로그인Lantai marmer penthouse itu terasa dingin saat Lexy digiring menuju kamar rias. Ruangan itu terlihat lebih mirip butik kelas atas di Milan daripada sebuah kamar.
Tiga orang berpakaian modis dan stylist sudah menunggu dengan kuas rias dan deretan gaun yang berkilau di bawah lampu kristal.
"Namanya Lexy. Pastikan dia terlihat seperti wanita yang baru saja memenangkan lotre cinta, bukan korban penculikan," titah Dante dingin di ambang pintu.
"Siap, Tuan Maverick," sahut seorang wanita paruh baya dengan aksen Prancis yang kental.
Lexy menoleh tajam.
"Kamu tidak perlu memerintah mereka seolah aku ini manekin, Dante!"
Dante hanya melirik jam tangannya.
"Satu jam empat puluh lima menit, Lexy. Jangan membuang waktu dengan protes kecil yang tidak akan mengubah apa pun."
Klik!
Pintu geser itu tertutup otomatis, memisahkan Lexy dari pria angkuh itu.
Selama satu jam berikutnya, Lexy merasa seperti adonan kue yang diuleni. Rambutnya dicuci, wajahnya dipoles, dan tubuhnya dibalut gaun silk berwarna merah darah yang memeluk lekuk tubuhnya dengan ketat namun elegan.
"Sempurna," gumam sang penata rias.
Pintu geser it kembali terbuka.
Dante muncul disana, ia sudah berganti pakaian dengan tuxedo hitam yang dijahit sempurna. Pria itu berdiri menyandar di dinding, menyesap sisa wiskinya. Matanya menyisir penampilan Lexy dari ujung kaki hingga kepala. Ada kilat tipis di matanya, namun suaranya tetap sedatar es.
"Lumayan. Setidaknya kau tidak terlihat seperti fotografer jalanan sekarang."
"Terima kasih atas pujiannya, Tuan Diktator," balas Lexy sinis sambil mencoba menyeimbangkan diri di atas heels sepuluh senti.
"Jadi, apa naskahnya malam ini?"
Dante mendekat, aroma sandalwood dan musk miliknya kembali menguasai ruang nafas Lexy. Ia mengulurkan tangannya, merapikan sehelai rambut Lexy yang jatuh di bahu, membuat bulu kuduk Lexy meremang.
"Naskahnya sederhana. Kita jatuh cinta pada pandangan pertama di galeri seni bulan lalu. Katakan bahwa kau adalah inspirasiku dan aku adalah pelindungmu. Jangan terlalu banyak bicara, biar aku yang menangani pers."
"Dan kalau mereka bertanya kenapa semuanya begitu cepat?"
"Katakan saja aku pria yang tidak suka menunggu untuk mendapatkan apa yang kuinginkan." Dante menarik tangan Lexy, melingkarkannya di lengannya.
"Ayo. Mobil sudah di bawah."
***
Gedung teater tempat acara amal itu terlihat sudah dikepung oleh jurnalis.
Begitu pintu limosin milik Dante terbuka, kilatan lampu flash menyerang mereka seperti badai petir. Lexy sempat tersentak, namun cengkeraman tangan Dante di pinggangnya menguat.
"Tersenyumlah, Lexy. Ingat seratus juta dolar itu," bisik Dante tepat di telinganya, yang justru terlihat seperti sedang membisikkan kata-kata mesra bagi para fotografer.
"Aku mencoba untuk tidak mual disini, Dante," bisik Lexy balik lewat celah giginya yang tersenyum kaku.
"Tuan Maverick! Siapa wanita ini?" teriak seorang reporter dari balik pagar pembatas.
"Dante, apakah ini tunangan rahasiamu?" Tanya reporter lainnya.
Dante berhenti di tengah tangga besar, menghadap kerumunan. Ia menarik Lexy lebih rapat, telapak tangannya menempel posesif di pinggang ramping wanita itu.
"Perkenalkan, ini Alexandra. Tunanganku," ucap Dante dengan suara berat yang berwibawa.
"Kami ingin menjaga privasi hubungan kami untuk sementara waktu, tapi malam ini adalah acara amal, dan Alexandra bersikeras untuk hadir mendukung yayasan ini."
"Alexandra? Dari keluarga mana?" tanya yang lain.
"Keluarga yang sangat beruntung karena memilikinya," potong Dante singkat, lalu menuntun Lexy masuk ke dalam ballroom.
Begitu mereka melewati pintu ganda besar dan menjauh dari jurnalis, Lexy langsung melepaskan tangan Dante Dari pinggangnya.
"Alexandra? Namaku Lexy!"
"Lexy terdengar seperti nama panggung penari telanjang di Vegas. Selama kau menjadi milikku, kau adalah Alexandra."
"Brengsek kau, Dante!"
"Jaga bicaramu. Kita sedang diperhatikan," Dante menyambar dua gelas sampanye dari pelayan yang lewat, menyerahkan satu pada Lexy.
"Tahanlah emosimu. Lihat ke arah jam dua. Itu Julian Vane, saingan bisnisku sekaligus anggota dewan komisaris yang ingin mendepakku. Dia akan mencoba memancingmu dengan pertanyaan gilanya. Ingat, jangan terpancing."
Seorang pria paruh baya dengan senyum licin mendekat ke arah mereka.
"Dante! Jadi ini alasanmu menghilang dari radar klub malam?" Julian menatap Lexy dengan tatapan menilai yang mengintimidasi.
"Cantik sekali. Di mana Dante menemukanmu, manis?"
Lexy merasakan kemarahan mendidih di dadanya, tapi dia teringat wajah adiknya di bangsal rumah sakit. Dia menyesap sampanyenya dengan tenang, lalu tersenyum dengan senyuman paling manis yang pernah ia buat.
"Sebenarnya, kamilah yang saling menemukan, Tuan Vane. Di tengah hiruk pikuk kota, sulit untuk melewatkan pria sehebat Dante, bukan?" Lexy menyandarkan kepalanya di bahu Dante, membuat pria itu sedikit menegang.
"Tapi saya lebih suka menyimpan detailnya untuk kami sendiri. Bukankah rahasia adalah bumbu terbaik dalam hubungan."
Julian tertawa, meski matanya tetap tajam.
"Luar biasa. Dia punya taring, Dante. Aku suka itu."
Begitu Julian menjauh, Dante menunduk menatap Lexy.
"Akting yang bagus. Kau hampir membuatku percaya."
"Jangan besar kepala. Aku melakukannya untuk adikku, bukan untuk pria sepertimu."
"Tetaplah pada peran itu sepanjang malam, dan mungkin aku akan memberikan bonus untuk biaya pemulihan adikmu."
"Aku tidak butuh bonusmu, Dante. Aku hanya butuh kontrak ini cepat selesai."
Dante mendekatkan wajahnya, hidung mereka hampir bersentuhan. Di depan orang-orang, mereka tampak seperti pasangan serasi yang sedang berbagi momen mesra.
"Dua tahun, Alexandra. Baru satu jam berlalu, dan kau sudah tidak sabar? Perjalanan kita masih sangat panjang."
Kabut tipis menyelimuti Mayfair. Lexy berdiri di depan cermin, mengenakan gaun putih yang jatuh dengan sempurna di tubuhnya. Ia tampak lebih segar, meskipun rasa mual sesekali masih menyapanya."Kau tidak akan pergi kemanapun, sweetheart. Tidak hari ini," suara Dante terdengar dari ambang pintu.Lexy menghela nafas, melihat pantulan suaminya di cermin. "Daniel, hari ini adalah pertemuan pertama dengan dewan direksi yayasan. Aku tidak bisa membatalkannya hanya karena aku merasa sedikit pusing," balas Lexy sambil memasang anting mutiaranya.Dante melangkah masuk, mendekati Lexy dan meletakkan tangannya di pinggang istrinya. "Arvidsson bilang kau butuh istirahat total. Aku bisa mengirim Silas untuk mewakilimu, atau aku bisa membeli seluruh dewan itu dan membubarkannya jika mereka keberatan kau absen."Lexy tertawa kecil, matanya menatap Dante dengan serius. "Kau tidak bisa menyelesaikan segalanya dengan membeli orang, Daniel. Ini proyekku. Ini adalah warisan yang ingin kubangun dengan na
Matahari London menyelinap malu-malu di balik tirai sutra griya tawang, menyinari sisa-sisa malam yang intim antara Dante dan Lexy. Dante terbangun lebih dulu, seperti biasa. Namun, alih-alih langsung meraih ponsel untuk memeriksa pergerakan bursa saham Tokyo, ia memilih untuk tetap berbaring, menatap wajah istrinya yang masih terlelap.Ada sesuatu yang berbeda pada Lexy pagi ini. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Dante mengulurkan tangan, mengusap dahi Lexy yang sedikit berkeringat."Lexy?" bisiknya pelan.Lexy mengerang kecil, perlahan membuka matanya. "Jam berapa ini?""Baru pukul tujuh. Kau terlihat sangat lelah, sweetheart. Apa kau merasa tidak enak badan?" tanya Dante."Hanya sedikit pening. Mungkin efek jetlag dari Skotlandia baru terasa sekarang. Atau mungkin aku hanya butuh sarapan yang sangat banyak."Dante terkekeh, membantunya bersandar pada tumpukan bantal. "Aku akan menyuruh pelayan membawakanmu apa pun yang kau inginkan. Tapi pertama-tama, aku punya hiburan
Pesawat jet pribadi Maverick Corp menyentuh landasan pacu Heathrow dengan keanggunan yang mematikan. London menyambut mereka dengan hujan gerimis, namun bagi Dante, udara ini terasa seperti kemenangan. Begitu pintu kabin terbuka, barisan mobil hitam mengkilap sudah menunggu di bawah tangga pesawat.Dante melangkah turun, auranya kembali menjadi sosok penguasa yang dingin dan berwibawa."Silas, kirimkan jadwal konferensi pers besok pagi ke seluruh agensi berita utama. Pastikan mereka tahu bahwa aku hanya akan menjawab apa yang ingin aku jawab," perintah Dante sambil melangkah masuk ke dalam Rolls-Royce miliknya."Sudah ku atur. Gedung bursa efek sudah gempar sejak kita meninggalkan Skotlandia. Spekulasi tentang penggabungan asetmu membuat saham Maverick Corp melonjak enam puluh persen dalam waktu empat jam," Silas melaporkan sambil menutup laptopnya.Lexy masuk ke kursi belakang, menatap Dante dengan senyuman. "Kau benar-benar tidak bisa membiarkan dunia tenang sedikit pun, ya?""Duni
Pagi di Dataran Tinggi Skotlandia menyapa dengan kabut tipis yang menari di atas permukaan Loch Ness. Di teras hotel, Dante duduk dengan angkuh, menyilangkan kakinya sambil menikmati espreso. Di depannya, Marcus berdiri dengan setelan jas hitam yang sangat rapi, namun wajahnya tampak seperti orang yang baru saja diperintahkan untuk menjinakkan bom nuklir."Tuan, saya rasa ini tidak perlu," ucap Marcus.Dante meletakkan cangkirnya, lalu melirik kartu Centurion yang tergeletak di meja. "Marcus, aku sudah menghabiskan miliaran dolar untuk riset, senjata, dan teknologi. Tapi aku belum pernah melihatmu membawa seorang wanita ke dalam hidupmu. Ambil kartunya, pergi ke Inverness, dan jangan kembali sebelum kau menghabiskan minimal sepuluh ribu poundsterling untuk dirimu sendiri dan teman kencanmu."Lexy muncul dari balik pintu, mengenakan sweter oversized yang membuatnya tampak sangat menggemaskan namun tetap elegan. Ia membawa sebuah tas kecil berisi perlengkapan dandan."Dan ini, Marcus,
Puri Sterling di atas tebing itu kini hanyalah tumpukan arang yang memerah di bawah langit Skotlandia, namun di sebuah griya tawang hotel butik paling eksklusif di tepi Loch Ness, suasana justru berbanding terbalik. Kelegaan yang luar biasa menyelimuti tim kecil itu setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang eksperimen genetik.Dante baru saja selesai mandi, mengenakan kemeja putih yang dibiarkan terbuka di bagian atas, memperlihatkan perban di bahunya. Ia melangkah ke ruang tengah dan menemukan istrinya sedang duduk santai dengan segelas anggur di tangan, sementara Silas dan Marcus berdiri di dekat meja kayu besar."Daniel, lihat ini," Lexy mengangkat kartu hitam Centurion milik Dante yang kini berada di jemarinya. "Aku baru saja memberikan kode akses penuh kepada Silas dan Marcus. Aku menyuruh mereka pergi ke pusat perbelanjaan di Inverness besok pagi untuk membeli apapun yang mereka inginkan."Dante menghentikan langkahnya, menatap kartu kreditnya, lalu menatap dua pengawalny
endaraan Maverick yang berlapis baja terhenti sekitar satu mil dari gerbang utama, tersembunyi di balik barisan pohon pinus yang lebat. Di dalam kendaraan yang sempit dan dipenuhi layar digital, suasana terasa sangat mencekam.Dante sedang memeriksa senjata pendeknya dengan gerakan yang presisi. Wajahnya diterangi oleh cahaya biru dari monitor. Di sampingnya, Marcus sedang menyesuaikan headset komunikasinya."Silas, bagaimana keadaannya?" tanya Dante."Penghitung mundur aktif," sahut Silas, jarinya menari di atas papan ketik. "Dalam tiga detik, aku akan meretas virus ke dalam pusat daya mereka. Tiga... dua... satu... Sekarang."Di kejauhan, lampu-lampu yang menyinari tembok puri Sterling berkedip-kedip, lalu padam total. Kegelapan menelan bangunan itu dalam sekejap."Semua sistem pertahanan mereka sudah buta," lapor Silas. "Kita punya waktu dua puluh menit sebelum protokol darurat manual mereka aktif. Setelah itu, mereka akan menyadari ini bukan sekedar gangguan listrik."Dante menole
Di kamar utama Dante, Lexy berdiri kaku di tengah karpet bulu, sementara pria itu dengan santai melepas dasi dan membuka dua kancing kemeja teratasnya."Sofa itu terlihat cukup empuk untukmu," Lexy menunjuk sofa panjang di sudut ruangan.Dante melirik sofa itu, lalu kembali menatap Lexy. "Itu sofa
Lampu hias di langit-langit penthouse masih menyala terang di kediaman Maverick. Usai acara amal yang terasa mencekik, Lexy menendang heels-nya ke sembarang arah. Kakinya lecet, dan kepalanya berdenyut karena akting senyum selama empat jam di depan kamera."Tolong buka resleting ini, Dante. Aku tid
"Aku tidak suka mengulang ucapanku, David," gumam Dante sambil membenarkan letak jam tangan Rolex di pergelangan tangannya.Di bawah pendar lampu kristal yang redup, pria itu berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. Suaranya tetap rendah, hampir seperti bisikan—jenis suara yang sanggup membuat ny
Limosin hitam itu meluncur membelah jalanan kota London yang basah. Di dalamnya, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecahkan oleh suara napas Lexy yang masih memburu. Dante duduk di hadapannya, sibuk dengan tablet di tangan, seolah-olah wanita yang baru saja ia culik itu hanyalah kursi kosong







