로그인Pagi menjelang, sekitar pukul 06.45. Cahaya matahari pagi menyusup tipis melalui gorden kamar tidur Leon. Reva masih tertidur pulas di sisi ranjang, tubuhnya membelakangi mereka, selimut hanya menutupi separuh pinggulnya. Leon terbangun dengan tubuh pegal dan kepala sedikit pusing karena efek sisa obat kuat. Ia merasakan kehangatan tubuh di belakangnya. Fatika masih menempel erat di punggungnya, bokongnya menekan perut Leon, satu kakinya melingkar di paha Leon. Batang Leon yang masih setengah tegang bersentuhan dengan celah vaginanya Fatika yang masih basah. Fatika terbangun hampir bersamaan. Ia menggesek bokongnya pelan ke batang Leon, lalu menoleh ke belakang dengan senyum genit. “Pagi, Den… masih keras ya?” bisiknya sangat pelan agar Reva tidak terbangun. Leon melirik Reva yang masih tidur nyenyak. Ia mengangguk pelan. Fatika tersenyum nakal. Ia menggesek bokongnya lebih kuat, menggoda batang Leon hingga mengeras lagi. “Fatika masih mau satu ronde pagi ini,” bisiknya sambil me
**Lanjutan Cerita**Malam itu, Leon pulang ke rumah sekitar pukul 02.30 dini hari. Reva sudah tertidur pulas di kamar tidur utama setelah menunggu lama. Leon masuk ke rumah dengan langkah pelan, tubuhnya masih membawa aroma parfum wanita asing dan keringat.Saat ia melewati ruang tamu, Fatika muncul dari arah dapur, hanya memakai tank top tipis dan celana pendek. Ia langsung mendekat, mencium aroma di leher dan baju Leon.“Den… bau parfum wanita lagi,” bisik Fatika sambil tersenyum sinis tapi penuh nafsu. “Den baru habis main ya?”Leon tidak menjawab. Fatika langsung mengeluarkan pil obat kuat dari saku celananya, memasukkannya ke mulut Leon saat ia sedang minum air, lalu menutup mulutnya pelan.“Telan, Den… ini supaya Den kuat melayani Fatika malam ini,” bisik Fatika manja.Leon menelan pil itu tanpa sadar. Tak sampai 10 menit, efek obat kuat bekerja. Panas menyebar di tubuhnya, batangnya langsung mengeras dengan kuat.Fatika tersenyum puas. Ia menarik Leon ke sofa ruang tamu.“Duduk
**Lanjutan Cerita Sonya di Hong Kong**Sonya sedang berada di sebuah kafe mewah di Central untuk menunggu Jonathan yang sedang meeting bisnis. Ia duduk di pojok yang agak tersembunyi, menikmati cappuccino sambil scrolling ponsel. Tiba-tiba suara familiar terdengar dari meja di belakangnya, dipisahkan hanya oleh tanaman hias tinggi.Suara Ester Lim — mantan tunangan Jonathan — sedang berbicara dengan nada rendah tapi penuh amarah.“…Edward, aku nggak sabar lagi. Aku mau Sonya itu jatuh secepatnya. Kamu sudah dekat dengannya kan?”Suara pria yang tenang dan percaya diri menjawab, “Sudah. Dia mulai nyaman ngobrol sama aku. Tinggal satu langkah lagi.”Ester tertawa sinis. “Bagus. Ini obat perangsangnya. Kasih ke dia besok atau lusa. Buat dia mabuk kepayang sama kamu, lalu rekam semuanya. Aku mau Jonathan melihat betapa murahannya wanita itu. Setelah itu, aku akan ambil Jonathan kembali.”Sonya membeku di kursinya. Jantungnya berdegup kencang. Ia menahan napas, mendengarkan setiap kata. Ed
Setelah ledakan panas di posisi woman on top, Sonya masih duduk di pangkuan Jonathan, pinggulnya bergerak pelan sambil menikmati denyutan sisa kenikmatan. Napas mereka sama-sama tersengal. Sonya menunduk, menyandarkan keningnya di kening Jonathan, rambut hitamnya menutupi wajah mereka berdua seperti tirai intim.“Jangan lepas aku malam ini,” bisik Sonya lembut, suaranya penuh kasih sayang yang dibuat-buat tapi terdengar meyakinkan. “Aku mau merasakan kamu sepanjang malam.”Jonathan memeluk pinggang Sonya lebih erat, tangannya mengusap punggung telanjangnya dengan lembut. “Aku nggak akan lepas kamu. Kamu milik aku sekarang, Sonya. Hanya aku.”Ia mencium bibir Sonya dengan penuh perasaan — bukan rakus seperti sebelumnya, tapi ciuman yang dalam, lambat, dan penuh obsesi. Lidah mereka saling menyentuh pelan, seolah sedang menikmati rasa satu sama lain. Sonya balas menciumnya dengan sama lembutnya, tangannya mengusap dada Jonathan, merasakan detak jantung pemuda itu yang cepat.Sonya turun
Malam itu, di penthouse mewah mereka, Sonya baru saja selesai mandi. Ia mengenakan kimono sutra tipis berwarna merah marun yang Jonathan belikan kemarin. Rambutnya masih agak basah, kulitnya harum sabun mahal. Jonathan sedang duduk di sofa ruang tamu sambil mengecek email bisnis, tapi matanya langsung tertuju pada Sonya saat ia keluar dari kamar mandi.Jonathan meletakkan ponselnya, berdiri, dan langsung mendekat. Ia memeluk Sonya dari belakang, dagunya bertumpu di bahu Sonya, tangannya melingkar di pinggangnya dengan posesif.“Kamu wangi sekali,” bisik Jonathan di telinga Sonya. “Aku nggak mau kamu keluar lagi hari ini. Aku mau kamu di sini… sama aku saja.”Sonya tersenyum, memutar tubuhnya dalam pelukan Jonathan. Ia mencium bibir Jonathan lembut, lalu berbisik:“Aku juga nggak mau ke mana-mana. Malam ini aku milik kamu sepenuhnya.”Jonathan langsung menggendong Sonya ke kamar tidur. Ia membaringkan Sonya di ranjang king-size, lalu naik ke atasnya. Tapi Sonya mendorong dada Jonathan
Di sebuah penthouse mewah di kawasan Mid-Levels, Hong Kong, Ester Lim melempar ponselnya ke sofa dengan kasar. Layar ponsel masih menampilkan berita gosip yang sedang viral: “Jonathan , pewaris Group konglomerat besar, resmi bertunangan dengan Sonya — wanita misterius yang dikabarkan berusia 27 tahun.”Ester, mantan tunangan Jonathan yang berusia 22 tahun, putri dari pengusaha properti besar di Singapura, wajahnya memerah karena amarah. Rambutnya yang panjang dan hitam acak-acakan, tangannya mengepal kuat.“Brengsek! Jonathan berani banget gantiin aku dengan pelacur tua itu!” umpatnya dengan suara parau. “Aku yang nemenin dia dari awal, sekarang dia malah nikahin wanita murahan yang umurnya lebih tua dariku?!”Ester berjalan mondar-mandir di ruang tamu penthouse-nya. Matanya penuh dendam. Ia mengambil ponsel cadangan dan menelepon seseorang.“Edward? Ini Ester. Aku butuh bantuanmu. Ada wanita yang harus kau rusak. Namanya Sonya. Dia calon istri Jonathan . Aku mau kamu goda dia sampai
Setelah sesi spooning yang panjang dan mesra, Gito menarik tubuh Windy agar berbaring telentang di tengah ranjang king-size. Ia naik ke atasnya dengan perlahan, tubuh besar dan beratnya menindih tubuh ramping Windy yang masih basah keringat. Windy membuka lebar kedua kakinya, lututnya ditekuk tingg
Setelah ledakan hebat di posisi woman on top, Windy masih terbaring lemas di dada Gito, napasnya tersengal-sengal. Batang Gito yang masih keras dan penuh di dalamnya berdenyut pelan. Windy mengangkat kepalanya, menatap Gito dengan mata yang masih berkabut kenikmatan, lalu tersenyum nakal.“Om… Wind
Keesokan paginya, Gito membawa Windy terbang ke Singapura menggunakan jet pribadinya. Windy tampak sangat bahagia, memakai dress summer putih yang ketat dan elegan, rambutnya tergerai, serta tas Hermes baru yang dibelikan Gito pagi itu.Sesampainya di Singapura, Gito langsung mengajak Windy ke pert
Sonya masih duduk di atas tubuh Jonathan, pinggulnya bergerak pelan sambil menikmati denyutan sisa orgasme pemuda itu di dalamnya. Ia menunduk, mencium bibir Jonathan lembut, lalu berbisik di telinganya dengan suara serak yang menggoda:“Kamu sudah mulai jago… sekarang aku ajari yang lebih intim. S







