Short
Malam Keji di Bus Menuju Desa

Malam Keji di Bus Menuju Desa

By:  RichyCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
7Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Hen ... hentikan ... kalian terlalu banyak, aku bisa rusak." Di dalam bus menuju desa, tiga pria kekar sekampung melebarkan kedua kakiku dan merobek bagian tengah kaus kakiku. Om Ferry yang tinggal di dekat rumahku, mengarahkan senter ke arah selangkanganku. "Nak, Om ini lihat kamu tumbuh dari kecil, coba Om periksa sekarang udah tumbuh bulu atau belum." Tatapan beberapa pria berbadan kekar itu membuatku merasa gatal dan sangat bernafsu, hingga tubuhku tidak kuasa meneteskan cairan secara terus-menerus. "Kamu udah sebasah ini, pasti belum pernah ngerasain nikmatnya laki-laki, ya? Hari ini Om dan yang lain bakal bikin kamu puas." ....

View More

Chapter 1

Bab 1

Namaku Nadia Arkana, baru masuk tahun pertama kuliah.

Sejak pacarku merenggut mahkotaku, setiap hari aku selalu menginginkannya. Rasanya amat menyiksa kalau sehari saja tidak melakukannya.

Berhubung libur semester baru dimulai, aku menahan rasa dahagaku ini untuk pulang ke rumah.

Rumahku terletak di Papoya yang sangat jauh, sehingga membutuhkan perjalanan dua hari naik kereta dan setengah hari naik bus desa.

Begitu melangkah naik ke dalam bus, aku langsung merasakan tatapan lapar yang tidak terhitung jumlahnya mengarah padaku.

Penumpang bus seluruhnya pria-pria kekar yang bekerja di ladang dengan kulit gelap dan tubuh kekar, membuat kabin bus yang tua dan kumuh itu dipenuhi aroma hormon pria yang pekat.

Aku yang sudah menahannya selama dua hari, merasa makin gatal dan makin tidak tertahankan.

Kalau terus menahannya, organ dalamku mungkin bisa terbakar.

Bus hampir terisi penuh oleh pria, jadi aku membawa barang bawaanku dan duduk di kursi kosong bagian belakang.

Di sampingku duduk seorang pekerja kasar berseragam loreng hijau yang menatapku sambil tersenyum mesum.

Saat itulah aku sadar, pakaian yang kukenakan sangat kontras dengan mereka.

Aku mengenakan gaun berwarna merah muda lembut, dengan kaus kaki ketat berwarna kulit yang tampak persis seperti kulit asliku.

Senyumnya membuat kerutan di wajahnya makin jelas, lalu matanya menatap ke arah pahaku.

"Nak, musim hujan begini kok nggak pakai celana, apa kakimu nggak dingin?"

Rupanya aku salah sangka, kaus kaki tebal yang kukenakan terlalu mirip kulit asli, membuatnya mengira aku tidak pakai celana.

"Nggak dingin kok, Om. Ini tuh celana, kalau nggak percaya coba aja pegang."

Telapak tangannya yang lebar dan kasar, serta penuh kapalan langsung meraba pahaku.

Sentuhan tangan kasar itu membuat hasrat di dalam diriku makin membara, bahkan dia sengaja meraba ke balik gaun dan meremas bagian dalam pahaku.

"Ternyata beneran celana, rasanya enak banget ya pas dipegang." Dia menarik bahan kaus kakiku, lalu melepaskannya hingga menepuk kulitku dengan kencang.

Senyuman pria itu makin lebar, ketika dia tersenyum seperti itu, tiba-tiba aku merasa tidak asing dengannya.

Wajahnya mirip sekali dengan Om Ferry yang tinggal di dekat rumahku.

"Om ... Om ini Om Ferry dari Desa Arkana, bukan?"

Begitu mendengar pertanyaanku, otot-otot di wajahnya tampak bergetar.

"Kok kamu bisa kenal sama Om?"

Ternyata benar dia!

Aku pun segera berkata, "Aku Nadia, anaknya Pak Bagas. Aku udah bertahun-tahun nggak pulang."

Sejak masuk SMA di kota kabupaten, aku jarang sekali pulang dan sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan Om Ferry.

Perkembangan tubuhku sangat pesat sejak lulus SMP hingga kuliah, jadi aku bukan lagi gadis kecil berwajah kemerahan seperti dulu.

Om Ferry memegang tanganku dengan penuh semangat.

"Aduh, Nadia toh! Udah gede banget sekarang, Om sampai nggak mengenali."

"Om 'kan lihat kamu dari kecil, nggak nyangka sekarang tumbuh jadi cantik banget begini."

Mendengar perkataan itu, beberapa pria kekar di sekitar kami ikut mendekat.

Mereka mulai berebut membicarakanku.

"Ternyata anaknya Bagas, ya? Mulus banget kulitnya."

"Aku ingat waktu kecil kamu suka lari-lari keliling desa pakai celana bolong, tahu-tahu udah besar aja."

"Dulu bagian bawahmu masih polos, sekarang udah tumbuh bulu belum?"

....

Orang desa memang tidak pernah tabu membicarakan hal seperti itu. Mereka langsung bertanya apakah buluku sudah tumbuh atau belum, hingga membuatku sangat malu di tengah kerumunan pria ini.

Namun, saat bagian rahasia di dalam tubuhku tersentuh oleh percakapan itu, jari-jari kakiku seketika mencengkeram erat.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status