LOGIN“Jadi ini alasan Mas mengijinkan aku tetap di London? Mas punya wanita lain?” teriak Camelia marah seraya menunjuk Nia yang mengkerut kaget dan ketakutan di kursinya.
“Camel?! Kau sudah pulang?!” tanya Sam terlihat terkejut.
“Ia aku pulang! Kenapa?! Terkejut karena akhirnya aku memergokimu?!” histeris Camelia. "Aku pulang untuk memberimu kejutan, Mas! Tak kusangka aku yang malah kemudian menerima kejutan darimu!" tuding Camelia.
“Tenanglah sayang!” pinta Sam, seraya meraih lengan istrinya dan menariknya lembut agar duduk di kursi. Tapi dengan kasar Camelia menepiskannya.
“Dengarkan aku dulu!” pinta Sam berusaha bersabar. “Dia Nia, staff invoice di kantor. Kami baru selesai meeting dengan klien di kantor sebrang jalan depan sana!” Tutur Sam. Dia terlihat tenang dan mengagumkan. Bahkan Ketika istrinya histeris di tempat ramai, dia masih bisa tenang dan lembut terhadap istrinya.
“Pikirmu aku percaya?”
“Duduklah dulu! Kamu sudah makan?” tanya Sam masih terdengar lembut.
“Mas pikir aku masih bisa makan sekarang?!” Camelia makin histeris.
Saat Nia terlihat semakin ketakutan, aku memutuskan kembali ke meja untuk ikut menjelaskan bahwa Sam tidak hanya berdua dengan Nia, tapi ada aku juga Pak Satrio, dan kami benar-benar bersama karena urusan pekerjaan.
“Permisi, mohon maaf.” sapaku dengan sesopan mungkin.
“Siapa kamu?” tanya Camelia.
“Mohon maaf, perkenalkan saya Kabag. Marketing di perusahaan Pak Sam, saya datang bersama Pak Sam serta staff invoice kami.” Terangku, seraya menunjuk Nia dengan sopan dan formal. “Kebetulan kami baru selesai meeting dan memutuskan untuk makan bersama sebelum kembali ke kantor. Bahkan ada Pak Satrio bersama kami, yang merupakan sopir kantor dan kebetulan juga sedang di toilet sekarang.” tuturku menerangkan. Tak lama Pak Satrio datang dengan wajah bingung.
Camelia terdiam menatap Sam dengan kesal, sementara Sam hanya tersenyum lucu dengan tingkah istrinya. Sam memang luar biasa. Dia tidak tersinggung bahkan setelah dipermalukan istrinya di tempat umum.
“Duduklah dan ikut makan! Kamu kesini karena mau makan bukan?”
Camelia cemberut, tapi dia duduk di kursi di sebelah Sam yang sudah Sam tarik untuknya. Dan Sam berbalik mencari pelayan berniat meminta daftar menu untuk istrinya. Dan saat itulah Camelia melihatnya, cap merah berbentuk bibir di punggung kameja putih Sam yang tampak kontras.
“Aaakkkkhhhh!!!” lagi, Camelia berteriak histeris. Tapi aku tidak terkejut dan sudah menduganya, bahkan hatiku ketar-ketir sejak menyadari bahwa Camelia adalah istri Sam.
“Kenapa?!” tanya Sam, dia terdengar terkejut dan wajahnya tampak mulai kesal.
“Itu cap bibir siapa? Siapa yang berani-beraninya mencium punggungmu dengan lipstick merah norak itu?!”
Sam termangu dan bingung untuk sesaat. Kemudian dia menyadari sesuatu saat melihat Nia dan bibirnya yang memakai lipstick merah. Dan Nia tertunduk ketakutan. Sam beralih menatapku. Aku membisu kelu!
“Tenanglah Cam! Aku tidak membawa baju ganti di mobil, tadi OB dikantor depan tidak sengaja menabrakku. Aku tidak tahu kalau itu meninggalkan bekas.” Sam menjelaskan dengan sabar.
Bohong, ia Sam berbohong. Tapi rasanya memang tidak ada lagi yang bisa dikatakan selain itu.
Camelia menatapku memastikan.
“Maaf, saya tidak memiliki keberanian untuk memberitahunya, karena bahkan saya tidak tahu pasti kejadiannya. Jadi saya merasa tidak enak untuk mengatakan tentang cap merah di kemejanya pada Pak Sam.” tuturku pelan, aku tidak dapat memikirkan kalimat yang tepat untuk menjawab tatapan tajam Camelia.
“Sa, saya melihatnya, saat petugas kebersihan kantor depan terpleset dan menabrak Pak Sam. Ta, tapi, saya tidak tahu juga kalau kejadian itu membuat kotor kameja Pak Sam.” sela Nia dengan suara yang jelas terdengar gugup, wajahnya bahkan tampak tegang.
Camelia menatap Sam kesal, “Aku mau pulang.”
“Baiklah, ayo kita pulang.” Sam meraih lengan Camelia dan menggandengnya. “Mohon maaf atas keributannya, nikmati makan siang kalian! Dan Mala, nanti struk makannya klaim saja kekantor.” Sam memberi intruksi sebelum dia berlalu pergi dengan istrinya.
Aku mengangguk mengiyakan, dan mengangguk juga pada Camelia sebagai rasa hormatku pada istri CEO. Sedang Camelia hanya mendelik lantas berbalik dengan menggandeng lengan Sam.
"Aku minta kamu buang kameja ini segera, aku tidak mau melihatnya lagi bahkan meski sudah dibersihkan sekalipun!" tuntut Camelia saat dia melangkah meninggalkan meja. lantas terdengar Sam mengiyakannya dengan yakin.
Sepeninggal Sam dan istrinya, kulihat Nia menghembuskan napas lega sedang Pak Satrio tertawa geli. Dan aku terdiam sejenak menenangkan diri. Sebenarnya aku kesal dengan Nia, tapi rasanya tak ada alasan untuk kesal karena sepertinya itu bahkan diluar kendali Nia! Dia terlalu polos dan mudah dibaca, serta mentalnya terlalu rapuh untuk dengan sengaja berniat licik menciptakan kekacauan, itu tidak mungkin!
“Aku ke toilet dulu.” pamit Nia, lantas beranjak dan pergi meski aku tak bereaksi.
Kulihat sosok Nia yang melenggang anggun dengan sepatu hak tinggi. Dia perempuan cantik dengan postur tinggi berisi namun proporsional dan menarik. Kulit putih terawatnya, rambut hitam lurusnya, yang sepertinya hampir setiap bulan perawatan di salon hingga berkilau sehat dan cantik. Dan aura perempuannya tengah bersinar cerah. Entah mengapa, siapapun perempuan yang berstatus janda, di mataku yang bahkan adalah seorang perempuan, terlihat lebih cantik dan menarik. Padahal aku sama merawat diri, dan aku tidak merasa jelek. Waktu masih sama-sama single aku dan Nia terkenal sama-sama cantik, juga merupakan gadis popular di sekolah. Tapi sekarang saat aku adalah seorang istri yang bersuami dan Nia yang seorang janda, dan entah mengapa aku merasa insecure saat bersama Nia.
Ya, Nia adalah seorang janda, 3 tahun lalu suaminya meninggal karena sakit. pernikahannya yang berjalan hampir 2 tahun namun belum dikaruniai seorang anak, dan itu menjadikan Nia menantu yang tidak terlalu disukai mertuanya. Sampai ketika suaminya meninggal, Nia disalahkan karena dianggap tidak becus merawat suaminya. Dan setelah kehilangan suaminya, Nia benar-benar sendiri. Nia tidak memiliki apa-apa. Dia tidak lagi punya keluarga atau sanak saudara lagi. Selama ini Nia bertahan dengan uang asuransi dari suaminya yang memang cukup besar. Namun ketika dia menyadari bahka dia bahkan harus move on dan mulai bekerja, kemudian dia datang padaku.
“Apa aku bisa bekerja di perusahaan tempatmu bekerja? Apa ada lowongan pekerjaan yang sekiranya cocok untukku? Rasanya aku tidak bisa terus-terussan mengandalkan uang asuransi suamiku. Usiaku bahkan semakin bertambah tua.” Nia bertanya dengan menyedihkan.
Dan saat itu, sebagai sahabatnya aku sangat mengerti keadaannya. Dia memang harus mulai bekerja untuk menstabilkan kehidupan dan keuangannya, mulai membuka interaksi dengan dunia luar, setelah hampir 3 tahun dia berkabung atas kepergian suaminya. Dan uang asuransi sepertinya tidak akan cukup menanggung hidupnya sampai Nia tua, sebelum dia benar-benar tua dan tidak mampu bekerja, sudah tepat baginya memutuskan untuk memulai hidup baru. Dan kebetulan saat itu ada staff invoice yang resign karena suatu hal, dan aku merekomendasikan Nia kekantor untuk mengisi kekosongan yang ditinggal Mba yuni, staff invoice sebelumnya. Dan begitulah sampai akhirnya aku bekerja di perusahaan yang sama dengan Nia, sahabatku, yang kemudian menjadi awal mula Nia bertemu Sam.
Aku terduduk lemas di jok mobil di samping Sam yang tengah mengemudi. Kita sudah tiba dengan selamat di Jakarta. Dan selama itu aku tidak mengatakan apapun. Tidak bertanya, tidak juga memprotes atau apapun prihal sikap Sam terhadapku. Aku sungguh memilih hanya diam. Saat Sam memapahku turun dari pesawat, mendudukkanku di kursi roda dan membawaku naik ke mobilnya. Dia mengurus semuanya dengan baik. Koper dan barang bawaan juga sepertinya Sam sudah mengurus semuanya. Entah kapan dia berkoordinasi untuk mengurus semuanya, aku tak tau, dan aku rasa aku tidak perlu tahu. Cukup menjadi perempuan yang patuh saja saat ini.Sampai tiba-tiba Sam menepikan mobilnya. Aku masih tetap diam, tidak menoleh atau sekadar bertanya kenapa."Kamu baik-baik saja?" tanya Sam terdengar cemas."Hmm." jawabku pelan tanpa menoleh, pandanganku menatap nanar jalanan dengan lalu-lalang kendaraan."Ada yang sakit?""Tidak.""Kamu terus diam, aku khawatir kamu menahan rasa sakit sendiri. Katakan padaku jika ada sesu
POV : Mala.Dinas ke Bali kali ini, kacau! Aku tidak tahu pekerjaan apa yang sesungguhnya harus dilakukan. Dan Nia, aku tak melihatnya lagi sejak dia keluar dari kamar hotel. Sam bahkan tidak menjelaskan apapun, meski berulang kali kutanya prihal keberadaan Nia. Dia yang selalu ada bersamaku baik itu di kamar hotel sejak hari pertama, bahkan sampai di rumah sakitpun Sam terus bersamaku, tanpa membahas Nia ataupun pekerjaan!Dan aku yang jatuh sakit sesampainya di Bali, benar-benar merasa hanya menjadi beban Sam tanpa mengerjakan pekerjaan apapun. Dan Sam sendiri memang tidak memberiku kesempatan untuk melakukannya.Lalu sekarang aku terduduk lemas di kursi pesawat dalam penerbangan untuk kembali ke Jakarta, bersama Sam yang duduk di sebelahku dengan sikap protektifnya yang terasa aneh. Aku tak punya energi untuk mendebatnya, memprotesnya, atau mempertanyakan sikapnya. Aku benar-benar tidak lagi mengatakan apapun setelah beberapa kali pertanyaanku tentang Nia tidak dijawab Sama sekali
POV : MALAAku lelah, kepalaku mulai terasa pusing, aku memberontak dengan kuat sementara Sam melumat bibirku dengan instens. Aku sesak. Tak bisa bernapas. Kujambak rambut Sam keras dan menarik kepalanya.Berhasil! Sam melepaskanku dengan napas terengah, dadanya naik turun karena ritme napasnya yang kencang, sepertiku. Yang entah karena sedang tidak sehat, terkejut, shock, atau entah karena apa pastinya, aku merasa tubuhku lelah. Aku tertunduk. Menyandarkan diri pada Sam yang lengannya tidak juga melepaskan pergelangan tanganku. Aku terdiam, mengatur napas, menghirup banyak oksigen dan menghembuskannya perlahan. Aku tak punya tenaga lagi untuk berpikir, berontak atau memaki. Aku hanya mematung diam. Mengatur napas seraya merasakan degup jantung Sam yang kencang di dadanya.Sam melepaskan cengkraman tangannya pada lenganku, kemudian dia memelukku erat tapi hangat. mungkin karena aku tidak sehat, aku tidak bisa berpikir jernih. Aku hanya diam dan mencerna kehangatan yang merayap ke seti
POV : SamTubuhku lemas mendengar perkataan Mala. Bagaimana bisa dia tidak mengingat hari kemarin?! Moment sepenting itu? Moment yang telah lama kunantikan dan kudambakan. Lalu sekarang dia berkata tidak mengingatnya sama sekali?! Seolah semua hanya sebatas khayalanku, mimpiku semata seperti yang sebelum-sebelumnya kurasakan sebelah pihak."Atau memang semua hanya ilusiku semata? Atau memang Tuhan ingin semua hanya sebatas khayalanku saja?" Aku yang frustrasi hanya bisa mengacak-ngacak rambut sendiri, kalut."Tolong periksa istri saya, dok! Dia jelas kehilangan ingatannya satu hari kemarin." mohonku pada Dokter."Baik, kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahi kondisi istri anda.""Tolong lakukan segera Dok!""Baik, Pak! Akan kami persiapkan terlebih dahulu." Jawab dokter. "Jadi bagaimana keadaan Ibu sekarang? Ada keluhan atau rasa aneh atau sakit dan semacamnya?"Mala menggelengkan kepala, sekilas dia menatapku kesal. Tatapan kesal yang muncul setiap kali aku menyebutny
POV : SamAku melirik pintu kamar mandi, dengan celana dalam milik Mala yang tergenggam erat di tangan. Rasanya sangat menyiksa, terpikir untuk mendobrak pintu kamar mandi dengan brutal, dimana dibaliknya ada sosok Mala yang tengah mengenakan handuk saja. Haruskah aku meminta tolong pada Mala dengan memelas agar dia membantuku untuk meredam hasratku? Akankah dia mengerti dan mau melakukannya? Atau kupaksa saja dia? Tidak, jika kupaksa semua usahaku selama ini akan sia-sia dan hancur dalam sekejap, dan kemudian aku akan kehilangan Mala selamanya tanpa bisa berharap apapun. Dan aku akan gila!Akhirnya dengan sedikit kesadaran yang tersisa, aku membawa semua baju Mala dan mengetuk pintu kamar mandi. Pintu sedikit terbuka dan Mala menyembulkan kepalanya dengan ekspresi kikuk dan pipi yang memerah karena malu. Manis. Aku refleks menelan ludah saat melihatnya. "Tarik saja dia, ciumi saja pipi merahnya, lumat saja bibirnya!" teriak setan dalam kepala.Namun aku tak menurutinya. Dengan enggan
POV : SamDengan rasa frustrasi aku menatap pintu kamar mandi yang mengeluarkan suara kran air yang dinyalakan. Di dalamnya ada Mala, entah dia tengah mandi atau sekadar mencuci wajah, entahlah. Ingin aku bergerak membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya. Membayangkan Mala tanpa pakaian dengan suhu tubuhnya yang tengah demam, aku merasa hawa panas menjalari seluruh syaraf dalam tubuhku, menimbulkan rasa pening di kepalaku saat membayangkan tubuh hangat Mala kuciumi.Aku mengusap-usap kasar wajahku, berusaha mendinginkan pikiranku dan memfokuskan kepalaku dari hal-hal yang agak liar. Kualihkan perhatianku pada makanan yang kupesan, kutata di meja agar Mala bisa makan dengan nyaman. Buah-buah iris yang tampak segar, aneka berry warna-warni, serta ada saus youghurt. Ada susu steril yang sengaja kupesan khusus untuk Mala, berharap dengan itu dapat membantu mempercepat penyembuhannya. Bubur abalone dan sup ayam gingseng. Sementara untukku sendiri, aku memesan steak wagyu, asparagus panggang
POV : BenAku mencintai Mala, tak pernah terpikirkan olehku untuk menyakitinya. Aku tak pernah berniat membohongi istriku. Semua perkataanku selaras dengan apa yang kulakukan. Tapi kondisiku memang sempat tidak terkontrol, dan sekarang bahkan menjadi diluar kendali. Aku bahkan tak tahu apa yang har
Aku menurunkan kecepatan laju kendaraan, saat mobil yang kukendarai semakin mendekati rumah Mala. Sedikit menahan diri, berniat untuk memantau situasi terlebih dulu sebelum benar-benar mengejutkannya dengan mendatangi Mala dan mengajaknya berangkat ke bandara bersama. Tapi mendadak perasaan excited
Aku melipat lengan kameja kerjaku, memutuskan untuk tidak memakai jas maupun dasi serta membiarkan kancing bagian atasnya terbuka. Sengaja pagi ini aku mengenakan style santai namun tetap formal. Demi kenyamananku dan juga sebagai alibi dari rencana licik di kepalaku. Pagi ini jadwal keberangkatan
POV : Sam.Aku terbangun dari tidurku, kebiasaan membuatku langsung menoleh pada jam yang tergantung di dinding kamar. Pukul 3 dini hari, bahkan alarm handphoneku belum berbunyi karena memang disetel untuk menyala setiap jam 04.30 pagi. Aku bangun lalu terduduk di tepi ranjang, menoleh sebentar ke







