LOGINTangan Jasmin berhenti menulis saat suara pintu depan diketuk dua kali. Pelan, tapi cukup keras untuk membuat degup jantungnya terganggu.
Ia tak mengharapkan siapa pun malam itu. Lucas sudah pamit lebih dulu, mengatakan akan memberi ruang. Tak ada pesan baru, tak ada panggilan yang terlewat. Tapi entah kenapa… dadanya terasa sesak. Bukan karena takut. Tapi karena firasat. Jasmin membuka pintu perlahan. Reyan berdiri di sana. Diam. MaHak yang Tidak Lagi DimilikiReyan tidak langsung pulang malam itu.Ia tetap berdiri di trotoar depan galeri, lampu jalan memantulkan bayangannya yang tampak lebih panjang dari biasanya. Mobilnya sudah menunggu, sopirnya membuka pintu dengan hormat.“Ke rumah, Pak?”Reyan terdiam beberapa detik sebelum menjawab.“Iya.”Sepanjang perjalanan, ia tidak membuka ponsel. Tidak melihat ulang foto. Tidak mencoba mencari tahu ke mana Jasmin pergi setelah itu.Ia tidak ingin terlihat seperti pria yang tidak bisa menerima kenyataan.Tapi kenyataan itu tetap menekan.Wajah Jasmin saat mengatakan, “Aku ikut.”Nada suaranya tidak ragu.Tidak memohon.Itu keputusan yang tenang.Dan justru ketenangan itu yang terasa paling menyakitkan.⸻Sementara itu, di restoran kecil tak jauh dari galeri, Jasmin duduk berhadapan dengan Adrian.Tempatnya tidak mewah. Lamp
Yang Tidak Bisa DigantikanUndangan itu datang tanpa diduga.Jasmin sedang duduk di meja kerjanya ketika ponselnya bergetar. Nama Adrian muncul di layar.Ia menatapnya beberapa detik sebelum mengangkat.“Halo?”“Aku harap aku tidak mengganggu,” suara Adrian terdengar hangat. Tenang seperti biasa. “Ada pameran seni kecil malam ini. Beberapa ilustrator yang kamu suka ikut serta. Kalau kamu tidak sibuk… mungkin kamu mau datang?”Jasmin bersandar di kursi.Malam ini ia memang tidak punya rencana.Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu memeriksa jadwal siapa pun sebelum menjawab.“Baik,” katanya akhirnya. “Kirim lokasinya.”Senyum Adrian terdengar jelas di suaranya. “Jam tujuh?”“Jam tujuh.”Setelah telepon ditutup, Jasmin duduk diam beberapa detik.Ini bukan kencan.Ia tidak menyebutnya begitu.Tapi ada sesuatu yang berbeda dari sekadar diskusi
Sebulan berlalu.Waktu benar-benar melakukan tugasnya—menutupi luka dengan rutinitas.Reyan lebih sering berada di Singapura daripada di Jakarta. Jadwalnya padat. Rapat pagi, inspeksi siang, makan malam bisnis yang tak pernah benar-benar ia nikmati. Namanya kembali bersih di media. Artikel tentang skandal lama tenggelam oleh berita ekspansi dan kerja sama internasional.Di foto-foto yang beredar, ia tampak sempurna.Tidak ada yang tahu bahwa setiap kamar hotel terasa terlalu luas saat malam datang.⸻Jasmin juga belajar berdamai dengan sunyi.Ia menulis lebih banyak. Menerima dua proyek baru. Menghadiri diskusi buku kecil di sebuah kafe. Ia berbicara tentang karakter, konflik batin, tentang cinta yang tidak selalu berakhir bahagia.Seseorang dari audiens bertanya,“Menurutmu, cinta yang gagal itu berarti salah?”Jasmin tersenyum kecil sebelum menjawab.“Tidak semua yang berakhir berarti sal
Dua minggu setelah konferensi pers, dunia kembali berjalan seperti biasa.Media sudah menemukan topik baru. Nama Reyan perlahan menghilang dari kolom gosip dan kembali ke halaman bisnis. Saham perusahaan stabil. Proyek Singapura diumumkan resmi. Semua terlihat terkendali.Terlalu terkendali.Reyan berdiri di ruang rapat dengan presentasi terbuka di layar. Ia menjelaskan strategi ekspansi dengan suara yang mantap, angka-angka keluar dari mulutnya tanpa ragu.“Target kuartal ketiga kita naikkan delapan persen,” katanya tegas.Beberapa direktur mengangguk.“Terlalu agresif?” salah satu dari mereka bertanya.Reyan menatap grafik di layar.“Tidak. Kita tidak boleh terlihat defensif.”Kalimat itu terdengar profesional.Tapi yang ia maksud bukan hanya soal bisnis.Rapat berakhir dengan tepuk tangan kecil. Pujian. Keyakinan bahwa perusahaan berada di tangan yang tepat.Semua orang mel
Jam menunjukkan pukul 15.42.Ruang konferensi pers sudah penuh. Kilatan kamera memantul di dinding kaca. Logo perusahaan berdiri megah di belakang podium, simbol reputasi yang dibangun puluhan tahun—dan mungkin runtuh dalam satu sore.Reyan berdiri di ruang tunggu belakang. Jas hitamnya sudah rapi. Dasi terpasang sempurna. Wajahnya tenang.Terlalu tenang.Ayahnya berdiri beberapa langkah darinya.“Ini keputusan terbaik,” ucap pria itu pelan namun tegas. “Semakin cepat selesai, semakin sedikit kerusakan.”Reyan tidak langsung menjawab.Ia menatap bayangannya di kaca. Pria di depannya tampak utuh. Terkendali. Rasional.Tapi di dalamnya, sesuatu sedang tercabik.“Setelah ini,” lanjut ayahnya, “kamu fokus ke ekspansi proyek Singapura. Kita alihkan perhatian media.”“Dan Jasmine?” tanya Reyan datar.Ayahnya terdiam sejenak.“Itu bukan lagi bagian dari hidupmu.”Jawaban itu terd
Hari ketiga datang tanpa hujan.Langit justru terlalu cerah.Seolah-olah alam sengaja menertawakan dua hati yang sedang berada di ujung keputusan.Jasmin tidak tidur semalaman.Ia duduk di lantai ruang tamu, bersandar pada sofa, memeluk lututnya. Pikirannya berputar pada satu pertanyaan yang sama berulang-ulang.Kalau aku benar-benar mencintainya… apa aku cukup berani untuk melepaskannya?Frederick mungkin manipulatif. Mungkin kejam.Tapi satu kalimatnya menancap terlalu dalam.Kalau kamu mencintainya, buktikan dengan meninggalkannya.Jasmin benci karena sebagian dari dirinya mengerti maksud itu.Cinta tidak selalu tentang memiliki.Kadang tentang mengorbankan.Dan hari ini adalah hari terakhir.⸻Di rumah besar itu, Reyan berdiri di depan cermin ruangannya.Ia belum mengenakan jas.Belum bersiap menghadapi dunia.Di ponselnya, ada







