Share

230 Gito Akhirnya Tahu

Penulis: Heartwriter
last update Tanggal publikasi: 2026-05-10 16:47:30

---

Gito berdiri membeku di balik pintu kamar Leon. Napasnya tertahan, rahangnya mengeras hingga terdengar gemeretak. Yang dilihatnya sungguh tak terbayangkan: istrinya yang baru berusia 27 tahun sedang telanjang bulat, kakinya melingkar di pinggang anak tirinya sendiri, sementara Leon menghantamnya dengan kuat dan penuh nafsu.

Desahan Sonya yang biasa ia dengar hanya untuknya kini terdengar untuk Leon.

“Lebih keras… Leon… ahh… milikmu lebih enak…” erang Sonya tanpa malu.

Amarah membara di dada
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjebak Hubungan Terlarang   78 Nomor 14

    Mobil mewah itu melaju kencang menuruni jalan berkelok-kelok Genting Highlands, meninggalkan kemegahan kasino dan lampu-lampu neon yang mulai memudar di kaca spion. Udara malam yang dingin menusuk kulit, namun ketegangan di dalam kabin jauh lebih dingin daripada suhu luar.Hendra tampak lega. Wajahnya bersinar cerah, berbeda drastis dengan kecemasannya beberapa jam lalu. "Luar biasa! Benar-benar luar biasa!" serunya sambil menepuk-nepuk setir. "Tuan Moore sudah menandatangani Letter of Intent! Dia bilang akan mentransfer dana tahap pertama besok pagi. Nona Marlena, kita berhasil! Proyek Mega-Singapura selamat!"Marlena menghela napas panjang, bahunya yang tegang akhirnya rileks. Dia menoleh ke kursi belakang, nơi Beni sedang duduk dengan tenang, memainkan liontin di lehernya. "Terima kasih, Beni. Tanpa 'keberuntungan' kamu tadi, mungkin kita masih akan dipermalukan di meja poker."Beni tersenyum tipis, matanya tetap tertuju pada jalanan gelap di depan. "Sama-sama, Nona. Kebetulan saja

  • Terjebak Hubungan Terlarang   77 Konsultan Keberuntungan

    "Kecil lagi! Sialan!" umpat Moore sambil membanting meja pelan. Dealer kasino tersenyum tipis, mengumpulkan chip-chip Moore.Moore terlihat putus asa. Dia adalah investor miliaran dolar, tapi di meja ini, dia hanyalah korban statistik yang menyedihkan.Hendra mendekati Moore dengan hati-hati. "Tuan Moore? Selamat malam."Moore menoleh dengan mata merah. "Hendra? Aku tidak mau dengar presentasimu. Aku sedang kehilangan uang. Pergilah.""Tuan, tunggu sebentar," kata Marlena lembut. "Kami punya proposal yang bisa mengembalikan kerugian Anda berkali-klipat lipat...""Tidak!" bentak Moore. "Uangku habis. Nasibku buruk. Tidak ada yang bisa mengubah nasib buruk kecuali keberuntungan murni."Di saat itulah, Beni melangkah maju. Dia tidak takut. Dia justru tampak tertarik pada dadu-dadu kecil di atas meja. Dalam hatinya, dia berkomunikasi dengan entitas misteriusnya."Kakek Piyama... aku butuh bantuan. Bukan kekuatan fisik kali ini. Aku butuh 'Mata Dewa Judi'. Berikan aku kemampuan untuk melih

  • Terjebak Hubungan Terlarang   76 Menemui Penjudi Bernama Moore

    Saat tinju pertama pembunuh bayaran mengarah ke kepala Beni, Beni menghilang dari pandangan mata telanjang. Dia muncul di samping penyerang itu, dan dengan satu jari, dia menekan titik saraf di leher pria tersebut. Pria itu langsung lemas, pingsan sebelum tubuhnya menyentuh tanah.Penyerang kedua kaget, mencoba menendang perut Beni. Beni menangkap kaki itu dengan satu tangan, seolah-olah itu hanya ranting kering. Dengan gerakan pinggul yang minimal, Beni melempar pria itu ke arah temannya yang baru saja bangun. Keduanya bertabrakan dan roboh."Hmph. Cepat juga," desis pemimpin geng. "Serang bersama-sama! Bunuh dia!"Empat pembunuh bayaran sisanya menyerang serentak. Ruangan menjadi arena kekacauan. Namun, bagi Beni, waktu seolah berjalan lambat. Dia melihat setiap otot yang bergerak, setiap perubahan (titik berat badan) lawan.Beni bergerak seperti tarian. Dia menghindari tebasan tangan dengan memiringkan kepala beberapa milimeter. Dia menangkis pukulan telapak dengan ujung jari. Seti

  • Terjebak Hubungan Terlarang   75 Pengawal Bodoh jadi Pahlawan

    Setelah mendarat dengan gaya "patah sayap" yang dramatis namun selamat, Beni dan Marlena segera meninggalkan bandara Changi. Suasana Singapura yang bersih, teratur, dan penuh gedung pencakar langit membuat mata Beni kembali berbinar-binar, meskipun kali ini dia berusaha menahan diri agar tidak terlihat terlalu norak di depan Marlena. Namun, godaan untuk memotret setiap lampu lalu lintas dan pohon hiasan jalanan hampir tak tertahankan."Beni, fokus," tegur Marlena tajam sambil menaiki mobil hitam mewah yang telah menunggu mereka. "Kita langsung ke kantor cabang. Ingat, pamanku Brata mungkin sudah mengirim orang-orangnya ke sini juga. Jadi, kami jangan lengah."Beni mengangguk serius, meski dalam hatinya dia sedang menghitung berapa poin 'Keadilan' yang bisa dia kumpulkan jika membantu Nona Marlena hari ini. "Siap, Nona. Saya akan waspada seperti elang... eh, maksudnya, seperti kucing yang siap menerkam tikus."Marlena menghela napas. Metafora Beni memang selalu aneh.Sesampainya di ged

  • Terjebak Hubungan Terlarang   74 Beni Menyelamatkan Penerbangan

    Beni membuka matanya. Tatapannya berubah. Tidak lagi ada kebodohan atau kegembiraan naif. Ada ketajaman dan fokus seorang profesional.Dia berdiri. "Saya akan coba menerbangkan pesawat ini."Suara Beni tenang, namun bergema di kabin yang hening karena syok.Chika, yang sejak tadi sibuk merekam video untuk status media sosialnya meski tangannya gemetar, langsung tertawa histeris. "Hah? Kamu? Si Penjaga Kos? Jangan bercanda deh! Kamu bahkan nggak tahu cara pakai sabuk pengaman dengan benar tadi! Apa kamu mau bunuh kami?"Penumpang lain mulai bergumam ragu. "Benar juga, dia cuma staf biasa...""Gila nih orang..."Marlena, meski takut, melihat sesuatu yang berbeda di mata Beni. Dia berdiri, menghadap para penumpang. "Dengarkan! Kita tidak punya pilihan! Tidak ada pilot lain di sini! Jika Beni bilang dia bisa, percayalah padanya! Lebih baik mencoba daripada menunggu ajal menjemput!"Seorang pria tua di barisan belakang, yang sebelumnya diam saja, mengangkat tangan. "Biarkan dia coba. Saya

  • Terjebak Hubungan Terlarang   73 Terpaksa jadi Pilot

    Marlena berdiri di depan jendela kantornya, menatap jadwal penerbangan di ponselnya. Hari ini dia harus ke Singapura untuk meninjau kantor cabang di negara itu. Perjalanan bisnis singkat, dua hari, tapi tetap saja dia merasa tidak aman. Terlalu banyak percobaan pembunuhan akhir-akhir ini. Dan satu-satunya orang yang bisa membuatnya merasa aman adalah Beni."Beni, kamu ikut aku ke Singapura," kata Marlena.Beni yang sedang duduk di sofa ruang kerja, mengunyah keripik kentang, langsung menoleh. "Singapura? Yang di luar negeri itu?""Iya. Yang di luar negeri kan?"Mata Beni langsung berbinar seperti lampu stadion. "Saya belum pernah ke luar negeri, Nona. Selama ini saya cuma lihat Singapura di televisi. Yang ada patung singanya itu kan? Saya kira itu patung kucing raksasa.""Itu Merlion, Beni. Patung setengah ikan setengah singa.""Ikan singa? Wah, aneh. Tapi saya suka. Saya harus foto di sana. Terus saya pamer ke Alfons dan Tari. Mereka pasti iri."Marlena tersenyum tipis. "Jangan norak

  • Terjebak Hubungan Terlarang   6 Ini Harus Berhenti

    Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak

  • Terjebak Hubungan Terlarang   5 Berusaha Menghindar

    Hari ini, Leon memutuskan untuk mengubah rutinitasnya, berharap bisa mengalihkan pikiran dari kegelisahan yang semakin menjadi. Sejak malam sebelumnya, bayangan Sonya menghantuinya seperti hantu, mengikuti setiap gerak-geriknya di kelas, di kantin, bahkan di tidurnya. "Aku perlu hiburan," gumamnya

  • Terjebak Hubungan Terlarang   4 Kamu Juga Suka Ini, Kan?

    Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan

  • Terjebak Hubungan Terlarang   3 Sekarang Kesempatanku

    Pagi ini, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai kamar Leon, membangunkannya dari tidur yang gelisah. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi indah yang manis... sentuhan Sonya, desahannya, aroma kulitnya masih melekat di ingatannya. Namun kini, saat Leon membuka mata, kekhawatiran mera

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status