Share

Terjebak Cinta Sang Mafia
Terjebak Cinta Sang Mafia
Penulis: Syahira

Target Operasi

Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi menembus kegelapan malam. Mobil itu tidak hentinya menyelip di antara pengedara lainnya. Beberapa orang wanita cantik yang berada di dalam mobil itu, tidak hentinya berteriak, mereka ikut merasa begitu deg-degan dengan pekerjaan yang dijanjikan oleh kedua pria bertubuh kekar itu.

Tidak berselang lama, akhirnya mereka sampai juga di sebuah rumah mewah berlantai dua. Sebuah tembok tinggi melingkar di sekeliling bangunan itu. Mobil yang dikendarai Max memasuki pagar yang sudah dibuka oleh seseorang berbadan tegap dengan kulit gelap.

"Segera turunkan mereka!!" perintah salah seorang pria dengan tatapan tajam seperti elang. Dia adalah Samuel Leonard atau yang biasa dipanggil Leon.

Beberapa orang perempuan dengan postur tubuh ideal, segera menuruni mobil berwarna silver. Mereka saling berpandangan, menatap heran ke sekeliling bangunan berlantai dua itu. Mereka sudah mulai merasa ada yang aneh dengan tempat itu. Bahkan, sama sekali tidak mencerminkan sebuah tempat perekrutan sebuah instansi tenaga kerja.

"Kenapa kita dibawa ke sini?" tanya seorang wanita dengan rambut ikal menjuntai hingga pinggang.

"Mungkin ini tempat penampungan kita sementara, sebelum diberangkatkan," jawab seorang wanita yang menggunakan dress dengan warna hitam.

"Aku jadi curiga, jangan-jangan tempat ini bukanlah tempat karantina kita sebelum diberangkatkan," tebak seorang wanita dengan rambut yang diikat dengan karet gelang.

Mendengar hal itu, Leon yang baru saja datang dari dalam rumah mewah itu, langsung saja melayangkan tamparan ke wajah wanita itu, hingga membuat di jatuh tersungkur.

Wanita dengan tahi lalat di dagunya itu memegangi pipinya. Dia tidak lagi sannggup bicara apapun. Namun, kembali bangkit dengan tatapan nanar ke arah Leon. Seketika Leon pun mendekat ke arah wanita dengan pipinya yang tampak memerah.

"Kamu cantik juga, Sayang. Akan tetapi, kamu cukup pintar untuk sekadar menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Leon pun mengusap wajah lembut wanita itu dengan punggung tangannya. Dia kembali meraba bekas tamparannya dengan begitu manja.

"Yang lain jangan coba-coba memprovokasi yang lainnya seperti dia, jika tidak ingin terjadi hal buruk pada kalian!" tegas Leon sambil menyeret paksa tangan wanita yang ditempatinya.

Wanita itu menjerit kesakitan, dia terus meronta agar bisa terlepas dari cengkraman tangan Leon. Namun, semakin dia berusaha melepaskan, semakin kuat tangan leon mencengkram pergelangan tangannya.

Leon sama sekali tidak merasa kasihan dengan rintihan wanita itu. Dia terus menyeretnya ke dalam sebuah kamar yang berukuran cukup luas. Di sana sudah ada tiga orang wanita yang tampak berpakaian begitu seksi.

Wanita bernama Clarissa itu segera bangkit dari simpuhnya. Dia terus memegangi lututnya yang tampak memar.

Suasana di tempat itu lebih mencekam, dibanding tempat semula mereka ditampung. Leon hanya menyunggingkan senyum angkuhnya, kembali mengangkat dagu Clarissa dengan telunjuknya. Tidak lupa dia melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu.

"TEMPAT LAKNAT APA INI? KE MANA KAMI AKAN DIBAWA?!" tanya Clarissa dengan suara lantang saat Leon baru saja melangkahkan kakinya keluar kamar itu.

Seorang wanita yang berdiri di sampingnya, hanya bisa memberi isyarat agar jangan sekali-kali membantah ucapan mereka.

Leon sama sekali tidak peduli dengan teriakan wanita itu. Dia meninggalkan Clarissa di kamar itu sambil terus menggedor dari dalam agar dirinya segera dilepaskan. Samar-samar suara Clarissa terdengar semakin jauh.

***

Di salah satu ruangan lainnya, tampak seorang pria dengan angkuhnya bersandar di sofa. Tubuhnya yang cukup tegap membuatnya tampak begitu tangguh. Dia adalah Ricard, seorang mafia yang sangat dikenal di berbagai negara.

Leon segera menghampiri pria itu. Wajahnya sedikit ketakutan karena baru saja berurusan dengan wanita yang cukup cerdas.

"Om, gue nyerah mengurusi wanita-wanita cengeng itu," ucap Leon sambil ikut menyandarkan tubuhnya di sofa.

"Jangan bilang, lu kayak ini karena kasihan kan?" tebak sang paman yang bangkit dari duduknya.

"Sebenarnya iya, Om. Gue kadang ingat adik dan nyokap gue," ujar Leon yang tertunduk lesu.

"Gue sudah bilang berapa kali? Lu enggak usah menjadi orang yang cengeng. Hidup ini akan terus berjalan, jika kita bisa menjadi orang yang berani dan dengan tujuan yang jelas. Kita melakukan semua ini, hanya untuk melampiaskan dendam kita pada orang yang sudah menghabisi nyawa keluarga kita dengan sadis."

Leon hanya terdiam, tampak rahangnya menggertak menahan amarah yang begitu besar. Dia seakan baru saja mendapatkan nutrisi untuk kembali bangkit menggencarkan aksinya dengan merekrut wanita-wanita yang butuh pekerjaan.

Pria dengan jambang tipis itu kembali berdiri. Dia sama sekali tidak takut seperti apa yang dituduhkan oleh sang paman. Dia bukan pengecut. Bahkan, sudah banyak wanita yang berhasil dikirimnya ke luar negeri sesuai intruksi sang paman.

Sang Paman Ricard tersenyum bangga. Dia akhirnya berhasil membuat Leon kembali menyadari kelemahannya yang tidak akan mendapatkan apa-apa. Bahkan, Ricard berusaha menjadikan Leon pria yang berhati baja. Dia tidak ingin Leon terlihat seperti pria pada umumnya. Dia ingin Leon adalah pria yang begitu memesona di mata para wanita. Hal itu akan membuatnya dengan mudah mendapatkan para wanita di luar sana.

Ricard sama sekali tidak peduli, jika dia harus mengeluarkan banyak uang untuk membuat Leon merasa nyaman. Dia akan memberikan apa saja yang diinginkan Leon. Bahkan semenjak dirinya ditinggal satu keluarganya yang dibantai dengan sadis. Ricard selalu memberikan yang tebaik untuk keponakannya. Dia tumbuh menjadi pribadi yang keras dan tanpa empati.

Semenjak hari itu, leon sama sekali tidak pernah menangis. Dia seolah sudah kebal dengan kehidupan sang paman yang keras.

"Jangan lupa, lu kirim mereka sekarang juga. Kita akan berangkatkan mereka dengan jalur laut! Nanti di pelabuhan sudah ada yang akan menyambut mereka. Lakukan semua itu hingga beres!!" perintah sang paman--Ricard sambil berlalu pergi dengan sebuah rokok di mulutnya.

Leon sama sekali tidak bisa membantah apa-apa. Dia harus mengikuti segala yang diperintahkan oleh Ricard. Apalagi pria dengan tato di leher dan bagian dadanya itu tidak akan segan-segan memberikan pelajaran padanya. Apalagi Ricard sama sekali tidak menyukai pria yang terlihat cengeng dan manja.

Ricard sudah berada di ruang penampungan. Sebuah ruangan yang berukuran 10×10 meter. Biasanya mereka akan membiarkan wanita-wanita itu tinggal beberapa jam sebelum dikirim ke luar negeri. Ada sebelas wanita yang akan diberangkatkannya ke kota x yang terletak di luar negeri.

Ricard pun tersenyum bangga dengan hasil kerja keponakannya. Dia merasa telah berhasil membuat Leon tumbuh menjadi pria yang tangguh dan berani serta penuh dendam. Hal itulah yang akan terus ditanamkannya pada Leon.

Tidak berapa lama, seorang wanita datang ke kamar itu dengan berteriak. Tampak wajah wanita itu begitu memar bekas pukulan. Dia adalah Clarissa. Tanpa ragu lagi, Ricard langsung memberikan pukulan sengan keras ke sisi wajah wanita dengan tubuh yang terlihat indah itu. Dia pun tersungkur tidak sadarkan diri.

"Masih ada yang ingin mencoba kabur dari sini?" tanya Leon yang tiba-tiba saja datang dari luar.

Semua wanita itu pun terdiam. Mereka saling berpandangan dengan wajah penuh ketakutan.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status