Se connecterPintu markas Broken Halos masih terbuka ketika suara mesin SUV Richard akhirnya menghilang dari jalan utama.Tidak ada yang bergerak.Tidak ada yang berbicara.Hanya bunyi jam dinding tua yang terdengar dari sudut ruangan.Tick.Tick.Tick.Austin yang pertama memecah keheningan."Aku benci kalau dia melakukan itu."Logan masih berdiri menghadap pintu."Apa?""Datang."Austin menunjuk keluar."Mengatakan sesuatu yang mengganggu."Lalu menunjuk kepalanya sendiri."Kemudian pergi."Keheningan tetap bertahan.Karena kali ini Richard berhasil.Ia meninggalkan sesuatu.Keraguan.Logan berbalik.Tangannya bertumpu pada meja."Kita tidak mengubah rencana."Samuel yang sedang duduk dekat jendela mengangkat alis."Rencana yang mana?""Menjauh dari Site B."Samuel tertawa pendek."Itu bukan rencana.""Itu keputusan Nathaniel.""Nathaniel sudah meninggal."Ruangan langsung sunyi.Avery melihat rahang Logan mengeras.Kalimat itu mungkin benar.Tetapi tetap terdengar salah."Nathaniel meninggalkan
Suara mesin kendaraan terdengar bahkan sebelum mereka melihatnya.Dalam kota kecil seperti Grizzly Peak, suara itu cukup untuk membuat beberapa kepala menoleh.Dan cukup untuk membuat Logan berhenti berbicara.Mereka sedang berada di markas Broken Halos ketika suara itu mendekat.Austin yang sedang bermain kartu langsung menengok ke jendela.Chase meletakkan cangkir kopinya.Tristan mengangkat kepala.Tidak ada yang berkata apa-apa.Namun ruangan perlahan menjadi sunyi.Karena semua orang mengenali kendaraan itu.SUV hitam."Astaga."gumam Austin.Logan sudah berdiri sebelum kendaraan itu sepenuhnya berhenti.Pintu terbuka.Seseorang turun.Bukan karena mereka melihat wajahnya.Belum.Tetapi karena reaksi Logan.Rahangnya mengeras.Oliver yang sedang berdiri dekat meja langsung bergerak sedikit ke depan.Bukan agresif.Refleks.Austin mengembuskan napas."Oh bagus."Pintu markas terbuka.Richard Hale masuk.Namun ada sesuatu yang berbeda hari ini.Tidak ada senyum santai.Tidak ada ma
Kabut masih menggantung di antara pepohonan ketika Samuel mengetuk pintu kabin.Tiga ketukan.Tidak lebih.Tidak kurang.Avery membuka pintu.Samuel sudah berdiri di beranda.Mengenakan jaket tua yang sama.Topi yang sama.Dan ekspresi yang membuatnya terlihat seperti seseorang yang lebih suka berada di tempat lain."Ada apa?"tanya Avery.Samuel tidak menjawab.Ia hanya berbalik dan mulai berjalan menuju truk tua yang terparkir di depan kabin."Samuel."Pria tua itu berhenti."Kau mau ikut atau tidak?"Itu bukan undangan.Lebih mirip tantangan.Dari dalam rumah, Oliver muncul.Tatapannya langsung berpindah dari Samuel ke Avery."Ke mana?"Samuel membuka pintu truk."Jalan-jalan.""Aku tidak percaya itu."kata Oliver."Itu karena kau punya insting yang sehat."Keheningan singkat.Samuel menunjuk kursi penumpang."Avery."Oliver melangkah maju."Aku ikut.""Tidak."Jawaban Samuel datang terlalu cepat.Rahang Oliver mengeras."Kenapa?"Samuel membuka pintu truk lebih lebar."Karena kali
Pagi setelah pertemuan dengan Samuel dimulai dengan hujan ringan.Kabut menggantung rendah di lereng Grizzly Peak.Tetes air memukul jendela kabin dengan ritme yang pelan dan teratur.Namun tidak ada seorang pun yang benar-benar memperhatikan cuaca.Karena sejak Samuel menunjukkan foto tua bertuliskan:SITE B1983Jangan pernah kembaliseluruh isi kabin dipenuhi satu pertanyaan yang sama.Apa yang terjadi di Site B?Samuel bangun paling pagi.Hal yang mengejutkan semua orang.Terutama Austin."Aku mengira orang tua tidur lebih lama."Samuel menatapnya."Aku mengira kau lebih pintar."Austin mengangguk."Ini akan berhasil.""Apa?""Aku dan kau.""Aku ragu."Mereka duduk di meja dapur.Avery sedang menuang kopi ketika melihat sesuatu yang tidak biasa.Samuel memegang buku para penjaga.Buku hitam tua yang ditemukan bersama surat Nathaniel.Buku yang selama ini belum pernah disentuh Samuel.Setidaknya tidak serius.Kini pria itu membuka halamannya satu demi satu.Pelan.Sangat pelan.Seo
Samuel tidak melepaskan pandangannya dari peta itu.Sudah hampir satu menit.Namun ia tetap diam.Tidak bergerak.Tidak bercanda.Tidak mengeluarkan komentar sinis yang selama beberapa jam terakhir terus membuat Avery ingin melempar sesuatu ke kepalanya.Keheningan itu jauh lebih mengganggu daripada semua lelucon Samuel.Karena untuk pertama kalinya pria tua itu terlihat takut.Benar-benar takut."Samuel."Avery melangkah lebih dekat."Ada apa?"Samuel berkedip.Seolah baru mengingat bahwa dirinya tidak sendirian.Kemudian perlahan melipat peta itu dan mengembalikannya."Di mana kau mendapatkannya?""Dari Nathaniel.""Aku tahu itu.""Aku menemukannya di Site B."Keheningan kembali jatuh.Samuel menghembuskan napas panjang."Seharusnya tidak ada peta.""Apa maksudmu?"Pria itu memandang danau.Tidak kepada Avery.Tidak kepada siapa pun.Kepada masa lalu."Karena Site B sudah hilang."Boom.Avery membeku."Hilang?""Ya.""Tidak mungkin.""Itulah yang kami yakini."Samuel mengusap wajahn
Samuel tidak langsung melanjutkan penjelasannya setelah mengucapkan kalimat itu."Nathaniel tetap keras kepala sampai akhir."Pria tua itu hanya menatap permukaan danau.Tenang.Diam.Seolah percakapan mereka baru saja berpindah dari masa kini ke empat puluh tahun lalu.Avery berdiri beberapa langkah darinya.Tidak menyela.Tidak mendorong.Karena untuk pertama kalinya sejak nama Samuel Voss muncul dalam hidupnya, ia merasa berada di hadapan seseorang yang benar-benar mengenal Nathaniel Nolan.Bukan versi yang ditinggalkan dalam surat.Bukan versi yang hidup dalam kenangan.Tetapi Nathaniel yang nyata."Dia sering membicarakanku?"tanya Samuel tiba-tiba.Avery mengangkat alis."Aku bahkan tidak tahu kau ada sampai beberapa bulan lalu.""Itu terdengar seperti Nathaniel.""Apa maksudmu?"Samuel terkekeh pelan."Nathaniel bisa menyimpan rahasia lebih lama daripada orang lain menyimpan dendam.""Itu pujian?""Tidak."Samuel mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke danau."Sebenarnya it







