LOGINWarning 21+! Cerita dewasa. Terjebak cinta seorang CEO yang sudah beristeri, bukan hanya satu tapi bahkan telah memiliki dua isteri! Apa yang harus kulakukan? Karena laki-laki itu bahkan sangat tampan dan mapan, selain itu dia juga mendebarkan! Haruskah mundur atau maju menjadi yang ketiga? We listen we don’t judge! Ini ceritaku, silahkan kalian bayangkan jika menjadi aku!
View MoreRuang kantor pagi itu terasa terlalu sunyi untuk ukuran hari Selasa. Sam masuk ke kantor agak terlambat dari biasanya. Lengan kirinya tersangga sling arm biru tua, kemeja hitamnya digulung setengah di sisi yang sehat. Langkahnya tetap tegak, suara sepatunya menggema di lantai. Tidak ada yang berani komentar tentang sling arm yang tampak menjadi pusat perhatian seantero kantor. Semua karyawan yang terlewati, hanya memberi salam biasa seperti hari-hari sebelumnya, seraya menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Sam berjalan tegak seperti bisanya, seolah cedera itu cuma hiasan. Prioritas Sam saat itu hanya satu : memastikan Mala tidak kenapa-napa. Rasa sakit akibat cidera di bahu dan lengannya akan ditelannya mentah-mentah, asalkan Mala baik tak kurang suatu apapun.Sam tidak bisa menelepon, dia tahu Mala jelas tengah bersama Ben, suaminya. Ia sendiri juga belum tahu bagaimana nanti harus bersikap jika sudah berhadapan dengan Mala. Satu hal yang pasti, dia harus melihat Mala baik-baik sa
POV : SAMAku merasakan sakit dari bahu yang menjalar ke lengan, namun rasa sakit itu terkubur oleh kelegaan saat kudapati Mala tidak kenapa-napa. Tadi aku terlalu panik, segala pikiran buruk berseliweran dikepala, membayangkan Mala yang tidak mengangkat telepon serta tidak juga membuka pintu, pikiranku kemana-mana. Aku berpikir buruk bahwa terjadi sesuatu dengan Mala di dalam sana. Rasanya aku mau gila. Aku menghantam pintu baja rumah Mala dengan bahu dan lenganku, lalu menjadikannya bantalan untuk menumpu jatuhnya Mala agar tidak membentur lantai. Andai sesuatu yang buruk terjadi pada Mala, rasanya aku tak lagi bisa hidup dengan tenang.Sampai tiba-tiba Mala bangkit dengan tergesa, dia bahkan terlihat limbung. Dan,"Aaaaaa!!!" tiba-tiba saja dia berteriak histeris seraya mengacak-acak rambutnya, terlihat amat kalut. Kelegaanku musnah, berganti dengan kekhawatiran yang kuat. Sepertinya Mala amat sangat kesakitan. Mengabaikan rasa sakit di bahu dan lengan, segera aku berdiri dan menar
POV : MalaAku terbangun, sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden yang langsung mengenai mata. "Silau." gumamku, seraya menarik bantal dan menutupi wajahku dengan itu. Tapi aku tidak berniat untuk melanjutkan tidur. Hanya tengah mengumpulkan kesadaran. Sampai tiba-tiba ingatanku berkelebat kembali ke masa-masa saat di hotel. Saat aku sakit, saat Sam memanggil dokter, saat aku diminta ganti baju."Kamu demam, sayang. Tenanglah, ini dokter yang sengaja kupanggil untuk memeriksa keadaanmu." terngiang kembali perkataan Sam saat itu ditelingaku.Lalu aku ingat saat Sam memaksaku untuk ganti baju, dan dengan tak tahu malu dia mengambil bra dan celana dalamku. Meski untuk kupakai, tetap saja itu memalukan untuk diingat. Mengingatnya sekarang bahkan aku masih merasa malu dan kesal. Meski hal itu memang bukan pertama kalinya. Sepertinya bahkan Sam sudah tahu betul ukuran bra dan celana dalamku. "Memalukan." grutuku kesal pada diri sendiri. seraya menyingkirkan bantal yang menutupi
POV : SAMAku menghentikan mobilku tepat di depan gerbang rumah Mala. Kulihat di sebelahku Mala tertidur lelap, dia tampak cantik, amat cantik dimataku meski kondisinya sedang tidak terlalu baik."Bolehkah kucium dia?" tanyaku dalam hati."Tidak!" tegas kepalaku yang ternyata masih tersisa kewarasan disana.Haruskah kubawa saja dia ke rumahku? Dengan begitu aku bisa membopongnya ke kamarku tanpa harus membangunkannya. Tak tega rasanya jika aku harus membangunkan Mala dari tidur lelapnya. Dengan begitu setidaknya aku bisa menjaganya, memastikan dia beristirahat dengan baik, makan dengan benar, dan hidup dengan nyaman.Tapi aku tidak bisa melakukan itu sekarang, belum waktunya. Dan mendadak aku merasa kesal, tapi yang bisa kulakukan hanya menghembuskan napas berat.Kulihat keadaan rumah Mala, sepertinya suami Mala bahkan tidak pulang sejak aku melihatnya pergi waktu itu, tak lama setelah Mala naik taksi di hari keberangkatannya ke Bali."Apa sekarang aku bangunkan saja Mala dan memaksan
POV : Sam"Dia bisa membuatmu gila!" ulang ayah, dengan intonasi yang lebih ditekankan.Aku tercekat, menelan ludah. Padahal sudah sering sebelumnya aku membayangkan hari seperti ini datang. Dimana ayah dan aku berbicara mengenai Mala, perempuan yang paling kuinginkan lebih dari siapapun. Namun, mes
Aku terbangun saat alarm handphone berdering nyaring, tepat pukul 4 pagi. Kulihat Kayas masih terlelap di sampingku. Semalam aku tertidur di kamar Kayas, selain karena Ben memang tidak ada, rasa lelah juga membuatku rindu untuk tidur bersama putriku. Aku meraih handphone dan mematikan alarm, kulihat
Postingan Sam terasa agak ambigu di kepalaku. Kulihat Nia dan beberapa orang lainnya me-like postingan Sam. Kemudian ada Camelia berkomentar. "Wait 3 days more, forever we will be together.”Sam tidak bereaksi. Tidak membalas komentar Camelia atau me-like komentarnya. Bisa jadi mereka lanjut bertel
Aku sampai di depan rumah tepat pukul 8 malam. Setelah membayar ongkos taxi, aku segera masuk ke dalam rumah dengan kunci yang memang biasa kubawa. Baik aku maupun Ben, suamiku, sama-sama memegang kunci rumah masing-masing sehingga kita tidak perlu saling menunggu satu sama lain saat masing-masing






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews