Share

Bab 3

Penulis: Rembo
Begitu kami saling bertatapan, ayah tiri sempat terpaku selama satu detik.

Namun, di detik berikutnya, setelah kesadarannya pulih, dia menjadi sama paniknya dengan diriku.

Ayah tiri tergesa-gesa menaikkan celananya, merasa agak canggung.

“Lisa, sejak kapan… kamu pulang?”

Sementara aku dengan cepat menarik keluar jari yang basah, menundukkan kepala dengan wajah merona.

“Aku baru balik. Ayah, aku… aku nggak melihat apa-apa….”

Aku bergumam pelan, jari yang disembunyikan di balik punggung saling menggenggam karena cemas dan malu.

Caraku berbohong sangatlah jelas.

Namun, ayah tiri tak membongkarnya. Dia hanya berpura-pura tenang dan berjalan melewatiku keluar ruangan.

“Lisa, tidurlah lebih awal. Tadi ayah… hanya membantumu merapikan kamar….”

“Terima kasih, ayah.”

Mencium aroma maskulin pekat yang ditinggalkan ayah tiri di udara, wajahku merona dan jantungku berdebar kencang cukup lama, hingga akhirnya aku memberanikan diri masuk ke dalam kamar.

Namun, hal pertama yang kulihat begitu masuk ke kamar adalah celana dalam beruangku yang berlumuran cairan putih milik ayah.

Aku memungut celana dalam itu dengan hati-hati.

Namun, cairan yang disemprotkan ayah tadi sungguh terlalu banyak.

Baru saja aku memegang celana itu, tanganku sudah berlumuran cairan putih yang disemprotkan ayah dengan kasar.

“Amis sekali….”

Mencium aroma pekat ayah tiri dan merasakan kehangatan di tangan, seketika tubuhku menjadi memanas.

Seolah-olah ayah tiri baru saja menyemprotkannya langsung ke tubuhku.

“Ini aroma ayah….”

Kedua pahaku terjepit erat menahan geli, bayangan benda besar dan mengerikan milik ayah tiri yang menyemprotkan cairan putih secara gila-gilaan berhamburan di dalam pikiranku.

“Menyebalkan sekali… kok ayah mengeluarkan sebanyak ini… bagaimana aku memakainya lagi….”

Aku memegang celana dalam yang dipenuhi cairan putih ayah tiri cukup lama, lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkannya.

Namun, saat menghirup aroma jantan pada celana dalamku, sebuah pemikiran berani tiba-tiba terlintas di benakku.

Cairan yang dikeluarkan ayah… rasanya pasti sangat lezat….

Aku mengakui bahwa diriku memiliki pikiran-pikiran yang kurang pantas di dalam hati, tapi menghirup aroma pekat ayah tiri, sungguh sulit rasanya menahan keinginan berani tersebut.

Aku mengambil sedikit dengan jari, lalu dengan ragu memasukkannya ke dalam mulut.

Seketika, cita rasa pekat ayah tiri langsung menyebar di seluruh rongga mulut.

“Hm… ayah….”

Sambil berimajinasi, tubuhku kembali terangsang dan celah di antara pahaku pun mengeluarkan cairan yang lengket.

Aku mendesah, menyelipkan jari ke dalamnya, mencoba meredakan gairah dengan cara ini.

Namun di saat seperti ini pula, suara tegas ayah tiri tiba-tiba menarikku kembali dari rasa terbuai.

“Lisa! Kamu lagi apain?!”

Satu tanganku memegang celana dalam dan tangan lainnya bermain-main di balik gaun, saat menoleh, mataku malah bertatapan langsung dengan ayah tiri.

Seluruh tubuhku bergetar tanpa bisa ditahan.

“Aku… aku nggak apa-apain, ayah….”

Dengan panik, aku menarik tangan yang basah itu dari antara paha.

Aku terburu-buru menyembunyikan tangan di balik punggung.

Dengan wajah merona seperti anak kecil yang berbuat salah, aku berusaha semaksimal mungkin untuk menjelaskan.

“Lalu ini apa?”

Namun, ayah tiri tak memberi kesempatan untuk aku menjelaskan.

Dia yang biasanya selalu bersikap tegas di depanku, tiba-tiba menerjang maju dan mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat.

“Bukti perbuatan burukmu masih ada di sini, kamu masih mau mengelak? Siapa yang mengajarimu melakukan hal seperti ini?”

Ayah tiri mencengkeram erat jari basah yang baru saja kutarik keluar dari bagian intimku, sambil membentak bertanya padaku.

Mendengar suaranya yang kasar, tiba-tiba rasa maluku mencapai puncaknya hingga tak berani menatap mata ayah tiri.

Aku hanya bisa menundukkan kepala dengan wajah memerah dan menjelaskan dengan suara pelan.

“Ayah, maafkan aku… aku bukan sengaja….”

Aku tak punya tempat untuk bersembunyi di bawah tatapannya. Seluruh tubuhku terkunci olehnya dan setiap helaan napas dipenuhi oleh hormon pria dewasa.

Tubuhku bergetar tak terkendali, merasa malu karena ketahuan, tapi juga tak bisa menahan rasa terangsang karena dilihat olehnya dalam kondisi seperti ini.

Tatapan matanya yang membara menjelajahi tubuhku, seolah-olah memiliki sentuhan nyata yang memancing kenikmatan di seluruh tubuhku.

Aku mendesah pelan dan reflek menjepit erat paha. Sentuhan basah di antara paha membuatku semakin malu, kedua kakiku bergetar hampir tak sanggup berdiri.

Namun, tiba-tiba ayah tiri seperti kesurupan. Dengan satu dorongan kuat, dia langsung menekan tubuhku ke atas wastafel.

“Ayah, jangan begini… sakit….”

Gerakan kasarnya membuatku kesakitan. Aku mengerang pelan dan kakiku reflek merapat, tapi malah melingkari pinggang pria itu.

Namun, belum sempat aku memberontak, ayah tiri yang menahan tubuhku langsung melepaskan ikat pinggangnya dengan kasar, membebaskan benda miliknya yang sudah membesar dan mengerikan di balik celananya.

“Hal-hal seperti ini jelas nggak pernah ayah ajarkan, kok kamu bisa jadi nakal seperti ini? Ada orang… yang pernah tunjukkan benda ini padamu?”

Benda miliknya bergesekan dengan bokongku di balik gaun, sesekali memukul gumpalan daging yang memerah akibat remasan ayah.

Aku menggigit bibir, mengeluarkan kalimat terputus-putus di tengah desahan.

“Nggak… hm… ah, bukan, ayah… aku nggak… ah… nggak pernah melihat punya orang lain….”

“Jadi, nggak pernah melihatnya, tapi menginginkannya? Kamu jadi liar sekali, benar-benar nakal.”

Mendengar nada bicaranya yang ganas, aku mendongak dengan mata berkaca-kaca.

Kebetulan melalui cermin, aku bisa melihat benda besar milik ayah tiri yang dibebaskan di belakangku.

Benda miliknya begitu kekar.

Tebal sekali… besar sekali!

Jantungku berdegup kencang.

Bagian intimku yang lembut dan sensitif tanpa sadar mengeluarkan lebih banyak cairan.

“Sudah setegang ini? Genit sekali kamu….”

Saat telapak tangan ayah tiri yang lebar menyentuh area yang basah itu, dia pun tertawa, lalu menekannya dengan kuat.

Sensasi seperti tersengat listrik membuatku lemas. Aku gemetaran di dalam pelukannya, hingga akhirnya tak mampu menahan tangisan.

“Ayah… tolong, ah… berikan padaku, aku mau….”

“Iya sayang.”

Sambil memainkan bokongku, dia langsung menekan benda besarnya itu dengan kasar tepat di titik sensitifku….

“Ayo sayang, ayah akan berikan semuanya untukmu….”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Dosa Bersama Ayah Tiri   Bab 10

    Ini adalah nyawa pertama yang tumbuh di dalam perutku, aku ingin mempertahankannya.Namun, sikap ayah tiri sangat keras.“Lisa, anak ini harus digugurkan. Kamu jangan lupa, pekerjaanku ini didapat dari koneksi ibumu. Kalau anak ini dipertahankan, aku bakal hancur!”Ayah tiri mencengkeram lenganku, cengkeramannya begitu kuat sampai lenganku terasa sangat sakit.Baru saat itulah aku menyadari bahwa diriku sama sekali tak sepenting itu di dalam hatinya.Mungkin baginya aku hanyalah sebuah alat pelampiasan nafsu yang datang menyerahkan diri secara sukarela.Aku mengibaskan tangan ayah tiri seperti orang gila.Aku bersumpah bahwa diriku pasti akan melahirkan anak ini.Melihat emosiku yang meledak-ledak, barulah sikap ayah tiri melunak kembali dan mencoba membujukku dengan kata-kata manis.Dia membual bahwa aku masih seorang mahasiswi dan masih harus menyelesaikan perkuliahan.“Waktu kamu meniduriku dan menyemprotkannya di dalam, kok kamu nggak bilang aku ini masih mahasiswi?”Aku menyindirn

  • Terjebak Dosa Bersama Ayah Tiri   Bab 9

    Ayah tiri kembali menekan kepalaku ke bawah.Namun kali ini, menghadapi benda miliknya yang tebal dan mengerikan itu, aku tak bergairah sedikitpun.Pikiranku dipenuhi oleh bayangan pria yang tadi menatapku dari balik kaca jendela mobil.Ayah tiri juga menyadari bahwa aku sedang tidak fokus.Namun, dia tak mengambil pusing hal tersebut. Sebaliknya, begitu tiba di rumah, dia langsung menarikku ke area balkon dan bercinta dengan sangat sengit hingga bercucuran keringat.“Lisa, kenapa? Kamu sudah nggak menyukai ayah?”“Bu… bukan….”Sambil mengajakku meluapkan gairah, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menanyakan apa yang terjadi padaku hari ini.“Aku hanya… agak nggak enak badan….”Aku mendesah pelan, mencoba membohongi diri sendiri bahwa pria itu tak melihat apa-apa.Jikapun melihatnya, dia juga tak akan bisa melakukan apapun padaku.Meskipun berita ini tersebar, tak akan ada orang yang percaya bahwa gadis secantik diriku bisa ditembus oleh benda besar milik ayah tirinya sendiri….“Bag

  • Terjebak Dosa Bersama Ayah Tiri   Bab 8

    Ayah tiri menghentakkan tubuhnya di dalam diriku dengan sangat gila.Sementara aku perlahan-lahan tenggelam dalam sensasi yang bercampur antara gairah hebat dan rasa bersalah.Dan sejak malam itu, hubungan antara aku dan ayah tiri menjadi jauh lebih dalam.Hanya saja, ada satu hal yang agak di luar dugaanku.Sejak hari itu pula, ayah tiri mulai melarangku berhubungan dengan pria lain dengan semakin ketat, bahkan untuk sekedar mengobrol biasa pun tak diperbolehkan.Tentu saja aku menurutinya.Aku malah sangat menikmati dan betah berada dalam rasa posesifnya.Karena sejak ibu pergi dinar keluar kota, hanya tersisa aku dan ayah tiri saja di rumah.Setiap hari hal yang paling kunantikan adalah menunggu ayah tiri pulang kerja.Mungkin juga karena aku masih muda, suka menerima hal-hal baru dan senang mencoba gaya-gaya baru.Ayah tiri pun menjadi semakin menyukaiku.Sering kali begitu bertemu, kami langsung saling berpelukan dan bergumul dengan gila, membiarkan satu sama lain menuntut kepuasa

  • Terjebak Dosa Bersama Ayah Tiri   Bab 7

    Pikirku dengan tak rela.Namun, aku juga tahu.Bagaimanapun, hubungan antara aku dan ayah tiri adalah sesuatu yang tak pantas diperlihatkan.Malam harinya, aku berbaring di atas ranjang, berguling ke kiri dan ke kanan tanpa bisa tertidur.Hingga saat mendengar suara pintu kamar ibu yang tiba-tiba terbuka, aku langsung bangun dan menghampiri celah pintu.Mengintip melalui celah pintu.Seketika rasa gembira yang luar biasa meledak dalam diriku, karena orang yang keluar adalah ayah tiri, sosok yang sangat kurindukan.Mungkinkah ayah datang untuk mencariku?Dengan penuh harapan, aku memperhatikan ayah tiri berjalan melangkah ke arahku, hatiku benar-benar sangat bergetar saat ini.Ternyata benar, di antara ibu dan aku, ayah tiri lebih menginginkanku!Aku bahkan sudah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan ayah tiri, tapi yang tak kuduga adalah saat tiba di depan pintu kamarku, langkah kakinya tak berhenti.Dia malah terus berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang berada di sebelah.Hal itu

  • Terjebak Dosa Bersama Ayah Tiri   Bab 6

    Ayah tiri mengangkat daguku dan membelai lembut wajahku.Suaranya yang lembut dan sikapnya yang halus membuat aku tak punya alasan sama sekali untuk menolak.“Tentu saja, ayah.”Aku mengangguk dan dengan patuh membuka mulut mungilku.Di bawah tatapan mata ayah tiri, kedua tanganku memegang benda miliknya yang besar, lalu secara perlahan, sedikit demi sedikit mengulumnya ke dalam mulut….“Uhh….”Ukuran benda milik ayah tiri sangat besar, hingga meskipun aku berusaha sekuat tenaga menelannya lebih dalam, hanya separuhnya yang bisa masuk.Namun meski begitu, ayah tiri sudah menyipitkan matanya menikmati sensasinya.“Pintar sekali….”Ayah tiri membelai kepalaku sambil menghela napas puas.Kedua kakinya menegang kencang.Setelah mendapat pujian dari ayah tiri, aku yang ingin menyenangkan hatinya mencoba mengingat adegan dari film dewasa dan mulai memainkannya dengan lidah lebih kuat.Aku mengakui bahwa gerakanku masih sangat kaku untuk pertama kalinya mencoba hal seperti ini.Namun, ayah ti

  • Terjebak Dosa Bersama Ayah Tiri   Bab 5

    Cairan yang menyemprot deras menetes ke atas wastafel.Pikiranku menjadi kosong.Hanya tubuhku yang masih bergetar tanpa bisa dikendalikan.Namun, ayah tiri tak melepaskanku begitu saja. Setelah kesadaranku agak terkumpul kembali, dia kembali memapah tubuhku dan mendudukkanku menyandar di wastafel. Lalu, dia memikul kedua kakiku dan mulai melakukan hentakan yang begitu gencar.“Ayah… terlalu dalam… oh….”Aku terus mendesah pelan, rona merah di pipi tak kunjung pudar.Sementara ayah tiri menjadi semakin bersemangat.Suara napasnya pun berubah semakin berat dan memburu.“Dasar genit!”Tak cukup hanya memeluk paha putih mulusku, ayah tiri bahkan menyibakkan bajuku ke atas.Membuat sepasang gundukan kenyal di dadaku terpampang jelas di depan matanya.“Lisa, kamu suka ayah memuaskanmu seperti ini? Hm?”“Su… suka….”Satu tanganku menopang di atas wastafel, sementara tangan lainnya bertumpu pada dada lebar dan kekar ayah tiri.Merasakan detak jantungnya dan hentakannya yang begitu bertenaga,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status