Mag-log inIni adalah nyawa pertama yang tumbuh di dalam perutku, aku ingin mempertahankannya.Namun, sikap ayah tiri sangat keras.“Lisa, anak ini harus digugurkan. Kamu jangan lupa, pekerjaanku ini didapat dari koneksi ibumu. Kalau anak ini dipertahankan, aku bakal hancur!”Ayah tiri mencengkeram lenganku, cengkeramannya begitu kuat sampai lenganku terasa sangat sakit.Baru saat itulah aku menyadari bahwa diriku sama sekali tak sepenting itu di dalam hatinya.Mungkin baginya aku hanyalah sebuah alat pelampiasan nafsu yang datang menyerahkan diri secara sukarela.Aku mengibaskan tangan ayah tiri seperti orang gila.Aku bersumpah bahwa diriku pasti akan melahirkan anak ini.Melihat emosiku yang meledak-ledak, barulah sikap ayah tiri melunak kembali dan mencoba membujukku dengan kata-kata manis.Dia membual bahwa aku masih seorang mahasiswi dan masih harus menyelesaikan perkuliahan.“Waktu kamu meniduriku dan menyemprotkannya di dalam, kok kamu nggak bilang aku ini masih mahasiswi?”Aku menyindirn
Ayah tiri kembali menekan kepalaku ke bawah.Namun kali ini, menghadapi benda miliknya yang tebal dan mengerikan itu, aku tak bergairah sedikitpun.Pikiranku dipenuhi oleh bayangan pria yang tadi menatapku dari balik kaca jendela mobil.Ayah tiri juga menyadari bahwa aku sedang tidak fokus.Namun, dia tak mengambil pusing hal tersebut. Sebaliknya, begitu tiba di rumah, dia langsung menarikku ke area balkon dan bercinta dengan sangat sengit hingga bercucuran keringat.“Lisa, kenapa? Kamu sudah nggak menyukai ayah?”“Bu… bukan….”Sambil mengajakku meluapkan gairah, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menanyakan apa yang terjadi padaku hari ini.“Aku hanya… agak nggak enak badan….”Aku mendesah pelan, mencoba membohongi diri sendiri bahwa pria itu tak melihat apa-apa.Jikapun melihatnya, dia juga tak akan bisa melakukan apapun padaku.Meskipun berita ini tersebar, tak akan ada orang yang percaya bahwa gadis secantik diriku bisa ditembus oleh benda besar milik ayah tirinya sendiri….“Bag
Ayah tiri menghentakkan tubuhnya di dalam diriku dengan sangat gila.Sementara aku perlahan-lahan tenggelam dalam sensasi yang bercampur antara gairah hebat dan rasa bersalah.Dan sejak malam itu, hubungan antara aku dan ayah tiri menjadi jauh lebih dalam.Hanya saja, ada satu hal yang agak di luar dugaanku.Sejak hari itu pula, ayah tiri mulai melarangku berhubungan dengan pria lain dengan semakin ketat, bahkan untuk sekedar mengobrol biasa pun tak diperbolehkan.Tentu saja aku menurutinya.Aku malah sangat menikmati dan betah berada dalam rasa posesifnya.Karena sejak ibu pergi dinar keluar kota, hanya tersisa aku dan ayah tiri saja di rumah.Setiap hari hal yang paling kunantikan adalah menunggu ayah tiri pulang kerja.Mungkin juga karena aku masih muda, suka menerima hal-hal baru dan senang mencoba gaya-gaya baru.Ayah tiri pun menjadi semakin menyukaiku.Sering kali begitu bertemu, kami langsung saling berpelukan dan bergumul dengan gila, membiarkan satu sama lain menuntut kepuasa
Pikirku dengan tak rela.Namun, aku juga tahu.Bagaimanapun, hubungan antara aku dan ayah tiri adalah sesuatu yang tak pantas diperlihatkan.Malam harinya, aku berbaring di atas ranjang, berguling ke kiri dan ke kanan tanpa bisa tertidur.Hingga saat mendengar suara pintu kamar ibu yang tiba-tiba terbuka, aku langsung bangun dan menghampiri celah pintu.Mengintip melalui celah pintu.Seketika rasa gembira yang luar biasa meledak dalam diriku, karena orang yang keluar adalah ayah tiri, sosok yang sangat kurindukan.Mungkinkah ayah datang untuk mencariku?Dengan penuh harapan, aku memperhatikan ayah tiri berjalan melangkah ke arahku, hatiku benar-benar sangat bergetar saat ini.Ternyata benar, di antara ibu dan aku, ayah tiri lebih menginginkanku!Aku bahkan sudah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan ayah tiri, tapi yang tak kuduga adalah saat tiba di depan pintu kamarku, langkah kakinya tak berhenti.Dia malah terus berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang berada di sebelah.Hal itu
Ayah tiri mengangkat daguku dan membelai lembut wajahku.Suaranya yang lembut dan sikapnya yang halus membuat aku tak punya alasan sama sekali untuk menolak.“Tentu saja, ayah.”Aku mengangguk dan dengan patuh membuka mulut mungilku.Di bawah tatapan mata ayah tiri, kedua tanganku memegang benda miliknya yang besar, lalu secara perlahan, sedikit demi sedikit mengulumnya ke dalam mulut….“Uhh….”Ukuran benda milik ayah tiri sangat besar, hingga meskipun aku berusaha sekuat tenaga menelannya lebih dalam, hanya separuhnya yang bisa masuk.Namun meski begitu, ayah tiri sudah menyipitkan matanya menikmati sensasinya.“Pintar sekali….”Ayah tiri membelai kepalaku sambil menghela napas puas.Kedua kakinya menegang kencang.Setelah mendapat pujian dari ayah tiri, aku yang ingin menyenangkan hatinya mencoba mengingat adegan dari film dewasa dan mulai memainkannya dengan lidah lebih kuat.Aku mengakui bahwa gerakanku masih sangat kaku untuk pertama kalinya mencoba hal seperti ini.Namun, ayah ti
Cairan yang menyemprot deras menetes ke atas wastafel.Pikiranku menjadi kosong.Hanya tubuhku yang masih bergetar tanpa bisa dikendalikan.Namun, ayah tiri tak melepaskanku begitu saja. Setelah kesadaranku agak terkumpul kembali, dia kembali memapah tubuhku dan mendudukkanku menyandar di wastafel. Lalu, dia memikul kedua kakiku dan mulai melakukan hentakan yang begitu gencar.“Ayah… terlalu dalam… oh….”Aku terus mendesah pelan, rona merah di pipi tak kunjung pudar.Sementara ayah tiri menjadi semakin bersemangat.Suara napasnya pun berubah semakin berat dan memburu.“Dasar genit!”Tak cukup hanya memeluk paha putih mulusku, ayah tiri bahkan menyibakkan bajuku ke atas.Membuat sepasang gundukan kenyal di dadaku terpampang jelas di depan matanya.“Lisa, kamu suka ayah memuaskanmu seperti ini? Hm?”“Su… suka….”Satu tanganku menopang di atas wastafel, sementara tangan lainnya bertumpu pada dada lebar dan kekar ayah tiri.Merasakan detak jantungnya dan hentakannya yang begitu bertenaga,







