Masuk"Jangan dimasukkan hati, Syifa," bisik Bi Sumi sambil mengusap bahunya ketika mereka sudah didapur.
"Tuan muda memang begitu sejak kecil. Keras kepala." Ucap Bi sumi. Syifa hampir mengiris jarinya sendiri kalau dia tidak segera merebut pisau itu. "Mereka kenapa harus pulang sih, Bik? Bagaimana kalau nanti Ibu sudah sembuh dan harus bekerja untuk dua orang seperti itu lagi? Aku tidak bisa bayangkan, Bik... Ibu pasti sangat menderita lahir dan batin selama bertahun-tahun melayani mereka." Syifa membayangkan ibu nya, sambil mengusap sudut mata nya dengan jemarinya. "Aduh, Non, tidak usah sedramatis itu ya," ucap Bi Sumi menenangkan. "Ibumu, Rokayah, sudah terbiasa dengan mereka dulu. Dia itu wanita yang kuat. Apapun tindakan mereka, tidak pernah ia masukkan ke hati. Terserah mulut mereka bicara sekasar apa, tapi setahu Bibi, kedua pria itu tidak pernah melakukan kekerasan fisik di rumah ini. Mereka hanya... yah, sulit dikendalikan." Terang bi Sumi sambil mengaduk sup di atas kompor. "Mereka kuliah di mana sih, Bi? Kenapa etikanya nol besar?" Tanya Syifa, tangan nya memotong bawang dengan kasar, sebagai pelampiasan pada dua majikan nya itu. "Amerika. Jadi kalau sopan santunnya agak kurang, dimaklumi saja ya. Namanya juga mungkin terpengaruh budaya luar yang lebih bebas dan blak-blakan. Sudah, fokus ke masakanmu. Zero tidak suka menunggu." Selesai memasak, meja makan kembali tertata. Syifa, dibantu Bi Sumi dan dua pelayan lainnya, membawa hidangan baru. "Syifa?" "Ya tuan." jawabnya singkat. "Kau makan berapa kali sehari, hah? Kenapa tubuhmu berlemak sekali? Kau itu masih gadis atau sudah ibu-ibu anak dua?" tanya Cleo tanpa dosa. Matanya menyisir tubuh Syifa dari atas sampai bawah tanpa rasa malu. Sebuah seringai mengejek muncul di wajah tampannya. Tawa Zero pecah seketika. Pria yang tadinya terlihat dingin itu kini tertawa terpingkal-pingkal, seolah-olah hinaan Cleo adalah lelucon paling lucu yang pernah ia dengar sepanjang tahun ini. "Lihat pipinya,Cleo. Dia seperti menyimpan cadangan makanan untuk musim dingin di sana," timpal Zero ketus. Darah Syifa mendidih. Rasa takutnya sekejap sirna, digantikan oleh harga diri yang terkoyak. Ia tahu dia bukan model majalah, tapi dia tidak pernah menyangka akan dipermalukan secara fisik di depan umum seperti ini. "Setidaknya saya makan tiga kali sehari dengan keringat saya sendiri, Tuan. Bukan dengan hasil meminta atau menghamburkan uang orang tua saya. Kalau tubuh saya berlemak di kiri, kanan, depan, maupun belakang... itu karena saya sukses memanjakannya sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras saya." Suasana mendadak senyap seketika. Senyum di wajah kedua lelaki itu menghilang, digantikan oleh tatapan yang sangat tajam. Bi Sumi di sudut ruangan tampak pucat pasi, memberi kode agar Syifa segera diam, namun Syifa sudah terlanjur meluapkan segalanya. "Berani sekali kau bicara soal harga diri di depanku, Pelayan?" Cleo berjalan mendekat, Ia berhenti tepat di depan Syifa, sehingga Syifa terpaksa mendongak. Tangannya terjulur, mencengkeram dagu Syifa dengan kuat, memaksanya menatap mata elangnya yang sangat mengintimidasi. "Kau pikir karena Mama tidak ada di sini, kau bisa menceramahiku? Keringatmu sendiri, katamu? Kalau begitu, mari kita lihat seberapa keras kau bisa berkeringat untuk melayani kami malam ini. Bukan hanya di dapur... tapi di tempat lain." "Dia benar. Gadis yang sombong perlu diajarkan di mana tempatnya berdiri. Bi Sumi, keluar. Bawa yang lain pergi. Jangan ada yang berani mendekati ruang ini sampai besok pagi." Syifa membeku. Jantungnya berpacu begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. Ia menoleh ke arah Bi Sumi yang tampak tak berdaya dan ketakutan, lalu kembali ke arah dua pria yang kini mengapitnya. "Kau bilang kau sukses memanjakan tubuhmu, kan? Malam ini, giliran kami yang akan 'memanjakan' lemak-lemak itu sampai kau memohon agar kami berhenti."Beberapa minggu kemudian, suasana di kediaman utama Dewangga bukannya makin tenang, malah makin gempar. Kabar kehamilan kedua Syifa sukses membuat sang kepala keluarga kehilangan akal sehat bisnisnya dan berubah menjadi pria super protektif yang tak masuk akal. "Mas! Tolong ya, Mas! Aku ini cuma mau turun tangga ke lantai bawah, kamu tidak perlu sampai memesan dan memasang lift di dalam rumah ini, paham?!" tegas Syifa, berdiri di undakan tangga teratas dengan kedua tangan di pinggang. Wajah cantiknya merona merah karena menahan kesal sekaligus geli. Bayangkan saja, baru tadi pagi Syifa berniat jalan-jalan pagi ke taman depan. Namun, Dewangga dengan wajah seriusnya langsung memerintahkan dua perawat pribadi agar Syifa duduk di kursi roda dan didorong sepelan mungkin. "Sayang, dengarkan aku dulu... Tangga ini licin, bagaimana kalau kamu—" "Dan aku tidak butuh perawat pribadi, Mas! Aku ini sedang hamil, bukan nenek-nenek jompo yang sedang sakit sakau! Kalau kamu memang mau kursi rod
"Kita mau ke pernikahan siapa, Sayang?" tanya Dewangga ragu sembari membetulkan jam tangan dimobil. Tidak biasanya Syifa mendadak mengajaknya pergi ke acara pernikahan yang lokasinya jauh dari sirkel bisnis mereka. Syifa hanya tersenyum misterius, menggenggam tangan suaminya erat. "Nanti kamu juga tahu, Mas." Ini adalah pernikahan Safa, kakak kandung Syifa. Kakak perempuan yang selama bertahun-tahun hidupnya hanya menjadi benalu, mengganggu kebahagiaan orang lain, menjadi pelakor, dan selalu menjaga jarak penuh kebencian dengan Syifa. Namun, takdir berkata lain ketika seminggu yang lalu, keduanya tidak sengaja bertemu di sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu, Safa mendekat dengan langkah ragu. Sudah berapa tahun lamanya Safa tidak menatap adik kandungnya itu sedekat ini? Di tangannya, terselip sebuah undangan pernikahan sederhana. "Syifa..." panggil Safa lirih sembari menyodorkan undangan itu. "Aku sudah mengunjungi makam Ibu minggu lalu, di sana untuk meminta restu. Dan... seb
Satu tahun setelah duka mendalam melanda Zero, kediaman utama Dewangga tidak lagi diselimuti sunyi yang mencekam. Rumah megah itu kini justru berubah menjadi istana kecil yang penuh dengan keriuhan dan tawa melengking dari tiga anak kecil sekaligus. Ada Anaya yang kini hampir menginjak usia tiga tahun, Aura si bungsu yang terpaut empat bulan di bawahnya, serta si kecil Aruni—putri mendiang Alya dan Zero—yang juga dititipkan di sana selama Zero fokus menata kembali waras dan bisnisnya. Ketiga balita itu sejatinya memiliki babysitter masing-masing yang super ketat. Namun tetap saja, sebagai ibu kandung, ibu sambung, sekaligus—lucunya—menjadi "nenek muda" di usianya yang baru menginjak 24 tahun, Syifa tetap memegang kendali penuh untuk mengawasi mereka, terutama Aruni yang merupakan cucu sambungnya. Sore itu, Syifa baru saja selesai memastikan Aruni meminum susunya saat ia menangkap siluet seorang pria jangkung tegap di ambang pintu masuk utama. "Mas? Kamu sudah pulang?" tanya Syi
Langit di atas pemakaman seolah ikut berduka, diselimuti mendung tebal yang menggantung rendah. Suasana di sekitar gundukan tanah yang masih basah itu penuh dengan isak tangis yang menyayat hati. Di sana, Zero berdiri mematung bagai patung tanpa nyawa. Tak ada lagi air mata yang mengalir di pipinya, tak ada pula suara yang keluar dari bibirnya. Sorot matanya kosong, menatap lurus pada papan nisan bertuliskan nama wanita yang menjadi separuh alasan hidupnya. Di sampingnya, berdiri Hans dan Elia—kedua orang tua Alya—dengan tubuh yang terguncang hebat oleh duka yang teramat dalam. "Kalau bukan karena ulahmu... anak perempuan saya pasti masih hidup sekarang! Dasar laki-laki hina!" teriak Hans tiba-tiba, suaranya parau dan pecah karena amarah yang bercampur dengan rasa kehilangan yang masif. Pria paruh baya itu tidak memedulikan tatapan orang-orang di sekitar pemakaman. Baginya, Zero adalah pelaku tunggal di balik kematian putrinya. Zero hanya diam. Ia sama sekali tidak bergerak, tidak
Pintu ruang operasi akhirnya digeser terbuka. Namun, tidak ada senyum lega dari tim medis. Dokter yang keluar hanya menundukkan kepala dalam-dalam, menepuk bahu Zero pelan sebelum membisikkan kalimat yang seketika merenggut seluruh paksa kewarasan pria itu. Alya tidak bisa diselamatkan. Tapi bayi mereka hidup. Zero dipaksa melangkah masuk ke dalam ruangan yang kini terasa begitu dingin dan asing. Tubuhnya lemas bukan main, seolah-olah seluruh tulang di raganya lolos begitu saja. Kakinya bergetar hebat, terseok-seok meniti lantai semen medis yang menyengat hidung. Zero tidak berteriak. Ia tidak mengamuk. Kehancuran yang sesungguhnya justru tidak menyisakan ruang untuk suara. Ia hanya berjalan lambat, memandangi sosok yang terbaring kaku di atas ranjang operasi dengan selembar kain hijau yang menutupi sebagian dadanya. Wajah itu begitu damai, terlalu damai hingga terlihat sangat kejam bagi Zero. "Al..." Panggil Zero lirih. Suaranya pec
Ciiittt! Ban mobil sport Zero mencicit keras, bergesekan dengan aspal saat ia mengerem mendadak tepat di lobi darurat Rumah Sakit Pusat. Zero langsung keluar dari pintu kemudi, memutari mobil dengan napas memburu dan jantung yang berdegup menggila. Tanpa menunggu bantuan brankar dari petugas yang berlarian, Zero langsung menerobos masuk, menggendong sendiri tubuh Alya keluar dari mobil. Darah. Napas Zero tercekat saat telapak tangannya yang menopang paha dan bagian bawah gaun Alya mendadak terasa basah dan hangat. Di bawah temaram lampu lobi, cairan merah kental mengalir deras, membasahi jok mobil dan kini mengotori kemeja putih yang dikenakan Zero. "Dokter! Suster! Tolong istri saya!" teriak Zero parau, suaranya menggema membelah keheningan koridor instalasi gawat darurat. Tubuh Alya sudah sepenuhnya lemas di dalam dekapannya, kepalanya terkulai pasrah di bahu bidang Zero dengan sisa kesadaran yang timbul tenggelam. P
Dalam kegelapan yang menyergap, indra perasa Syifa mendadak menjadi jauh lebih tajam. Ia tidak bisa melihat apa-apa, namun ia bisa merasakan kehadiran dua sosok yang mengurungnya di atas ranjang sempit. "Tuan... hmmm... Apa yang Anda lakukan?" gumam Syifa dengan suara yang tercekik. Sesuatu
"Ya sudah, Bi. Ayo kita balik sekarang," ucap Syifa, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. Berusaha menutupi ketakutan akan ancaman dari pria itu."Kamu yakin? Kenapa tidak menginap saja di sini menjaga Ibu?" tanya Bi Sumi penuh kekhawatiran."Tidak apa-apa, Bi. Lagipula ini sudah malam, Ibu butu
Cleo ikut mendekat dari sisi lain, ia mulai melepas ikat pinggang kulitnya dengan suara klik yang mematikan "Jangan takut. Kami akan mengajarimu banyak hal yang tidak ada di buku kuliahmu. Pelajaran pertama... kepatuhan." Syifa meringkuk, memeluk lututnya di tengah ranjang. Ia merasa seperti
"Mau lari ke mana? Hah? Kau kira ada yang bisa membantumu di rumah seluas ini? Tidak ada, Sayang," gumam Cleo pada syifa yang terlihat beranjak dari posisi semula. "Kemarilah... apa kami tidak cukup menarik untuk pelayan sepertimu? Aku akan memberikan sedikit cara memoles diri. Olahraga menyenangk







