Share

Bab 3

Author: Wendy
Aku tak memedulikan perlawanannya. Jariku perlahan meluncur ke titik di mana kami saling menempel, meremas area sensitifnya yang sudah sangat basah dari balik celana dalam, lalu menekannya dengan kuat.

“Hah! Tunggu… uh, kamu… ah, kamu apain….”

Winny terengah-engah. Akal sehatnya menolak keras, tapi tubuhnya yang sudah lama tak tersentuh malah menunjukkan reaksi yang jujur melalui getaran halus yang menjalar.

Di bawah serangan dan godaanku, kedua tangan yang tadinya mendorongku perlahan kehilangan tenaga. Jari putih mulusnya hanya mampu mencengkeram kerah kemejaku, hingga akhirnya berubah menjadi pelukan yang seolah menolak dan menyambut.

Napasnya semakin memburu, sudut matanya memerah dan desahan yang tak bisa ditahan lolos dari tenggorokannya.

“Kamu pernah merasakan rasa seperti ini sebelumnya? Hahaha… sepertinya kamu sangat menyukainya, ‘kan?”

Aku menggigit cuping telinganya, sementara jariku yang kasar meluncur masuk tanpa ragu, membuka celah yang tadinya tertutup rapat.

Menyerangnya perlahan-lahan.

“Bajingan!”

“Ah… kumohon… kumohon padamu.”

Makiannya terdengar semakin lemah, hingga akhirnya berubah menjadi permintaan tolong yang bercampur tangis dan desahan tanpa sadar.

AC di dalam kamar cukup dingin, tapi kening Winny dipenuhi bulir-bulir keringat tipis yang harum.

Gaun tidur sutra maroon itu sudah tak terbentuk lagi akibat ulah kasarku.

Rambut panjangnya terurai di atas sprei. Kulitnya yang putih mulus tampak merona dan menggoda di bawah remang lampu dinding.

Saat aku menusuk semakin dalam, tiba-tiba pinggang Winny melengkung tinggi, disertai erangan lirih seperti rengekan seekor anak binatang.

Sebuah godaan mematikan yang sanggup membuat pria manapun gelap mata.

Namun, tepat di saat aku membuka gesper ikat pinggangnya dan bersiap untuk menguasainya secara utuh….

Akal sehat dan moralitas yang masih tersisa dalam dirinya tiba-tiba menusuk kesadarannya.

Winny mendadak menggigit bibirnya sendiri dan setetes air mata terhina menetes dari sudut matanya. Dia menepis wajahku dengan tangannya sekuat tenaga, suaranya dipenuhi penolakan.

“Nggak boleh! Chris, aku ini istri bosmu… kok kamu, ah… berani sekali kamu….”

Aku menatapnya dari atas, menajamkan senyuman dingin yang kejam.

Tanganku meluncur turun dari tangannya yang berusaha menolak, meraba bahunya, lalu berhenti di dagunya untuk mendongakkan wajahnya. Aku menikmati tatapan matanya yang tampak sangat malang.

“Nyonya, menurutmu bagaimana aku bisa masuk ke sini? Menurutmu kenapa bos sengaja memabukkanmu malam ini?”

Tubuh Winny gemetar hebat, matanya menatapku dengan penuh rasa tak percaya.

Aku membungkuk, berbisik tepat di samping telinganya dan memberitahu kebenaran yang kejam itu kata demi kata.

“Suami baikmu itu yang menyuruhku menidurimu hari ini sampai hamil, biar bisa melahirkan seorang keturunan untuknya.”

“Nggak mungkin….”

Seketika, wajah Winny langsung memucat, suaranya gemetar hebat.

“Dia menderita azoospermia, nggak bisa punya anak. Kamu nggak tahu?”

Aku menghancurkan ilusi terakhirnya tanpa ampun.

“Pernikahan mewah yang selama ini kamu banggakan, di matanya tak lebih dari alat untuk mengerami benih orang lain.

Sambil menikmati keterpurukannya, aku mengulurkan tangan, menaunginya di bawah bayang-bayang tubuhku seperti seorang penyelamat, lalu menatap langsung ke matanya.

Rasa terkejut yang luar biasa, rasa hina dan keputusasaan bercampur aduk di dalam matanya yang indah.

Saat menyadari dirinya telah dijadikan barang dagangan yang diberi harga dan diserahkan ke ranjang pria lain oleh suami yang paling dia percayai, air mata langsung menetes membasahi pipinya.

Namun, rasa sedih itu langsung berganti menjadi kegilaan yang dipenuhi kebencian dan amarah untuk membalas dendam.

Dia tak menangis lagi, melainkan menatapku lekat-lekat.

Detik berikutnya, tiba-tiba kedua tangannya merangkul leherku erat-erat dan berinisiatif menempelkan tubuhnya yang montok ke tubuhku.

Tangannya yang gemetar meraba turun untuk membuka celanaku, lalu menggenggam benda milikku yang sudah lama terdiam.

“Ayo….” ujarnya menggertak. Suaranya terdengar penuh tekad, seolah sudah siap mempertaruhkan segalanya, “Karena Zafri mau anak haram, kalau begitu mulai saja!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Asmara Bersama Istri Bos   Bab 10

    Usia kandungannya sudah memasuki bulan ketujuh, perutnya sudah semakin membesar, tapi kedua tangan dan kakinya tetap terlihat ramping. Seluruh tubuhnya memancarkan aura keibuan yang sangat memikat.Wanita dingin dan anggun yang dulu selalu bersikap angkuh dan pernah menunjuk-nunjukku, sambil memakiku di depan pintu gedung kantor, kini hanya tersisa kepatuhan yang manis di tatapannya.“Sayang, kopinya sudah jadi, hati-hati masih panas.”Dia berjalan mendekat ke sisiku, lalu meletakkan cangkir kopi itu dengan hati-hati.Aku merangkul pinggangnya yang berisi, lalu menariknya ke dalam pelukanku hingga dia duduk dengan nyaman di atas pangkuanku.Telapak tanganku reflek mengelus perutnya yang membesar, merasakan gerakan halus dari kehidupan kecil di dalamnya.“Sayang, kamu lagi mikirin apa?”Winny bersandar dengan patuh di dadaku. Jarinya memainkan dasiku dengan lembut, sambil bertanya pelan.“Nggak ada, hanya teringat beberapa kejadian masa lalu.”Aku tersenyum tipis. Pandanganku melintasi

  • Terjebak Asmara Bersama Istri Bos   Bab 9

    “Ini… ini nggak mungkin… dia bilang asal aku melahirkan anak ini, setengah dari harta keluarga bakal jadi milikku….”Tubuh Winny gemetar hebat, jarinya mencengkeram erat pinggiran ponsel hingga ujung jarinya memucat.“Nggak mungkin?”Aku tertawa dingin, menatapnya seperti menatap seekor ulat yang malang.“Winny, kamu benar-benar mengira dirimu seberharga itu di matanya? Kamu itu hanya alat melahirkan yang sah! Begitu perutmu dibelek dan anak itu dibawa pergi, kamu bakal diusir dari keluarga ini seperti anjing terlantar, bahkan tanpa diberi sepeserpun!”“Dan aku….”Aku menunjuk hidungku sendiri, kilatan kejam terpancar di mataku.“Aku bakal mati dalam kecelakaan mobil yang dia rencanakan, tenggelam ke dalam laut bersama mobinya untuk jadi makanan ikan!”“Ja… jangan….”Winny menangis histeris sambil menutup wajahnya. Suara tangisnya yang tertahan bergema di dalam kamar tidur yang mewah itu, penuh dengan keputusasaan dan rasa takut.Aku menatapnya menangis dengan dingin. Setelah dia menan

  • Terjebak Asmara Bersama Istri Bos   Bab 8

    Melihat wanita yang dulunya tak tersentuh ini, kini rela merendahkan dirinya hingga menjadi seperti ini, hanya demi mendapatkan sedikit belas kasihan dariku.Hasrat untuk menaklukkannya tiba-tiba meledak dahsyat di dalam dadaku.Aku langsung menggendongnya dan membuangnya dengan keras ke atas ranjang tunggal yang murahan itu.….Dua bulan kemudian, sebuah kabar datang dan membuat Zafri gembira bukan main.Winny hamil.Sambil memegang alat tes kehamilan yang menunjukkan dua garis merah, Zafri sangat terharu hingga meneteskan air mata bahagia. Malam itu juga, Zafri menyewa seluruh ruangan di klub malam paling mewah di kota.Dia menggelar pesta besar dan mengundang banyak tamu untuk merayakan keluarganya yang bernilai triliunan miliar akhirnya memiliki calon ahli waris.Sebagai ‘pahlawan besar’, tentu saja diriku diajak olehnya ke klub malam tersebut.Setelah beberapa putaran minum, akhirnya Zafri mabuk berat. Sambil merangkul beberapa wanita pendamping, dia dengan sempoyongan melemparkan

  • Terjebak Asmara Bersama Istri Bos   Bab 7

    Wajah Zafri memerah karena mabuk. Sambil mengunyah kepiting, dia dengan bangganya memberikan janji-janji manis padaku.“Ini semua berkat arahan Pak Zafri, sudah seharusnya aku melakukannya.”Aku menyendok nasi putih di piringku dan menjawab dengan sopan, tapi pandanganku diam-diam melirik ke arah Winny yang duduk tepat di seberang Zafri.Hari ini Winny memakai baju rajut wol bergaya anggun, rambutnya disanggul rapi di belakang kepala dan wajahnya dipoles riasan tipis yang elegan.Dia sedang menikmati sarang burung walet di mangkuknya dengan perlahan.Namun, tepat saat Zafri sedang asik membual tentang masa depan… di bawah meja makan….Sebuah kaki indah yang dibalut stoking hitam, entah sejak kapan sudah menjulur mendekat dan mengait betisku.Tanganku yang memegang sendok sempat terhenti sejenak.Kaki itu bergerak lincah bagaikan seekor ular, menyusuri celana kainku dan merayap naik. Dengan godaan yang sangat lihai, kaki itu berhenti di posisi yang sangat berbahaya.Memberikan gesekan l

  • Terjebak Asmara Bersama Istri Bos   Bab 6

    “Kamu mau apain?!” Suara Winny terdengar panik.Aku tak memedulikan pertanyaannya dan langsung masuk ke dalam ruang belakang yang luas.“Chris! Kamu sudah gila?! Ini parkiran kantor! Karyawan berlalu lalang di sini!” Winny ketakutan setengah mati hingga wajahnya pucat. Dia langsung melepas kacamata hitamnya, matanya memancarkan kepanikan luar biasa.Dia reflek mencoba meraih gagang pintu mobil, tapi aku langsung menahan pergelangan tangannya dan menariknya kembali ke atas kursi dengan kasar.“Emangnya kenapa? Mobil ini pakai kaca film. Selama kamu nggak memecahkan kacanya, mana ada yang tahu apa yang sedang kita lakukan di belakang sini?”Aku mencengkeram lehernya, lalu mencoba membuka kancing kemejanya satu per satu.Tanganku dengan sangat lancang merayap naik dari betisnya yang terbungkus stoking hitam, lalu berhenti tepat di ujung rok spannya.“Nyonya, saat tengah malam kemarin, waktu kamu mendesah liar dan memohon-mohon menyuruhku nggak berhenti, kok nggak kelihatan sikap angkuhmu

  • Terjebak Asmara Bersama Istri Bos   Bab 5

    Dia tak bisa lagi menahan gigitan bibirnya dan suara desahan melengking yang sangat nikmat tanpa bisa dikendalikan pun keluar dari tenggorokannya.Desahan ini bercampur antara rasa hina dan kenikmatan yang melayang, terdengar sangat jelas dan terkirim melalui mikrofon ponsel.Di balik telepon, Zafri sempat terdiam sejenak. Tapi tak lama kemudian, dia malah melepaskan suara tawa yang sangat puas.“Hahaha! Bagus! Chris, sepertinya kamu benar-benar berusaha keras! Kerjakan dengan baik, hajar terus, pastikan benihmu benar-benar tertanam di sana!”“Tenang saja, Pak Zafri.”Aku tertawa dingin, lalu langsung mematikan panggilan telepon.Panggilan telepon tadi seolah memutus belenggu terakhir di dalam hati Winny yang bernama ‘moralitas’ dan ‘harga diri’.Seluruh tubuhnya terkulai lemas di atas ranjang yang berantakan, matanya menatap sayu ke arah langit-langit, sementara dadanya bergerak naik turun dengan cepat.Aku menatapnya dari atas.“Dengar, ‘kan? Nyonya, ini permintaan bos sendiri, jadi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status