ログインPOV : MALAAku lelah, kepalaku mulai terasa pusing, aku memberontak dengan kuat sementara Sam melumat bibirku dengan instens. Aku sesak. Tak bisa bernapas. Kujambak rambut Sam keras dan menarik kepalanya.Berhasil! Sam melepaskanku dengan napas terengah, dadanya naik turun karena ritme napasnya yang kencang, sepertiku. Yang entah karena sedang tidak sehat, terkejut, shock, atau entah karena apa pastinya, aku merasa tubuhku lelah. Aku tertunduk. Menyandarkan diri pada Sam yang lengannya tidak juga melepaskan pergelangan tanganku. Aku terdiam, mengatur napas, menghirup banyak oksigen dan menghembuskannya perlahan. Aku tak punya tenaga lagi untuk berpikir, berontak atau memaki. Aku hanya mematung diam. Mengatur napas seraya merasakan degup jantung Sam yang kencang di dadanya.Sam melepaskan cengkraman tangannya pada lenganku, kemudian dia memelukku erat tapi hangat. mungkin karena aku tidak sehat, aku tidak bisa berpikir jernih. Aku hanya diam dan mencerna kehangatan yang merayap ke seti
POV : SamTubuhku lemas mendengar perkataan Mala. Bagaimana bisa dia tidak mengingat hari kemarin?! Moment sepenting itu? Moment yang telah lama kunantikan dan kudambakan. Lalu sekarang dia berkata tidak mengingatnya sama sekali?! Seolah semua hanya sebatas khayalanku, mimpiku semata seperti yang sebelum-sebelumnya kurasakan sebelah pihak."Atau memang semua hanya ilusiku semata? Atau memang Tuhan ingin semua hanya sebatas khayalanku saja?" Aku yang frustrasi hanya bisa mengacak-ngacak rambut sendiri, kalut."Tolong periksa istri saya, dok! Dia jelas kehilangan ingatannya satu hari kemarin." mohonku pada Dokter."Baik, kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahi kondisi istri anda.""Tolong lakukan segera Dok!""Baik, Pak! Akan kami persiapkan terlebih dahulu." Jawab dokter. "Jadi bagaimana keadaan Ibu sekarang? Ada keluhan atau rasa aneh atau sakit dan semacamnya?"Mala menggelengkan kepala, sekilas dia menatapku kesal. Tatapan kesal yang muncul setiap kali aku menyebutny
POV : SamAku melirik pintu kamar mandi, dengan celana dalam milik Mala yang tergenggam erat di tangan. Rasanya sangat menyiksa, terpikir untuk mendobrak pintu kamar mandi dengan brutal, dimana dibaliknya ada sosok Mala yang tengah mengenakan handuk saja. Haruskah aku meminta tolong pada Mala dengan memelas agar dia membantuku untuk meredam hasratku? Akankah dia mengerti dan mau melakukannya? Atau kupaksa saja dia? Tidak, jika kupaksa semua usahaku selama ini akan sia-sia dan hancur dalam sekejap, dan kemudian aku akan kehilangan Mala selamanya tanpa bisa berharap apapun. Dan aku akan gila!Akhirnya dengan sedikit kesadaran yang tersisa, aku membawa semua baju Mala dan mengetuk pintu kamar mandi. Pintu sedikit terbuka dan Mala menyembulkan kepalanya dengan ekspresi kikuk dan pipi yang memerah karena malu. Manis. Aku refleks menelan ludah saat melihatnya. "Tarik saja dia, ciumi saja pipi merahnya, lumat saja bibirnya!" teriak setan dalam kepala.Namun aku tak menurutinya. Dengan enggan
POV : SamDengan rasa frustrasi aku menatap pintu kamar mandi yang mengeluarkan suara kran air yang dinyalakan. Di dalamnya ada Mala, entah dia tengah mandi atau sekadar mencuci wajah, entahlah. Ingin aku bergerak membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya. Membayangkan Mala tanpa pakaian dengan suhu tubuhnya yang tengah demam, aku merasa hawa panas menjalari seluruh syaraf dalam tubuhku, menimbulkan rasa pening di kepalaku saat membayangkan tubuh hangat Mala kuciumi.Aku mengusap-usap kasar wajahku, berusaha mendinginkan pikiranku dan memfokuskan kepalaku dari hal-hal yang agak liar. Kualihkan perhatianku pada makanan yang kupesan, kutata di meja agar Mala bisa makan dengan nyaman. Buah-buah iris yang tampak segar, aneka berry warna-warni, serta ada saus youghurt. Ada susu steril yang sengaja kupesan khusus untuk Mala, berharap dengan itu dapat membantu mempercepat penyembuhannya. Bubur abalone dan sup ayam gingseng. Sementara untukku sendiri, aku memesan steak wagyu, asparagus panggang
POV : SAM“Kenapa melotot begitu padaku?” tanyaku, seraya menghampiri Mala dan duduk di tepi ranjang, yang tiba-tiba Mala bangkit, dia terlihat panik dan loncat dari ranjang bahkan menjauh dariku.Dia menyenderkan tubuhnya pada dinding dengan wajah pucat yang terlihat jelas diliputi kekhawatiran yang tampak nyata. Aku mengerti apa yang dipikirkan Mala, namun aku tak peduli. Saat ini aku ingin menjadi Sam yang menyukai Mala sejak SMA, bukan menjadi Sam yang adalah seorang CEO yang tengah menghadapi karyawannya.“Kenapa?” tanyaku lagi, dengan dahi berkerut heran.“Nia mana?” tanya Mala.Seperti tertampar oleh pertanyaan Mala, kesadaranku muncul menimbulkan rasa sakit yang berdenyut aktif di dada, aku terdiam menahan diri untuk sejenak mengatur napas berusaha melonggarkan dadaku dari rasa sesak yang mendera. Kemudian aku hanya mengendikkan bahu, aku memang tidak tahu Nia dimana.“Pak Sam sebaiknya keluar. Apa yang akan Nia katakan jika melihat kita hanya berdua di dalam kamar?” tanya Mal
Hari mulai gelap, aku keluar dari ruang kerja pribadiku di salah satu hotel besar di Bali, di ruangan paling atas dari hotel ini yang sengaja kusiapkan khusus untukku. Beberapa karyawan hotel yang kebetulan berpapasan denganku saat aku bergerak turun, mengangguk hormat seraya tersenyum ramah, seolah aku hanyalah sekadar tamu hotel VVIP mereka.Memang tak ada yang tahu, bahwa hotel ini adalah milikku dan merupakan salah satu usaha yang kurintis secara diam-diam. Aku hanya menempatkan satu orang kepercayaanku di setiap hotel yang kudirikan, untuk mengelolanya sebagai manajemen professional serta menjadi wajahku untuk mengatur pekerja. Meski begitu secara sistem, kinerja, pengambilan keputusan, aku sendiri yang meninjau dan memutuskan melalui orang kepercayaanku itu yang selalu memberikan laporan di setiap harinya. Sampai hari ini, semua berjalan lancar dan terkendali. Bahkan beberapa cabang hotelku bekembang pesat melebihi ekspektasi, tersebar di beberapa kota besar di Indonesia, dan ad







