Masuk"Katakan siapa yang sudah menyuruhmu, Devia!" geram Camelia. Saking kuatnya cengkeraman itu, buku-buku jarinya memutih, dan napasnya yang memburu terasa panas di kulit wajah lawan bicaranya.
Bukannya ketakutan, seulas senyum tipis dan penuh ejekan justru terbit di sudut bibir Devia. Ia menatap Camelia dengan mata yang menyipit meremehkan, seolah tamparan keras yang diterimanya beberapa detik lalu tidak berarti apa-apa. "Setelah pulang dari luar negeri, kau sekarang bertingkah seperti algojo, ya?" Devia terkekeh sinis, suaranya terdengar merdu namun beracun. Ia membiarkan tubuhnya pasrah dalam kekangan Camelia. "Wajar saja ayah kandungmu sendiri sangat membencimu, Camelia. Kau sama sekali tidak punya kelembutan." Kalimat itu bagai siraman bensin di atas api yang membakar dada Camelia. Matanya berkilat tajam, memancarkan amarah murni yang siap menghancurkan apa saja. Sudut rahangnya menegang keras. Alih-alih melepaskan, ia justru menyentak kerah baju Devia lebih kuat, membuat wanita itu sedikit terjungkal ke depan. "Jangan bawa-bawa urusan keluargaku!" desis Camelia, suaranya rendah namun penuh dengan intimidasi yang nyata. "Sekarang, kau mau katakan siapa yang menyuruhmu melakukan ini, atau aku buat orang tuamu bangkrut dalam waktu semalam?!" Mendengar ancaman itu, senyuman mengejek di wajah Devia lenyap seketika. Pipinya yang memerah akibat tamparan kini mendadak pucat. Ia tahu betul kapasitas Camelia. Di balik statusnya yang diasingkan ke luar negeri, Camelia tetaplah pewaris sah dari aset mendiang ibunya yang menguasai sebagian besar saham sektor finansial. Jika Camelia menghendaki, menarik seluruh investasi dari perusahaan logistik milik keluarga Devia adalah hal yang sangat mudah dilakukan. Ketakutan itu perlahan merayap naik, mengalahkan ego Devia yang tinggi. "B-baiklah! Lepaskan aku!" seru Devia setengah terbata, matanya bergerak gelisah menatap tangan Camelia yang masih mencengkeramnya. Camelia menyentak tubuh Devia ke belakang hingga wanita itu terjerembap di atas sofa empuknya, lalu berdiri menjulang dengan melipat kedua tangan di dada, menunggu jawaban. Devia merapikan jubah mandinya yang berantakan dengan tangan bergetar, sebelum akhirnya mendongak dengan tatapan penuh dendam. "Vivian... Vivian yang memintaku untuk mengirimmu ke ranjang sembarangan pria! Dia yang memberikan obat itu dan menyuruhku memesan kamar 404!" Mendengar nama itu disebut, sebuah tawa hambar justru lolos dari bibir Camelia. Ia tersenyum sinis, menatap langit-langit apartemen dengan rasa tidak percaya yang berbaur dengan kepuasan yang aneh. Vivian. Saudara tirinya yang bermuka dua itu berniat menghancurkan reputasinya dengan melemparkannya ke ranjang sembarang pria. Namun, takdir rupanya memiliki selera humor yang sangat liar. Pria "sembarangan" yang ditemuinya semalam justru adalah Morgan—pria yang selama ini mati-matian dikejar dan dipuja oleh Vivian sendiri. Jika sampai Vivian tahu apa yang terjadi semalam, ini akan menjadi bumerang terbesar dalam hidupnya, batin Camelia. Senyum kemenangan kini terpatri jelas di wajahnya yang letih. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi pada Devia, Camelia memutar tubuhnya. Ia melangkah tegap meninggalkan apartemen itu, menutup pintu dengan ketukan pelan yang sarat akan kemenangan, siap menghadapi badai berikutnya. Sinar matahari siang menyengat pelataran kediaman mewah keluarga Bagaskara. Rumah bergaya kolonial modern dengan pilar-pilar putih menjulang itu tampak sepi dari luar, namun Camelia tahu ada ular yang sedang bersembunyi di dalamnya. Ia melangkah melewati gerbang besi, menaiki anak tangga teras dengan ketukan sepatu yang bergaung tegas. Baru saja kakinya menginjak lantai marmer ruang utama setelah membuka pintu depan, sesosok wanita dengan gaun rumahan berbahan sifon mahal sudah berdiri tegak di tengah ruangan, menghalangi jalannya. Itu Vivian. "Camelia? Kenapa kau pulang?" tanya Vivian dengan nada suara yang meninggi, matanya memancarkan ketidaksukaan yang amat jelas melihat kehadiran kakak tirinya. Camelia berhenti melangkah. Ia menatap Vivian dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan malas, seolah wanita di depannya tak lebih dari seonggok sampah yang menghalangi pemandangan. "Apakah perlu aku ingatkan otakmu yang tumpul itu, Vivian?" Camelia maju satu langkah, mencondongkan wajahnya dengan senyum mengejek. "Aku adalah pemilik sah dari rumah ini. Jadi, terserah diriku jika aku ingin pulang ke rumahku sendiri!" Wajah Vivian mengencang, ia mendengus kasar seraya berkacak pinggang. "Rumahmu? Kau lupa, ya? Ibumu itu sudah mati! Rumah ini sekarang milik keluargaku!" Udara di dalam ruangan itu mendadak mendingin. Sebutan tentang mendiang ibunya yang keluar dari mulut kotor Vivian memicu desiran darah panas di kepala Camelia. Matanya menggelap, memancarkan aura intimidasi yang begitu pekat hingga membuat Vivian tanpa sadar mundur setengah langkah. "Kau berani melawan ku, Vivian?" Camelia mendesis, suaranya begitu tenang namun sarat akan ancaman yang mematikan. Ia melangkah maju, mendesak adik tirinya hingga punggung Vivian membentur pinggiran meja konsol. "Kau tahu betul bahwa ayahmu yang agung itu hanya menumpang hidup di perusahaan ibuku. Dia tidak lebih dari seorang pengelola yang memanfaatkan modal dari keluarga ibuku untuk bertahan hidup!" Vivian membuka mulutnya untuk menyela, namun Camelia memotongnya dengan cepat tanpa memberi ampun. "Sekarang aku sudah dewasa, dan aku sudah kembali," lanjut Camelia, mengetuk-ngetukan jarinya ke dada Vivian dengan penekanan di setiap kata. "Aku ingin mengambil kembali semua asetku. Setiap sen, setiap jengkal tanah, termasuk rumah ini. Jadi, kemasi barang-barang murahmu sebelum aku menendangmu keluar." "Dasar anak durhaka! Beraninya kau mengancam putriku!" Sebuah suara bariton yang menggelegar dari arah tangga memotong perdebatan mereka. Bagaskara, ayah kandung Camelia, berjalan turun dengan langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa. Wajah paruh bayanya merah padam menahan amarah, matanya menatap Camelia seolah-olah wanita itu adalah musuh terbesar yang mendatangi rumahnya. Ia langsung berdiri di depan Vivian, menyembunyikan putri kesayangannya itu di balik punggungnya yang tegap, sementara tangannya terangkat menunjuk wajah Camelia dengan penuh amarah."Pradipta Nusantara..." bisik Noah dengan suara tertahan.Pria tua di atas kursi roda itu terkekeh pelan—sebuah suara parau yang bergetar dari dada yang rapuh. "Senjata itu tidak diperlukan lagi, Anak Muda. Waktuku di dalam bayangan sudah genap."Di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter tersebut, jajaran layar monitor masih menampilkan lalu lintas data terenkripsi yang rumit. Di sanalah seluruh transaksi peracunan Valeria, penguncian akun cangkang di Zurich, hingga pengalihan perhatian pihak keamanan terkendali. Pria yang selama lima belas tahun diyakini tewas dalam ledakan helikopter di atas perairan Kepulauan Seribu itu rupanya hidup membusuk di dalam paviliun keluarga Erlangga, bergerak bagaikan hantu yang mengendalikan papan catur dari balik dinding tebal."Tuan Morgan harus mengetahui hal ini sekarang juga," tegas Noah, merogoh perangkat komunikasi di dadanya."Jangan ganggu fajar sucinya," potong Pradipta cepat dengan nada penuh otoritas pimpinan masa lalu. Tatapannya m
"Ulangi ucapanmu, David," pangkas Morgan dengan nada bariton yang begitu rendah, dingin, dan mengancam.Udara di ruang kendali bawah tanah Grand Ballroom seketika membeku. David menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyodorkan tablet digital yang menampilkan grafik lokasi pemancar sinyal satelit terenkripsi. Titik merah berkedip presisi di atas peta digital kompleks kediaman utama Erlangga di Menteng."Sinyal perintah peracunan Valeria dikirimkan pukul dua puluh tiga empat belas semalam, Tuan," ujar David cepat dengan suara gemetar. "Sinyal tersebut memanfaatkan pemancar satelit privat yang terhubung ke jaringan komunikasi lama di paviliun belakang rumah Nyonya Helena."Morgan menatap titik merah di layar monitor tanpa berkedip. Pikiran pria tegap itu bekerja secepat kilat, menganalisis setiap kemungkinan. Apakah ada penyusup yang bertahun-tahun bersembunyi di dalam kediaman keluarganya sendiri? Ataukah bayangan masa lalu yang diyakini telah mati lima belas tahun lalu sebenarnya tak per
"Bencana sesungguhnya..." gumam Morgan Erlangga dengan suara serak yang amat dingin.Ia mematikan sambungan telepon dari Mabes Polri, lalu meletakkan ponsel terenkripsi itu di atas meja kayu mahoni. Suasana ruang kerja pribadi di lantai dua kediaman Menteng seketika berubah mencekam. Angin malam yang berembus melintasi celah jendela kaca terasa membekukan.Camelia Nusantara melangkah mendekat, matanya menatap Morgan dengan raut penuh kecemasan yang tertahan. "Morgan... apa yang terjadi pada Valeria? Apa pesan yang ditinggalkannya?"Morgan memutar tubuhnya perlahan, menatap Camelia. Pria tegap itu berusaha keras menutupi riak kegelisahan di matanya agar tidak memicu kepanikan pada calon istrinya. Namun, Camelia mengenalnya terlalu baik untuk bisa dibohongi."Valeria diracun di dalam sel isolasinya," pangkas Morgan tenang namun tegas. "Dia saat ini dalam kondisi kritis di rumah sakit Bhayangkara di bawah pengawalan ketat."Camelia menahan napasnya, jemarinya mengepal kencang di tepi gau
"Lakukan penguncian total pada seluruh aset *Aegis Capital* sekarang!" perintahkan Morgan Erlangga dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.Di dalam ruang kerja pribadi lantai paling atas Gedung Erlangga Holding, layar monitor menampilkan jaringan transaksi perbankan internasional yang terhubung langsung dengan otoritas moneter di Singapura, Zurich, dan Kepulauan Cayman. Berdasarkan bukti telepon satelit dan pengakuan kelompok penyusup yang tertangkap basah di Tanjung Priok beberapa jam lalu, tim hukum internasional Morgan meluncurkan serangan balik finansial tercepat dalam sejarah aliansi mereka.David berdiri di samping meja, menatap barisan angka dan kurva transaksi yang mulai memerah di layar monitor."Otoritas Keuangan Singapura (MAS) telah menerima perintah pembekuan aset tingkat darurat," pangkas David cepat. "Rekening utama senilai empat puluh juta Dolar Singapura milik loyalis Bagaskara yang tersisa telah dikunci sepenuhnya. Mereka tidak lagi memiliki akses dana untuk
"Atur sudut penempatan bunga anggrek langka ini dua meter di kiri panggung utama!" suara tegas Nyonya Helena Erlangga memecah riuh kesibukan puluhan perancang busana dan tim manajemen acara di Grand Ballroom Hotel Erlangga Jakarta. Sang matriark mengetukkan tongkatnya ke lantai granit putih, menunjuk ke arah panggung megah yang sedang dihias.Di sisinya, Camelia Nusantara memperhatikan deretan sampel kustom gaun pengantin sutra putih yang dibawakan oleh desainer kenamaan Paris. Rona di wajah Camelia kini jauh lebih segar; tidak ada lagi jejak kelelahan emosional atau bayang-bayang ketakutan yang sempat melingkupinya saat skandal pemalsuan medis Valeria merebak."Sutra bernuansa *champagne* ini akan sangat serasi dengan mahkota pusaka keluarga Nusantara yang kau kenakan nanti, Camelia," ujar Helena dengan suara lembut, matanya menatap Camelia penuh kehangatan yang amat tulus. Keraguan dan sikap dingin sang matriark kini telah meleleh sepenuhnya, berganti menjadi rasa hormat mendalam ba
Camelia Nusantara berdiri di dekat dinding kaca raksasa, memandangi hamparan langit Jakarta yang perlahan berganti warna menjadi jingga keunguan. Ia mengenakan gaun terusan simpel berwarna putih gading dengan potongan anggun yang membingkai postur tubuhnya dengan sempurna. Jemari tangan kanannya perlahan meraba jari manis kiri tempat cincin pertunangan berlian itu kini melingkar kembali.Setiap kali jarinya menyentuh permukaan dingin berlian tersebut, ingatan Camelia melayang pada perjuangan sengit empat puluh delapan jam yang lalu. Ia mengingat bagaimana Morgan bertarung tanpa ragu, bagaimana pria itu menyibak jaring-jaring manipulasi yang begitu rumit, dan bagaimana Morgan mempertaruhkan seluruh reputasi serta kekuasaannya demi memastikan kebenaran berdiri tegak di hadapan dunia.Kegigihan Morgan bukan sekadar pembuktian lepas dari tuduhan, melainkan sebuah pernyataan cinta paling murni yang pernah Camelia terima sepanjang hidupnya. Selama bertahun-tahun, Camelia tumbuh dengan keyak







