posesif di pinggang ramping wanita itu.

"Perkenalkan, ini Alexandra. Tunanganku," ucap Dante dengan suara berat yang berwibawa. 

"Kami ingin menjaga privasi hubungan kami untuk sementara waktu, tapi malam ini adalah acara amal, dan Alexandra bersikeras untuk hadir mendukung yayasan ini."

"Alexandra? Dari keluarga mana?" tanya yang lain.

"Keluarga yang sangat beruntung karena memilikinya," potong Dante singkat, lalu menuntun Lexy masuk ke dalam ballroom.

Begitu mereka melewati pintu ganda besar dan menjauh dari jurnalis, Lexy langsung melepaskan tangan Dante Dari pinggangnya.

"Alexandra? Namaku Lexy!"

"Lexy terdengar seperti nama panggung penari telanjang di Vegas. Selama kau menjadi milikku, kau adalah Alexandra."

"Brengsek kau, Dante!"

"Jaga bicaramu. Kita sedang diperhatikan," Dante menyambar dua gelas sampanye dari pelayan yang lewat, menyerahkan satu pada Lexy.

"Tahanlah emosimu. Lihat ke arah jam dua. Itu Julian Vane, saingan bisnisku sekaligus anggota dewan komisaris yang ingin mendepakku. Dia akan mencoba memancingmu dengan pertanyaan gilanya. Ingat, jangan terpancing."

Seorang pria paruh baya dengan senyum licin mendekat ke arah mereka.

"Dante! Jadi ini alasanmu menghilang dari radar klub malam?" Julian menatap Lexy dengan tatapan menilai yang mengintimidasi.

"Cantik sekali. Di mana Dante menemukanmu, manis?"

Lexy merasakan kemarahan mendidih di dadanya, tapi dia teringat wajah adiknya di bangsal rumah sakit. Dia menyesap sampanyenya dengan tenang, lalu tersenyum dengan senyuman paling manis yang pernah ia buat.

"Sebenarnya, kamilah yang saling menemukan, Tuan Vane. Di tengah hiruk pikuk kota, sulit untuk melewatkan pria sehebat Dante, bukan?" Lexy menyandarkan kepalanya di bahu Dante, membuat pria itu sedikit menegang. 

"Tapi saya lebih suka menyimpan detailnya untuk kami sendiri. Bukankah rahasia adalah bumbu terbaik dalam hubungan."

Julian tertawa, meski matanya tetap tajam. 

"Luar biasa. Dia punya taring, Dante. Aku suka itu."

Begitu Julian menjauh, Dante menunduk menatap Lexy. 

"Akting yang bagus. Kau hampir membuatku percaya."

"Jangan besar kepala. Aku melakukannya untuk adikku, bukan untuk pria sepertimu."

"Tetaplah pada peran itu sepanjang malam, dan mungkin aku akan memberikan bonus untuk biaya pemulihan adikmu."

"Aku tidak butuh bonusmu, Dante. Aku hanya butuh kontrak ini cepat selesai."

Dante mendekatkan wajahnya, hidung mereka hampir bersentuhan. Di depan orang-orang, mereka tampak seperti pasangan serasi yang sedang berbagi momen mesra.

"Dua tahun, Alexandra. Baru satu jam berlalu, dan kau sudah tidak sabar? Perjalanan kita masih sangat panjang."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terikat Obsesi Sang Billionaire   BAB 8: HARGA SEBUAH KEJUJURAN

    Suasana di dalam limosin yang membawa mereka pulang dari pesta pertunangan terasa jauh lebih dingin daripada AC yang berhembus. Dante duduk di sudut, wajahnya tertutup bayangan, sementara Lexy terus meremas jemarinya yang gemetar."Dante, aku bisa jelaskan soal Liam—""Tunggu sampai kita sampai di Mayfair, Alexandra. Aku tidak ingin sopirku mendengar sampah yang keluar dari mulutmu," potong Dante tajam. Begitu pintu penthouse tertutup rapat, Dante melempar jasnya ke atas sofa marmer dengan kasar. Dia berbalik, menyudutkan Lexy ke dinding dekat lift."Seminggu yang lalu? Kau masih tinggal bersama pria itu seminggu yang lalu? Hebat, ternyata kau tak sepolos yang kukira," ucap Dante, suaranya menggelegar di ruangan yang sunyi."Kami putus satu bulan yang lalu! Tapi dia belum punya uang untuk pindah, jadi dia masih menetapkan di apartemenku! Kita tidak melakukan apapun, Dante!""Aku tidak peduli kau tidur dengannya atau dengan seluruh fotografer di kota ini!" Dante memukul dinding di sam

  • Terikat Obsesi Sang Billionaire   BAB 7: SISI LAIN DARI SANG IBLIS

    Bau antiseptik rumah sakit yang menyengat menyambut Lexy. Di dalam ruang perawatan VIP yang jauh lebih mewah dari apartemen lamanya, seorang remaja laki-laki terbaring pucat dengan berbagai kabel menempel di tubuhnya."Kak Lexy?" suara serak itu membuat pertahanan Lexy runtuh.Lexy menggenggam tangan adiknya, Leo. "Hei, jagoan. Maaf aku baru datang.""Kau pakai baju sebagus itu? Lalu... Apakah kalung itu asli?" Leo menunjuk berlian yang masih melingkar di leher Lexy."Ini... ini hanya pinjaman untuk kerjaan, Leo. Aku mendapatkan kontrak besar. Kau jangan berpikir apa-apa lagi, fokuslah untuk sembuh, oke?""Dante yang membayar semua ini, bukan?" Leo menatap kakaknya lekat. "Aku melihatnya di berita. Kau bertunangan dengannya? Dia orang jahat, Kak. Beritanya bilang kalau dia dingin kayak es."Ceklek.Pintu kamar VIP itu terbuka. Dante berdiri di sana, mengenakan setelan gelap tanpa dasi. Aura dominannya seketika memenuhi ruangan serba putih yang itu."Aku memang dingin seperti es, ta

  • Terikat Obsesi Sang Billionaire   BAB 6: PELATIHAN SANG PERMAISURI

    Ruang kerja Dante yang luas kini disulap berubah menjadi medan tempur. Di atas meja jati yang mahal, bertumpuk berkas profil anggota dewan komisaris Maverick Corp. Dante berdiri di depan jendela besar, sementara Lexy duduk dengan gelisah, membolak-balik foto-foto pria tua berjas formal."Hafalkan wajah-wajah ini, Lexy. Jangan sampai kau salah sebut nama," instruksi Dante tanpa menoleh."Ini seperti ujian sejarah, Dante! Kenapa aku harus tahu kalau Tuan Harrison hobi bermain golf?"Dante berbalik, menatapnya tajam. "Karena jika Harrison tahu kau memperhatikan Hal detail kecil itu, dia akan menganggapmu cerdas. Dan jika dia menganggapmu cerdas, dia tidak akan curiga bahwa pernikahan ini hanyalah sandiwara."Lexy melempar berkas itu ke meja. "Aku fotografer, bukan mata-mata!""Dan sekarang kau adalah keduanya," Dante mendekat, menarik kursi Lexy agar menghadapnya. "Coba kita tes. Siapa wanita di foto ketiga?""Uhmm... Marie Vance. Janda dari pendiri logistik Maverick. Dia menyukai k

  • Terikat Obsesi Sang Billionaire   BAB 5: SATU RANJANG, DUA MUSUH

    Di kamar utama Dante, Lexy berdiri kaku di tengah karpet bulu, sementara pria itu dengan santai melepas dasi dan membuka dua kancing kemeja teratasnya."Sofa itu terlihat cukup empuk untukmu," Lexy menunjuk sofa panjang di sudut ruangan.Dante melirik sofa itu, lalu kembali menatap Lexy. "Itu sofa desainer, bukan tempat untuk tidur. Dan ibuku punya kebiasaan buruk memeriksa kamar anaknya di pagi buta. Kamu tetap tidur di ranjang.""Berdua denganmu? Jangan harap!""Ranjang ini ukurannya King Size, Lexy. Kita bahkan bisa meletakkan pembatas di tengahnya dan tidak akan bersentuhan," Dante melempar jam tangannya ke atas nakas dengan bunyi klunting yang mahal. "Kecuali jika dirimu tidak bisa menahan diri untuk menyentuhku."Lexy mendengus, melempar bantal hias ke arah Dante. "Dalam mimpimu, Maverick! Aku lebih memilih menyentuh kaktus daripada kau.""Baguslah. Simpan tenaga ejekanmu itu untuk besok pagi. Ibuku akan menginterogasimu seperti agen CIA." Dante berjalan menuju walk-in close

  • Terikat Obsesi Sang Billionaire   BAB 4: TAMU TAK DIUNDANG

    Lampu hias di langit-langit penthouse masih menyala terang di kediaman Maverick. Usai acara amal yang terasa mencekik, Lexy menendang heels-nya ke sembarang arah. Kakinya lecet, dan kepalanya berdenyut karena akting senyum selama empat jam di depan kamera."Tolong buka resleting ini, Dante. Aku tidak bisa bernafas," gerutu Lexy, membelakangi pria itu yang baru saja meletakkan kunci mobilnya di meja marmer.Dante meliriknya sekilas, lalu berjalan mendekat. Jemarinya yang dingin menyentuh kulit punggung Lexy saat ia menarik perlahan resleting gaun merah itu. Lexy menahan napas, bukan karena romantis, tapi karena aura dominan Dante yang selalu terasa mencekik baginya."Satu malam selesai. Sisa tujuh ratus dua puluh sembilan malam lagi," gumam Dante di dekat telinganya."Jangan mengingatkanku! Aku butuh mandi dan tidur sekarang."Tepat saat gaun itu melonggar di bahu Lexy, suara denting lift pribadi terdengar. Ting!Pintu terbuka, menampakkan seorang wanita paruh baya dengan gaun coutur

  • Terikat Obsesi Sang Billionaire   BAB 3: SANDIWARA PERDANA

    Lantai marmer penthouse itu terasa dingin saat Lexy digiring menuju kamar rias. Ruangan itu terlihat lebih mirip butik kelas atas di Milan daripada sebuah kamar. Tiga orang berpakaian modis dan stylist sudah menunggu dengan kuas rias dan deretan gaun yang berkilau di bawah lampu kristal."Namanya Lexy. Pastikan dia terlihat seperti wanita yang baru saja memenangkan lotre cinta, bukan korban penculikan," titah Dante dingin di ambang pintu."Siap, Tuan Maverick," sahut seorang wanita paruh baya dengan aksen Prancis yang kental.Lexy menoleh tajam. "Kamu tidak perlu memerintah mereka seolah aku ini manekin, Dante!"Dante hanya melirik jam tangannya. "Satu jam empat puluh lima menit, Lexy. Jangan membuang waktu dengan protes kecil yang tidak akan mengubah apa pun."Klik!Pintu geser itu tertutup otomatis, memisahkan Lexy dari pria angkuh itu. Selama satu jam berikutnya, Lexy merasa seperti adonan kue yang diuleni. Rambutnya dicuci, wajahnya dipoles, dan tubuhnya dibalut gaun silk berw

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status