Share

Bab 2

Author: Wendy
Aku menatap paha mulusnya yang lembut, lalu teringat bagian yang sempat kutatap siang tadi.

Siang tadi, hanya karena melihat ke arah sini, aku mendapat sebuah tamparan.

Sekarang, aku pun menjulurkan tangan, ujung jariku yang kasar meremas kulit lembut paha bagian dalamnya, dengan mudahnya meninggalkan bekas kemerahan di sana.

Dia bergumam kesakitan karena tekananku. Tak lama kemudian, tubuhnya gemetar dan menghembuskan napas tertahan yang penuh gairah.

Tak butuh waktu lama, area kulit mulus itu sudah dipenuhi jejak-jejakku.

Wanita itu mendesah seiring belaianku. Kesadarannya yang dilumpuhkan alkohol membuatnya reflek mengikuti insting tubuhnya.

“Sayang….” Suara desahannya terdengar penuh gairah. Seiring gerakanku, suaranya perlahan bercampur dengan nada tangisan pasrah, “Hm, ada apa… denganmu hari ini… ah, pelan-pelan….”

Bibirnya menolak, tapi tubuhnya malah menggeliat penuh hasrat dan semakin menempel erat padaku.

Sepasang kaki yang sudah penuh dengan jejak permainanku, menggesek pinggangku dari balik celana.

Celana dalam di antara kedua kakinya tepat menghadap ke benda milikku. Aku menyaksikan bagaimana bagian yang terbungkus kain tipis itu perlahan menjadi semakin basah, hingga samar-samar memperlihatkan lekuk area sensitifnya.

Aku pun tanpa ragu semakin menempel padanya, mulai menggesek dan menekan area itu dengan berhalangan kain yang sudah basah kuyup.

Winny terus mendesah akibat tekananku, tangannya yang panik mencengkeram sprei ranjang. Dada montoknya yang tadi siang seolah ingin melompat keluar, kini bergoyang di balik kain. Tak lama kemudian, tampak dua tonjolan kecil yang tercetak jelas di balik kain tipis itu.

Aku langsung mengulurkan tangan, meremas dua gundulan padat itu dari balik bajunya. Aku tak lupa menjepit kedua puncaknya di antara jariku dan memainkannya.

Di saat yang sama, gerakanku semakin liar dan kasar.

Desahan di ranjang perlahan berubah menjadi tangisan penuh kepasrahan. Matanya yang indah dan sayu berkaca-kaca terdesak oleh kenikmatan, tak ada lagi sosok nyonya yang angkuh dan galak.

“Hm… sayang, kok… kok kamu bisa sekuat ini, uh…!”

Mungkin Zafri tak pernah memberi rangsangan sedahsyat ini padanya, makanya dia terlihat sangat kebingungan dengan kondisinya sendiri saat ini.

Aku mendekatinya, mencium bibir tipisnya dengan lembut. Dia pun merespon dengan canggung dan mencoba membalas, tapi tak lama kemudian, dirinya pun runtuh. Dia hanya bisa menahan napas dan desahan di dalam bibirnya.

“Mau diapain?”

Tanyaku dengan suara serak, lalu meremas dadanya yang lembut dengan kencang.

Dia mendesah pelan, gemetar sambil mendekatiku dan menggeliat gelisah dalam pelukanku.

“Mau… mau masuk….”

Namun, begitu tubuhnya yang hangat menyentuh otot-otot kekarku, tiba-tiba gerakannya terhenti kaku di udara.

Dia berusaha membuka matanya. Pandangannya perlahan fokus di bawah remang-remang lampu dinding.

Saat menyadari pria yang menindihnya dan berjarak begitu dekat dengan wajahnya bukanlah Zafri, melainkan diriku, dia pun terkejut. Matanya yang semula sayu, tiba-tiba melotot tajam.

Rasa mabuknya pun langsung sirna karena rasa terkejut yang luar biasa.

“Kok kamu?!”

“Chris! Kamu sudah gila?! Siapa yang mengizinkan kamu masuk?! Cepat keluar!”

Winny menarik napas dalam-dalam, suaranya berubah tinggi karena kepanikan yang luar biasa.

Dia berusaha setengah mati untuk mundur ke pojok ranjang, kedua tangannya mendorong dadaku sekuat tenaga.

“Nyonya, sudah menikmatinya, sekarang malah nggak mau bertanggung jawab? Sepertinya ini kurang pantas,” ujarku menggodanya.

Winny mencoba merapatkan kedua pahanya rapat-rapat demi menjepitku keluar.

Namun, tindakannya itu malah membuat benda milikku semakin menempel erat pada area sensitifnya yang basah, hingga membuat diriku reflek mendesah pelan.

Dia pun terkejut dan reflek mendorongku dengan sikunya. Matanya yang berkaca-kaca menatapku tajam, seolah berusaha mencari kembali wibawa dan ketegasannya seperti tadi siang untuk menakutiku.

Namun, tenaganya tak ada artinya di hadapan tubuhku yang rutin dilatih sepanjang tahun. Sama lemahnya seperti seekor ngengat yang mengepakkan sayapnya.

Apalagi tatapan matanya saat ini… mirip seperti kelinci yang jatuh ke dalam perangkap, tapi masih sok garang mencoba menakuti pemburu. Hal itu malah semakin memancing hasratku untuk memperkosanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Asmara Bersama Istri Bos   Bab 10

    Usia kandungannya sudah memasuki bulan ketujuh, perutnya sudah semakin membesar, tapi kedua tangan dan kakinya tetap terlihat ramping. Seluruh tubuhnya memancarkan aura keibuan yang sangat memikat.Wanita dingin dan anggun yang dulu selalu bersikap angkuh dan pernah menunjuk-nunjukku, sambil memakiku di depan pintu gedung kantor, kini hanya tersisa kepatuhan yang manis di tatapannya.“Sayang, kopinya sudah jadi, hati-hati masih panas.”Dia berjalan mendekat ke sisiku, lalu meletakkan cangkir kopi itu dengan hati-hati.Aku merangkul pinggangnya yang berisi, lalu menariknya ke dalam pelukanku hingga dia duduk dengan nyaman di atas pangkuanku.Telapak tanganku reflek mengelus perutnya yang membesar, merasakan gerakan halus dari kehidupan kecil di dalamnya.“Sayang, kamu lagi mikirin apa?”Winny bersandar dengan patuh di dadaku. Jarinya memainkan dasiku dengan lembut, sambil bertanya pelan.“Nggak ada, hanya teringat beberapa kejadian masa lalu.”Aku tersenyum tipis. Pandanganku melintasi

  • Terjebak Asmara Bersama Istri Bos   Bab 9

    “Ini… ini nggak mungkin… dia bilang asal aku melahirkan anak ini, setengah dari harta keluarga bakal jadi milikku….”Tubuh Winny gemetar hebat, jarinya mencengkeram erat pinggiran ponsel hingga ujung jarinya memucat.“Nggak mungkin?”Aku tertawa dingin, menatapnya seperti menatap seekor ulat yang malang.“Winny, kamu benar-benar mengira dirimu seberharga itu di matanya? Kamu itu hanya alat melahirkan yang sah! Begitu perutmu dibelek dan anak itu dibawa pergi, kamu bakal diusir dari keluarga ini seperti anjing terlantar, bahkan tanpa diberi sepeserpun!”“Dan aku….”Aku menunjuk hidungku sendiri, kilatan kejam terpancar di mataku.“Aku bakal mati dalam kecelakaan mobil yang dia rencanakan, tenggelam ke dalam laut bersama mobinya untuk jadi makanan ikan!”“Ja… jangan….”Winny menangis histeris sambil menutup wajahnya. Suara tangisnya yang tertahan bergema di dalam kamar tidur yang mewah itu, penuh dengan keputusasaan dan rasa takut.Aku menatapnya menangis dengan dingin. Setelah dia menan

  • Terjebak Asmara Bersama Istri Bos   Bab 8

    Melihat wanita yang dulunya tak tersentuh ini, kini rela merendahkan dirinya hingga menjadi seperti ini, hanya demi mendapatkan sedikit belas kasihan dariku.Hasrat untuk menaklukkannya tiba-tiba meledak dahsyat di dalam dadaku.Aku langsung menggendongnya dan membuangnya dengan keras ke atas ranjang tunggal yang murahan itu.….Dua bulan kemudian, sebuah kabar datang dan membuat Zafri gembira bukan main.Winny hamil.Sambil memegang alat tes kehamilan yang menunjukkan dua garis merah, Zafri sangat terharu hingga meneteskan air mata bahagia. Malam itu juga, Zafri menyewa seluruh ruangan di klub malam paling mewah di kota.Dia menggelar pesta besar dan mengundang banyak tamu untuk merayakan keluarganya yang bernilai triliunan miliar akhirnya memiliki calon ahli waris.Sebagai ‘pahlawan besar’, tentu saja diriku diajak olehnya ke klub malam tersebut.Setelah beberapa putaran minum, akhirnya Zafri mabuk berat. Sambil merangkul beberapa wanita pendamping, dia dengan sempoyongan melemparkan

  • Terjebak Asmara Bersama Istri Bos   Bab 7

    Wajah Zafri memerah karena mabuk. Sambil mengunyah kepiting, dia dengan bangganya memberikan janji-janji manis padaku.“Ini semua berkat arahan Pak Zafri, sudah seharusnya aku melakukannya.”Aku menyendok nasi putih di piringku dan menjawab dengan sopan, tapi pandanganku diam-diam melirik ke arah Winny yang duduk tepat di seberang Zafri.Hari ini Winny memakai baju rajut wol bergaya anggun, rambutnya disanggul rapi di belakang kepala dan wajahnya dipoles riasan tipis yang elegan.Dia sedang menikmati sarang burung walet di mangkuknya dengan perlahan.Namun, tepat saat Zafri sedang asik membual tentang masa depan… di bawah meja makan….Sebuah kaki indah yang dibalut stoking hitam, entah sejak kapan sudah menjulur mendekat dan mengait betisku.Tanganku yang memegang sendok sempat terhenti sejenak.Kaki itu bergerak lincah bagaikan seekor ular, menyusuri celana kainku dan merayap naik. Dengan godaan yang sangat lihai, kaki itu berhenti di posisi yang sangat berbahaya.Memberikan gesekan l

  • Terjebak Asmara Bersama Istri Bos   Bab 6

    “Kamu mau apain?!” Suara Winny terdengar panik.Aku tak memedulikan pertanyaannya dan langsung masuk ke dalam ruang belakang yang luas.“Chris! Kamu sudah gila?! Ini parkiran kantor! Karyawan berlalu lalang di sini!” Winny ketakutan setengah mati hingga wajahnya pucat. Dia langsung melepas kacamata hitamnya, matanya memancarkan kepanikan luar biasa.Dia reflek mencoba meraih gagang pintu mobil, tapi aku langsung menahan pergelangan tangannya dan menariknya kembali ke atas kursi dengan kasar.“Emangnya kenapa? Mobil ini pakai kaca film. Selama kamu nggak memecahkan kacanya, mana ada yang tahu apa yang sedang kita lakukan di belakang sini?”Aku mencengkeram lehernya, lalu mencoba membuka kancing kemejanya satu per satu.Tanganku dengan sangat lancang merayap naik dari betisnya yang terbungkus stoking hitam, lalu berhenti tepat di ujung rok spannya.“Nyonya, saat tengah malam kemarin, waktu kamu mendesah liar dan memohon-mohon menyuruhku nggak berhenti, kok nggak kelihatan sikap angkuhmu

  • Terjebak Asmara Bersama Istri Bos   Bab 5

    Dia tak bisa lagi menahan gigitan bibirnya dan suara desahan melengking yang sangat nikmat tanpa bisa dikendalikan pun keluar dari tenggorokannya.Desahan ini bercampur antara rasa hina dan kenikmatan yang melayang, terdengar sangat jelas dan terkirim melalui mikrofon ponsel.Di balik telepon, Zafri sempat terdiam sejenak. Tapi tak lama kemudian, dia malah melepaskan suara tawa yang sangat puas.“Hahaha! Bagus! Chris, sepertinya kamu benar-benar berusaha keras! Kerjakan dengan baik, hajar terus, pastikan benihmu benar-benar tertanam di sana!”“Tenang saja, Pak Zafri.”Aku tertawa dingin, lalu langsung mematikan panggilan telepon.Panggilan telepon tadi seolah memutus belenggu terakhir di dalam hati Winny yang bernama ‘moralitas’ dan ‘harga diri’.Seluruh tubuhnya terkulai lemas di atas ranjang yang berantakan, matanya menatap sayu ke arah langit-langit, sementara dadanya bergerak naik turun dengan cepat.Aku menatapnya dari atas.“Dengar, ‘kan? Nyonya, ini permintaan bos sendiri, jadi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status