LOGIN“Bagaimana, Abby? Apakah kau sudah mengatakan pada kekasihmu?” tanya Gin menyambut kepulangan Abby. Kakaknya itu kini merebahkan punggung pada sandaran sofa dan memijit pelipisnya.“Membayangkan sebentar lagi akan menjadi istri Zac membuat kepalaku tak henti berdenyut.” Dia menoleh pada Gin. “Selanjutnya apa rencanamu?”“Aku ingin mengajakmu ke rumah masa kecilmu, Abby. Ayo kita memeriksa kondisi Papa.”Abby menatap Gin dengan kening berkerut, tak percaya sang adik sudah mulai memahami apa yang harus dia lakukan terhadap keluarga. Tak sadar, mata Abby berkaca-kaca. Dia membelai rahang Gin dengan penuh kasih.“Kau sudah dewasa, Gin. Semakin lama aku menatapmu, semakin aku menemukan orang tua kita dalam dirimu.”Melihat sikap Abby dan air mata yang menetes di pipinya, Gin meraih dan mendekapnya erat. Dia menyesal karena baru menyadari dan mengenali karakter sang kakak di saat sang ibu telah hilang entah ke mana. Andai saja dia men
“Zac? Apa yang terjadi padamu? Kau diam sejak tadi dan tidak mendengarkanku,” tanya Abby yang pada akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Zac dan membicarakan kembali pernikahan mereka.Akan tetapi, Zac sedang tidak dalam kondisi baik. Dia masih memikirkan kejadian di hotel, di mana Monica melakukan tindakan yang kelewat batas terhadapnya.Zac tersadar dan menyunggingkan senyum canggung. Dia sama sekali bukan memikirkan Monica karena kejadian itu, melainkan tentang apa yang adiknya pikirkan saat itu sampai berani mencium bibirnya.“Maafkan aku. Mungkin aku terlalu lelah dengan berbagai kegiatan dan persiapan pernikahan kita.” Zac meraih jemari Abby dan menggenggamnya. “Jangan katakan kau akan membatalkannya.”“Apa?” Abby tergelak, tetapi berubah canggung. “Apa kau sudah gila sampai berpikir demikian, Zac? Apa yang terjadi padamu?”“Karena beberapa hari ini gelagatmu aneh. Kau menghindariku dan baru hari ini akhirnya kau bersed
“Uhm ... Zac?” Abby tak mampu menjawab pertanyaan Zac karena dia tak yakin apakah lelaki itu memang benar-benar tidak mendengar sejak awal, ataukah hanya sedang mengujinya.Gin yang bisa menangkap kesulitan dalam sorot mata sang kakak, akhirnya mengambil alih kesempatan bicara.“Oh, hey, Zac. Bagaimana kabarmu? Maaf, aku telah mempersulit kalian dengan sikap kekanakanku. Aku sungguh tak bermaksud—““Gin, hey, buddy. Tak perlu merasa begitu. Aku juga memiliki adik seusiamu yang tak kalah menyulitkan. Kau justru membuatku kagum. Kau menyayangi Abby dan selalu menjaganya. Aku sempat sangat cemburu padamu. Terlebih karena calon istriku ini begitu menyayangimu melebihi aku.” Zac tertawa disusul oleh Gin yang juga berusaha mencairkan suasana, sementara Abby hanya bungkam.Sejak tadi dia berusaha menyembunyikan wajah dari Zac dan Gin dengan sengaja melindungi sang kakak dengan tetap mendekapnya.“Lalu, apa yang terjadi sekarang? Apakah
Selepas mendengar rekaman suara yang Jude berikan, Abby membisu dan tak bicara sepatah kata pun. Dia tak habis pikir dengan permainan kehidupan yang dia alami.Sejak kecil dia telah kehilangan kebahagiaan dikarenakan orang jahat yang dengan sengaja menghancurkannya dan kini, hal itu terulang lagi.Apakah identitasnya telah terbongkar? Jika iya, siapa yang melakukannya? Zac yang sebentar lagi akan menjadi suaminya tidak mengetahui apa pun tentangnya. Hanya Alice dan Jude yang rupanya memiliki tujuan sama. Namun, bisa jadi Jude justru musuh dalam selimut.“Aku akan mengantarmu pulang. Zac pasti sudah menunggu dengan cemas,” ujar Alice, cemas dengan kondisi Abby yang tampak pucat.“Aku harus segera menemui Ayah dan memastikan kalau dia dalam keadaan baik-baik saja,” jawab Abby dengan tatapan kosong, tetapi seluruh tubuhnya bergerak tak beraturan seolah terjadi di luar kendali.Jude tak izinkan mereka pergi karena tahu kondisi Abby
“Dari mana saja kau? Mengapa sejak pagi pergi dan baru kembali?” tanya Gin saat melihat Monica memasuki kamar mereka. Dia masih berada di hotel bersama gadis itu dan berencana untuk pulang, tetapi, sejak pagi, Monica mengunci pintu seolah dengan sengaja berniat menyekapnya.Gin mulai menerka-nerka dengan segala akal sehat mengenai apa yang sedang terjadi padanya saat ini. Dia baru mengenal Monica tetapi sudah mempercayakan segalanya pada gadis itu, sementara Abby, kakak kandungnya, justru dia jauhkan begitu saja.“Aku ada urusan. Apakah kau sudah makan?” tanya Monica kemudian mengecup bibir Gin yang sudah hilang minat. Monica memang gadis yang memesona, tetapi dia tidak buta. Dia tahu kalau Monica menyimpan rahasia yang tidak dia ketahui.“Urusan apa? Mengapa kau bau minuman. Apakah kau mabuk?” Gin mengendus tubuh Monica dan menjauh. Dia terdiam untuk beberapa saat sebelum kembali memberondong gadis itu dengan berbagai pertanyaan. “Kau pergi dengan s
“Kau tidak bersama Gin?” tanya Zac, menoleh pada pria paruh baya yang merangkul Monica dengan mesra. “Di mana saja kau selama ini? Ayah mencemaskanmu.”“Bukan urusanmu, Zac. Ayah tak mungkin mencemaskanku, dia mengusirku. Dia mengatakan kalimat jahat yang tak bisa kuterima. Ayah macam apa yang tidak mengakui putri kandungnya?”“Tapi seharusnya kau tidak melakukan ini, Monica.” Zac menoleh pada pria di samping Monica yang tampak tak suka akan kehadirannya dan Abby. “Siapa pria ini? Apakah dia kekasihmu?”“Apakah kau mengira aku akan bersama Gin? Aku bahkan tidak mengenal pemuda itu.” Dia menoleh pada Abby yang berdiri di sana memandanginya tanpa ekspresi. Monica memutar bola mata dan menoleh pada pria tua di sampingnya.“Ayo kita pergi, sayang. Percuma menanggapi mereka.”Monica memberi isyarat pada pria itu, kemudian dia menghampiri Abby dan Zac yang masih mematung dan tak berucap sepatah kata pun.“Aku baru tahu kala
Abigail tengah menikmati sarapan bersama Gin, saat terdengar suara bel. Salah seorang asisten rumah tangga tergopoh membuka pintu dan disusul suara langkah kaki mendekat, serta kehadiran seorang pria berambut sewarna tembaga.Sorot matanya tampak cerah dan bersinar seketika tatkala menemukan wanita
Belum pukul lima bahkan, tetapi Zachary sudah berada di ruangan Abigail sekarang. Duduk dengan manis memperhatikan gadis yang akan segera menjadi kekasihnya kini tengah bergulat dengan setumpuk berkas. Belum lagi beberapa map yang dia bawa sore ini.“Seriously, you gonna be killing me, Zac! Berkas
Ashton terhenyak kala mendengar apa yang baru saja Abby ucapkan. Dia beringsut bangkit dan duduk menghadap pada wanita yang duduk bersandar pada tepian ranjang."Kau tidak serius mengatakan itu, kan, Abby?" tanya Ashton lagi, berusaha meyakinkan diri bahwa Abigail saat ini mungkin tengah mengerjain
Abigail menerima lamaran Zachary meski dalam batinnya tengah memikirkan banyak hal. Kepergian Ashton masih menyisakan luka dan tanya. Mengapa pria itu tidak bersedia sebentar saja menunggu sampai dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan?Memangnya apa yang Abigail inginkan?Apakah cukup hanya







