Beranda / Romansa / Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga / Bab 2 - Harga Diri dan Ancaman

Share

Bab 2 - Harga Diri dan Ancaman

Penulis: Pipin
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-11 12:18:40

​"Jangan dimasukkan hati, Syifa," bisik Bi Sumi sambil mengusap bahunya ketika mereka sudah didapur.

"Tuan muda memang begitu sejak kecil. Keras kepala." Ucap Bi sumi. Syifa hampir mengiris jarinya sendiri kalau dia tidak segera merebut pisau itu.

"Mereka kenapa harus pulang sih, Bik? Bagaimana kalau nanti Ibu sudah sembuh dan harus bekerja untuk dua orang seperti itu lagi? Aku tidak bisa bayangkan, Bik... Ibu pasti sangat menderita lahir dan batin selama bertahun-tahun melayani mereka." Syifa membayangkan ibu nya, sambil mengusap sudut mata nya dengan jemarinya.

"Aduh, Non, tidak usah sedramatis itu ya," ucap Bi Sumi menenangkan. "Ibumu, Rokayah, sudah terbiasa dengan mereka dulu. Dia itu wanita yang kuat. Apapun tindakan mereka, tidak pernah ia masukkan ke hati. Terserah mulut mereka bicara sekasar apa, tapi setahu Bibi, kedua pria itu tidak pernah melakukan kekerasan fisik di rumah ini. Mereka hanya... yah, sulit dikendalikan." Terang bi Sumi sambil mengaduk sup di atas kompor.

"Mereka kuliah di mana sih, Bi? Kenapa etikanya nol besar?" Tanya Syifa, tangan nya memotong bawang dengan kasar, sebagai pelampiasan pada dua majikan nya itu.

"Amerika. Jadi kalau sopan santunnya agak kurang, dimaklumi saja ya. Namanya juga mungkin terpengaruh budaya luar yang lebih bebas dan blak-blakan. Sudah, fokus ke masakanmu. Zero tidak suka menunggu."

Selesai memasak, meja makan kembali tertata. Syifa, dibantu Bi Sumi dan dua pelayan lainnya, membawa hidangan baru.

"Syifa?"

"Ya tuan." jawabnya singkat.

"Kau makan berapa kali sehari, hah? Kenapa tubuhmu berlemak sekali? Kau itu masih gadis atau sudah ibu-ibu anak dua?" tanya Cleo tanpa dosa. Matanya menyisir tubuh Syifa dari atas sampai bawah tanpa rasa malu. Sebuah seringai mengejek muncul di wajah tampannya.

Tawa Zero pecah seketika. Pria yang tadinya terlihat dingin itu kini tertawa terpingkal-pingkal, seolah-olah hinaan Cleo adalah lelucon paling lucu yang pernah ia dengar sepanjang tahun ini.

"Lihat pipinya,Cleo. Dia seperti menyimpan cadangan makanan untuk musim dingin di sana," timpal Zero ketus.

Darah Syifa mendidih. Rasa takutnya sekejap sirna, digantikan oleh harga diri yang terkoyak. Ia tahu dia bukan model majalah, tapi dia tidak pernah menyangka akan dipermalukan secara fisik di depan umum seperti ini.

"Setidaknya saya makan tiga kali sehari dengan keringat saya sendiri, Tuan. Bukan dengan hasil meminta atau menghamburkan uang orang tua saya. Kalau tubuh saya berlemak di kiri, kanan, depan, maupun belakang... itu karena saya sukses memanjakannya sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras saya."

Suasana mendadak senyap seketika. Senyum di wajah kedua lelaki itu menghilang, digantikan oleh tatapan yang sangat tajam.

Bi Sumi di sudut ruangan tampak pucat pasi, memberi kode agar Syifa segera diam, namun Syifa sudah terlanjur meluapkan segalanya.

"Berani sekali kau bicara soal harga diri di depanku, Pelayan?"

Cleo berjalan mendekat, Ia berhenti tepat di depan Syifa, sehingga Syifa terpaksa mendongak. Tangannya terjulur, mencengkeram dagu Syifa dengan kuat, memaksanya menatap mata elangnya yang sangat mengintimidasi.

"Kau pikir karena Mama tidak ada di sini, kau bisa menceramahiku? Keringatmu sendiri, katamu? Kalau begitu, mari kita lihat seberapa keras kau bisa berkeringat untuk melayani kami malam ini. Bukan hanya di dapur... tapi di tempat lain."

"Dia benar. Gadis yang sombong perlu diajarkan di mana tempatnya berdiri. Bi Sumi, keluar. Bawa yang lain pergi. Jangan ada yang berani mendekati ruang ini sampai besok pagi."

Syifa membeku. Jantungnya berpacu begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. Ia menoleh ke arah Bi Sumi yang tampak tak berdaya dan ketakutan, lalu kembali ke arah dua pria yang kini mengapitnya.

"Kau bilang kau sukses memanjakan tubuhmu, kan? Malam ini, giliran kami yang akan 'memanjakan' lemak-lemak itu sampai kau memohon agar kami berhenti."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 11 - Kau ingin penonton adegan ini?

    ​"Syifa, kamu nggak ke rumah sakit malam ini?" Suara Bi Sumi memecah lamunan Syifa di dapur. ​Syifa menoleh, mendapati Bi Sumi sudah rapi dengan tas kecil di tangannya. "Nggak, Bik. Bibi mau ke mana?" ​"Tuan Besar minta Bibi ke villanya sekarang. Ada urusan mendadak," jawab Bi Sumi singkat."Tuan Besar? Kenapa mereka nggak serumah, Bik? Nyonya Hana kan disini." tanya syifa heran.Bi Sumi mendengus pelan, wajahnya tampak enggan bicara banyak."Biasalah, Syifa. Rumah sebesar ini saja isinya dingin, apalagi hati orang di dalamnya. Mereka udah lama punya urusan masing-masing. Bibi jalan dulu, ya. Supir sudah jemput." ​Suara klakson mobil di depan halaman menyentak Syifa, menyadarkan nya kalau dia kini sendirian. ​"Mampus aku. Sendirian," bisik Syifa. Jantungnya mulai berdegup kencang. Ia teringat janji gila yang ia buat tadi pagi di meja makan. Niatnya ingin terlihat berani, tapi sekarang nyalinya menciut sampa

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 10 - Bukan mainan

    ​"Oh baby, kamu terlihat sangat tampan siang ini. Sudah lama tidak jumpa, Sayang," bisik Nia melihat Zero yang baru saja melangkah memasuki Klub VVIP itu. Tangannya yang lentur terulur manja, melingkar di leher Zero yang baru saja memasuki ruangan. ​"Nia, kau tetap agresif seperti biasa." Sindirnya. ​"Mau main denganku?" tawar Nia tanpa basa-basi. Ia sengaja menyingkap gaun mini-nya hingga jauh ke atas paha, memamerkan kulitnya yang berkeringat tipis. ​"Aku lebih suka barang yang belum disentuh," ucap Zero dingin sambil meraih gelas wiski dari meja dan meneguk nya kasar. ​"Padahal dulu kamu tergila-gila dengan gerakanku, Sayang. Aku jauh lebih hebat daripada siapa pun di atas ranjang," keluh Nia sambil mengerucutkan bibirnya. ​"Aku sedang butuh mainan baru, dan kau bukan lagi seleraku," ucap Zero, melepaskan tangan Nia dari lehernya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. ​Nia berdiri mematung, dadanya naik turun. "Oh, sial... Melihatnya saja aku sudah panas dingin be

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 9 - Bakpao beracun

    Syifa mengunci diri di kamar mandi dapur yang sempit, setelah kedua majikan nya meninggalkannya sendirian. ​"Aku takut... Aku takut!" gumamnya dengan napas tersengal. ​Bayangan wajah Zero yang dingin dan seringai Cleo semalam berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Tubuhnya masih terasa kotor, seolah sisa-sisa perlakuan mereka semalam tidak akan pernah benar-benar hilang meski digosok dengan sabun paling keras sekalipun. ​"Tapi aku tidak punya pilihan," ia menatap pantulannya di cermin buram. Matanya merah, namun ada api yang mulai menyala di sana. "Kalau aku menyerah sekarang, Ibu yang akan mati." ​Syifa mematikan keran. Keheningan mendadak terasa mencekik. Ia menghirup napas dalam, menelan kembali semua rasa takutnya ke dasar perut. Ia harus melewati ini. Ia harus menjadi "iblis" yang lebih pintar dari mereka. ​Baru saja ia keluar dari kamar mandi, sebuah bayangan tinggi sudah menunggunya di lorong dapur yang sepi. Cleo. ​"Bagus sekali. Menangis di pojokan setelah ber

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 8 - Racun dalam Perjanjian

    Syifa tersentak bangun. Hal pertama yang ia rasakan adalah lengket yang mengering di wajah dan lehernya. Bau amis yang tajam menyerang indra penciumannya. Ia menyibak selimut, memeriksa pangkal pahanya. Tidak ada darah. Tidak ada rasa sakit robek di sana. ​"Sialan. Mereka cuma menjadikanku tempat sampah," desisnya. ​Syifa menyeret langkah ke cermin retak di pojok kamar. Matanya melotot tajam melihat pantulan dirinya. Wajahnya berantakan, jejak putih mengering itu seolah menertawakan harga dirinya. Ia meraih waslap, menggosok kulitnya hingga memerah dan perih. Air matanya tidak keluar. Rasa sedihnya sudah hangus, berganti menjadi amarah yang dingin. ​"Ibu harus sembuh," gumamnya pada bayangan di cermin. "Apapun taruhannya. Kalau mereka mau main api, aku akan jadi bensinnya." Selesai mandi, ​Syifa memakai seragam pelayannya, mengancingkannya hingga rapat ke leher. Ia keluar dari paviliun dengan langkah mantap. Di ruang tengah, Cleo dan Zero sudah duduk di meja makan, seolah tidak

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 7 - Tanda disekujur tubuh

    ​"Hei, berhenti diam! Dan nikmati ini sepenuhnya," goda Syifa dengan suara serak, sementara kelopak matanya nyaris terpejam rapat akibat pengaruh alkohol. ​Syifa menarik kepala Cleo lebih dekat, memaksa pria itu mendekat ke arah dadanya. "Kau ingin apa, hm?" gumam Cleo, merasa tertantang sekaligus terkejut dengan perubahan drastis pelayan di depannya. ​"Apa Tuan tidak tertarik mencobanya?" bisik Syifa tepat di depan bibir Cleo, aroma alkohol bercampur parfum manis tercium dari napasnya. ​Cleo tertawa kecil, sebuah tawa rendah yang berbahaya. Ia tidak berniat mengabaikan undangan itu. Sementara itu, Zero membantu Syifa menanggalkan sisa-sisa kain yang menutupi tubuhnya. Kini, tubuh yang beberapa jam lalu mereka hina "berlemak" itu justru terlihat begitu menggiurka. ​"Hei, Zero! Aku duluan!" ucap Cleo tak sabar. Bibirnya langsung menyerang dengan rakus, bermain di area bukit empuk milik Syifa. ​Zero tak mau kalah. Dalam posisi terlentang, ia meraih bagian bawah tubuh gadis i

  • Terjebak Hasrat Dua Tuan Muda Dewangga   Bab 6 - Tuan.. saya belum selesai

    Dalam kegelapan yang menyergap, indra perasa Syifa mendadak menjadi jauh lebih tajam. Ia tidak bisa melihat apa-apa, namun ia bisa merasakan kehadiran dua sosok yang mengurungnya di atas ranjang sempit. ​"Tuan... hmmm... Apa yang Anda lakukan?" gumam Syifa dengan suara yang tercekik. ​Sesuatu yang asing memaksa masuk kedalam mulut nya, mendominasi celah bibirnya yang gemetar. Dalam kebutaan itu, satu-satunya pegangan yang ia punya hanyalah pinggiran kasur yang ia remas kuat. ​"Ini milikku,kau tahu ini bukan? tanpa perlu aku jelaskan," bisik Cleo dengan suara parau yang penuh kemenangan. "Kau tahu, mulut berbisa yang tadi berteriak soal harga diri itu bisa menjadi penenang yang sangat baik bagi kami. Lakukan tugasmu dengan benar jika kau tidak ingin kehilangan 'kesucian' yang kau banggakan itu terlalu cepat malam ini." ​"Tuan, saya... hmm... saya tidak bisa..." Syifa berusaha memalingkan wajah, namun tangan Cleo mengunci tengkuknya dengan cengkeraman yang tak tergoyahkan. ​

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status