Share

Bab 16. Perhatian

Author: Shappire
last update publish date: 2026-02-02 07:29:11
Safna masuk ke dalam area proyek bersama dengan rekan tim lainnya. Hari ini ia ikut bersama dengan mobil karyawan, tidak seperti biasa ikut Edgar. Pagi tadi, Malik memberi kabar kalau hari ini tidak bisa berangkat bersama.

Sepanjang perjalanan, pikirannya berkecamuk. Salah satunya berputar pada satu kemungkinan yang terus mengusik.

Apa Kak Ega marah karena ucapanku kemarin?

Safna menggeleng. Ia berusaha mengenyahkan pikiran tentang kakaknya. Lagi pula bukankah bagus jika hari ini mereka ti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 95

    “Semua bukti sudah kamu serahkan ke polisi?” tanya Edgar di jok belakang. Pagi ini ia akan menemui Maya di kantor polisi. Tadinya Safna ingin ikut, tapi pria itu melarangnya takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan melihat dari Maya yang menurutnya cukup gila.“Sudah, Pak. Anda yakin ini bikin dia jera?” tanya Malik sambil mengemudikan mobilnya.“Harus. Dia harus jera. Buat dia mendekam di penjara dan tidak ada celah untuk lolos.”“Baik, Pak.”Mobil berhenti tepat di depan gedung kantor polisi. Pagi itu tidak terlalu ramai, tapi cukup sibuk. Beberapa petugas lalu lalang, kendaraan keluar masuk halaman dengan ritme yang teratur. Berbeda dengan ketegangan yang diam-diam ikut turun bersama Edgar dari dalam mobil.Malik mematikan mesin, lalu menoleh sedikit ke belakang. “Sudah siap, Pak?”Edgar tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan, rahangnya sedikit mengeras, namun ekspresinya tetap tenang seperti biasa.“Tidak ada yang perlu disiapkan,” jawabnya akhirnya singkat.Ia mem

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 94

    Keesokan paginya, suasana lobi kantor yang biasanya rapi dan tenang berubah menjadi riuh. Beberapa karyawan berdiri berkelompok, berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke satu arah yang sama. Suara sepatu beradu dengan lantai marmer terdengar cepat, tidak teratur—berbeda dari ritme kerja yang biasanya terkontrol.Di tengah semua itu— Maya berdiri. Rambutnya tidak serapi biasanya. Make up-nya masih ada, tapi sedikit berantakan. Matanya tajam, terlalu tajam, dengan emosi yang tidak lagi disembunyikan.“Kalian semua lihat, kan?!” suaranya meninggi, menggema di seluruh lobi. “CEO kalian itu… munafik!”Beberapa karyawan langsung saling pandang. Tidak ada yang berani mendekat, tapi tidak ada juga yang benar-benar pergi.Maya tertawa. Tiba-tiba. Pendek. Kering. Tidak wajar.“Lucu ya…” lanjutnya sambil menggeleng pelan. “Dia hancurin aku, terus sekarang dia santai-santai pacaran sama adiknya sendiri!”Bisik-bisik langsung semakin ramai. “Adik angkat!” sahut seseorang pelan dari belakang.May

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 93

    Safna menatap pantulan dirinya di cermin cukup lama. Rambutnya masih basah, ujung-ujungnya menetes pelan membasahi bahu. Handuk putih masih melilit kepalanya, tapi ia bahkan tidak sadar sejak kapan ia berdiri di sana. Tatapannya kosong, seolah yang ia lihat di cermin bukan dirinya. Ucapan papanya–Albert masih terngiang. Belum lagi penjelasan dari Sofia yang masih belum dapat dicerna.“Kamu juga bukan anak kandung kami.”Safna menutup matanya. Namun, bukannya hilang—suara itu justru semakin keras. Disusul oleh suara Sofia yang lebih lembut, tapi justru lebih menghancurkan.“Mama mengadopsi kalian dari panti asuhan yang sama. Jika saja Edgar tidak mengalami geger otak ringan saat kecil. Pasti dia ingat saat kami mengadopsi kamu yang baru umur dua bulan saat itu.”Napas Safna tertahan. Perlahan, matanya kembali terbuka. Ia menatap dirinya lagi.Wajah yang selama ini ia kenal tiba-tiba terasa asing.“Jadi, selama ini…” gumamnya lirih.Tangannya terangkat pelan, menyentuh pipinya sendiri

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 92

    Edgar terdiam beberapa detik. Tatapannya tertuju pada pria di depannya—sosok yang selama ini selalu ia hormati… sekaligus satu-satunya orang yang masih bisa menahannya.Meski usia pria itu sudah melewati setengah abad, sorot matanya masih tajam. Tidak goyah. Tidak mudah ditaklukkan.Edgar menarik napas pelan, lalu akhirnya membuka suara.“Aku akan berusaha mendapatkan restu dari Papa dan Mama.”Nada suaranya tenang. Namun, ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya—ketegasan yang tidak bisa diabaikan.“Tapi…” lanjutnya, kini menatap langsung tanpa ragu, “apa kalian tega menolak kami?”“Bukankah lebih mudah,” sambung Edgar pelan, “kalau Papa dan Mama memilih untuk menerima… daripada memaksa semuanya jadi lebih rumit?”Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, maknanya jelas— Edgar tidak akan mundur.“Jadi menurutmu… ini sesederhana itu?” tanyanya akhirnya.Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup untuk membuat Safna menegang.Edgar tidak bergerak. “Saya tidak mengatakan sederhana. Tapi juga

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Bab 91

    Ruang rapat utama terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena suhu ruangan, melainkan atmosfer yang dipenuhi ketegangan. Para direksi sudah duduk di kursi masing-masing, beberapa dengan ekspresi serius, sebagian lain tampak tidak sabar. Tablet dan berkas terbuka di depan mereka, menampilkan satu topik yang sama—berita yang sedang beredar.Pintu terbuka. Edgar masuk dengan langkah tenang, setelan jasnya rapi seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda tekanan di wajahnya, seolah semua kekacauan di luar sana tidak menyentuhnya sama sekali. Malik mengikuti di belakang, membawa beberapa dokumen tambahan.“Maaf menunggu,” ujar Edgar singkat, lalu langsung duduk di kursi utama.Tidak ada basa-basi panjang. Salah satu direksi senior langsung membuka suara.“Pak Edgar, saya rasa kita tidak bisa menganggap ini masalah kecil,” ucapnya tegas. “Berita yang beredar sudah berdampak pada reputasi perusahaan. Beberapa klien mulai mempertanyakan integritas manajemen.”Yang lain mengangguk setuju.“Hubung

  • Terjebak Cinta Kakak Angkatku   Ban 90

    “Malik, sudah kamu temukan siapa yang menyebarkan rumor itu?” Pintu ruang kerja terbuka bersamaan dengan suara Edgar. Langkahnya masuk tenang, tapi rahangnya sedikit mengeras—tanda yang jarang terlihat. Ia sedikit lelah. Belum lagi beberapa klien yang membatalkan kontrak secara sepihak. Ia melepaskan jasnya dan melemparkannya ke kursi tanpa benar-benar memperhatikan.“Sudah, Pak. Akunnya milik Maya.”Langkah Edgar terhenti. Ia diam untuk beberapa saat, lalu menghembuskan napas pelan. Matanya terpejam sejenak.Edgar memejamkan matanya. “Dia lagi. Masih belum menyerah ternyata,” gumamnya. Nada suaranya datar. Tapi ada sesuatu yang lebih dingin dari biasanya.“Apa perlu kita buat konferensi pers, Pak? Pihak direksi juga menekan kita untuk segera mengkonfirmasi berita itu benar atau tidak. Mereka… terlihat marah.”“Tidak perlu sampai konferensi pers. Biar media nanti hilang sendiri.”Ia berjalan ke balik meja, duduk, lalu membuka beberapa dokumen seolah semua ini tidak cukup penting unt

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status