MasukJasmin terbangun lebih dulu. Cahaya lembut yang menyusup lewat jendela membuat matanya sedikit menyipit. Tubuhnya masih berada dalam dekapan Reyan, hangat dan kokoh, seolah pria itu sengaja tidak memberi celah agar ia bisa pergi.
Ia menatap wajah Reyan yang masih terlelap. Wajah itu begitu tenang, berbeda jauh dari ekspresi tegas yang selalu ia tampilkan di depan orang lain. Ada garis lembut di bibirnya, alisnya tidak mengernyit, dan dadanya naik turun teratur.Tanpa sadar,Rumah yang Akhirnya Menjadi Rumah Enam bulan kemudian. Musim dingin datang lebih cepat dari perkiraan. Mansion D’Amore yang dulu terasa begitu besar dan dingin kini dipenuhi suara yang tidak pernah Jasmin bayangkan akan ia rindukan. Suara langkah kaki. Suara Marta mengomel karena seseorang meninggalkan cangkir di ruang keluarga. Suara Livia tertawa dari dapur. Dan suara Reyan yang sesekali terdengar dari lantai atas ketika sedang berbicara melalui telepon. Rumah itu tidak berubah. Dindingnya masih sama. Tangga marmernya masih sama. Jendela-jendelanya masih memantulkan cahaya yang sama. Namun bagi Jasmin, semuanya terasa berbeda. Mungkin karena sekarang ia tidak lagi melihat rumah itu sebagai tempat yang memaksanya tinggal. Ia melihatnya sebagai tempat yang ia pilih untuk kembali. Jasmin berdiri di depan jendela kamarnya, memandangi taman yang tertutup salju tipis. Di tangannya ada sebuah undangan. Ia membaca tulisan di bagian depan sekali lagi. D’Am
Rumah yang Tidak Lagi AsingMalam sudah hampir berganti pagi ketika mereka kembali ke mansion D’Amore.Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara selama perjalanan.Jasmin duduk di kursi penumpang dengan surat ayahnya masih berada di dalam tas. Berkali-kali tangannya menyentuh bagian luar tas itu, seolah memastikan benda tersebut benar-benar ada.Reyan menyetir dengan kedua tangan di kemudi.Biasanya, diam di antara mereka terasa nyaman.Malam ini berbeda.Ada terlalu banyak hal yang baru mereka ketahui.Tentang ayah mereka.Tentang masa lalu.Tentang keluarga yang selama bertahun-tahun dibangun di atas kebohongan.Dan tentang cinta yang ternyata harus melewati lebih banyak hal daripada yang pernah mereka bayangkan.Mobil memasuki halaman mansion.Lampu-lampu di depan rumah masih menyala.Jasmin menatap bangunan besar itu dari balik kaca.Dulu, te
Masa Lalu yang TerkunciJasmin tidak langsung menjawab.Ia hanya berdiri menatap Reyan, sementara kalimat Livia terus berputar di kepalanya.Reyan juga berada di sana.Malam ketika ayahnya meninggal.Pria yang selama ini ia cintai ternyata memiliki hubungan dengan malam paling buruk dalam hidupnya.“Rey,” panggil Jasmin pelan.Reyan mengangkat wajah.“Aku tidak ingat.”“Apa maksudmu?”“Aku tidak ingat malam itu.”Jasmin menggeleng perlahan.“Bagaimana mungkin kau tidak ingat?”“Aku masih kecil.”“Berapa umurmu?”“Empat belas.”Jasmin terdiam.Reyan menelan ludah.“Aku ingat malam itu ada kecelakaan. Aku ingat ayahku membawaku pergi. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.”“Kenapa kau tidak pernah mengatakan ini?”“Karena aku sendiri tidak tahu.”Jasmin menatap Livia.“Benarkah?”
Harga Sebuah KebenaranJasmin berlari keluar dari restoran tanpa sempat memikirkan apa pun selain satu nama.Reyan.Udara di luar terasa dingin, tetapi tubuhnya justru panas karena panik. Matanya langsung mencari mobil hitam yang sebelumnya ia lihat terparkir di seberang jalan.Kosong.“Di mana mobilnya?” tanyanya.Adrian menyusul dari belakang. “Apa?”“Mobil Reyan.”Adrian melihat ke arah jalan.“Tidak ada.”Jasmin langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon Reyan lagi.Satu kali.Tidak diangkat.Dua kali.Tetap tidak ada jawaban.Ketiga kalinya, panggilan langsung masuk ke pesan suara.Jasmin menatap layar dengan napas tertahan.“Tidak mungkin.”Adrian mendekat. “Kita harus pergi.”“Dia di mana?”“Aku tidak tahu.”“Kau yang menyuruhku datang ke sini.”“Aku tidak tahu mereka akan melak
Jasmin tidak tidur malam itu.Setelah pesan terakhir masuk, ia tetap duduk di lantai dengan punggung bersandar pada pintu, memandangi layar ponselnya sampai cahaya dari sana perlahan meredup. Berkali-kali ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa pesan tersebut mungkin hanya jebakan. Seseorang yang ingin memisahkannya dari Reyan tentu akan melakukan apa saja untuk membuat kepercayaan di antara mereka retak.Masalahnya, orang itu tahu terlalu banyak.Tentang keluarganya. Tentang ayahnya. Tentang Reyan. Bahkan tentang hal-hal yang seharusnya sudah terkubur bertahun-tahun lalu.Jasmin bangkit dan berjalan menuju meja. Ia membuka laci paling bawah, tempat ia menyimpan beberapa barang lama yang hampir tidak pernah disentuh. Di antara dokumen dan foto masa kecilnya, ada sebuah foto ayahnya yang sudah sedikit pudar.Jasmin mengambilnya.Ayahnya sedang tersenyum dalam foto itu. Senyum yang nyaris tidak pernah bisa ia ingat lagi dengan jelas.
Pagi setelah gala seharusnya menjadi pagi yang tenang. Namun Jasmin tahu ada sesuatu yang tidak beres bahkan sebelum ia benar-benar membuka mata. Ponselnya bergetar berkali-kali di atas nakas, membuatnya terpaksa meraihnya dengan mata yang masih berat. Begitu layar menyala, ia melihat belasan notifikasi dari asistennya, tim komunikasi, dan beberapa nomor yang tidak ia kenal. Satu pesan membuat rasa kantuknya hilang seketika. “Kak Jasmin, tolong lihat berita ini sebelum masuk kantor.” Sebuah tautan menyertai pesan tersebut. Jasmin membukanya. Wajahnya langsung berubah. Judul berita itu membuat dadanya terasa sesak. Hubungan Reyan D’Amore dan Jasmin Diduga Dimulai Saat Keduanya Masih Berstatus Saudara Tiri. Jasmin menatap layar beberapa detik sebelum menggulirnya perlahan. Foto-foto lama muncul satu demi satu. Foto dirinya ketika masih tinggal di mansion D’Amore. Foto saat menghadiri acara keluarga bersama Reyan. Bahkan ada foto ketika Reyan berdiri di dekat mobil s







