"Katakan siapa yang sudah menyuruhmu, Devia!" geram Camelia. Saking kuatnya cengkeraman itu, buku-buku jarinya memutih, dan napasnya yang memburu terasa panas di kulit wajah lawan bicaranya.Bukannya ketakutan, seulas senyum tipis dan penuh ejekan justru terbit di sudut bibir Devia. Ia menatap Camelia dengan mata yang menyipit meremehkan, seolah tamparan keras yang diterimanya beberapa detik lalu tidak berarti apa-apa."Setelah pulang dari luar negeri, kau sekarang bertingkah seperti algojo, ya?" Devia terkekeh sinis, suaranya terdengar merdu namun beracun. Ia membiarkan tubuhnya pasrah dalam kekangan Camelia. "Wajar saja ayah kandungmu sendiri sangat membencimu, Camelia. Kau sama sekali tidak punya kelembutan."Kalimat itu bagai siraman bensin di atas api yang membakar dada Camelia. Matanya berkilat tajam, memancarkan amarah murni yang siap menghancurkan apa saja. Sudut rahangnya menegang keras. Alih-alih melepaskan, ia justru menyentak kerah baju Devia lebih kuat, membuat wanita itu
Última atualização : 2026-07-03 Ler mais