เข้าสู่ระบบBeni menatap kepergian mereka dengan napas yang akhirnya terlepas lega.Wanita di belakangnya masih gemetar. "Mas... Mas nggak apa-apa? Itu tadi... itu tadi pistol beneran, kan? Saya denger tembakannya...""Saya baik-baik aja, Bu." Beni berbalik dan menyerahkan tas cokelat itu padanya. "Ini tas Ibu."Wanita itu menerima tasnya dengan tangan bergetar. Matanya masih menatap Beni dengan campuran antara syukur, takjub, dan sedikit ketakutan. "Nama saya Sharon. Maaf, saya masih shock. Tadi itu... bagaimana Mas bisa... peluru itu...""Urusan teknis," Beni mengulangi jawaban yang sama. "Nggak usah dipikirin."Tapi Sharon tidak bisa berhenti memikirkannya. Dia melangkah mendekati Beni, memeriksa tubuhnya dengan panik. "Mas, saya harus pastikan Mas nggak terluka. Tadi itu peluru beneran. Saya denger tiga kali tembakan. Mungkin ada yang kena ..."Tangan Sharon mulai meraba bagian depan tubuh Beni. Memeriksa dadanya, perutnya, bahunya. Gerakannya cepat, penuh kecemasan yang tulus."Mas beneran n
Beberapa menit kemudian orgasme keempat datang. Kali ini lebih dalam dan lebih panjang. Sarinah tidak bisa menahan suara. Dia mengerang keras, tubuh bergetar hebat di pelukan Beni. Dinding liang keintimannya berkontraksi tanpa henti, seolah ingin menahan batang Beni di dalam selamanya. Cairan mengalir deras, membasahi sprei di bawah mereka.Beni menahan batangnya di titik terdalam sampai getaran itu benar-benar reda. Sarinah terengah-engah, tubuh lemas, tapi masih memegang tangan Beni erat-erat.“Sekarang… aku puas,” bisiknya akhirnya, suaranya serak dan lemah. “Tapi jangan keluar dulu. Biarkan aku merasakan kamu di dalam sedikit lebih lama.”Mereka tetap dalam posisi spooning, tubuh saling menempel, napas perlahan kembali normal. Di dalam tubuh Sarinah, tanpa keduanya sadari, proses penyembuhan terus berjalan seiring denyut terakhir yang masih terasa di antara mereka.***Pagi harinya cahaya matahari masuk melalui celah gorden kamar Sarinah. Beni baru membuka mata ketika merasakan ta
Beni menahan pinggang Sarinah dan mendorong lebih dalam, menahan batangnya di titik terdalam sambil menggerakkan pinggul dengan gerakan pendek dan cepat. Sarinah menggigit bahu Beni, tubuhnya mulai bergetar hebat. Dinding liang keintimannya berkontraksi kuat, menghisap batang Beni berulang kali.Beberapa detik kemudian orgasme itu datang. Sarinah menjerit tertahan, tubuhnya kejang di bawah Beni. Paha dalamnya bergetar hebat, jari-jari kakinya menegang, dan cairan basah membasahi pangkal batang Beni serta sprei di bawah mereka. Kontraksi di dalam dirinya datang bergelombang, seolah ingin memeras setiap denyut dari batang yang masih tertanam dalam.Beni tetap diam di dalam, membiarkan Sarinah melewati puncaknya. Napas wanita itu masih terengah-engah, pelukannya masih erat, dan desahan kecil masih keluar dari mulutnya setiap kali sisa getaran melewati tubuhnya.Di dalam rahim Sarinah, tanpa sepengetahuan mereka, proses penyembuhan terus berjalan seiring denyut terakhir orgasmenya. Energi
Sarinah terdiam lama. Matanya menatap wajah Beni yang tampan, kulitnya yang bersih, rahangnya yang tegas, dan mata yang terlihat jujur meski panik. Dia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya pelan.“Baik,” katanya akhirnya. “Saya setuju.”Beni membelalak. “Tunggu dulu. Anda tidak mengerti. Batang saya… sangat besar. Jauh di atas ukuran normal. Nanti akan sangat sakit. Lebih baik kita batalkan saja. Saya tidak mau membuat Anda menderita.”Sarinah sudah mulai membuka kancing seragam polisininya satu per satu. Gerakannya lambat, tapi mantap. “Saya ingin sembuh. Saya sudah lelah hidup dengan rasa sakit dan ketakutan setiap hari. Dan…” dia menatap Beni dengan mata yang mulai berubah, “saya tidak yakin kalau punya Anda besar. Pasti biasa-biasa aja.”"Tapi, bu... ""Jangan tunda lagi. Aku ingin sembuh. Ayo lepasin pakaiannya."Mereka saling melepas pakaian di tengah ruang tamu yang sepi. Ketika celana Beni akhirnya turun, batang yang sudah setengah tegang terungkap sepenuhnya. Panjang, te
Liang keintiman itu terus didesakkan ke arah batang gede milik Beni. Sebentar lagi, batang itu akan masuk ke dalam gua penuh kenikmatan itu. Tiba-tiba dari luar terdengar suara ribut. "Maling! Ada maling!" Teriakan itu membuat Beni langsung sadar. Dia mendorong Dian dan Sarah. "Lepasin! Ada maling di luar!" Dian masih setengah duduk di atasnya, liang keintimannya masih menempel di ujung batang Beni. "Jangan sekarang, Ben..." "Aku penjaga kos! Sekaligus keamanan. Aku harus atasi!" seru Beni. Dia buru-buru menarik celananya, tidak sempat memakai kaos. Bertelanjang dada, dia keluar dari kamar 356 dengan langkah cepat. Di koridor lantai satu, seorang pria bertopeng sedang berusaha merebut tas dari tamu kos-seorang bapak berumur 34 tahun yang baru check-in kemarin. Tamu itu melawan, tapi maling itu tiba-tiba berbalik dan melempar tendangan karate yang rapi. Tamu itu tersungkur. Beni melompat maju. "Hei!" Maling itu menoleh, lalu menyerang. Tendangan putar mengenai dada Beni. Tinju
Tanpa banyak bicara, Dian menarik resleting celana Beni. Sarah membantu menurunkan kancingnya. Dalam hitungan detik, celana dan dalaman Beni sudah terbuka. Batangnya yang besar, tegang, dan berdenyut keluar dengan jelas."ANJIR!" teriak Sarah, suaranya nyaris menjerit. "Sebesar ini?!""Gila..." Dian menelan ludah, matanya tidak lepas dari benda itu. "Dulu di SMA kamu cuma diem-diem di belakang, ternyata punya barang sebegitu gede... gila. Tahu gitu dari lama udah aku kapling""Tanah kali di kapling!" Beni marah-marah dalam hati. "Dibajak sekalian, Dian. Hehehe," tambah Sarah sambil mulai towel towel pusakanya Beni. Beni ingin menutupi batangnya, tapi kedua tangan wanita itu sudah lebih dulu bergerak. Sarah memegang pangkalnya, sementara Dian mengusap ujungnya yang sudah sedikit basah."Kita... boleh coba, kan?" tanya Dian pelan, sudah berlutut di lantai. "Boleh, ya? Gak dibolehin juga bakal kita paksa. Tahu!"Sarah ikut turun ke lantai di sisi lain. "Giliran, ya. Aku dulu."Tanpa me
Tubuh Sonya menimpa Leon. Kulit halus tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Leon saat secara refleks, Leon menahannya.Dan dada penuh nan montok Sonya, sukses mendarat bahkan menggesek tubuh Leon. Ini membuat Leon menelan ludah. Sensasi ini begitu menggoda. Tubuh keduanya masih saling tempel
Dada besar, tubuh ramping dengan lekuk nyaris sempurna, dan pastinya wajah cantik dengan kulit kencang.Leon berdiri kaku di depan pintu kamarnya ketika Gito, ayahnya baru saja pulang dari bulan madu dengan istri barunya.Namun, tentu saja pandangan Leon bukan tertuju pada pria 49 tahun itu, melain
Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan
Pagi ini, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai kamar Leon, membangunkannya dari tidur yang gelisah. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi indah yang manis... sentuhan Sonya, desahannya, aroma kulitnya masih melekat di ingatannya. Namun kini, saat Leon membuka mata, kekhawatiran mera







