LOGIN"Hen ... hentikan ... kalian terlalu banyak, aku bisa rusak." Di dalam bus menuju desa, tiga pria kekar sekampung melebarkan kedua kakiku dan merobek bagian tengah kaus kakiku. Om Ferry yang tinggal di dekat rumahku, mengarahkan senter ke arah selangkanganku. "Nak, Om ini lihat kamu tumbuh dari kecil, coba Om periksa sekarang udah tumbuh bulu atau belum." Tatapan beberapa pria berbadan kekar itu membuatku merasa gatal dan sangat bernafsu, hingga tubuhku tidak kuasa meneteskan cairan secara terus-menerus. "Kamu udah sebasah ini, pasti belum pernah ngerasain nikmatnya laki-laki, ya? Hari ini Om dan yang lain bakal bikin kamu puas." ....
View MoreAku gemetar saat membuka pintu, melihat wajah ayah yang sudah membiru menahan amarah.Aku menangis membela diri, "Me ... mereka perkosa aku ...."Tanpa mendengarkan penjelasanku, ayah menyeretku keluar dan membawaku berdiri di hadapan orang-orang.Matahari menyengat terik, membuat mataku silau sampai sulit terbuka."Anak saya ada di sini, kalau kalian ada masalah, kita selesaikan langsung di depan orangnya."Melihat penampilanku yang terlihat cantik dan segar, amarah Sari makin membumbung tinggi, "Perkosa? Siapa yang percaya! Kamu berpakaian kecantikan begitu, di kota belajar nakal, begitu pulang malah merusak laki-laki desa!"Hinaan para warga berhamburan mengeroyokku, ada yang berteriak, "Usir dia dari desa! Keluarga Arkana bikin malu aja!"Beberapa wanita galak itu maju hendak memukulku.Mereka semua terbiasa bekerja di ladang, tubuh mereka jauh lebih kuat dan kekar dari diriku.Ayah langsung pasang badan melindungiku di belakangnya, berteriak ke arah kerumunan."Urusannya belum jel
Ayah melirikku sebentar, lalu berkata santai."Kalau nggak apa-apa ya udah makan, mumpung bisa pulang ke rumah."Selesai makan, aku keluar main bersama anjing kecilku, menggendong dan mengelusnya puas-puas.Tapi, perasaanku tetap terasa berat, seolah tatapan orang-orang desa padaku sudah berubah.Sesekali berpapasan dengan warga desa, melihatku sudah pulang, mereka menyapa dengan ramah."Nadia udah pulang, ya? Udah lama nggak ketemu, makin pangling aja."Aku kaget setengah mati, mengira mereka sedang membicarakan kejadian di bus tadi.Setelah hari itu, aku mengurung diri di rumah dan tidak berani keluar.Namun, desas-desus di pelosok desa malah berembus makin liar.Yang pertama curiga adalah Sari, istrinya Gilang.Dia wanita yang galak dan paling suka bergosip, kejadian sekecil apa pun di rumah warga tidak akan luput dari telinganya.Sore itu, Sari sedang menyiangi rumput di ladang, mendengar Tante Ayu dan Tante Tika di petak sebelah sedang berbisik-bisik."Kamu udah dengar belum? Gila
"I ... iya ... betul," jawabku terbata-bata sambil mengangguk, hanya ingin segera kabur dari tempat ini. "A ... aku mau pulang dulu, ibu sama ayah udah nungguin."Tanpa menunggu Tante Ayu berkata apa-apa lagi, aku langsung berlari kencang ke arah rumah.Saat mendorong pintu rumah, aku rasanya sudah mengerahkan seluruh sisa tenaga yang kupunya."Bu?" panggilku ragu-ragu, ada nada gemetar dalam suaraku.Dari dapur terdengar benturan alat-alat masak, suara ibu terdengar agak lelah, "Udah pulang? Lapar, ya? Makanan sebentar lagi siap."Aku teringat bagian tengah celanaku yang robek dan tubuhku yang dipenuhi bau laki-laki.Takut ibu menyadari ada yang aneh, aku berdiri mematung di dekat pintu, tidak berani bergerak."Lho, kok baru datang malah berdiri aja di situ?" Ibu menoleh dari dapur. Melihat wajahku yang pucat, alisnya berkerut bingung, "Kenapa kamu? Muka kok pucat banget begitu? Ada apa-apa di luar?""Ngg ... nggak ada apa-apa." Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku. Aku menu
Dia bertanya, "Tadi rasanya gatal dan menyiksa banget, 'kan?"Aku mengangguk kesakitan, "Menyiksa banget, Om Ferry katanya mau bantu aku? Cepat bantu aku!"Aku tidak perlu ditahan oleh pria-pria itu lagi, aku dengan sukarela merenggangkan kedua kakiku.Om Ferry mengangkat kedua kakiku ke atas bahunya, lalu mendorong tubuhnya dengan bertenaga."Om Ferry nggak bohong, 'kan. Kalau bilang mau bantu, pasti Om bantu."Emh ... aku tidak pernah merasakan tekanan sekuat ini sebelumnya.Bahkan helaian rambutku terasa berdiri karena kenikmatan yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuh.Kedua kakiku gemetar hebat akibat dorongan keras yang bertubi-tubi.Pria-pria di belakangku melepas sepatu kulit kecilku, lalu memainkan kedua kakiku.Kaus kaki putihku ternoda oleh air liur dan keringat mereka.Pakaianku ikut ditarik terbuka, menyingkap dua bukit dadaku yang putih dan berukuran cukup besar.Bentuk bukit dadaku terus berubah seiring remasan telapak tangan mereka.Terkadang menjadi bulat, terkadang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.