Share

Bab 4 - Makan Malam Rival

Author: Kennie Re
last update Last Updated: 2025-07-24 06:56:06

Abby berjalan keluar ruangan demi menemui Zachary yang katanya sudah menunggu di lobi. Dia tak ingin tergesa dan sengaja membiarkan lelaki itu menunggu. Itu hukuman atas sikapnya yang telah memperolok dirinya atas kekalahannya di bursa saham.

Ketika tiba di hadapan Zac, lelaki itu seketika berdiri dan menatap Abby dengan tatapan yang tak mampu dia terjemahkan.

Apakah itu salah satu bentuk pelecehan juga? Karena Abby tidak suka ditatap seperti itu.

“Maaf jika membuatmu menunggu lama,” ujar Abby berusaha untuk tenang meski enggan berbasa-basi dengan lelaki itu. Tujuan utamanya adalah menghancurkan dengan menjadi musuh, bukan dengan menjadi teman apalagi menanggapi sikap genit lelaki player seperti Zac. “Apakah kau ingin kita bicara di ruanganku atau ...”

“Tunggu. Apakah kau benar Abigail Genovhia yang berbicara denganku di telepon tadi?”

“Menurutmu?”

Zac tertawa pelan lalu merutuki kebodohan pertanyaannya. Tentu saja dia Abigail, siapa lagi?

“Tidak, maksudku ... kau sangat berbeda. Beberapa jam lalu—“

“Aku tahu. Apakah aku terdengar ketus? Maafkan aku. Terlalu banyak pekerjaan dan aku tipikal orang yang tidak suka berbicara lewat telepon atau panggilan video. Jadi mungkin lain kali, lewat pesan singkat saja,” jawab Abby.

“Atau datang langsung?”

“Mungkin itu sedikit lebih baik jika memang pembicaraannya sedikit urgent. Aku akan luangkan waktu.” Abigail tersenyum simpul, tidak terlalu lebar, tetapi Zac bisa melihat cekungan di pipinya, yang artinya, dia memang sedang tersenyum.

Zac suka tipikal wanita yang tidak terlalu murah senyum. Hanya saja, apakah dia yakin bisa mengatasi wanita seperti Abby?

“Kurasa aku hanya sebentar. Karena kau tidak menyukai percakapan melalui telepon, aku datang langsung untuk mengundangmu makan malam. Apakah permintaanku terlalu sulit bagimu saat ini?”

Abby tak segera menjawab melainkan mengatupkan bibir sembari berpikir. Dia harus meluangkan waktu dan menyisakan satu jadwal kosong untuk ini. Namun, apakah membuka peluang pada lelaki ini akan sepadan dengan rencananya?

“Please ... aku hanya ingin menjadi teman. Tak masalah, kan, kalau berteman dengan rival?”

“Ya, itu ide bagus, tentu saja. Kau bisa mengerti kelemahan lawanmu karena kau telah berubah menjadi seorang teman baginya.”

Zac tertawa. “Apakah kau sedang menyindir?”

“Terdengar seperti itu, ya? Tapi tidak. Aku tidak sedang menyindirmu, melainkan mengatakan sebuah fakta yang seharusnya kau ketahui di dunia bisnis. Pertanyaannya, apakah kau yakin ingin berteman dengan AKU, yang merupakan musuhmu?”

Zac menatap Abby dengan intense setelah mendengar kalimat retorik yang baru saja dia lontarkan.

“Sebagai tambahan, aku bisa saja mengetahui kelemahan serta seluk beluk yang mendetail tentangmu. Dan tentu saja, itu sangat berbahaya bagimu.”

“Wah ... dugaanku benar. Kurasa aku tidak salah memilihmu untuk menjadi mentorku,” ujar Zac yang membuat Abby mengerutkan kening.

“Mentor?”

“Aku tidak ingin bertele-tele. Aku makan malamlah denganku dan aku akan mengatakan segalanya. Kau berhutang terima kasih padaku, anyway.” Zac mengutarakan tujuan kedatangannya dengan nada sedikit memaksa yang meski orang lain mungkin tak akan menyadari, tetapi Abby cukup kenyang dengan trik semacam ini.

“Baiklah. L’Restaurante pukul tujuh. Aku tidak suka menunggu,” jawab Abby, kemudian siap untuk pergi. Namun, pertanyaan Zac membuatnya terhenti.

“Kau ingin aku menjemputmu? Kita bisa sekalian mengobrol selama dalam perjalanan.”

“Tidak perlu, Tuan Emerson. Kita bertemu di sana.”

Tanpa menunggu jawaban Zac, Abby bergegas memutar tumit dan melangkah meninggalkan Zac yang masih memandangi punggungnya hingga menjauh sembari bergumam dalam hati bahwa Abby melebihi ekspektasinya sejauh ini.

***

Abby telah bersiap dengan gaun yang telah dia kenakan dan membentuk lekuk tubuhnya yang padat dan sedikit berisi. Dia mematut penampilan di cermin yang ada di ruangan khusus di kantornya. Dia memutuskan untuk tidak pulang dan langsung bersiap karena jarak dari kantor ke rumah akan memakan waktu lebih lama sementara pekerjaannya baru saja selesai.

Dia menilik ponsel yang sudah terdapat pesan berderet dari Zac, terlihat tak sabar untuk bertemu. Namun, Abby harus tetap tenang menghadapi lelaki seperti Zac yang belum dia kenal betul bagaimana watak dan karakternya.

Bisa saja, Zac mendekatinya dengan tujuan untuk mencari tahu kelemahannya dan hal itu tak boleh terjadi.

Jika menjadi musuh untuk menghancurkan Emerson tampak begitu sulit, maka dia tak masalah menjadi kawan keluarga Emerson dan mulai membuat rencana baru untuk itu.

Abby menempuh perjalanan dua puluh menit di jalanan yang tampak lancar dan tiba di L’Restaurante di mana Zac mungkin sudah menunggunya. Dia membenarkan riasan dan pakaiannya sebelum kemudian meminta sopir untuk pulang dan kembali hanya jika dia menghubunginya.

Dia mendapat ide cemerlang untuk memulai rencananya.

Benar saja, Zac telah menunggu di meja VIP yang dia pesan dan seketika berdiri saat melihat kedatangan Abby. Ia menarik kursi untuknya dan duduk berhadapan.

“Anggur di sini lezat sekali. Aku tidak menyangka kau juga selalu datang kemari,” ujar Zac memulai pembicaraan sembari menunggu makanan mereka. “Apakah kau terjebak macet? Aku tadi berpikir untuk menjemput, tetapi kau sudah mengatakan untuk bertemu di sini.”

“Aku tidak suka merepotkan orang lain, Tuan Emerson, jadi seperti ini terasa lebih baik.” Abby menyesap anggurnya setelah menjawab perkataan Zac.

“Kau sangat berbeda dengan gadis kebanyakan, Abby. Bolehkah aku memanggilmu demikian?” Abby memberi isyarat dengan anggukan, lalu kembali menyesap minumannya, menunggu Zac melanjutkan kalimat, tetapi sepertinya, justru Zac yang kini tengah menunggu reaksinya.

“Gadis kebanyakan? Hmm ... menarik. Berapa banyak dari kata kebanyakan yang kau maksud? Apakah sama juga dengan kekasihmu? Maaf jika aku keluar dari topik, hanya menanggapi perkataanmu. Terlebih yang kutahu, kau memang cukup digandrungi di Saint Orleans. Wajar kalau kau mengira aku setipe dengan gadis-gadis yang kau kenal. Jadi, pertanyaannya, berapa banyak yang sudah kau kenal dan kau pikir aku salah satunya?”

Zac tertawa lantas meletakkan gelas yang bahkan belum sempat dia sesap isinya. “You got me wrong. Rumor yang beredar tidak selalu benar, Abby. Bergantung dari sudut pandang mana kau melihatnya.”

Abby hanya menaikkan sebelah alis, lalu menyunggingkan senyum di bibir berlipstik maroon.

“Kenapa jadi membicarakanku? Aku sedang berusaha untuk mengenalmu, Abby.”

“Baiklah. Maaf. Silakan tanyakan apa saja, aku akan berusaha menjawab. Namun, tidak jika itu tentang bisnis. Aku sudah cukup pusing memikirkan pekerjaan sepanjang hari dan, ayolah ... ini di luar kantor,” ujar Abby berusaha terdengar lebih santai dan usahanya berhasil karena dari gesturenya, Zac pun jadi terlihat lebih luwes bicara dengannya.

Makanan mereka datang, mereka menikmati sebentar sembari mengobrol hal ringan, seperti yang Abby inginkan.

“Jadi kau tinggal seorang diri di Eastonville?”

“Ya, orang tuaku memutuskan untuk tetap berada di Estern Shore, menikmati pemandangan pantai setiap saat. Setelah kita tua, apa lagi yang kita inginkan jika bukan ketenangan? Setidaknya mereka tidak memaksaku untuk tinggal dan mengabaikan pekerjaan.”

“Menarik. Mungkin aku akan mampir sekali waktu. Tentu saja jika ada kau di sana.”

“Silakan saja. Tapi kau harus tahu kalau ayahku sedikit ... aneh. Kau tahu, lah. Tipikal seorang ayah yang over protektif karena aku adalah putri satu-satunya.”

Zac tak merespon melainkan hanya memandangi wanita di hadapannya yang segera menikmati kembali makanan di atas piringnya setelah bicara panjang lebar. Ia tak menduga Abby akan begitu mudah akrab dan membaur padahal majalah bisnis itu justru menyebutkan kalau Abby adalah salah satu wanita sukses yang tidak suka bergaul.

Hal itu terlihat di pesta, tetapi Zac sepertinya terlalu bandel untuk begitu saja percaya kalau Abby memang sekaku itu.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih ketika mereka telah selesai menikmati seluruh hidangan hingga penutup. Akan tetapi, Zac sepertinya enggan pergi dan mulai merasa Abby adalah wanita yang cukup asyik untuk dia ajak berbincang sesekali.

Keduanya telah berada di halaman parkir, tetapi Zac tak menemukan mobil Abby di tempat itu. Zac menatap lengan Abby yang terbuka dan melepaskan mantelnya untuk ia pasangkan di tubuh Abby.

“Mobilmu tidak tampak. Apakah kau datang dengan taksi?”

Abby cukup tercengang mendengar perkataan Zac yang dia harapkan sejak awal. Semua terjadi begitu saja seolah dunia sedang berpihak padanya. Dia pun sudah menyiapkan respon untuk menanggapi perkataan lelaki tersebut.

“Kau mengenali mobilku?” tanya Abby dengan kening berkerut dan tatapan yang jelas tertuju pada Zac. Sebuah tatapan penuh tanya. “Kurasa kau sebaiknya menjadi seorang detektif ketimbang pengusaha, Tuan Emerson.”

“Ah, itu ... aku memang tidak tertarik pada bisnis. Tapi aku juga tidak cocok menjadi detektif.”

“Lantas? Apa sebutan bagi lelaki yang baru beberapa jam mengenal wanita, tetapi sudah begitu hafal dengan jenis mobil wanita itu?”

Pertanyaan Abby membuat wajah Zac memerah. Dia tak ingin terlalu memperlihatkan dirinya tertarik pada wanita ini, tetapi bagaimana bisa Zac menahan diri? Dia sudah penasaran hingga nyaris gila sejak pertemuan pertama mereka di pesta.

“Aku hanyalah seorang stalker. Atau mungkin pengagum rahasia.” Ia tertawa.

Abby menepuk lengan kekar Zac pelan sembari tertawa. “Kau ternyata sangat humoris. Apakah kau seperti ini pada semua wanita yang menarik bagimu?”

Zac terdiam seketika dan menoleh demi bisa menatap wajah cantik Abby lebih jelas.

“Tidak juga. Aku hanya berusaha untuk terlihat tidak membosankan. Apakah malam ini cukup menyenangkan bagimu?” Abby mengangguk. “Kalau begitu biar aku mengantarmu. Aku harus memastikan kau selamat sampai di rumah.”

“Tidak perlu, Tuan Emerson, aku baik-baik saja. Sopirku mungkin akan tiba sebentar lagi.”

“Tidak, tidak. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih karena kau bersedia menerima ajakan makan malam dariku.”

“Bukankah makan malam ini sebagai ucapan terima kasih karena kau telah menyelamatkanku dari lelaki mabuk?”

“Aku berubah pikiran. Kau boleh membalasnya nanti.”

Abby setuju dan masuk ke dalam mobil yang tak berapa lama berhasil membawanya hingga tiba di kediamannya dengan selamat. Abby menyodorkan mantel Zac ketika ia sudah berada di luar.

“Terima kasih atas kebaikanmu.”

“Tidak. Akulah yang berterima kasih karena kau sudah berusaha menyenangkan meski aku tahu kau pasti skeptis akan ajakanku yang terlalu berani.” Zac tersenyum meski sejujurnya dia masih ingin berlama di sana. “Masuklah. Di luar sangat dingin. Selamat malam.”

Kemudian ... bahkan sebelum Abby sempat melangkah masuk ke dalam rumah, ponselnya berbunyi dan ketika dia memeriksanya, satu pesan membuat ujung bibirnya tertarik lebar.

[Nomor tak dikenal: Terima kasih untuk malam ini. Kuharap kau besok tidak keberatan jika kita bertemu lagi. Di apartemenku. Aku ingin menunjukkan sesuatu yang mungkin kau akan suka.]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Cinta dalam Dendam (INDONESIA)   Bab 70 - Babak Baru

    “Kau membeli aset yang dia tawarkan?” desak Zac pada Abby yang baru saja hendak meluruskan punggung tetapi harus menerima hal lain yang menguras tenaganya beberapa hari ini.Zac masih terus mendesak agar dia menerima pinangannya. Kali ini, Abby akan menjawab dengan tegas jika pria itu masih terus memaksa.“Aku harus membuatnya diam. Apa lagi yang bisa kulakukan?” jawab Abby tenang. “Kau jadi mengajakku makan siang?”“Abby, bolehkah aku mengatakan sesuatu?”Here we go again ....“Aku tidak ingin kau berurusan langsung dengan Albert. Dia orang yang culas dan mayoritas usahanya berhubungan dengan manusia.”“Semua bisnis berhubungan dengan manusia, Zac. Hanya saja, dia terlihat lebih kreatif.”“Are you kidding me? Dia menjual manusia, Abby. Menjadikannya pelacur, bahkan banyak dari mereka yang masih di bawah umur.”“Aku tahu itu, sayang.” Abby mendekat dan menangkupkan tangan membingkai wajah Zac yang tengah dikuasai amarah. “Apakah kau pikir aku tak tahu kalau aset yang dia jual adalah m

  • Terjebak Cinta dalam Dendam (INDONESIA)   Bab 70 - Masalah Baru

    “Benarkah dia mengatakan itu tentangku?” tanya Abby pada pria paruh baya yang duduk di hadapannya. “Tentu saja. Mana mungkin aku berbohong. Wanita cantik dan sukses sepertimu tidak pantas jika hanya menjadi pelarian bagi pria patah hati seperti Zachary. Tidakkah kau ingin beralih pada pria lain?” tanya pria itu secara retorik. Abby bergeming, tak ingin memberikan reaksi apa pun terkait keterangan yang pria itu berikan. Meski Zac adalah sarana balas dendamnya, bukan berarti dia akan dengan mudah percaya pada perkataan orang yang tak bisa dipercaya. Terlebih itu mengenai Zac. Zac sangat tergila-gila padanya, jadi tak mungkin rasanya jika dia mengatakan hal buruk yang akan merugikan dirinya sendiri. “Untuk masalah itu, biar kupikirkan matang-matang. Lagi pula, aku dan Zac akan menikah sebentar lagi. Mana mungkin aku begitu gegabah memutuskan hubungan secara sepihak?” Abby berusaha menanggapi segala informasi yang dia yakini palsu itu, hanya untuk memancing pria itu agar mengataka

  • Terjebak Cinta dalam Dendam (INDONESIA)   Bab 69 - Berbeda

    Zac terbangun di pagi hari dan tak menemukan Abby di mana pun. Malam tadi Abby menginap di apartemennya. Dia kalut dan hanya menangis sepanjang malam, sampai tiba saatnya Zac mengajaknya untuk tidur, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Abby mencumbunya dan mereka menghabiskan malam dengan seks yang menakjubkan. Mungkin hanya perasaannya saja, tetapi dia seperti tak pernah puas dengan Abby. Zac tak pernah ingin berjauhan darinya dan seperti pagi ini, menemukan tak ada siapa pun di sisinya, dia hanya terkekeh, lantas menghubungi ponsel Abby untuk memastikan. “Aku sudah di kantor, Zac. Aku tidak ingin membangunkanmu karena kau tampak lelah. Kau pasti bosan mendengar tangisanku semalaman,” jawab Abby di seberang. “Apakah kau sudah menghabiskan sarapanmu? Aku sudah membuatkan seporsi pancake untukmu.” “Aku sangat merindukanmu. Aku lebih baik mendengar eranganmu saat kita bercinta ketimbang melihatmu menangis. Kuharap perasaanmu sudah membaik sekarang. Dan, oke, aku akan menghabi

  • Terjebak Cinta dalam Dendam (INDONESIA)   Bab 68 - Kata Hati

    Alice membekap mulut dengan telapak tangan. Dia tak menyangka kalau Jude serius dengan apa yang dia lakukan. Meski terkesan aneh dan konyol, tak pelak, Alice kagum akan tindakan lelaki itu. Sayangnya, mereka tidak sefrekuensi sekarang. “Jude ... mengapa kau lakukan ini?” tanya Alice sembari mendesah lelah dan mendorong tubuh lelaki itu menjauh. “Aku tak pernah menyangka kau akan lakukan ini.” “Seharusnya kau bisa menduganya. Kau telah mengambil keperjakaanku.” “Bullshit!” Alice tergelak. “Jangan meracau. Mana mungkin pria sepertimu masih perjaka? Atau jangan-jangan ... apakah kau benar menyukai wanita?” “Apakah kau sedang mengujiku? Setelah apa yang terjadi kau masih mempertanyakannya?” Alice tertawa lagi. “Baiklah. Aku akan serius sekarang. Mengapa kau lakukan ini?” “Karena aku mencintaimu.” “Kenapa, Jude? Kau tidak seharusnya mencintaiku.” “Bisa kau jelaskan kenapa? Karena kurasa aku yang merasakan ini dan aku senang bisa merasakan perasaan itu terhadapmu. Mengapa ka

  • Terjebak Cinta dalam Dendam (INDONESIA)   Bab 67 - The Invasion

    Alice tiba di apartemennya dan segera mengambil ponsel. Puluhan pesan dan panggilan tak terjawab sudah berderet di sana. Dari Jude, siapa lagi? Dia enggan berurusan dengan orang yang berpotensi mengganggu pekerjaannya, tetapi Jude ... dia memiliki apa yang Alice butuhkan. Sebuah stabilitas. “Hey, maaf karena mengabaikan panggilan dan pesanmu. Bagaimana kabarmu?” sapa Alice yang tak tahu jika lelaki di seberang sana tengah menyunggingkan senyum lebar menerima kabar darinya. “Tak mengapa. Aku tahu kau pasti sibuk dengan pekerjaanmu untuk Abby. Aku baik, dan merindukanmu. Bagaimana denganmu? Apakah semua lancar? Bagaimana dengan adik lelaki Abby?” “Ya, thank God semua berjalan dengan baik meski aku belum bisa katakan kalau pencarian selesai. Tugas baru selalu menanti di depan. Dan sampai sekarang aku masih tak bisa berhenti mengawasi Abby dan Gin. Kau tahu, kan? Mereka membutuhkanku.” “Aku tahu. Pasti berat menerima pemuda yang tumbuh di jalanan.” “Gin cukup mudah diatur, kecua

  • Terjebak Cinta dalam Dendam (INDONESIA)   Bab 66

    “Apa yang kau lakukan di sini, Abby? Dan mengapa kau membawaku pergi? Aku harus mengatakan pada Monica terlebih dahulu agar dia tidak mencariku,” ujar Gin yang tak terima dengan sikap Abby yang langsung saja menariknya keluar dari pusat perbelanjaan, sementara Alice yang baru selesai membayar semua barang belanjaan mereka, hanya mematung menyaksikan pertikaian antara dua kakak beradik itu. “Kau tidak perlu meminta izin atau berpamitan Gin. Pulang denganku. Sekarang.” Abby mendorong Gin masuk ke mobil Gin dan meminta Alice untuk membawa mobilnya. Mereka meninggalkan pusat perbelanjaan dengan masih terus berperang mulut. “Kau tahu? Kau sudah mempermalukanku dengan memperlakukanku seperti anak-anak, Abby.” “I don’t fucking care, Gin. Yang harus kulakukan adalah melindungimu.” “Aku tidak membutuhkannya. Aku sudah dewasa dan aku seorang laki-laki. Seharusnya, kaulah yang kulindungi. Tidakkah kau sadar kalau tingkah polahmu itu bisa membahayakan kita semua?” “Oh, tingkah polah?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status