แชร์

bab 4

ผู้เขียน: Zeaauthor
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-04 12:30:15

Camelia melangkah pelan, memangkas jarak yang memisahkan dirinya dengan pria paruh baya di hadapannya. Setiap ketukan sepatunya di atas lantai marmer terdengar lambat namun sarat akan tekanan. Tatapannya lurus mengunci sepasang mata Bagaskara—pria yang selama ini terdaftar sebagai ayah kandungnya di atas kertas, namun merupakan sosok yang paling ia benci sepanjang hidupnya.

"Oh, Bagaskara... ternyata kau tetap sama. Selalu membela anak harammu!" ucap Camelia dengan nada suara yang teramat santai, namun sanggup menyayat keheningan ruangan.

Wajah pria paruh baya itu berkedut hebat. Urat-urat di pelipisnya menegang, dan napasnya mendadak memburu kencang mendengarkan namanya disebut secara gamblang tanpa embel-embel kehormatan, apalagi sebutan seorang ayah.

"Kau... berani sekali kau memanggilku Bagaskara?!" bentak pria itu dengan suara menggelegar, telapak tangan kanannya mengepal kuat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih.

Camelia hanya menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan pria itu. Ia melipat kedua tangan di dada, memiringkan kepalanya sedikit dengan guratan senyum meremehkan yang menghiasi bibirnya.

"Sudahlah, Bagaskara. Kau tidak perlu membuang tenagamu untuk memintaku memanggilmu dengan sebutan ayah," sahut Camelia tenang, namun matanya memancarkan kilat sedingin es. "Kau tahu betul, di dalam hatimu yang paling dalam, bahwa kau sama sekali tidak pernah pantas dipanggil dengan sebutan itu."

"Dasar anak durhaka!"

Suara makian itu kembali mengguncang dinding-dinding rumah, membuat Vivian yang berdiri berlindung di balik punggung ayahnya sedikit terlonjak. Amarah pria itu sudah berada di puncak kepala, seolah siap melayangkan tamparan kapan saja. Namun, Camelia sama sekali tidak bergeming. Ia tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Sebaliknya, senyum sinisnya justru semakin lebar, menantang ego moralitas pria yang telah menghancurkan masa kecilnya tersebut.

"Sudahlah," potong Camelia sebelum pria itu kembali mencaci maki dirinya. Ia mengibaskan tangan di udara secara acak, seolah merasa jemu dengan drama yang terjadi. "Katakan saja langsung pada intinya. Apa tujuan utamamu memintaku pulang ke negeri ini setelah bertahun-tahun kau asingkan?"

Pria yang dipanggil Bagaskara itu menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gejolak amarahnya demi menyampaikan maksud yang sejak awal mendasari kepulangan putri sulungnya. Ia menegakkan punggungnya, menatap Camelia dengan pandangan penuh tuntutan otoriter yang mutlak.

"Keluarga kita memiliki perjanjian perjodohan masa lalu," ucap Bagaskara dengan nada berat dan penuh penekanan. "Dan kau... kau harus menikah dengan Morgan!"

"Menikah dengan Morgan?"

Camelia mengulang kalimat itu dengan nada sangsi, sebelum akhirnya sebuah tawa sinis yang hambar lolos begitu saja dari bibirnya. Sudut matanya berkedut menahan gelombang emosi yang mendadak menghantam dadanya. Namanya baru saja disandingkan dengan pria yang beberapa jam lalu meninggalkan bekas merah di sekujur tubuhnya dalam kegelapan kamar hotel—pria yang juga menyimpan sejuta bara dendam di dalam garis keturunannya.

Bagaskara tentu tahu betul sejarah kelam di antara mereka. Sejak menduduki bangku sekolah, Camelia dan Morgan tidak pernah bisa berada di dalam satu ruangan yang sama tanpa menciptakan ketegangan. Mereka bagaikan minyak dan air yang dipaksa menyatu oleh takdir yang cacat.

Bagi Camelia, nama keluarga Morgan adalah lambang kehancuran. Di masa lalu, ayah Morgan-lah yang dengan kejam merancang strategi bisnis kotor hingga menyebabkan perusahaan raksasa milik mendiang ibu Camelia mengalami kebangkrutan massal. Kehancuran finansial itu menyeret ibunya ke dalam jurang depresi yang teramat dalam, hingga akhirnya sang ibu memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara yang tragis. Luka itu menganga lebar, meninggalkan trauma yang bertransformasi menjadi dendam kesumat di dalam dada Camelia seiring ia tumbuh dewasa.

Sebaliknya, Morgan pun memelihara kebencian yang tak kalah pekat terhadap Camelia. Akibat tuduhan terbuka dan laporan hukum yang dilayangkan oleh keluarga Camelia pasca-kematian ibunya, reputasi ayah Morgan hancur berantakan. Di tengah kepungan pers dan tekanan publik yang bertubi-tubi, ayah Morgan mengalami kecelakaan mobil fatal yang merenggut nyawanya saat mencoba menghindari kejaran media. Morgan melimpahkan seluruh kesalahan atas tragedi kematian ayahnya tepat di atas pundak Camelia.

Dendam masa lalu itu mengakar begitu kuat. Meskipun kini mereka telah tumbuh menjadi individu dewasa yang matang, rasa benci di antara Camelia dan Morgan tidak pernah mengikis sedikit pun. Setiap kali mata mereka berpapasan, yang ada hanyalah kilatan permusuhan yang siap saling menghancurkan.

"Kau mau aku menikah dengan Morgan?" tanya Camelia lagi, kali ini suaranya merendah, sarat akan getaran emosi yang tertahan. Tangannya yang terlipat di dada meremas kain lengannya sendiri dengan amat kuat hingga kukunya memutih.

"Tentu saja!" sahut Bagaskara tanpa keraguan sedikit pun, melangkah maju seolah ingin menegaskan kekuasaannya sebagai kepala keluarga. "Perjodohan antara kau dan Morgan akan tetap berlangsung, suka atau tidak suka! Ini adalah kesepakatan bisnis yang akan menyelamatkan sisa aset yang ada, dan kau tidak memiliki hak untuk menolaknya."

Camelia menatap wajah ayahnya dengan pandangan tidak percaya yang bercampur dengan rasa muak yang luar biasa. Pria di hadapannya ini benar-benar tidak memiliki hati nurani. Setelah membiarkan ibunya mati, kini ia berniat menumbalkan dirinya ke dalam sarang serigala, menjualnya kepada putra dari pria yang telah menghancurkan hidup ibunya.

Di belakang punggung Bagaskara, Vivian tampak menahan napas dengan wajah yang mendadak berubah tegang. Rahangnya mengatup rapat, dan matanya memancarkan rasa iri yang teramat sangat. Vivian tahu betul siapa Morgan—pria tampan, berkuasa, dan sangat kaya yang selama ini selalu ia kejar namun tak pernah sekalipun menoleh ke arahnya. Mengetahui bahwa posisi istri Morgan justru diserahkan begitu saja kepada Camelia, kakak tiri yang sangat ia benci, membuat dada Vivian bergemuruh oleh rasa cemburu yang membakar.

Namun, Vivian tidak tahu bahwa bagi Camelia, pernikahan ini bukanlah sebuah anugerah, melainkan sebuah hukuman mati. Dan yang lebih mengerikan, takdir sialan telah mengikat mereka lebih dulu di atas ranjang kamar 404 tadi malam.

Camelia menarik napas panjang, mencoba menguasai kembali detak jantungnya yang menggila. Ia menegakkan kepalanya, menatap Bagaskara dan Vivian bergantian dengan senyuman paling dingin yang pernah ia miliki.

"Kalian benar-benar luar biasa," desis Camelia, "kau ingin jadikan Musuhku sebagai suminku?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terjebak Cinta Satu Malam dengan Mantan Kekasih    bab 56

    "Pradipta Nusantara..." bisik Noah dengan suara tertahan.Pria tua di atas kursi roda itu terkekeh pelan—sebuah suara parau yang bergetar dari dada yang rapuh. "Senjata itu tidak diperlukan lagi, Anak Muda. Waktuku di dalam bayangan sudah genap."Di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter tersebut, jajaran layar monitor masih menampilkan lalu lintas data terenkripsi yang rumit. Di sanalah seluruh transaksi peracunan Valeria, penguncian akun cangkang di Zurich, hingga pengalihan perhatian pihak keamanan terkendali. Pria yang selama lima belas tahun diyakini tewas dalam ledakan helikopter di atas perairan Kepulauan Seribu itu rupanya hidup membusuk di dalam paviliun keluarga Erlangga, bergerak bagaikan hantu yang mengendalikan papan catur dari balik dinding tebal."Tuan Morgan harus mengetahui hal ini sekarang juga," tegas Noah, merogoh perangkat komunikasi di dadanya."Jangan ganggu fajar sucinya," potong Pradipta cepat dengan nada penuh otoritas pimpinan masa lalu. Tatapannya m

  • Terjebak Cinta Satu Malam dengan Mantan Kekasih    bab 55

    "Ulangi ucapanmu, David," pangkas Morgan dengan nada bariton yang begitu rendah, dingin, dan mengancam.Udara di ruang kendali bawah tanah Grand Ballroom seketika membeku. David menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyodorkan tablet digital yang menampilkan grafik lokasi pemancar sinyal satelit terenkripsi. Titik merah berkedip presisi di atas peta digital kompleks kediaman utama Erlangga di Menteng."Sinyal perintah peracunan Valeria dikirimkan pukul dua puluh tiga empat belas semalam, Tuan," ujar David cepat dengan suara gemetar. "Sinyal tersebut memanfaatkan pemancar satelit privat yang terhubung ke jaringan komunikasi lama di paviliun belakang rumah Nyonya Helena."Morgan menatap titik merah di layar monitor tanpa berkedip. Pikiran pria tegap itu bekerja secepat kilat, menganalisis setiap kemungkinan. Apakah ada penyusup yang bertahun-tahun bersembunyi di dalam kediaman keluarganya sendiri? Ataukah bayangan masa lalu yang diyakini telah mati lima belas tahun lalu sebenarnya tak per

  • Terjebak Cinta Satu Malam dengan Mantan Kekasih    bab 54

    "Bencana sesungguhnya..." gumam Morgan Erlangga dengan suara serak yang amat dingin.Ia mematikan sambungan telepon dari Mabes Polri, lalu meletakkan ponsel terenkripsi itu di atas meja kayu mahoni. Suasana ruang kerja pribadi di lantai dua kediaman Menteng seketika berubah mencekam. Angin malam yang berembus melintasi celah jendela kaca terasa membekukan.Camelia Nusantara melangkah mendekat, matanya menatap Morgan dengan raut penuh kecemasan yang tertahan. "Morgan... apa yang terjadi pada Valeria? Apa pesan yang ditinggalkannya?"Morgan memutar tubuhnya perlahan, menatap Camelia. Pria tegap itu berusaha keras menutupi riak kegelisahan di matanya agar tidak memicu kepanikan pada calon istrinya. Namun, Camelia mengenalnya terlalu baik untuk bisa dibohongi."Valeria diracun di dalam sel isolasinya," pangkas Morgan tenang namun tegas. "Dia saat ini dalam kondisi kritis di rumah sakit Bhayangkara di bawah pengawalan ketat."Camelia menahan napasnya, jemarinya mengepal kencang di tepi gau

  • Terjebak Cinta Satu Malam dengan Mantan Kekasih    bab 53

    "Lakukan penguncian total pada seluruh aset *Aegis Capital* sekarang!" perintahkan Morgan Erlangga dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.Di dalam ruang kerja pribadi lantai paling atas Gedung Erlangga Holding, layar monitor menampilkan jaringan transaksi perbankan internasional yang terhubung langsung dengan otoritas moneter di Singapura, Zurich, dan Kepulauan Cayman. Berdasarkan bukti telepon satelit dan pengakuan kelompok penyusup yang tertangkap basah di Tanjung Priok beberapa jam lalu, tim hukum internasional Morgan meluncurkan serangan balik finansial tercepat dalam sejarah aliansi mereka.David berdiri di samping meja, menatap barisan angka dan kurva transaksi yang mulai memerah di layar monitor."Otoritas Keuangan Singapura (MAS) telah menerima perintah pembekuan aset tingkat darurat," pangkas David cepat. "Rekening utama senilai empat puluh juta Dolar Singapura milik loyalis Bagaskara yang tersisa telah dikunci sepenuhnya. Mereka tidak lagi memiliki akses dana untuk

  • Terjebak Cinta Satu Malam dengan Mantan Kekasih    bab 52

    "Atur sudut penempatan bunga anggrek langka ini dua meter di kiri panggung utama!" suara tegas Nyonya Helena Erlangga memecah riuh kesibukan puluhan perancang busana dan tim manajemen acara di Grand Ballroom Hotel Erlangga Jakarta. Sang matriark mengetukkan tongkatnya ke lantai granit putih, menunjuk ke arah panggung megah yang sedang dihias.Di sisinya, Camelia Nusantara memperhatikan deretan sampel kustom gaun pengantin sutra putih yang dibawakan oleh desainer kenamaan Paris. Rona di wajah Camelia kini jauh lebih segar; tidak ada lagi jejak kelelahan emosional atau bayang-bayang ketakutan yang sempat melingkupinya saat skandal pemalsuan medis Valeria merebak."Sutra bernuansa *champagne* ini akan sangat serasi dengan mahkota pusaka keluarga Nusantara yang kau kenakan nanti, Camelia," ujar Helena dengan suara lembut, matanya menatap Camelia penuh kehangatan yang amat tulus. Keraguan dan sikap dingin sang matriark kini telah meleleh sepenuhnya, berganti menjadi rasa hormat mendalam ba

  • Terjebak Cinta Satu Malam dengan Mantan Kekasih    bab 51

    Camelia Nusantara berdiri di dekat dinding kaca raksasa, memandangi hamparan langit Jakarta yang perlahan berganti warna menjadi jingga keunguan. Ia mengenakan gaun terusan simpel berwarna putih gading dengan potongan anggun yang membingkai postur tubuhnya dengan sempurna. Jemari tangan kanannya perlahan meraba jari manis kiri tempat cincin pertunangan berlian itu kini melingkar kembali.Setiap kali jarinya menyentuh permukaan dingin berlian tersebut, ingatan Camelia melayang pada perjuangan sengit empat puluh delapan jam yang lalu. Ia mengingat bagaimana Morgan bertarung tanpa ragu, bagaimana pria itu menyibak jaring-jaring manipulasi yang begitu rumit, dan bagaimana Morgan mempertaruhkan seluruh reputasi serta kekuasaannya demi memastikan kebenaran berdiri tegak di hadapan dunia.Kegigihan Morgan bukan sekadar pembuktian lepas dari tuduhan, melainkan sebuah pernyataan cinta paling murni yang pernah Camelia terima sepanjang hidupnya. Selama bertahun-tahun, Camelia tumbuh dengan keyak

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status