Brukk! Dia didorong dengan kasar hingga jatuh ke sofa.
"To-tolong, tolong aku, Kak, ... aku mohon tolong aku!" Tubuh gadis itu bergetar hebat. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Dia, kini berada dalam satu ruangan remang dengan suara musik yang cukup keras, hingga membuat telinganya tidak dapat mendengar dengan baik. Beberapa orang laki-laki memandangi dengan tatapan yang sulit diartikan. Mereka semua tertawa dan terlihat sangat menantikan sesuatu yang akan membuat mereka senang. Gadis itu seperti masuk ke dalam sarang serigala kelaparan. "Adikku sayang tenanglah sedikit. Sebentar lagi kau akan merasakan enak!" ucap gadis berambut keriting dan pirang. Dengan make-up yang terlihat tebal, baju yang dikenakannya terlihat kekurangan bahan. Dia mencengkram kasar wajah gadis itu yang terlihat ketakutan. Air matanya sudah membasahi pipinya yang chubby. "Ka-kakak? Kak Shasa ada disini juga, tolong aku kak! Aku tidak mengenal mereka!" pekiknya. Dia menggenggam erat tangannya penuh harap. Berharap dia mendapatkan pertolongan dari kakaknya. "Menolongmu, tentu saja aku akan menolongmu. Tapi, sebelum itu kau harus membantu kakakmu ini. Oke?" ucapnya dengan seringai licik yang tak dimengerti oleh gadis itu. "Membantu apa Kak? Asalkan bisa keluar dari tempat ini, aku akan membantumu!" ucapnya dengan air mata yang masih berlinang. Segenap harapan yang tersisa. Dia hanya bisa menggantungkan keselamatannya kali ini dengan memohon kepada sang kakak. "Kau memang gadis yang penurut dan baik hati, Maureen! Kakak tak salah memilihmu!" Shasa mengusap kepala adiknya dengan sangat lembut. Membantu adiknya tenang dari kondisi yang membuatnya seperti orang gila. Beberapa saat Shasa tampak menenangkan hati adiknya. Dia memberikan minuman untuk adiknya. Maureen menolaknya, karena dia tidak tahu minuman apa yang kakaknya berikan. Namun, ancaman dari kakaknya membuatnya terpaksa meminum. Kakaknya, mengancam akan menghentikan semua perawatan yang sedang dijalankan oleh ibunya. Mana tega seorang anak membiarkan ibunya tersakiti begitu saja didepan matanya. "Anak pintar, kau memang anak yang berbakti. Tunggu disini sebentar. Aku keluar mencari camilan!" Seringai licik memberikan kode pada beberapa laki-laki yang sudah tak sabar menunggu dari tadi. Mereka langsung bersemangat saat mendapatkan kode dari Shasa. "Aku ikut saja kak. Aku tidak mau ditinggal sendiri. Disini sangat menakutkan!" Maureen memegangi lengan kakaknya dengan sangat erat. Dia tak ingin melepaskan. Apalagi dia melihat sorot mata-mata yang seperti akan menelannya hidup-hidup. "Apa yang harus ditakutkan? Mereka semua teman-teman kakak, Maureen sayang. Tenang saja, mereka pasti akan memperlakukan dirimu dengan sangat baik." Sasha kembali berkata sesuatu yang tak dimengerti olehnya. Kenapa kakaknya terus saja ngotot meninggalkan dia bersama laki-laki yang tak dikenalnya. Dia pun berpikir, pasti ada sesuatu yang tak beres. "Pokoknya aku ikut Kakak, Aku tidak mau ditinggalkan sendiri disini!" cetusnya. Tetap menggenggam erat lengan kakaknya. Sasha sedikit geram, dia merasa adiknya sudah dapat membaca rencananya. Jadi, dia putuskan, "Kakak, akan berbicara dengan mereka. Kamu tidak usah khawatir. Jika mereka macam-macam denganmu. Mereka semua, kakak sendiri yang akan menghajarnya!" Sasha berkelit, memberikan keyakinan pada Maureen agar dia bisa pergi darinya. "Be-benar, Kak? Janji, Kakak jangan lama-lama!" "Uhm!" Sasha tersenyum penuh kemenangan. Perlahan melepaskan pegangan adiknya tadi. Kemudian dia berjalan menghampiri mereka dan berkata, "Dia masih eksklusif dan tersegel. Aku jamin kalian akan puas malam ini. Transfer sekarang juga!" ucapnya. Namun, matanya melirik Maureen dengan senyuman yang berbinar yang memperhatikannya dari di sudut sofa. “Kemana kakak pergi? Kenapa dia lama sekali. Apa yang sebenarnya sedang terjadi kenapa dia meninggalkanku disini?” Batin Maureen melihat sekitar ruangan yang sudah dipenuhi dengan kepulan asap rokok dan beberapa orang laki-laki yang bahkan Maureen tak mengenalnya. Maureen mencoba merogoh tas mencari ponsel dan mencoba menghubungi Sasha. Tapi, meskipun sudah beberapa kali dia coba. Telepon Shasa tidak bisa dihubungi. Nomornya mendadak tidak aktif. “Maureen?” seorang laki-laki bertubuh gendut dengan kepedean tingkat tinggi menghampiri lalu menyerobot duduk di sebelahnya. Dia terlihat tak sabaran. Sejak kepergian Sasha dia terus saja mengincarnya. Seperti kucing garong ketemu tulang ikan. Siap menerkamnya kapan saja. “I-i-ya, kau siapa?” Maureen bergeser duduk memberikan jarak. Dia jenggak dengan lelaki tadi yang langsung menaruh tangan pada pinggangnya. “Aku, Roland. Apa Shasa tidak berbicara padamu tadi? Uhm, kalau malam ini kita ada kencan!” ucapnya tanpa basa basi meraih dan menciumi rambut Maureen, menatapnya penuh nafsu. “Kencan? Kakak nggak membahas apapun tadi soal kencan ini. Dia hanya bilang akan keluar sebentar membeli camilan.” Batin Maureen bergemuruh kembali. Semakin merasa tidak beres. “Ma-af mungkin kau salah mengenali orang dan aku bukan Maureen yang kau maksud!” tegas Maureen berusaha menguatkan hati yang tak bisa dijabarkan. Rasanya seperti gado-gado, bercampur aduk. "Kau, Maureen Angelia kan? Dan, Sasha Angelica tadi kakakmu kan? Dia sudah bilang padaku, kalau kau bersedia kencan denganku malam ini," ucapnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa kakaknya menjebak sang adik untuk melakukan kencan buta seperti ini. Dia bahkan tak meminta persetujuan darinya untuk melakukan ini semua. Ponselnya bergetar. Maureen melirik ponselnya. Akhirnya orang yang dia tunggu menelpon, “Ha-hallo, kak Shasa, kau ada dimana? Kenapa belum juga datang aku sudah menunggumu sejak tadi.” Maureen berbicara setengah berteriak karena suaranya hampir benar-benar tidak terdengar oleh dirinya sendiri. Suara musik dalam ruangan bergema semakin sangat keras. Orang bernama Roland terus menatap Maureen dengan intens. Menatapnya dari ujung rambut hingga kaki. Memperhatikan setiap detail lekuk tubuh gadis itu. Walaupun penampilannya biasa saja, bagi laki-laki hidung belang seperti itu tidak akan dipermasalahkan. Apalagi, dia sudah dijanjikan oleh Sasha bahwa Maureen masih tersegel dengan sangat rapi. “Maureen, maaf kakak tidak bisa datang kesana. Kakak ada urusan mendadak dan disana sudah ada Roland kan? Dia akan menggantikan kakak untuk menemanimu!” ucapnya terdengar sangat enteng. Dia bahkan tega meninggalkan adiknya bersama kumpulan para lelaki yang tak dikenal. “Roland? Siapa dia kak? Aku bahkan tidak mengenalnya? Bisakah kakak datang sekarang? Aku tidak kenal siapapun disini, kak!” Maureen setengah merengek agar dituruti oleh kakaknya. “Ayolah, Maureen bantu kakak dan keluarga kita kali ini. Temani, Roland ya. Jadilah anak yang baik dan berbakti. Kau kan masih sangat menginginkan biaya perawatan untuk ibumu? Kau harus bisa menemani dan membuatnya puas malam ini!” perkataan yang membuat tubuhnya bergetar. Bagaimana bisa kakaknya menyuruh adiknya untuk menemani seorang laki-laki. Ah … tidak bukan seorang melainkan ada empat orang disana. Sepertinya untuk kakaknya itu hal yang biasa dan lumrah. “Menemani? Maksudnya apa kak? Aku tidak mengerti. Aku mohon kak, kembalilah kesini. Aku benar-benar takut sendirian disini!” sambil berbicara Maureen terus melirik kearah Roland. Dia sudah terlihat semakin tidak sabar dan bangkit dari duduknya. Menghampirinya. “Bagaimana?” ucapnya. Belum selesai dia berbicara dengan kakaknya. Tangan Roland langsung melingkar di pinggang dengan bebas. Maureen terus bergerak dan menghempaskan tangan nakal laki-laki itu. Sasha sudah memutuskan telepon. “A-aku, tidak bisa!” tegasnya. Dia menolak laki-laki gendut menyebalkan yang akan menariknya duduk kembali bersama dengan para lelaki lainnya. “Ayolah, jangan pura-pura sok polos. Masa yang seperti ini saja kau tidak mengerti! Aku dan yang lain sudah bayar mahal dirimu! Jadi, jangan buat kami kecewa malam ini!” dia terus memaksanya untuk ikut. Menarik paksa hingga tubuh gadis itu terhuyung. Jatuh ke beberapa pangkuan laki-laki yang tak dikenal. Mereka tertawa dengan sangat puas. Mempermainkan Maureen seperti boneka yang baru dibelinya. Menyentuh rambut, mencubit pipinya yang chubby dan sesekali menggerayangi tubuhnya dengan bebas. “Arrgghh!!” pekiknya. Dia terus berusaha melepaskan diri dari sergapan orang yang menantikannya terus berteriak. Sekali Maureen berteriak membuat mereka yang sudah panas terbakar oleh minuman semakin bergelora. Mereka siap menyantap Maureen seperti ayam tanpa tulang. Mereka tinggal melumat Maureen pelan-pelan secara bergantian. “Roland, siapa dulu nih? Aku sudah tak kuat lagi menahannya!” salah satu dari mereka berkata dengan sangat menjijikan. Terdengar di telinga Maureen sungguh memekakan. Dia bahkan tak mengira hal buruk seperti ini akan terjadi pada dirinya.“Dasar Kau benar-benar licik!” dengus Max. Tangannya terkepal, eratan giginya terdengar.Meski mendengar dengusannya, Nathan seolah tidak peduli.Maureen mengambil piring berisi obat tadi, dia duduk kembali di pinggir ranjang. “Kita minum obatnya sekaligus ya,” Maureen menatap sesaat, tapi Nathan masih memalingkan wajahnya.Seperti orang yang takut untuk minum obat.Atau sebenarnya dia sedang mencari kesempatan untuk menggoyahkan hati Maureen.Sebisa mungkin Nathan akan melakukan segala cara agar hati gadis itu berubah.“Max, tolonglah keluar sebentar, aku janji, aku tidak akan macam-macam. Aku hanya membantunya minum obat,” sekali lagi Maureen meminta izin kerelaan suaminya.“Apanya yang tidak macam-macam hah!” Max berkacak pinggang tersulut kembali.“Max, aku mohon, tolonglah!” pintanya sekali lagi, melihat terus ke arah Max maupun Nathan, kedua laki-laki itu tidak ada mau yang mengalah.Nathan tidak ingin saat dia meminum obat terlihat oleh Max, itu seperti menyangkut harga diriny
Maureen menoleh pada suami, pinggangnya sakit di cubit Max.Nathan menatap penampilan Maureen, dia bahkan bisa langsung mengenali kemeja yang dipakai Maureen milik siapa.Kemudian matanya menyipit pada leher yang terlihat bekas gigitan terlihat jelas. Itu sudah merupakan tanda kepemilikan.“Te—terima kasih banyak, Nath, kau lagi—lagi menolongku,” Maureen ingin sekali mendekat, tapi pinggangnya ditahan Max.Nathan hanya menatap situasi yang ambigu. Dia ingin sekali berdiri dan langsung menghajar Max, namun sekarang yang dia perlukan adalah satu janji yang harus Maureen tepati.Dengan adanya janji tersebut, Nathan merasa yakin apapun masih bisa diubahnya.“Uhuk uhuk shh!!” desis Nathan sambil memegangi dadanya.“Apa yang sakit? Dimana yang sakitnya?” Maureen menepis tangan suaminya, dia spontan duduk di tepi ranjang Nathan.Tangannya reflek mendekat dan ikutan menyentuh untuk mengetahui kondisi Nathan. Wajahnya cermin bahwa dia mencemaskan kondisinya.“Rupanya aku belum sepenuhnya kala
“Kau benar-benar keterlaluan. Aku marah padamu, Max!” Maureen berbalik dan mendorongnya, dia membuka pintu mobil dan segera keluar.Max segera mengikuti, “Sayang, jangan marah. Maafkan aku. Kita makan malam dulu ya, kau pasti lapar kan?” Max berhasil meraih tangannya.Sebisa mungkin Max mengulur waktu agar Maureen tidak jadi menjenguk atau kalau dia bisa membawanya langsung pulang.Maureen bergeming.Ucapannya diabaikan.“Jangan marah, maafkan aku. Aku akan izinkan, asalkan aku juga bisa bersamamu!” Max merayunya.Dia tidak ingin kalau Maureen berubah pikiran dan meninggalkannya.“Kau jangan membohongiku!” dengus Maureen menoleh karena ucapannya.“Apa aku terlihat seperti itu dimatamu?” kembali Maureen bergeming.“Hanya karena laki—laki yang baru kau kenal, kau sampai bersikap seperti ini, hah!” Max melayangkan aksi protes, “apa aku dimatamu tidak lebih baik darinya?” Maureen menghela nafasnya.“Apa aku terlalu keras? Bagaimanapun, kalau bukan Max yang menyelamatkan mama dan membantuk
Max mengabaikan rintihannya. Dia terus melahap belahan bibir bawah istrinya hingga benar-benar Maureen tidak kuat.“Max … ahh hmm ahh Max ummm aku!” tanpa sadar Maureen terus mendorong kepala suaminya agar tetap bermain di bawah tadi.Kepalanya terangkat, deru napasnya masih terdengar kasar, tanpa ragu, bibir tadi sekarang sedang menyerang lagi bibirnya.Detik berikutnya, tubuh polos istrinya sudah diangkat ke pangkuan, Maureen mulai bergerak naik turun secara perlahan.“Max, kau benar-benar kejam. Tubuhku ini masih sakit ahhh ahh mmm!” saat dia protes, Max malah membalikkan tubuhnya lagi hingga kini Max yang sedang memompa dengan ritme cepat.Dia benar-benar menghajar tubuh istrinya sampai kewalahan.Max menarik tubuhnya dalam dekapan. Dia menutupi hanya dengan kemeja yang dilepasnya.“Kau yang lebih dulu berbohong dan mengkhianati ku. Ini hukumannya sangat ringan hah!” wajah Maureen di tarik sampai mereka berhadapan, dan grauk, Max menggigit bibirnya hingga berdarah.“Ah sakit Max!
Carlos dan Benny langsung mendekat. Nathan masih memeluk tubuh Maureen.“Kau gila, Nathan!!” teriak Carlos setelah suasana lebih kondusif, orang-orang tadi sudah dihabisi oleh anak buah Max juga Nathan.Martin segera mendekat pada Lola. Kepalanya dipukul dan terluka. Dia pingsan.Max ingin sekali marah melihatnya. Tapi, dia juga melihat istrinya yang sudah penuh dengan darah.Mereka segera membawanya kembali masuk ke rumah sakit.Max melihat wajah yang melindungi tubuh istrinya.“Moses? Sedang apa dia disini? Bagaimana dia bisa mengenal istriku?” kaya Max dalam hati.Max terkejut, tapi dia juga ikut membantu mengangkat tubuhnya.Carlos segera melakukan operasi untuk mengangkat peluru yang bersarang di punggungnya.“Di–dia, akan baik-baik saja kan Max? Aku, aku akan merasa bersalah kalau dia …,” Maureen dipeluk Max. Meski ada luka, tapi hanya lecet-lecet.Darah yang tadi mengalir pun itu berasal dari Nathan.“Tenanglah, ini tidak seperti yang kau bayangkan,” Max mencoba menenangkan hat
“Kau sudah janji padaku. Dua kali janji. Apa semua itu akan kau ingkari?” Maureen cemberut lagi, “Iya, iya, aku tahu. Aku akan bicara padanya!” Maureen ingin melepaskan pegangannya, tapi Nathan memberikan kode pada Benny dan Carlos untuk membawa Lola keluar ruangan dokter tadi.“Loh, loh, mau kemana?” Maureen ingin melangkah, tapi sekali lagi ditarik oleh Nathan hingga dia akhirnya duduk lagi di pangkuan Nathan.Nathan pura-pura meringis saat Maureen mencoba mendorongnya.“Ma–maafkan aku, kau juga yang salah!” dengus Maureen, dia tidak berusaha keras lagi mendorong tubuh Nathan.Namun, Nathan seolah tidak ingin mendengarkan perkataannya, dia hanya lebih memepetkan tubuhnya.“Na–Nath, kau, kita uhm ….”Maureen merasa serba salah dan tidak enak. Tubuhnya ingin mendorong keras, tapi disisi lain dia merasa berhutang budi padanya.Pinggangnya malah semakin didorong masuk ke dalam pelukan. Sepertinya, Nathan hanya ingin memeluknya sesaat.“Rasanya aku ingin sekali menggigit dan memakannya