Share

Part 88

Author: Senia Dea
last update publish date: 2026-10-22 08:38:44

Aeloria menatap papan nama bengkel di depannya dengan wajah masam. Mereka sudah menempuh perjalanan hampir satu jam untuk menemui orang yang namanya tertulis di balik gantungan kunci milik Elvan, tetapi tempat itu justru terlihat sepi. Ia melirik Alaric yang sedang berbicara dengan pemilik warung di seberang jalan, lalu menghentakkan ujung sepatunya ke aspal.

“Kalau orangnya nggak ada juga, gue sumpahin kita muter-muter sampai malam,” gerutunya.

Alaric kembali menghampiri Aeloria. “Katanya di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 90

    Aeloria baru saja membuka bungkus rotinya ketika Freyana merebut satu potong dari tangannya. Ia langsung menoleh dengan mata membulat, lalu menepuk tangan temannya sampai roti itu hampir terjatuh. “WOI! Beli sendiri, bisa nggak?!” Freyana tertawa sambil menjauhkan roti dari jangkauan Aeloria. “Galak amat sama teman sendiri. Kemarin sama Alaric juga begini, nggak?” “Bedain, dong! Alaric pacar gue, elo maling!” Vania yang duduk di seberang mereka langsung tersedak minumannya. Aeloria mengernyit melihat kedua temannya tertawa, kemudian menarik bungkus rotinya ke dekat dada seolah sedang melindungi harta berharga. Ia belum sempat membalas godaan mereka ketika seseorang berhenti di samping meja. Alaric meletakkan sekotak susu stroberi di depan Aeloria. “Buat elo.” Aeloria melirik minuman itu, lalu menatap wajah pacarnya. “Elo pikir gue nggak bisa beli sendiri?” “Bisa. Tapi gue yang mau beliin.” “Jawaban elo dari kemarin sama aja. Nggak kreatif.” “Besok gue cari jawaban baru.” Ael

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 89

    Aeloria mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja ketika Alaric selesai menjelaskan catatan milik Damar kepada Kaizen. Sejak mereka meninggalkan bengkel kemarin, pikirannya terus tertuju pada satu hal: Elvan mungkin masih hidup, tetapi tidak ada yang tahu di mana cowok itu berada sekarang. Ia tidak suka menunggu tanpa kepastian, apalagi setelah sekian lama mereka berusaha membersihkan nama Elvan. “Jadi, sekarang kita cuma perlu menyerahkan catatan ini dan menunggu?” Aeloria bertanya dengan alis bertaut. “Pihak yang menangani kasusnya akan memeriksa informasi dari Damar. Kita juga bakal bantu mencocokkan lokasi terakhir Elvan,” jawab Kaizen. Aeloria menyandarkan punggungnya ke kursi. “Gue benci kata *menunggu*.” Alaric yang duduk di sebelahnya menggeser sepiring kentang goreng ke arahnya. “Kalau elo terus marah-marah, catatannya juga nggak bakal berubah.” Aeloria mengambil satu kentang, lalu menggigitnya dengan kesal. “Gue nggak minta ceramah dari elo.” “Gue juga nggak ceramah. Gue

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 88

    Aeloria menatap papan nama bengkel di depannya dengan wajah masam. Mereka sudah menempuh perjalanan hampir satu jam untuk menemui orang yang namanya tertulis di balik gantungan kunci milik Elvan, tetapi tempat itu justru terlihat sepi. Ia melirik Alaric yang sedang berbicara dengan pemilik warung di seberang jalan, lalu menghentakkan ujung sepatunya ke aspal. “Kalau orangnya nggak ada juga, gue sumpahin kita muter-muter sampai malam,” gerutunya. Alaric kembali menghampiri Aeloria. “Katanya dia biasa datang menjelang siang. Kita tunggu sebentar.” “Sebentar menurut elo itu berapa lama? Setengah abad?” “Sepuluh menit.” “Lima menit. Gue nggak mau lebih.” Alaric mengangguk patuh, membuat Aeloria menyipitkan mata. Sikap cowok itu yang terlalu tenang justru membuatnya sulit mempertahankan kemarahan. Ia akhirnya duduk di bangku dekat bengkel, sementara Alaric berdiri di sampingnya sambil membelikan air mineral dari warung. Aeloria menerima botol itu, tetapi langsung mengernyit ketika me

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 87

    Aeloria mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke lantai sambil menatap jam di dinding. Mereka sudah menunggu hampir lima belas menit di sebuah kedai kecil, tetapi orang yang katanya pernah melihat Elvan belum juga muncul. Di hadapannya, Alaric duduk tenang sambil sesekali memeriksa pintu masuk, sementara Kaizen berbicara pelan dengan seseorang yang membantu mengatur pertemuan itu. “Kalau orangnya nggak datang juga, gue pulang,” gerutu Aeloria. “Gue bisa aja tidur lebih lama daripada duduk di sini sambil nunggu orang nggak jelas.” Alaric menggeser segelas minuman ke arahnya. “Minum dulu. Elo dari tadi ngomel terus.” “Gue ngomel karena elo bikin gue nunggu!” “Bukannya kita datang bareng?” “Ya, terus?” Alaric mengangkat kedua tangan, menyerah sebelum Aeloria benar-benar meledak. Gadis itu mengambil minumannya dengan wajah masam, lalu menyesapnya sambil terus memperhatikan pintu. Ia ingin petunjuk ini menjadi yang terakhir, karena semakin lama Elvan menghilang, semakin banyak kemungkin

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 86

    Aeloria baru saja meletakkan tasnya di atas meja ketika Freyana menarik kursi di sebelahnya dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Belum sempat Aeloria membuka buku, temannya itu sudah menyodorkan sebungkus camilan sambil menyeringai lebar. “Gimana kemarin sama Alaric? Jangan bilang elo cuma beli buku terus pulang.” Aeloria meliriknya tajam. “Terus gue harus ngapain? Bakar toko bukunya?” Vania yang baru datang langsung tertawa, membuat Aeloria mendecakkan lidah dan menarik bukunya mendekat. “Kalian berdua kalau nggak punya kerjaan, mending belajar. Ulangan matematika minggu depan, tahu!” “Ditanya soal pacar malah ngajak belajar,” goda Freyana. “Padahal kemarin Alaric jemput elo, terus kalian makan bareng. Romantis banget, sih.” “Frey, gue lempar pakai buku, ya?” Freyana mengangkat kedua tangan, masih menahan tawa. Vania ikut duduk sambil mengeluarkan buku pelajaran, tetapi senyumnya belum hilang ketika melihat Aeloria diam-diam memandangi novel baru yang tergeletak di meja. Aeloria

  • Terjebak Cinta Ketua Geng   Part 85

    Aeloria baru saja turun dari motor Alaric ketika cowok itu menahan tangannya. Ia menoleh dengan alis bertaut, sementara satu tangannya sibuk merapikan rambut yang berantakan tertiup angin. “Apaan lagi, sih? Gue udah sampai rumah, masih aja ditahan.” Alaric tersenyum tipis. “Besok gue jemput jam delapan.” “Siapa yang bilang gue mau pergi sama elo?” “Elo sendiri tadi bilang mau ke toko buku.” Aeloria terdiam sesaat sebelum mendecakkan lidah. Ia memang berencana pergi ke toko buku bersama Alaric besok, tetapi bukan berarti cowok itu boleh mengatur semuanya sesuka hati. “Jam sembilan. Gue mau tidur lebih lama.” “Oke. Jam sembilan.” “Terus jangan telat!” “Iya, Sayang.” Pipi Aeloria langsung menghangat. Ia menarik tangannya, lalu menunjuk wajah Alaric dengan galak. “Jangan panggil gue begitu di depan rumah!” Alaric malah tertawa kecil. “Padahal semua orang juga tahu kita pacaran.” “ALERIC!” “Besok jam sembilan.” Alaric segera memakai helmnya, masih dengan senyum menyebalkan yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status