LOGINAeloria memasukkan gantungan logam itu lebih dalam ke saku seragamnya sebelum keluar dari gedung sekolah. Langkahnya cepat, wajahnya masih ditekuk sejak percakapan dengan Alaric tadi, sementara pikirannya terus mengulang simbol berbentuk huruf V yang terukir di benda tersebut. Kalau benda itu benar milik kelompok lama Alaric, berarti mereka memang sudah berada di sekitar sekolah lebih lama dari yang dia kira. “Ael!” Suara Freyana membuatnya berhenti. Freyana berlari kecil bersama Vania dari arah kantin. “Lo mau pulang?” “Iya.” “Bareng kita?” Aeloria mengangkat bahu. “Terserah.” Vania memperhatikan wajahnya. “Lo habis berantem sama Alaric?” “Belum.” “Belum?” “Kalau gue udah berantem, mungkin gue nggak akan berdiri di sini.” Freyana menghela napas. “Kenapa sih lo kalau lagi kesel serem banget?” Aeloria meliriknya. “Lo mau gue senyum?” “Enggak.” “Nah.” Mereka bertiga berjalan menuju gerbang. Namun baru beberapa meter, Aeloria melihat Kaizen berdiri dekat pagar bersama Darr
Aeloria kembali ke kelas dengan langkah cepat. Begitu duduk, dia langsung menarik kursinya dan menjatuhkan tubuh ke sandaran tanpa menghiraukan tatapan Freyana yang sejak tadi memperhatikannya. Tangannya mengetuk meja berkali-kali, sementara matanya sesekali melirik keluar jendela seperti berharap bisa melihat cowok yang tadi dikejarnya. Freyana mendekatkan wajah. “Lo kenapa?” “Gue lihat orang aneh.” Vania yang duduk di depan mereka langsung menoleh. “Orang aneh gimana?” “Ngeliatin gue.” “Siapa?” “Kalau gue tahu, gue nggak bakal bilang orang aneh.” Freyana mengernyit. “Terus lo apain?” “Gue kejar.” Vania membelalakkan mata. “Lo ngejar orang yang mungkin ngikutin lo?” Aeloria mengangkat bahu. “Daripada gue diem.” Freyana mengusap wajah. “Kadang gue bingung sama cara kerja otak lo.” “Jangan ikut campur.” Bel masuk berbunyi sebelum percakapan mereka berlanjut. Aeloria terpaksa kembali memperhatikan pelajaran, tetapi pikirannya terus kembali pada satu hal. Tatapan cowok tadi
Sejak kejadian di depan gerbang kemarin, Aeloria jadi lebih sering memperhatikan sekitar. Bukan karena takut, melainkan karena dia kesal setiap kali teringat ucapan Raka bahwa kelompok lama Alaric sudah mengetahui namanya. Bahkan ketika berjalan menuju kelas pagi itu, matanya beberapa kali menyapu halaman sekolah sebelum akhirnya dia menjatuhkan tas ke atas meja dengan gerakan sedikit lebih keras dari biasanya. “Lo kenapa?” Freyana yang baru duduk langsung menatapnya. “Kesel.” “Karena Raka?” Aeloria menoleh. “Kenapa semua orang langsung nyebut nama dia?” “Karena dari kemarin muka lo kayak mau makan orang.” “Gue emang lagi pengin makan orang.” Vania yang sedang membuka buku langsung tertawa. “Nah, ini Aeloria yang kita kenal.” Aeloria mendengus lalu menarik kursinya. Dia sebenarnya ingin melupakan kejadian kemarin, tetapi semakin dipaksa berhenti memikirkannya, semakin jelas wajah Raka muncul di kepalanya. Cowok itu bukan cuma tahu tentang Alaric, tetapi juga tahu bahwa Aeloria
Bel pulang baru saja berbunyi ketika Aeloria keluar dari gerbang sekolah bersama Freyana dan Vania. Tasnya disampirkan asal di bahu, sementara langkahnya sedikit dipercepat karena kepalanya masih penuh dengan percakapan kemarin tentang kelompok lama yang mencari Alaric. Sejak mendengar kata itu, pikirannya terus memutar ulang wajah Kaizen dan cara mereka bicara seolah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan darinya. “Lo dari tadi diem banget,” celetuk Freyana sambil meliriknya. “Jangan bilang lo masih mikirin Alaric.” Aeloria mendengus. “Gue lagi mikirin hal yang lebih penting daripada cowok.” Vania terkekeh. “Padahal muka lo dari tadi kayak orang mau nyari ribut.” “Emang muka gue kenapa?” “Ya... jutek.” Aeloria langsung menoleh tajam. “Muka gue emang begini dari lahir.” Freyana menahan tawa. Namun sebelum mereka sempat melanjutkan obrolan, langkah Aeloria terhenti ketika melihat seorang cowok berdiri tidak jauh dari seberang jalan. Cowok itu mengenakan jaket hitam dan helm yan
Jam pulang sekolah seharusnya menjadi waktu paling menyenangkan bagi Aeloria. Namun, langkahnya mendadak berhenti ketika melihat Kaizen berdiri di dekat gerbang bersama dua anggota Black Vortex lainnya. Tidak ada Alaric di sana, dan ekspresi mereka jauh berbeda dari biasanya. Aeloria yang semula hendak berjalan menuju gerbang langsung mengernyit. “Kenapa mereka di sini?” Freyana ikut melihat. “Kayaknya nunggu seseorang.” “Gue juga bisa lihat.” Vania menahan senyum. “Terus kenapa lo malah berdiri?” Aeloria mendengkus. “Gue penasaran.” Dia menyerahkan tasnya sebentar kepada Freyana sebelum berjalan mendekat. Baru beberapa langkah, Kaizen sudah menyadari keberadaannya. Dua anggota lain langsung saling pandang, seolah kedatangan Aeloria bukan sesuatu yang mereka harapkan. “Alaric mana?” tanya Aeloria tanpa basa-basi. Kaizen menatapnya. “Belum datang.” “Terus kalian nunggu siapa?” Kaizen tidak langsung menjawab. Aeloria mengangkat alis. “Gue nanya.” “Bukan urusan lo.” Aeloria
Pagi itu, Aeloria baru saja masuk kelas ketika Freyana langsung menarik lengannya. Cara Freyana menatapnya membuat Aeloria otomatis mengernyit, apalagi Vania yang berdiri di sampingnya juga memasang ekspresi seperti baru menemukan sesuatu yang menarik. Aeloria melepaskan tangannya dan menaruh tas di atas meja dengan sedikit keras. “Apaan?” Freyana mendekat. “Lo udah dengar belum?” “Dengar apa?” “Katanya Alaric kemarin pulang bareng anak kelas sebelah.” Aeloria berhenti mengeluarkan buku. Tangannya masih menggenggam satu buku yang belum sempat diletakkan. Dia menoleh pelan ke arah Freyana dengan tatapan datar. “Terus?” Freyana mengangkat bahu. “Gue cuma ngasih tahu.” “Gue juga cuma nanya.” Vania menyela, “Katanya mereka sempat pergi ke luar sekolah.” Aeloria menutup bukunya. “Siapa yang bilang?” “Anak kelas sebelah.” “Namanya?” “Gue nggak tahu.” Aeloria mendengkus lalu menyandarkan punggung ke kursi. “Kalau nggak tahu sumbernya, jangan bawa cerita setengah-setengah ke g







