MasukAku yang sama terkejutnya hanya bisa mematung diam.
“Ma, maaf.” gugup Nia seraya melepaskan diri dari lengan kekar Sam yang menahannya.
Aku ikut gelagapan dan refleks berjongkok sembari menunduk memunguti berkas-berkas yang berserakan di lantai, tak berani menengadah menatap ekspresi Sam yang masih berdiri tanpa mencoba membantuku memunguti berkas-berkasnya.
“Oh ayolah, ini bukan drama Korea! Kenapa aku harus berpikir Sam yang adalah CEO ikut membantu memunguti berkas yang berceceran di lantai?” protesku pada pikiran kotorku sendiri. “Lagian kalaupun ini kisah drama, pemerannya utamanya jelas bukan aku sekarang, melainkan Sam dan Nia!” pikirku yang juga adalah pikiran gila! Sementara aku bisa memahami Nia yang hanya mematung dengan tertunduk, tanpa melakukan apapun. Dia tampak terlalu memaksakan diri untuk tampil all out hingga nekat mengenakan high heels yang belum terbiasa dipakainya. Dia pasti akan kehilangan keseimbangan dan tampak memalukan jika memaksakan diri berjongkok dan ikut memunguti kertas-kertas di lantai dengan sepatu hak tinggi dan rok span pendeknya!
Aku berdiri dengan semua kertas yang sudah kuambil dan kuserahkan kepada Nia.
“Terimakasih banyak.” gumamnya pelan seraya mengernyit tampak tak enak hati.
“Santai.” ucapku menenangkannya. Kulihat wajah Sam, dia menatapku aneh. Dan aku menundukkan kepala seraya tersenyum berusaha mencairkan suasana. “Kupikir Bapak belum datang. Maaf kami datang terlambat!”
“Tidak terlambat, ini masih setengah jam lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan.” Jawab Sam.
“Oh ia, Pak! Perkenalkan ini Nia, staff invoice pengganti Mba Yuni.” ujarku memperkenalkan. Ini memang kali pertama Nia bertemu Sam secara langsung, setelah sebelumnya mungkin Nia hanya melihat Sam saat dia lewat atau datang ke ruang Divisi AR&Invoicing.
“Mohon bantuan dan kerjasamanya!” ucap Nia seraya membungkuk sopan.
“Oke, Nia! Selamat bergabung dengan perusahaan, semoga kedepannya kita bisa memajukan perusahaan menjadi lebih baik dan semakin baik.” kata Sam, yang sontak membuat ekspresi wajah Nia sumringah dan bersemangat. “Kalian bisa menunggu di dalam!” ujarnya, lantas bergegas meninggalkan kami yang masih merasa canggung.
“Seharusnya kau menggunakan sepatu yang nyaman!” protesku pada Nia saat kami masuk ke ruang meeting.
“Maaf.” ucapnya merasa bersalah. Padahal entah siapa yang benar-benar salah. Ini lebih ke terasa lucu bagi kami, hingga kami bahkan bisa menertawakannya bersama setiap kami berdua mengingat dan membahasnya.
***
Saat itu meeting dengan klien berjalan lancar, dan kami keluar dengan sumringah mengikuti Sam yang berjalan lebih dulu menuju basement kantor. Sampai tiba-tiba Sam berheti saat aku dan Nia berada beberapa langkah di belakangnya! Aku yang tahu Sam berhenti refleks ikut menghentikan langkahku, namun tidak dengan Nia! Entah dia tengah melamun atau memang sangat gugup di dekat Sam sampai tidak menyadari langkah Sam yang terhenti dan terus saja melaju hingga akhirnya menubruk punggung Sam cukup keras sampai-sampai ada cetakan bibir merah di kemeja putih Sam yang tak lain adalah transfer dari lipstick yang dipakai Nia di bibirnya.
“Ma, maaf pak. Aku ceroboh karena tidak memahami aba-aba Pak Sam saat akan berhenti melangkah, tolong maafkan saya!” mohon Nia yang malah terdengar aneh di telingaku.
Permohonan maaf sekaligus protes! Tentu saja, Sam memang tidak memberikan aba-aba atau tanda-tanda saat akan berhenti hingga Nia menabraknya. Tapi caranya minta maaf sungguh cerdik, perkataannya secara tidak langsung adalah menyalahkan Sam karena berhenti mendadak. Aku ingin tertawa mendengarnya, lebih ingin terbahak lagi saat aku meliat cap bibir merah yang Nia gambar di punggung kemeja putih Sam. Tapi aku menahannya!
“No problem.” jawab Sam santai. Dia belum tau ada cap bibir merah di punggung kamejanya.
Dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku berniat untuk memberitahunya, tapi Nia terus menatapku dengan tatapan memohon agar aku tetap diam. Dan akupun diam. Siapa yang tahu bahwa ternyata itu adalah kesalahan fatal!
“Kalian langsung pulang?” tanya Sam seraya menatapku.
“Kita mau makan.” jawab Nia cepat.
“Oh ya?’’ Sam Kembali menatapku untuk memastikan. Dan aku tersenyum mengiyakan, karena tidak tahu harus mengatakan apa untuk refleks menjawab Nia yang sangat cepat. “Mau makan apa?” tanya Sam lagi-lagi melihatku.
“Kita berencana makan di restoran seberang jalan depan.” lagi-lagi Nia menyela dengan cepat.
Sam masih menatapku seolah menunggu jawaban dariku dan tak bereaksi terhadap perkataan Nia. Segera aku mengangguk seraya tersenyum lebar.
“Okay, mari kita makan bersama.” ajak Sam, nada bicaranya terdengar santai. Dia naik ke mobilnya yang memang dikemudikannya sendiri tanpa sopir, sementara aku dan Nia naik ke mobil operasonal kantor yang dikemudian Pak Satrio yang merupakan driver kantor untuk operasional staff.
Sampai akhirnya kami berempat, aku, Nia, Sam, dan Pak Satrio menempati salah satu meja di restoran yang dikatakan Nia. Sepertinya sudah sejak awal Nia melihat dan membayangkan makan di restoran ini. Dan sekarang dia senyam-senyum sendiri seperti anak kecil yang kegirangan dikasih permen. Tak lama pelayan datang dan memberikan buku menu. Setelah melihat-lihat kami mulai menyebutkan pesanan yang kemudian dicatat oleh pelayan restoran.
“Aku mau salad dan espresso.” pesan Nia yang membuatku terbelalak! Saat aku, Sam dan Pak Satrio memesan makanan berat berupa nasi dan lauk pauk, dia memesan salad dan espresso? Rasanya aku ingin tertawa. Nia sungguh aneh. Sepertinya dia tidak bercanda saat mengatakan bahwa dia gugup jika berada di dekat Sam.
Pelayan berlalu setelah mencatat pesanan dan memastikannya. Pak Satrio juga meminta iijin ke toilet. Dan aku yang lelah karena terus menahan tawa, kemudian memutuskan meminta ijin ke mobil sebentar untuk sekadar bernapas bebas sejenak, dengan beralasan ada barang yang tertinggal dan perlu kuambil. Tapi saat di pintu keluar aku berpapasan dengan seorang wanita cantik dengan penampilan mewah yang dari ujung rambut sampai ujung kaki mengenakan barang branded dan mahal. Bahkan wangi parfumnya tercium elegan dan mahal. Aku melirik sekilas, dan mengenyit. Dia tampak tidak asing, namun aku tidak tahu di mana pastinya aku pernah melihatnya. Sampai tiba-tiba terdengar teriakan histeris seorang wanita yang refleks menghentikan langkahku dan menoleh cepat ke sumber suara.
“Mas!” teriak wanita yang tadi berpapasan denganku, dan aku terbelalak saat wanita itu berteriak pada Sam.
Aku ingat! Dia Camelia, istri Sam! Bahkan potret cantiknya ada di meja kerja Sam di kantor.
Ruang kantor pagi itu terasa terlalu sunyi untuk ukuran hari Selasa. Sam masuk ke kantor agak terlambat dari biasanya. Lengan kirinya tersangga sling arm biru tua, kemeja hitamnya digulung setengah di sisi yang sehat. Langkahnya tetap tegak, suara sepatunya menggema di lantai. Tidak ada yang berani komentar tentang sling arm yang tampak menjadi pusat perhatian seantero kantor. Semua karyawan yang terlewati, hanya memberi salam biasa seperti hari-hari sebelumnya, seraya menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Sam berjalan tegak seperti bisanya, seolah cedera itu cuma hiasan. Prioritas Sam saat itu hanya satu : memastikan Mala tidak kenapa-napa. Rasa sakit akibat cidera di bahu dan lengannya akan ditelannya mentah-mentah, asalkan Mala baik tak kurang suatu apapun.Sam tidak bisa menelepon, dia tahu Mala jelas tengah bersama Ben, suaminya. Ia sendiri juga belum tahu bagaimana nanti harus bersikap jika sudah berhadapan dengan Mala. Satu hal yang pasti, dia harus melihat Mala baik-baik sa
POV : SAMAku merasakan sakit dari bahu yang menjalar ke lengan, namun rasa sakit itu terkubur oleh kelegaan saat kudapati Mala tidak kenapa-napa. Tadi aku terlalu panik, segala pikiran buruk berseliweran dikepala, membayangkan Mala yang tidak mengangkat telepon serta tidak juga membuka pintu, pikiranku kemana-mana. Aku berpikir buruk bahwa terjadi sesuatu dengan Mala di dalam sana. Rasanya aku mau gila. Aku menghantam pintu baja rumah Mala dengan bahu dan lenganku, lalu menjadikannya bantalan untuk menumpu jatuhnya Mala agar tidak membentur lantai. Andai sesuatu yang buruk terjadi pada Mala, rasanya aku tak lagi bisa hidup dengan tenang.Sampai tiba-tiba Mala bangkit dengan tergesa, dia bahkan terlihat limbung. Dan,"Aaaaaa!!!" tiba-tiba saja dia berteriak histeris seraya mengacak-acak rambutnya, terlihat amat kalut. Kelegaanku musnah, berganti dengan kekhawatiran yang kuat. Sepertinya Mala amat sangat kesakitan. Mengabaikan rasa sakit di bahu dan lengan, segera aku berdiri dan menar
POV : MalaAku terbangun, sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden yang langsung mengenai mata. "Silau." gumamku, seraya menarik bantal dan menutupi wajahku dengan itu. Tapi aku tidak berniat untuk melanjutkan tidur. Hanya tengah mengumpulkan kesadaran. Sampai tiba-tiba ingatanku berkelebat kembali ke masa-masa saat di hotel. Saat aku sakit, saat Sam memanggil dokter, saat aku diminta ganti baju."Kamu demam, sayang. Tenanglah, ini dokter yang sengaja kupanggil untuk memeriksa keadaanmu." terngiang kembali perkataan Sam saat itu ditelingaku.Lalu aku ingat saat Sam memaksaku untuk ganti baju, dan dengan tak tahu malu dia mengambil bra dan celana dalamku. Meski untuk kupakai, tetap saja itu memalukan untuk diingat. Mengingatnya sekarang bahkan aku masih merasa malu dan kesal. Meski hal itu memang bukan pertama kalinya. Sepertinya bahkan Sam sudah tahu betul ukuran bra dan celana dalamku. "Memalukan." grutuku kesal pada diri sendiri. seraya menyingkirkan bantal yang menutupi
POV : SAMAku menghentikan mobilku tepat di depan gerbang rumah Mala. Kulihat di sebelahku Mala tertidur lelap, dia tampak cantik, amat cantik dimataku meski kondisinya sedang tidak terlalu baik."Bolehkah kucium dia?" tanyaku dalam hati."Tidak!" tegas kepalaku yang ternyata masih tersisa kewarasan disana.Haruskah kubawa saja dia ke rumahku? Dengan begitu aku bisa membopongnya ke kamarku tanpa harus membangunkannya. Tak tega rasanya jika aku harus membangunkan Mala dari tidur lelapnya. Dengan begitu setidaknya aku bisa menjaganya, memastikan dia beristirahat dengan baik, makan dengan benar, dan hidup dengan nyaman.Tapi aku tidak bisa melakukan itu sekarang, belum waktunya. Dan mendadak aku merasa kesal, tapi yang bisa kulakukan hanya menghembuskan napas berat.Kulihat keadaan rumah Mala, sepertinya suami Mala bahkan tidak pulang sejak aku melihatnya pergi waktu itu, tak lama setelah Mala naik taksi di hari keberangkatannya ke Bali."Apa sekarang aku bangunkan saja Mala dan memaksan
Aku terduduk lemas di jok mobil di samping Sam yang tengah mengemudi. Kita sudah tiba dengan selamat di Jakarta. Dan selama itu aku tidak mengatakan apapun. Tidak bertanya, tidak juga memprotes atau apapun prihal sikap Sam terhadapku. Aku sungguh memilih hanya diam. Saat Sam memapahku turun dari pesawat, mendudukkanku di kursi roda dan membawaku naik ke mobilnya. Dia mengurus semuanya dengan baik. Koper dan barang bawaan juga sepertinya Sam sudah mengurus semuanya. Entah kapan dia berkoordinasi untuk mengurus semuanya, aku tak tau, dan aku rasa aku tidak perlu tahu. Cukup menjadi perempuan yang patuh saja saat ini.Sampai tiba-tiba Sam menepikan mobilnya. Aku masih tetap diam, tidak menoleh atau sekadar bertanya kenapa."Kamu baik-baik saja?" tanya Sam terdengar cemas."Hmm." jawabku pelan tanpa menoleh, pandanganku menatap nanar jalanan dengan lalu-lalang kendaraan."Ada yang sakit?""Tidak.""Kamu terus diam, aku khawatir kamu menahan rasa sakit sendiri. Katakan padaku jika ada sesu
POV : Mala.Dinas ke Bali kali ini, kacau! Aku tidak tahu pekerjaan apa yang sesungguhnya harus dilakukan. Dan Nia, aku tak melihatnya lagi sejak dia keluar dari kamar hotel. Sam bahkan tidak menjelaskan apapun, meski berulang kali kutanya prihal keberadaan Nia. Dia yang selalu ada bersamaku baik itu di kamar hotel sejak hari pertama, bahkan sampai di rumah sakitpun Sam terus bersamaku, tanpa membahas Nia ataupun pekerjaan!Dan aku yang jatuh sakit sesampainya di Bali, benar-benar merasa hanya menjadi beban Sam tanpa mengerjakan pekerjaan apapun. Dan Sam sendiri memang tidak memberiku kesempatan untuk melakukannya.Lalu sekarang aku terduduk lemas di kursi pesawat dalam penerbangan untuk kembali ke Jakarta, bersama Sam yang duduk di sebelahku dengan sikap protektifnya yang terasa aneh. Aku tak punya energi untuk mendebatnya, memprotesnya, atau mempertanyakan sikapnya. Aku benar-benar tidak lagi mengatakan apapun setelah beberapa kali pertanyaanku tentang Nia tidak dijawab Sama sekali
Melihatku melongo shock, Sam ikut melongo. Dia menatap lekat pada pahaku yang memang terbuka karena hanya mengenakan hotpants, yang kini bahkan blepotan saus tomat dan mayonaise serta ada potongan sosis diantaranya. Tak lama Sam lantas tertawa, sedang aku masih mematung menyesali sepenuh hati karen
Tak berapa lama suasana terasa hening, mungkin mereka telah menyelesaikan adegannya. Terdengar pintu terbuka dan tertutup, entah siapa yang masuk ke kamar mandi? Mungkin Nia, mungkin Sam, atau bahkan keduanya. Aku menahan diri untuk tetap membatu, namun tubuhku mulai pegal, hatiku juga gatal oleh r
“Apa?! Mas ada di depan pintu kamar?!” pekik Nia kaget, yang sontak membuatku ikut terhenyak juga mendengarnya.Nia sangat terkejut dan gugup, dia loncat dari tempat tidur dan menghambur ke pintu tanpa melihatku terlebih dahulu.“Aku rindu.” suara berat Sam terdengar jelas saat Nia telah membuka pi
Ketika aku tahu pikiran gilamu, sedang kamu tidak menyadari hatiku yang menggila. Sialan kamu, Sam!!!Dan malam itu, disebuah kamar hotel bintang 5 tipe Deluxe aku terjebak diantara sepasang suami istri yang bersetubuh untuk pertama kalinya diusia enam bulan pernikahan mereka. GILA! Aku tak menyangk







