LOGINLeon merasakan memek Sonya mengencang di sekitar kontolnya, gelombang panas yang hampir membuatnya meledak.Tapi dia tak mau berakhir begitu cepat. Dengan napas tersengal, dia menarik kontolnya keluar perlahan, meninggalkan memek Sonya yang menganga basah, cairan mereka menetes ke lantai marmer kamar mewah. 'Belum selesai, Sonya. Aku mau kamu lihat betapa liarnya kita,' gumamnya parau, tangan kanannya meraih pinggang montok Sonya erat, mendorong tubuhnya menjauh dari cermin menuju meja kaca besar di sudut ruangan.Tubuh mereka basah keringat, bergetar hebat karena nafsu yang membara, kulit Sonya yang licin bergesekan dengan dada atletis Leon, meninggalkan jejak panas.Sonya tersandung sedikit, tapi senyum nakalnya melebar, matanya penuh tantangan saat punggungnya menyentuh tepi meja kaca dingin yang kontras dengan panas tubuhnya. 'Dorong aku lebih keras, Leon. Buat meja ini goyang seperti memekku,' desahnya, suaranya serak penuh godaan terlarang.Leon tak menunggu, tangan kirinya mene
Leon merasakan darahnya mendidih di bawah kendali Sonya yang dominan itu. Tubuh atletisnya menegang, otot-ototnya bergetar karena upaya menahan dorongan untuk membalikkan keadaan.Tatapan matanya yang gelap menangkap senyum licik Sonya, tapi dia tahu waktunya sudah tiba.Dengan gerakan cepat seperti harimau yang lapar, Leon mendorong pinggang Sonya kuat, membalik posisi lagi hingga wanita montok itu terduduk di sampingnya.Napasnya tersengal, tapi senyumnya melebar penuh kemenangan. 'Cukup, Sonya. Sekarang lihat dirimu sendiri saat aku ambil alih,' katanya dengan suara parau penuh perintah, tangannya meraih lengan Sonya kasar dan menariknya berdiri.Sonya tersentak, tapi matanya berkilat antusias, tubuhnya yang basah keringat mengkilap di bawah cahaya lampu kamar mewah.Leon tak memberi kesempatan, mendorong punggungnya menuju cermin besar di dinding, yang memantulkan gambar mereka berdua seperti lukisan dosa.Tubuh mereka telanjang, berkeringat deras, payudara Sonya yang montok naik
Leon tak bisa menahan dorongan nafsunya lagi. Matanya yang gelap penuh janji terlarang itu menyala lebih terang saat dia menekan tubuh Sonya lebih kuat ke lantai karpet yang empuk. Tubuh montok Sonya terjepit di bawah beratnya yang atletis, napasnya tersengal karena tekanan itu yang justru membangkitkan gairahnya. Tangan Leon naik ke payudara Sonya yang bergoyang liar, meremasnya dengan kasar, jari-jarinya mencengkeram daging lembut itu hingga meninggalkan bekas merah. Putingnya yang keras terjepit di antara telapak tangannya, sensasi sakit campur nikmat membuat Sonya menggelinjang di bawahnya. 'Kamu milikku malam ini, Sonya. Payudaramu ini... sial, begitu empuk dan enak diremas,' gumam Leon dengan suara parau, kontolnya yang tebal masih terkubur dalam memek Sonya yang basah dan ketat, pinggulnya mulai bergerak lagi dengan ritme ganas. Sonya merasakan setiap remasan itu seperti api yang membakar kulitnya, tapi bukan sakit yang menyiksa—ini adalah kenikmatan terlarang yang membuat
Rumah mewah Gito yang biasanya ramai kini terasa sepi dan penuh rahasia, terutama di kamar tidur lantai satu yang luas. Sonya berdiri di depan cermin besar, memandang bayangannya sendiri dengan senyum licik. Tubuhnya yang montok dan menggoda, dengan payudara penuh yang menonjol di balik gaun tipis, membuatnya merasa seperti predator yang haus. Gito sudah pergi ke Singapura untuk urusan bisnis, meninggalkan dia sendirian dengan Leon, anak tirinya yang berusia 19 tahun. Pikiran Sonya dipenuhi bayangan terlarang itu—Leon, pemuda berotot dan gagah yang selalu membuatnya tergoda. Malam ini, dengan ayahnya yang jauh, dia tahu peluang untuk memuaskan nafsu mereka sudah tiba lagi Pintu kamar terbuka pelan, dan Leon masuk dengan langkah percaya diri. Matanya langsung tertuju pada Sonya, tatapannya penuh api nafsu yang tak bisa disembunyikan. 'Ibu... Sonya,' gumamnya, suaranya serak karena gairah yang sudah membara. Sonya berbalik, hatinya berdegup kencang saat melihat tubuh atletis Leon y
Leon mengendarai motor Kawasaki-nya keluar dari area kampus. Kuliah hari ini cukup melelahkan—Manajemen Strategi dengan presentasi kelompok yang menyita banyak energi. Tapi pikirannya tidak pada kuliah.Pikirannya pada Sonya.Tadi pagi, sebelum berangkat, Sonya sempat berbisik padanya saat mereka berpapasan di tangga. "Malam ini... kita punya waktu berdua. Gito masih di Singapura sampai besok sore."Kata-kata itu cukup untuk membuat Leon menantikan malam ini seharian.Di tengah perjalanan pulang, Leon menepi sebentar di pinggir jalan. Dia mengeluarkan kotak kecil dari saku jaketnya—obat kuat yang tersisa. Masih ada dua butir.Tanpa pikir panjang, Leon menelan satu butir. Rasanya pahit di lidah, tapi dia tidak peduli. Dia tidak mau mengecewakan Sonya malam ini. Dia ingin memberikan yang terbaik, yang terlama, yang paling memuaskan.*Malam ini akan panjang,* pikir Leon sambil tersenyum tipis.Dia memasukkan kembali kotak berisi satu butir terakhir ke sakunya, lalu memacu motornya kembal
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela ruang makan yang luas. Meja makan sudah tersaji dengan sarapan lengkap—nasi goreng, telur, roti panggang, buah-buahan segar, dan jus jeruk.Gito sudah duduk di kepala meja, membaca koran sambil sesekali menyeruput kopinya. Sonya duduk di sampingnya, sibuk mengoles mentega pada roti untuk Gito dengan gerakan yang terlihat tenang—tapi matanya sesekali melirik ke arah pintu.Leon turun dengan langkah santai, mengenakan kaos dan celana jeans. "Pagi, Pah. Pagi, Sonya.""Pagi, Leon. Duduk, sarapan sudah siap," kata Gito tanpa mengangkat kepala dari korannya.Leon duduk di seberang Sonya, mengambil piring dan mulai mengisi dengan nasi goreng.Beberapa menit kemudian, Windy turun dengan senyum cerah. "Pagi semuanya!""Pagi, Windy. Sini duduk," kata Gito ramah.Windy duduk di samping Leon—sengaja memilih posisi itu. Dia langsung menyapa Leon dengan akrab. "Leon, kamu tidur nyenyak semalam? Aku dengar kamu pulang agak malam."Leon hanya mengangguk






