FAZER LOGIN"Syifa..." sapa Dewangga pelan. Suaranya serak, khas seseorang yang baru saja menempuh perjalanan jauh tanpa istirahat.Syifa tersentak kecil, terbangun dari tidur sorenya yang gelisah. "Tuan..." bisiknya parau. Matanya yang masih mengantuk menangkap sosok Dewangga yang berdiri di ambang pintu. Untuk sepersekian detik, sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibir Syifa—sebuah refleks kerinduan yang jujur. Namun, menyadari egonya, Syifa langsung mengubur senyuman itu kembali di balik wajah datarnya yang dingin."Aku bawakan beberapa buah pesananmu, dan ini... rujak dari pasar yang kamu minta tempo hari," ujar Dewangga semangat. Ia meletakkan beberapa kantong plastik di atas meja kecil, matanya berbinar meski lingkaran hitam di bawah matanya tak bisa berbohong.Syifa menegakkan tubuhnya, bersandar pada tumpukan bantal. Ia memperhatikan Dewangga yang tampak berantakan; rambutnya tidak rapi, dan rahangnya dipenuhi bayangan jenggot tipis."Bagaimana keadaanmu?" tanya Dewangga, mendek
Hari itu, tepat usia kandungan Syifa delapan bulan, dan empat bulan berlalu sejak insiden berdarah di kaki gunung itu. Meski kakinya belum pulih seratus persen, Dewangga tetaplah pria keras kepala yang tidak bisa dipisahkan dari tumpukan pekerjaannya.Syifa menatap ponselnya dengan geram. Ia baru saja menutup telepon setelah mendengar suara dingin suaminya."Ada apa?"Hanya dua kata itu yang diucapkan Dewangga setelah seminggu tidak pulang. Syifa merasa ulu hatinya panas. Entah karena hormon kehamilan atau memang egonya yang terusik, ia merasa jawaban singkat itu adalah penghinaan. Padahal, batinnya meronta. Sejak bulan lalu, bayi di rahimnya seolah punya ikatan aneh; janin itu tidak akan berhenti menendang dengan kuat sebelum tangan besar Dewangga mengusap perutnya.Syifa melangkah menuju lantai bawah. Aroma asam segar tercium dari dapur, tempat Bi Sumi sedang sibuk mengulek bumbu rujak meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam."Makasih ya, Bi," gumam Syifa saat piring be
"Semua butuh waktu, Syifa. Kamu tahu itu. Setelah semua yang aku lakukan..." Kalimat Dewangga menggantung, suaranya melemah seiring dengan kelopak matanya yang mulai memberat. Pengaruh obat bius dosis tinggi mulai menarik kesadarannya kembali ke kegelapan.Syifa menarik napas panjang, membiarkan dadanya yang sesak sedikit melonggar. Emosinya yang tadi tersulut perlahan mereda, menyisakan keletihan yang teramat sangat. Ia menatap pria yang kini terlelap itu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara benci, iba, dan tanggung jawab yang dipaksakan."Waktunya istirahat, Tuan..." gumam Syifa ketus, meski tangannya sempat merapikan selimut Dewangga untuk terakhir kalinya sebelum ia melangkah keluar.Malam telah larut saat Syifa berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sunyi. Ia membutuhkan udara segar, atau setidaknya kafein untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Ia menuju kantin rumah sakit yang terletak di sudut remang-remang, tempat yang biasanya hanya diisi oleh keluarga
"Kenapa kamu seminggu ini tidak ke rumah sakit?" tanya Dewangga, suaranya terdengar seperti tuntutan. Ia berbohong. Ia tahu dari asistennya bahwa Syifa hampir setiap hari datang, berdiri di balik kaca pintu atau bertanya pada perawat tentang perkembangan kondisinya tanpa pernah mau masuk menemuinya. Syifa mendengus, langkah kakinya terdengar mantap di lantai keramik. "Bosan. Capek, tentu saja. Saya punya kehidupan lain, Tuan. Tidak hanya untuk mengurusi pria sakit di sini, bukan?" "Jadi kamu merasa keberatan?" Dewangga menoleh sedikit, mencoba menangkap ekspresi istrinya. "Kita bukan suami-istri yang penuh cinta seperti di sinetron-sinetron, Tuan. Kita menikah karena paksaan, bukan? Tuan yang memaksa saya masuk ke dalam hidup Tuan yang berantakan ini. Jadi kalau seandainya saya bersikap dingin seperti ini, jangan salahkan saya," ucap Syifa tajam. "Tapi aku menyayangimu..." bisik Dewangga. "Dan kata-kata itu tidak membuat saya merasakan hal yang sama," tantang Syifa. Ia mem
"Dokter, berapa lama kaki ini akan pulih?" Dewangga bertanya dengan nada yang tidak sabar. Matanya menatap nanar pada gips putih yang membungkus kaki kanannya. Kepalanya masih terbalut perban tipis untuk menutupi luka yang sempat bocor, dan tangan kirinya masih menyisakan nyeri hebat yang berdenyut setiap kali ia mencoba bergerak. Bagi pria yang terbiasa bergerak cepat dan mengendalikan ribuan orang, terbaring diam seperti ini adalah siksaan yang lebih kejam daripada kecelakaan itu sendiri. "Pemulihan tulang membutuhkan waktu, Tuan Dewangga. Apalagi benturan di kepala Anda cukup serius. Anda harus bersyukur masih bisa bicara sedini ini," sahut dokter dengan nada tenang namun tegas. Namun, bukan rasa sakit fisik yang paling menyiksa Dewangga. Sudah seminggu sejak ia terbangun dari koma, dan Syifa sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Ponsel di atas nakas terus bergetar. Bukan dari Syifa, melainkan dari anak-anaknya. Zero dan Cleo terus-menerus mengirim pesan dan menel
"Syukurlah kita sudah kembali ke Jakarta," bisik Dewangga parau. Masker oksigennya sudah diganti dengan selang nasal, suaranya terdengar lebih jelas meski masih lemah. "Kamu ingat malam di hotel itu? Sebenarnya... aku melihat seorang perempuan di pohon beringin dekat jendela kita.""Lalu?""Lalu aku menyadari kalau aku lebih takut kehilangan mukaku di depanmu daripada takut pada hantu itu," Dewangga tersenyum tipis, sebuah kilatan jenaka muncul di matanya yang sayu. "Dan aku ingat bagaimana kamu menyantap pecel itu dengan sangat kalap. Apa selama ini kamu memang sangat menyukai makanan seperti itu? Sampai-sampai mengabaikan suamimu yang baru saja berjuang di pasar?"Syifa hanya mengangguk perlahan, dadanya terasa sesak. Setiap detail kecil yang diingat Dewangga—ketakutannya yang konyol, rasa pecel yang hambar—adalah bagian dari "permainan" Syifa untuk menghancurkannya. Namun pria ini justru menyimpannya sebagai kenangan manis."Istirahatlah, Tuan. Jangan memaksakan diri untuk bic







