LOGINPintu kamar terbuka begitu saja.Valeria yang baru saja meletakkan tas di atas sofa menoleh sekilas. Tak terkejut. Itu memang kamar Jason juga. Tak ada alasan pria itu harus mengetuk sebelum masuk.Jason berdiri di ambang pintu. Jas kantornya sudah dilepas. Lengan kemeja putihnya digulung sampai siku. Wajahnya terlihat lelah, tapi sorot matanya justru terlalu tajam.Tatapannya tak berhenti pada Valeria.Melainkan pada kotak kue kecil yang masih berada di atas meja.Ruangan mendadak terasa lebih sempit.Valeria mengikuti arah pandang Jason, lalu mengembuskan napas pelan. Ia tahu, pembicaraan ini tak akan sederhana.Jason berjalan masuk tanpa suara.Pintu ditutup pelan di belakangnya.Klik.Suara kecil itu justru membuat dada Valeria terasa semakin sesak.Jason menghentikan langkah tepat di depan meja.Tangannya mengambil kotak kue itu.Diputar perlahan.Diam.Lalu ia terkekeh pelan."Lucu juga."Valeria membuka anting yang sejak tadi masih terpasang."Apanya yang lucu?" Valeria mengern
Valeria menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. Pukul tiga lewat lima belas menit. Percakapannya dengan Maya telah berakhir hampir setengah jam yang lalu. Namun, keduanya masih belum beranjak dari tempat duduk mereka. "Val?" Maya memecah keheningan. Valeria yang sempat termenung sembari menatap ke arah jendela luar, segera menoleh ke arah Maya sembari menaikkan sebelah alisnya. "Kalau kamu benar-benar mau pergi, mulai hari ini jangan ambil keputusan berdasarkan emosi." Valeria mengangguk pelan. "Aku tahu, May," jawab Valeria santai. "Bukan... kamu belum tahu." Maya mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Orang yang paling berbahaya bukan musuh yang terang-terangan menyerang. Tapi orang yang merasa sedang kehilangan sesuatu," bisik Maya pelan. Valeria mengernyit pelan. "Maksudmu Jason?" Maya menggeleng pelan sembari memejamkan mata. "Semuanya." "Keluarga suamimu." "Keluargamu." "Bahkan orang-orang yang selama ini menganggap hidupm
Mobil taksi berhenti tepat di depan sebuah kafe bergaya klasik yang berada di sudut jalan.Valeria memandangi bangunan itu beberapa saat. Sudut bibirnya terangkat tatkala ingatannya membawa kembali rentetan kenangan di masa lalu.Tak banyak yang berubah. Suasananya juga masih sama seperti dulu.Aroma kopi yang dulu selalu menyambutnya masih terasa sama. Bahkan lonceng kecil di atas pintu masih berbunyi pelan saat ia melangkah masuk.Matanya menyapu seluruh ruangan, mencari sosok yang ingin dia temui saat ini.Pandangan itu terhenti pada seorang perempuan yang sedang melambaikan tangan dari sudut dekat jendela. Senyum Valeria mengembang ketika pandangan mereka bertemu. Langkah cepat membawa Valeria menuju kearah Maya."Vall!"Maya berdiri lebih dulu lalu merentangkan kedua tangannya. Kedua matanya tiba-tiba mengembun tanpa aba-aba ketika melihat Valeria sahabat lamanya.Tanpa banyak kata, perempuan itu langsung memeluk Valeria erat.“Aku kangen banget sama kamu,” bisiknya pelan.Valer
Pintu ruang kerja kembali tertutup. Entah mengapa dari tadi Jason mondar-mandir seperti sedang menyusun strategi yang entah untuk apa.Di sisi lain Jason memilih memberi sedikit ruang kepada Valeria, meskipun pria itu sendiri tak benar-benar tahu apa yang sedang terjadi pada istrinya. Dia bahkan masih ambigu dengan perasaannya saat ini.Suasana kamar kembali hening.Valeria masih berdiri membelakangi pintu. Ia baru mengembuskan napas panjang ketika langkah kaki Jason benar-benar menghilang dari lorong.Perlahan ia membuka laci meja riasnya.Di dalamnya, sebuah map cokelat tua yang selama ini tak pernah tersentuh kembali muncul ke permukaan.Jemarinya membuka satu per satu dokumen di dalamnya.Paspor.Ijazah.Akta kelahiran.Buku tabungan.Beberapa sertifikat pelatihan bisnis yang pernah ia ikuti sebelum menikah.Valeria menatap semuanya dalam diam, tatapan yang dipenuhi makna yang dalam.Masih lengkap.Masih utuh.Tak terasa sudut bibirnya terangkat tipis."Untungnya... masih ada,” gu
Pintu kamar tertutup pelan di belakang mereka.Bunyi klik kecil itu terdengar jauh lebih keras dari seharusnya. Seolah menandai batas antara dunia luar yang penuh tatapan dan dunia di dalam kamar yang hanya menyisakan dua orang asing dengan status suami-istri.Valeria melangkah lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang tanpa bicara, melepas jam tangan dari pergelangan, lalu meletakkannya rapi di atas nakas. Gerakannya begitu tenang, bahkan terlalu tenang.Jason berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia tak langsung mendekat. Ada sesuatu di punggung Valeria yang membuatnya ragu, jarak yang tak terlihat, tapi terasa.“Kepalamu masih pusing?” tanya Jason akhirnya. Dari banyaknya kata entah mengapa pria itu memilih menanyakan hal itu.Valeria mengangguk kecil. “Sedikit.” Tanpa ekspresi yang semakin membuat Jason semakin penasaran dengan isi kepala Valeria.“Obat?”“Nanti aja,” jawab Valeria cepat.Jason menghela napas pelan. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap keluar sebentar, lalu kemb
Valeria masuk ke ruang makan pelan-pelan. Suasananya masih terasa dingin.Gerald fokus membaca koran. Teo santai seperti biasa.Viviane mengaduk tehnya pelan, gelagatnya sedikit mencurigakan. Membuat Valeria sedikit waspada. Meskipun terlihat santai, Viviane sering berbicara menusuk hati.Begitu Vale duduk, Viviane langsung mengangkat kepala. Seakan wanita itu sengaja menunggu momen yang pas.“Kamu turun sendiri?”Nadanya manis, tapi dinginnya begitu menusuk. Bahkan ekspresinya masih tampak biasa.“Jason mana? Istri itu biasanya nungguin suami, bukan jalan duluan.” Viviane menoleh ke belakang mengira Jason akan menyusul Valeria.Valeria menahan napas sejenak. “Jason masih di kamar, Ma. Dia masih mandi.”Viviane cuma menggumam pendek. “Hmm… ya, harusnya saling nunggu kalau sudah nikah. Bukannya jalan sendiri-sendiri,” ucapnya sedikit ketus.Valeria masih tampak santai, dia tak mau terjerat dalam kekacauan yang dibuat oleh mertuanya. Teo berhenti mengaduk kopinya. Suaranya keluar datar







