LOGINHari ini, Leon memutuskan untuk mengubah rutinitasnya, berharap bisa mengalihkan pikiran dari kegelisahan yang semakin menjadi.
Sejak malam sebelumnya, bayangan Sonya menghantuinya seperti hantu, mengikuti setiap gerak-geriknya di kelas, di kantin, bahkan di tidurnya. "Aku perlu hiburan," gumamnya pagi itu sambil berdiri di garasi rumahnya. Alih-alih membawa motor kesayangannya, dia memilih mobil SUV hitam mewahnya, mobil yang jarang dia pakai karena lebih cocok untuk perjalanan jauh. "Hari ini aku mau nongkrong sama teman-teman. Biar nggak kepikiran dia terus," pikirnya, mesin mobil meraung saat dihidupkan. Udara pagi yang sejuk menyapu wajahnya melalui jendela yang terbuka, tapi pikirannya masih kembali ke Sonya: matanya yang malu-malu, sentuhannya yang tak terlupakan. Di universitas, Leon memarkir SUV-nya di tempat mencolok dekat gerbang utama. Andra dan dua teman lainnya, Riko dan Dimas, langsung menyambutnya saat melihatnya. "Wah, bro, bawa mobil hari ini? Biasanya naik motor aja," kata Andra, menyenggolnya. Leon tersenyum dipaksakan, menyembunyikan kegelisahan di dada. "Iya nih, sekalian. Abis kuliah, gue traktir kalian nongkrong di kafe deket sini. Gue yang bayar. Kalian nggak bawa kendaraan kan hari ini?" Teman-temannya setuju dengan antusias, apalagi Riko dan Dimas, yang sering naik transportasi umum atau ojek online, jadi tawaran itu seperti oase di padang pasir. Kelas pagi berlalu lambat; Leon mencoba fokus pada dosen yang menjelaskan ekonomi, tapi pikirannya melayang kembali ke rumah, ke Sonya yang mungkin sendirian sekarang. Setelah kuliah, sekitar jam 3 sore, mereka berempat masuk ke mobil Leon dan meluncur ke kafe trendi dekat kampus. Tempat itu ramai oleh mahasiswa, aroma kopi segar dan musik indie lembut memenuhi udara. Mereka duduk di sudut nyaman dengan meja kayu, dikelilingi tanaman hijau dan lampu gantung gaya vintage. Leon memesan untuk semua orang: latte macchiato untuk Andra, espresso untuk Riko, smoothie buah untuk Dimas, dan burger serta kentang goreng untuk bersama. "Gue yang traktir hari ini, santai aja," katanya sambil tertawa, mencoba terlihat ceria. Mereka mengobrol lama tentang tugas kuliah, gosip kampus, dan rencana liburan. Leon tertawa bersama saat Riko bercerita lucu tentang dosennya, tapi di balik itu, pikirannya masih kacau. Setiap kali wanita cantik lewat, dia membandingkannya dengan Sonya, tak ada yang bisa menandingi kehangatan dan lekuk tubuhnya. Waktu berlalu cepat. Saat malam tiba, sekitar jam 9 malam, kafe mulai sepi. Satu per satu teman Leon memilih pulang. "Gue duluan ya, bro. Banyak tugas nanti malam," kata Riko, memesan ojek online lewat ponselnya. Dimas menyusul, "Iya, gue juga. Makasih traktirannya, Leon!" Andra yang terakhir pergi, menepuk pundak Leon sebelum pergi. "Seru hari ini, bro. Sampai ketemu besok?" Leon mengangguk, tapi saat mereka pergi, dia sendiri di meja. Kafe kini hanya diisi beberapa pasangan dan pelayan yang membersihkan meja. "Sial, sendiri lagi," gumamnya, menatap gelas kosongnya. Pikirannya langsung kembali ke Sonya. 'Apa yang dia lakukan sekarang? Apakah dia juga memikirkan diriku?' Dia memutuskan untuk tinggal lebih lama, memesan kopi lagi, tapi jam 10 malam, dia harus pulang. "Jam segini, Ayah pasti sudah pulang. Aman," pikirnya, yakin Gito sudah kembali dari kantor seperti biasa. SUV melaju mulus di jalan malam yang sepi, lampu jalan menerangi wajah Leon yang tegang. Saat tiba di rumah, garasi kosong, mobil Gito tak ada. "Ayah belum pulang? Mungkin rapat lagi," gumam Leon, campuran kecewa dan... antisipasi. Rumah besar itu gelap, hanya ruang tamu yang diterangi lampu temaram. Pembantu, Mbok Siti, sudah tidur di kamar belakang sejak jam 8 malam, seperti biasa. Leon masuk pelan, meletakkan kunci di meja depan, dan melihat Sonya duduk di sofa ruang tamu. Dia mengenakan blus longgar biru muda dan rok panjang, rambutnya terurai, tapi wajahnya tegang, matanya merah seperti habis menangis. "Leon, kita perlu bicara. Berdua aja," kata Sonya dengan suara rendah tapi tegas, berdiri dari sofa. Ruang tamu itu luas, dengan karpet tebal, sofa empuk, dan lukisan dinding yang dulu dipilih Melinda. Udara terasa berat, aroma lilin aromaterapi vanila samar menyelimuti ruangan. Leon mendekat, jantungnya berdebar. "Bicara soal apa?" tanyanya, meski dia tahu. Sonya menarik napas dalam, kedua tangannya bertaut untuk menyembunyikan gemetar. "Leon, apa yang kamu lakukan kemarin malam... itu harus berhenti. Aku istri ayahmu. Ini salah. Kita harus batasi sekarang. Aku nggak mau rumah ini hancur karena... karena ini." Suaranya tegas, tapi wajahnya tegang. Pipinya merona, matanya menghindar, dan gerakannya gelisah, menyilangkan tangan di dada lalu melepaskannya lagi, membuat blusnya bergeser, memperlihatkan sedikit garis lehernya yang jenjang. Itu malah membangkitkan gairah Leon, ekspresi tegangnya, gerakannya yang gugup yang membuat tubuhnya bergerak lembut, semua itu seperti undangan tak sengaja. Leon tak bisa mengendalikan diri. Hasratnya, yang tertahan seharian, kini membara. "Kamu bilang gitu, tapi kamu suka juga kan?" bisiknya, mendekat cepat. Sebelum Sonya bisa mundur, dia menariknya ke pelukannya, bibirnya menghujani leher Sonya dengan ciuman. Sonya mencoba mendorong, "Leon, jangan! Berhenti!" tapi perlawanannya lemah, tangannya hanya mencengkeram pundak Leon tanpa kekuatan penuh. Tubuhnya bereaksi pada panas tubuh Leon, dan tak lama, dia tak bisa melawan lagi, erangannya lolos, matanya terpejam. Kali ini, semuanya begitu panas, seperti api yang tak terkendali. Leon mendorong Sonya ke sofa, tubuhnya di atas Sonya dengan lembut tapi dominan. Bibirnya mencium Sonya dalam-dalam, lidahnya menyelinap masuk, menari dengan lidah Sonya yang mulai merespon. Tangannya mulai bergerak, meremas pinggul Sonya melalui roknya, lalu naik ke blusnya, membuka kancing satu per satu dengan jari gemetar. "Kamu cantik banget pas tegang begini," gumamnya, bibirnya berpindah ke lehernya, menjilati kulit halus di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan bekas basah yang membuat Sonya menggeliat. Sonya mendesah, "Leon... ini... kita nggak boleh," tapi tangannya malah memeluk punggung Leon, menariknya makin dekat. Pemanasan berlangsung lama dan intens, membangun ketegangan seperti ombak yang makin tinggi. Leon melepas blus Sonya sepenuhnya, memperlihatkan bra renda hitamnya, dan bibirnya langsung mencium dada Sonya, lidahnya menjilati tepi bra dengan gerakan memutar lambat, diselingi gigitan kecil yang membuat Sonya mengerang. Tangannya merayap turun, menarik rok Sonya ke atas, mengusap paha dalamnya dengan jari hangat, mendekati area sensitif tapi tidak menyentuhnya, membangun antisipasi. "Rasain ini, Sonya," bisiknya. Satu tangannya membuka bra Sonya, meremas payudaranya dengan lembut tapi kuat, ibu jarinya menggosok putingnya hingga mengeras, membuat Sonya menggigil dan mengerang lebih keras. Sonya tak bisa menahan lagi—tubuhnya panas, napasnya tersengal, dan dia mulai membuka kancing baju Leon, tangannya menyentuh dada atletisnya, merasakan ototnya yang tegang. Mereka makin liar. Leon menarik Sonya bangkit sebentar, menurunkan rok dan celana dalamnya, meninggalkannya telanjang bulat. Tubuh telanjang Sonya, dengan kulit mulus dan lekuk sempurna, membuat Leon makin membara. Dia melepas bajunya sendiri, tubuh mereka kini telanjang, saling menempel di sofa. Leon sama sekali tidak ingat untuk membuat video. Padahal Sonya dalam keadaan bergairah yang bisa membuat Sonya salah di mata Ayahnya Leon. Tapi Leon tidak lagi peduli dengan itu, dia hanya ingin Sonya. Leon mencium seluruh tubuh Sonya, dari bibir ke leher, ke payudara, lidahnya menjilati putingnya dengan jilatan panjang basah, tangannya meremas bokongnya kuat, menariknya makin dekat sampai organ mereka saling bergesek, menciptakan gesekan panas yang membuat mereka berdua mengerang. Sonya membalas dengan tangannya merayap di punggung Leon, mencakar lembut, bibirnya membalas ciuman dengan gairah setara. Udara ruangan terasa panas, aroma keringat dan gairah bercampur, suara erangan mereka memenuhi sunyi rumah. Mereka hampir melanjutkan ke inti, Leon mendorong Sonya telentang di sofa, tubuhnya siap menyatu dengan Sonya, napas mereka bercampur dalam ciuman membara, tapi tiba-tiba, suara mobil masuk ke halaman terdengar jelas. Deru mesin dan bunyi rem mengagetkan mereka. "Ayahmu!" bisik Sonya panik, wajahnya pucat. Leon buru-buru bangkit, mengumpulkan baju mereka, sementara Sonya berlari ke kamar mandi terdekat. Pintu depan terbuka, suara Gito memanggil, "Sonya? Leon? Ayah pulang!"Reva menangis hampir satu jam di depan rumah Surya. Ia duduk di tangga, menutup wajah dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar. Kenangan demi kenangan dengan Leon terus berputar di kepalanya — dari bangku SMA, dari malam-malam kuliah, dari janji-janji yang pernah mereka ucapkan, dan dari semua luka yang kemudian datang.Surya berdiri di sampingnya, tidak menyentuh, hanya menunggu dengan sabar. Leon berdiri beberapa langkah di depan, wajahnya pucat, tangan mengepal, siap menerima penolakan.Akhirnya Reva mengangkat wajahnya yang basah. Ia berdiri, langkahnya pelan, lalu mendekati Surya.Surya tersenyum kecil, mengira Reva sudah memutuskan untuk tinggal. Leon menunduk, menghela napas panjang, lalu berbalik, bersiap pergi.Tapi Reva memegang lengan Surya. Suaranya serak dan pecah.“Surya… maafkan aku.”Surya mengerutkan kening. “Reva?”Reva menunduk, air mata masih menetes. “Aku tidak bisa. Aku sudah mencoba. Aku sudah ingin memilih yang baru, yang tenang, yang tidak menyakitiku. Tapi hatik
Di depan rumah Surya, suasana menjadi sangat diam. Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun di taman kecil. Reva berdiri di ambang pintu, Surya di sampingnya, sementara Leon berdiri beberapa langkah di depan mereka dengan wajah yang campur aduk antara putus asa dan tekad.“Reva, aku minta kesempatan sekali lagi,” kata Leon, suaranya serak. “Aku sadar. Aku sudah jatuh cinta lagi padamu. Benar-benar.”Surya menatap Reva, tidak memaksa, hanya menunggu. Reva menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan.“Leon, aku sudah memilih Surya,” katanya tegas. “Aku sudah bilang. Aku tidak ingin kembali. Kamu terlalu sering menyakitiku. Kamu selingkuh, kamu masih memikirkan Sonya, dan aku selalu jadi nomor dua.”Leon menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menyerah.“Aku tahu aku salah. Aku tahu aku brengsek. Tapi Reva… sebelum kamu benar-benar pergi, dengar aku sekali saja. Ingat masa kita dulu.”Reva ingin menutup pintu. Ia ingin mengakhiri
Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui gorden kamar Surya. Reva membuka mata pelan. Tubuhnya terasa hangat, masih berada dalam pelukan Surya. Pria itu sudah terbangun lebih dulu, menatapnya dengan senyum yang tenang.“Pagi,” bisik Surya sambil mengusap rambut Reva.Reva tersenyum kecil, masih setengah mengantuk. “Pagi…”Surya mencium keningnya. “Aku sudah siapkan sesuatu. Jangan turun dulu.”Ia bangun dari ranjang, mengenakan celana pendek, lalu keluar kamar. Beberapa menit kemudian, Surya kembali membawa nampan kayu. Di atasnya ada sarapan lengkap: roti panggang, telur, potongan buah, dan dua cangkir kopi susu yang masih mengepul. Di samping nampan, ada vas kecil berisi bunga mawar putih dan merah yang masih segar.Reva terkejut. “Kamu… sudah siapkan ini semua?”Surya tersenyum. “Aku bangun pagi-pagi. Aku ingin kamu bangun dengan sesuatu yang manis.”Mereka sarapan di ranjang. Surya sesekali menyuapi Reva, dan Reva membalas dengan tawa kecil. Suasana pagi itu terasa ringan, jau
Setelah ronde woman on top, Reva masih tergeletak di dada Surya. Tubuh mereka basah keringat. Surya mengusap punggung Reva pelan, lalu berbisik,“Mandi dulu. Biar segar.”Reva mengangguk. Mereka bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi yang cukup luas. Surya menyalakan shower rain di atas. Air hangat segera mengguyur tubuh mereka.Reva berdiri di bawah guyuran air, membiarkan rambutnya basah. Surya berdiri di belakangnya sebentar, menyabuni punggung Reva dengan gerakan lembut. Lalu ia memutar tubuh Reva hingga menghadapnya.Mereka saling menatap di bawah air hangat. Surya menunduk, mencium Reva. Ciuman itu basah, bercampur air shower. Lidah mereka saling mencari. Tangan Surya turun ke bokong Reva, mengangkatnya sedikit.Reva membalas ciuman dengan lebih berani. Ia melingkarkan tangan di leher Surya. Batang Surya yang sudah mengeras lagi menekan perut bawah Reva.Surya mengangkat satu kaki Reva, menyandarkannya di pinggulnya. Dengan tangan satunya ia mengarahkan batangnya, lalu me
Billy tertidur pulas di samping Reva, napasnya teratur. Reva membuka mata, menatap langit-langit kamar hotel yang gelap. Ada kekosongan yang tiba-tiba datang. Tubuhnya masih terasa hangat dari sentuhan Billy, tapi hatinya kosong.Ia tahu Leon sekarang sering berganti-ganti wanita. Rasa kecewa itu belum hilang. Reva ingin membalas, ingin membuat Leon merasakan apa yang ia rasakan. Tapi bersama Billy malam ini… rasanya tidak cukup. Tidak ada yang berubah di dalam dirinya.Pelan-pelan Reva bangun. Ia memakai baju, mengambil tas, lalu keluar dari kamar tanpa membangunkan Billy. Di parkiran, ia menaiki mobilnya dan mulai memutar-mutar Jakarta di malam yang sudah larut.Jalanan relatif sepi. Reva tidak tahu mau ke mana. Ia hanya membiarkan mobil berjalan. Di sebuah trotoar yang agak terang, ia melihat motor yang dimodifikasi menjadi gerobak kopi mini. Seorang pria muda berdiri di sampingnya, sedang merapikan gelas. Dagangannya sepi.Pria itu cukup tampan. Rambutnya rapi, wajahnya bersih, da
Beberapa hari terakhir, Reva semakin merasakan jarak yang tak terjelaskan dengan Leon. Leon sering pulang larut, jarang membalas pesan, dan saat di rumah pun selalu tampak sibuk atau lelah. Reva mencoba bertanya, tapi jawaban Leon selalu singkat. Rasa kecewa pelan-pelan menggerogoti hatinya.Malam itu, Dinda, sahabat dekatnya sejak kuliah, mengajaknya keluar.“Reva, kamu sudah terlalu lama di rumah. Ayo hang out sebentar. Sekalian hiburan,” kata Dinda lewat telepon.Reva awalnya menolak, tapi rasa sepi dan kecewa membuatnya akhirnya mengangguk. “Baiklah. Aku ikut.”Mereka tiba di sebuah klub malam yang cukup mewah di kawasan Senopati. Musik bass menggelegar, lampu warna-warni berkelip, dan orang-orang berdansa di lantai dansa. Dinda langsung menarik Reva ke bar, memesan dua cocktail.Tidak lama kemudian, seorang pria tinggi berpenampilan rapi mendekat. “Dinda! Lama tidak ketemu.”“Billy!” Dinda tersenyum lebar. “Ini temanku, Reva. Reva, ini Billy, temanku.”Billy menatap Reva dengan s
Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak
Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan
Pagi ini, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai kamar Leon, membangunkannya dari tidur yang gelisah. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi indah yang manis... sentuhan Sonya, desahannya, aroma kulitnya masih melekat di ingatannya. Namun kini, saat Leon membuka mata, kekhawatiran mera
Tubuh Sonya menimpa Leon. Kulit halus tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Leon saat secara refleks, Leon menahannya.Dan dada penuh nan montok Sonya, sukses mendarat bahkan menggesek tubuh Leon. Ini membuat Leon menelan ludah. Sensasi ini begitu menggoda. Tubuh keduanya masih saling tempel







