Share

6 Ini Harus Berhenti

Author: Heartwriter
last update publish date: 2026-03-28 23:50:52

Sabtu ini terasa seperti mimpi demam yang tak pernah berakhir, di mana setiap detik di rumah besar itu dipenuhi dengan ketegangan erotis yang tak terucapkan antara Leon dan Sonya.

Gito, ayah Leon, menghabiskan hari liburnya dengan santai—membaca koran di teras pagi hari, menonton pertandingan sepak bola di ruang tamu siang hari, dan beristirahat di kamarnya sore hari.

Namun di balik rutinitas itu, Leon dan Sonya bagaikan dua magnet yang tak bisa saling menjauh, gairah mereka makin menjadi-jadi, dipicu oleh kegalauan malam sebelumnya yang masih membekas.

Setiap pertemuan, setiap tatapan, hanya menambah bahan bakar pada api yang sudah membara.

Mbok Siti sibuk di dapur dan kebun, tapi rumah yang luas itu menyediakan cukup ruang untuk rahasia mereka—risiko tertangkap Gito mungkin membuat segalanya makin menggairahkan.

Pagi dimulai dengan sederhana, tapi penuh ketegangan.

Sonya bangun lebih pagi, mengenakan daster rumah warna pastel tipis yang melengket lembut di tubuhnya, memperlihatkan pinggang dan pinggulnya yang menggoda.

Dia pergi ke dapur untuk membuat sarapan, aroma kopi dan roti bakar tercium di udara.

Leon, yang semalaman tidur gelisah memikirkan sentuhan semalam, turun tangga dengan mata mengantuk tapi penuh hasrat.

Saat Sonya hendak mengambil minum dari dispenser—suara air dingin mengalir ke gelas—dia berbalik dan tiba-tiba berhadapan langsung dengan Leon.

Jarak mereka begitu dekat hingga napas Leon menyentuh leher Sonya, aroma sabun paginya yang segar bercampur dengan parfum vanila Sonya.

"Leon..." gumam Sonya, suaranya setengah marah setengah terengah.

Gelas berisi air di tangannya gemetar, tapi dia tidak mundur. Sentuhan pertama terjadi "tak sengaja" tangan Leon menyenggol pinggang Sonya saat meraih dispenser, jari-jarinya menyentuh kain tipis daster itu, merasakan hangatnya kulit di baliknya.

Setrum listrik menjalari tubuh Sonya, membuat bulu kuduknya berdiri. "Hentikan ini! Ayahmu ada di teras," desisnya, mata hijaunya membelalak dengan campuran kemarahan dan hasrat yang tak diakui. Tapi tubuhnya tidak menjauh, malah sedikit mendekat, dada mereka hampir saling menempel.

Leon tersenyum miring, matanya gelap penuh nafsu. "Kamu bilang berhenti, tapi kamu nggak bergerak." Tanpa menunggu, dia mendekatkan wajahnya, bibirnya menyentuh bibir Sonya dalam ciuman lembut tapi dalam.

Lidahnya menyelinap perlahan, menari dengan lidah Sonya yang mulai merespon, rasa kopi pagi yang manis masih tersisa di mulutnya.

Tangannya bergerak naik, meremas pinggang Sonya dengan tekanan yang membuat Sonya mengerang pelan di dalam ciuman.

Sonya marah di antara napas, "Ini gila... kita bisa ketahuan!" tapi tangannya melingkar di leher Leon, menariknya semakin dekat.

Pemanasan pagi itu singkat tapi intens. Leon menjilati leher Sonya, gigitannya yang lembut meninggalkan bekas merah samar, sementara tangannya merayap ke balik daster, mengelus paha dalam Sonya dengan jari gemetar, mendekati area sensitif yang membuat Sonya menggigil.

Aroma tubuh mereka bercampur, panasnya menjulang seperti uap kopi di meja. Tapi suara Gito batuk dari teras membuat mereka berpisah.

Sonya mendorong Leon, napasnya tersengal, wajahnya merah padam, sementara Leon mundur dengan senyum puas, hasratnya makin membara.

---

Siang harinya, gairah kembali menyala di lorong lantai atas, saat Gito asyik menonton TV di bawah. Sonya naik ke atas untuk mengambil sesuatu dari kamar tamu di samping kamar Leon, langkahnya pelan di lantai kayu yang berdecit.

Leon yang "kebetulan" lewat dari kamarnya, menjepitnya di sudut lorong yang gelap, dinding bata rumah tua itu bagaikan saksi bisu. "Kita ketemu lagi," bisik Leon, tangannya langsung melingkar di pinggang Sonya dari belakang, menariknya menempel ke dinding.

Sonya tersentak, "Leon, jangan! Ayahmu di bawah!" katanya lirih, tapi tubuhnya tak melawan, malah sedikit melengkung saat tangan Leon menyelinap ke balik daster, meremas pantatnya dengan lembut, jari-jarinya mengusap kulit halusnya dengan gerakan memutar lambat.

Kali ini, kesempatan datang, membuat mereka bisa bertindak lebih liar, lebih erotis.

Bibir Leon menangkap bibir Sonya dengan liar, lidahnya menjilati bibir bawah Sonya sebelum menyelinap masuk, menjelajahi setiap sudut mulutnya dengan kelaparan.

Sonya membalas dengan erangan tertahan, tangannya menelusuri dada Leon melalui kaus tipisnya, merasakan otot-otot keras yang menegang di bawah sentuhannya.

Leon tak berhenti, tangannya bergerak naik, meremas payudara ibu tirinya dari luar daster, ibu jarinya menggosok putingnya yang mengeras melalui kain, membuat Sonya menggigit bibir untuk menahan erangan. "Kamu basah sekali, Sonya," bisik Leon di telinganya, napas panasnya mengirim getaran di punggung Sonya.

Dia menjilati daun telinga Sonya lembut, diselingi gigitan kecil, sementara satu tangannya merayap ke depan, menyentuh area intim Sonya melalui celana dalamnya, mengusap pelan tapi berirama, membangun gelombang kenikmatan yang membuat kaki Sonya lemas.

Sonya menggeliat, tubuhnya bergesekan dengan Leon, kulit mereka terbakar satu sama lain bagaikan api dan bensin. "Ini... terlalu berisiko," bisiknya, tapi matanya terpejam, menikmati setiap sentuhan. Lidah Leon menelusuri lehernya, meninggalkan jejak basah dingin yang kontras dengan panas tubuhnya.

Adegan itu berlangsung lama, gairah mereka memuncak hingga Sonya hampir erangan keras, tapi suara Gito memanggil dari bawah"Sonya, kopi lagi!"

Membuat mereka berpisah dengan napas tersengal.

Sonya merapikan daster, bergumam kesal, "Kamu gila!" tapi mata mereka bertaut, penuh janji tak terucap untuk adegan selanjutnya.

Saat sore menjelang, gairah mencapai puncaknya di dapur saat Gito sedang tidur siang di kamarnya.

Sonya sedang mencuci piring, seolah mencari kesibukan, padahal biasanya Mbok Siti yang mencuci.

Suara air mengalir dari keran menutupi langkah kaki Leon yang mendekat dari belakang. Dia memeluknya tiba-tiba, tangannya langsung meremas pinggul Sonya, menariknya ke arah tubuhnya yang tegang.

"Leon, berhenti! Ini kebangetan hari ini," kata Sonya kesal, suaranya bergetar, tapi dia tak menjauh, malah bersandar, merasakan keperkasaan Leon menekan pantatnya.

Ciuman ketiga adalah yang paling erotis, paling lama. Leon memutar tubuh Sonya menghadapnya, bibirnya menangkap bibir Sonya dengan hasrat membara, lidah mereka bertarung dalam tarian basah dan panas.

Tangannya membuka kancing daster Sonya satu per satu, memperlihatkan bra renda, lalu mencium dada atasnya, lidahnya menelusuri lekuk payudaranya dengan gerakan lambat, menjilati putingnya melalui kain tipis hingga basah dan tembus pandang.

Sonya mengerang pelan, tangannya menyelinap ke balik kaus Leon, mengusap perut six pack-nya, jari-jarinya menggelitik kulit sensitif di sana sebelum bergerak turun, merasakan keperkasaannya melalui celana.

"Kamu buat aku gila," desah Leon, tangannya kini menyelinap ke celana dalam Sonya, jari-jarinya menyentuh klitorisnya dengan usapan lambat tapi intens, membangun irama yang membuat Sonya gemetar, pahanya saling menggesek mencari gesekan lebih.

Aroma dapur, sabun cuci piring dan bumbu, bercampur dengan bau keringat dan hasrat mereka, suara air mengalir menjadi latar erotis.

Leon menjilati leher Sonya lagi, gigitannya makin keras, meninggalkan bekas merah, sementara Sonya membalas dengan menggigit pundak Leon, desahannya makin sering.

Mereka hampir kehilangan kendali. Leon mendorong Sonya ke meja dapur, tangannya siap menurunkan celana dalamnya, posisi mereka siap untuk sesuatu yang lebih dalam, tapi suara Gito yang bangun dari tidur siang, langkah kakinya mendekat dari lorong, membuat mereka berpisah dengan panik.

Sonya buru-buru mengancingkan daster, wajahnya merah dan napasnya tersengal, sementara Leon mundur ke ruang sebelah, tubuhnya masih gemetar dengan hasrat yang tak tersalurkan.

---

Malam Sabtu itu, gairah tak sepenuhnya padam. Saat Gito tidur lebih awal karena kelelahan, Leon dan Sonya bertemu lagi di ruang tamu gelap, berbagi ciuman singkat tapi intens, hanya bibir dan tangan yang bersentuhan, tapi itu cukup untuk membuat emosi mereka berdua makin kacau.

Setiap adegan hari itu meninggalkan bekas erotis: bekas gigitan di leher Sonya yang dia tutup dengan rambutnya, aroma Leon yang masih melekat di daster, dan pikiran mereka yang makin tak karuan.

"Ini harus dihentikan sebelum keterlaluan!" gumam Sonya pada dirinya di kamar, tapi tubuhnya masih panas oleh sentuhan Leon.

Sementara itu, di kamarnya, Leon menyentuh dirinya sendiri, membayangkan Sonya, hasratnya bagaikan api yang tak bisa padam. Sabtu itu telah mengubah segalanya. Gairah mereka bukan lagi rahasia kecil, tapi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Hubungan Terlarang   64 Menyembuhkan Orang

    Sambil makan, Beni menyuruh Hadi Jaya membelikan jarum akupuntur. Hadi Jaya langsung memerintahkan asistennya. Sementara itu, Beni menghabiskan semua buah dan kue di meja. Marlena hanya bisa geleng-geleng kepala.Setelah jarum datang, Beni mulai memeriksa istri Hadi Jaya. Kemampuan penyembuh tingkat lanjut yang baru saja dia aktifkan dari poin liontin bekerja. Beni bisa melihat titik-titik energi di tubuh wanita itu."Bu, tenang saja. Ini cuma seperti ditusuk jarum kecil. Nanti juga enak.""Enak?" istri Hadi Jaya bingung."Ya. Seperti dipijat. Tapi dari dalam."Beni menusukkan jarum ke beberapa titik. Tangannya bergerak cepat. Darah mulai keluar dari mulut dan pori-pori istri Hadi Jaya. Hadi Jaya panik."Kenapa keluar darah?!""Tenang, Pak. Itu darah kotor. Penyakitnya ikut keluar."Beberapa menit kemudian, istri Hadi Jaya merasakan tubuhnya yang semula lemas kini menjadi ringan. Wajahnya berseri. Dia menatap Beni dengan takjub."Saya... saya merasa seperti baru. Saya tidak sakit lagi

  • Terjebak Hubungan Terlarang   63 Enak Kalau Ada yang Ngerti

    Beni keluar dari kamar Sonya dengan langkah pelan. Sonya sudah tertidur pulas, dia terlihat puas, dengan senyum tipis di wajahnya.Beni menutup pintu perlahan, lalu berjalan menyusuri koridor menuju tangga.Begitu sampai di lobi, Beni langsung berhenti. Marlena duduk di sofa dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya dingin, matanya menatap Beni seperti ingin menusuk."Nona Marlena? Tumben menunggu di sini," sapa Beni canggung.Marlena berdiri. "Naik mobil. Sekarang.""Nada suaranya ketus, Beni tidak tahu apa yang terjadi. Dia mengikuti Marlena keluar kos dan masuk ke mobil.Marlena duduk di sisi jendela, menatap ke luar, dan sama sekali tidak menoleh ke arah Beni. Sopir sudah siap di balik kemudi. Mobil melaju pelan meninggalkan halaman kos."Nona, apa ada masalah? Kok kelihatan kesal?" tanya Beni.Marlena diam."Kalau saya salah, bilang dong. Jangan diam saja. Saya jadi takut nih."Marlena masih diam."Jangan-jangan Nona belum makan. Makanya marah. Kalau lapar, bilang. Kita mamp

  • Terjebak Hubungan Terlarang   62 Cemburu

    Sonya masih berada di pelukan Beni ketika dia berbisik, “Turunkan saya. Saya mau dari belakang.”Beni menurunkan tubuhnya pelan. Sonya berbalik, berlutut di atas kasur, dada turun ke sprei, pantat terangkat. Beni berlutut di belakangnya. Satu tangan memegang pinggang Sonya, tangan lainnya mengarahkan batang kejantanan yang masih basah ke liang keintimannya. Dia mendorong masuk dalam satu gerakan dalam.Sonya mengerang ke dalam bantal. Beni mulai bergerak. Hentakan dari belakang kuat dan teratur. Setiap tusukan membuat pantat Sonya bergoyang. Bunyi basah kembali memenuhi kamar 505. Pintu kamar, yang tadi hanya ditutup tanpa dikunci, terbuka sedikit karena hembusan angin dari jendela.Di lantai dasar, Marlena sudah tidak tahan menunggu di mobil. Dia turun bersama satu pengawal, masuk ke lobi kos. Tari yang sedang di meja resepsionis langsung berdiri kaku.“Nona Marlena…”“Beni di mana?” tanya Marlena singkat.Tari ragu sejenak. “Kamar lima nol lima, Nona. Ada tamu dari Surabaya. Teman M

  • Terjebak Hubungan Terlarang   61 Tamu dari Jauh

    Beni berdiri di depan pintu apartemen sambil merapikan kemeja yang masih agak kusut. "Nona, saya izin pulang ke kos sebentar. Mau ambil baju ganti. Pakaian saya di sini cuma ini."Marlena yang sedang menuang kopi menoleh tajam. "Boleh. Tapi ingat, Beni. Apa yang terjadi semalam... jangan sampai keluar dari mulutmu. Jangan cerita ke teman-temanmu di kos. Jangan sesumbar. Kalau sampai ada yang tahu, kamu yang tanggung."Beni mengangguk cepat. "Saya janji, Nona. Mulut saya terkunci.""Aku antar kamu." Marlena terlalu takut jauh dari Beni karena pengawalnya yang lain tidak becus. Karena itu dia pun mengantar Beni."Sudah sampai." Marlena melirik Beni. "Aku tunggu di mobil. Jangan lama-lama."Beni turun, menyeberang halaman, lalu masuk ke lobi kos. Tari yang sedang merapikan buku tamu langsung berdiri."Mas Beni! Akhirnya pulang. Sepanjang hari ini ada yang nungguin Mas.""Siapa?""Tante dari Surabaya. Katanya teman Mbak Nova. Sekarang nginap di kamar lima nol lima. Dari pagi dia bolak-bal

  • Terjebak Hubungan Terlarang   60 Menelanjangi Kebohongan Alex

    Saat itu, dua pria tampak mendekat.Tika menimpali. "Kenalin, ini pacar kita. Kalau aku sama Kevin. Kalau Sinta sama Alex. Alex ini pengusaha dari luar negeri."Beni menatap pria yang disebut Alex. Lelaki itu tinggi, berdada bidang, dengan jam tangan yang terlihat mahal. Sementara Kevin, pacar Tika, tampak lebih tenang dan biasa saja.Alex menyodorkan tangan pada Marlena. "Senang berkenalan. Saya Alex. Saya dengar dari Sinta, kamu teman SMP-nya."Marlena menjabat tangannya singkat. "Salam kenal."Sinta memandang Beni yang masih duduk santai. "Oh ya, ini si auditornya Marlena."Beni mengangkat tangan. "Halo. Saya Beni. Perut masih proses diisi."Alex tertawa kecil. "Auditor yang santai. Jarang ada. Biasanya auditor itu serius dan penuh angka.""Tergantung makanannya, Mas. Kalau enak, saya santai. Kalau tidak enak, saya serius."Sinta menyengir. "Lucu juga ya. Tapi, Marlena, kamu yakin ini auditor? Soalnya penampilannya... apa ya... agak berbeda."Marlena merasakan nada merendahkan dari

  • Terjebak Hubungan Terlarang   59 Ditraktir di Hotel Mewah

    Marlena mengernyit. "Itu kan dua-duanya kamu yang untung? Mau kalah, mau menang, Kamu tetap makan.""Tidak juga, Nona. Kalau di hotel mewah, nona harus keluar duit jauh lebih banyak. Apalagi aku makannya banyak. Kalau di warung pinggir jalan, aku cuma bisa pilih mie instan atau nasi campur. Harganya murah. Itu bedanya.""Lalu aku untungnya di mana?""Nona bisa lihat ketampananku waktu aku makan.""Dih! Siapa juga yang mau lihat!" Marlena mendesah. "Oke. Terserah. Tapi kalau mesinnya makin rusak, aku potong gajimu."Beni tersenyum lebar. "Siap, Nona."Dia membuka panel mesin. Tangannya bergerak cepat. Beberapa kabel yang tampak putus dia sambungkan kembali. Beberapa baut yang longgar dia kencangkan. Buku manual dia baca ulang sambil sesekali bertanya pada operator."Mas, kalau tombol ini ditekan, biasanya mesinnya bunyi apa?""Bunyi klik, Mas.""Kalau sekarang tidak bunyi klik, berarti sambungannya di sini lepas ya?""Iya, Mas. Kok tahu?""Kata bukunya."Semua orang menonton dengan mat

  • Terjebak Hubungan Terlarang   3 Sekarang Kesempatanku

    Pagi ini, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai kamar Leon, membangunkannya dari tidur yang gelisah. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi indah yang manis... sentuhan Sonya, desahannya, aroma kulitnya masih melekat di ingatannya. Namun kini, saat Leon membuka mata, kekhawatiran mera

  • Terjebak Hubungan Terlarang   2 Kenapa Kamu Lakukan ini?

    Tubuh Sonya menimpa Leon. Kulit halus tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Leon saat secara refleks, Leon menahannya.Dan dada penuh nan montok Sonya, sukses mendarat bahkan menggesek tubuh Leon. Ini membuat Leon menelan ludah. Sensasi ini begitu menggoda. Tubuh keduanya masih saling tempel

  • Terjebak Hubungan Terlarang   1 Leon dan Sonya

    Dada besar, tubuh ramping dengan lekuk nyaris sempurna, dan pastinya wajah cantik dengan kulit kencang.Leon berdiri kaku di depan pintu kamarnya ketika Gito, ayahnya baru saja pulang dari bulan madu dengan istri barunya.Namun, tentu saja pandangan Leon bukan tertuju pada pria 49 tahun itu, melain

  • Terjebak Hubungan Terlarang   4 Kamu Juga Suka Ini, Kan?

    Leon tidak peduli. Tangannya mulai bergerak, dengan lembut tapi kuat meremas pinggul Sonya, menariknya semakin dekat sampai tubuh mereka menempel. "Tenang, Ayah belum pulang," bisiknya, bibirnya berpindah ke leher Sonya, mencium dan menjilati kulit lembut di sana dengan gerakan lambat, meninggalkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status