LOGIN
“Aku tidak mau tahu," seru Pak Johan dengan suara bergetar. "Karena kalian terlambat membayar utang dua ratus lima puluh juta itu, maka sekarang kalian harus membayar lima ratus juta!" teriak Pak Johan, sang rentenir desa.
Pak Kusen, ayah Bita, memohon dengan sangat. Ia melipat kedua tangan di depan dada. "Tolong, Pak Johan. Beri kami keringanan waktu agar kami bisa membayarnya." Pak Johan merengut, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Waktu? Kalian tidak memiliki jaminan apa pun. Atas dasar apa aku berani memberikan kalian kelonggaran waktu? Bahkan, meski diberikan waktu dua puluh tahun sekalipun, kalian tidak akan mampu membayarnya!" Bu Ita, ibu Bita, mulai menangis panik. "Kami akan berusaha, Pak. Saya mohon." Brak! Pak Johan menggebrak meja dengan keras, membuat seisi ruangan terhenyak. "Sudah kubilang, kan? Kalian itu tidak memiliki jaminan apa-apa. Jangan hanya bisa memberikan janji mimpi padaku!" Sabita hanya diam, menatap dingin, tanpa ada niatan untuk ikut campur urusan utang tersebut. Baginya, itu adalah konsekuensi yang harus Ayah sambungnya tanggung karena hanya menghamburkan uang untuk mabuk-mabukan dan judi. Pak Johan beralih menatap Bita. Tatapannya berubah total, menjadi mesum dan menjijikkan. Ia mencolek dagu Bita, matanya berkedip menggoda. "Gadis cantik, kenapa diam saja, hah?! Apa kau tidak ingin membantu orang tuamu untuk melunasi utang ini?“ Tiba-tiba, mata Pak Kusen berbinar sesaat. Ia seolah menemukan solusi. "Pak Johan, kami memang tidak memiliki uang, tetapi kami memiliki Bita. Bagaimana jika putri kami saja yang kamu gunakan sebagai alat pembayaran?" Seketika Bita tersentak, menatap ayahnya dengan sorot tak percaya. "Bapak! Jangan asal bicara dong! Apa-apaan ini?!" Pak Kusen menatap tajam Bita, tanpa sedikitpun rasa kasihan. "Buat apa aku peduli padamu? Kamu, kan, bukan anak kandungku. Apalagi selama dua puluh lima tahun aku menanggung hidupmu, seharusnya kamu menggantinya!" Bu Ita sejenak terlihat kaget, namun tiba-tiba ia ikut mengangguk. "Bita, perkataan Bapakmu ada benarnya. Bukankah kamu nanti justru bisa hidup enak di rumah Pak Johan?" Pak Johan manggut-manggut, menyambut ide itu dengan tawa kecil. "Hehe, orang tuamu cukup cerdas juga ternyata, Bita!" Bita memicing, menatap Ibunya dengan perasaan tak percaya. Muncul perasaan terbuang yang seketika menyesak ke dalam jiwanya. Ia meragukan apa yang baru saja didengarnya. Lalu air mata Bita mulai mengalir deras di atas pipi. "Tidak! Ibu, aku ini anakmu, Bu. Aku memang bukan anak kandung Bapak, tetapi aku anak kandungmu, Bu!" Bu Ita tersenyum getir, senyum yang terasa dingin. "Kehadiranmu tak diharapkan, Bita. Kelahiranmu adalah kesalahan pacar Ibu yang dulu menghamili Ibu dan pergi minggat entah ke mana. Kamu harusnya berterima kasih karena selama ini masih diterima oleh Pak Kusen, meski dia bukan ayahmu. Jadi, kali ini, tolong balas kebaikannya." Bita menggeleng, menangis tersedu-sedu. "Ibu! Setega itu Ibu dengan darah dagingmu sendiri? Apakah nurani Ibu sudah mati?" ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Aku sudah dewasa, Bu. Aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri!” Pak Johan yang menyaksikan pertikaian kecil tersebut merasa tak peduli. “Sepertinya diskusi kalian cukup alot. Silakan kalian rembukkan dulu urusan ini. Aku tak akan ikut campur masalah internal di keluarga kalian,” ia kemudian melangkah pergi begitu saja. — Sehari kemudian, Bita sedang menyetrika pakaiannya saat tiba-tiba terdengar panggilan keras Pak Kusen dari arah ruang tamu. “Bitaaa!“ Bita masih merasakan api amarah yang belum padam di dalam dadanya sejak perkataan Pak Kusen kemarin yang ingin memberikan dirinya pada Pak Johan. Dengan malas Bita melangkah masuk dan melihat Pak Kusen dan Ibunya sedang duduk di ruang tamu sambil menatapnya. “Ada apa, Pak?“ tanyanya dengan wajah enggan. Pak Kusen berdiri, menatap tajam Bita. “Pak Johan baru saja menemui Bapak tadi pagi di ladang. Dia meminta keputusan secepatnya. Jadi, Aku dan Ibumu sepakat untuk memberikanmu pada Pak Johan sebagai pelunasan utang.” Bita menatap tajam ke arah Pak Kusen dan Bu Ita. Ada kepedihan yang muncul dari kilat tatapannya. Ia seperti tak percaya jika kalimat itu diucapkan oleh orang yang selama ini ia panggil sebagai ‘Bapak’, orang yang sudah dua puluh lima tahun ini tinggal serumah dengannya. Bita susah payah menahan agar air mata supaya tidak jatuh dari kelopak matanya. “Itu kesepakatan kalian, bukan keputusanku. Aku tetap tidak setuju.” Bu Ita menyela. “Bita, kau harus tahu cara berbakti pada kami. Lagipula, jika kau sudah menjadi miliknya, kesejahteraanmu dan keluarga akan terjamin. Kita akan kaya raya!” ucapnya penuh penekanan. Bita tersenyum dingin. “Maaf, Bu. Aku tidak sependapat. Aku ini manusia. Aku adalah wanita dewasa yang memiliki akal dan martabat, bukan komoditas yang bisa diperjualbelikan.” # #Bita menggelengkan kepalanya dengan cepat, jemarinya meremas kain bajunya sendiri. "Maaf, Mas... maafkan aku," suaranya terdengar serak. "Aku... aku tiba-tiba teringat Mbak Rima. Aku merasa seperti sedang mencuri sesuatu yang bukan milikku. Aku merasa seperti wanita jahat yang sedang bersenang-senang di atas luka wanita lain.""Bita, dengarkan aku," ujar Gelar sambil melangkah pelan, mencoba menenangkan suasana. "Rima adalah masa lalu yang kelam. Dia mengkhianatiku, dia yang menghancurkan rumah tangga kami sendiri. Kamu bukan pencuri, kamu adalah takdir yang datang untuk menyelamatkanku dari kehampaan itu. Kenapa kamu harus merasa bersalah padanya?""Aku… aku tahu itu, Mas. Tapi… dia seperti menghantuiku. Aku takut, Mas. Aku.. aku…” Bita tak bisa menyelesaikan perkataannya. Bahunya berguncang hebat, kemudian ia menangis.Gelar menghela napas panjang, ia menyadari bahwa luka psikis yang dialami Bita jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan. Pengorbanan Bita selama lima tahun bukan hanya
Suasana di dalam Diamond Suite Hotel JogjaJaya terasa begitu tenang dan intim. Cahaya jingga dari matahari yang mulai tenggelam di cakrawala Yogyakarta menyelinap masuk melalui jendela besar, menyiram ruangan itu dengan nuansa romantis yang hangat. Bita baru saja meletakkan koper kecilnya di dekat lemari pakaian besar yang terbuat dari kayu jati berukir, namun sebelum ia sempat merapikan isinya, ia merasakan sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggang rampingnya.Gelar memeluknya dari belakang, menyandarkan wajahnya di lekukan leher Bita yang jenjang dan berbau harum aroma vanila. Napas hangat pria itu terasa menggelitik kulitnya, membuat bulu kuduk Bita meremang seketika."Aku sangat merindukanmu, Sayang. Kamu tidak tahu betapa beratnya melewati malam-malam tanpa kehadiranmu selama lima tahun ini," bisik Gelar dengan suara bariton yang rendah dan sarat akan emosi. "Sekarang sudah sah, kan, kalau aku memanggilmu 'sayang'? Kita benar-benar sudah menjadi suami istri yang sah di ma
Mengingat kembali lembaran masa lalu, Bita sering kali merasa seolah sedang bermimpi di siang bolong. Sabita yang dulu adalah seorang gadis desa yang malang, yang terpaksa melarikan diri ke Jakarta dengan napas tersengal karena ketakutan akan dijual oleh ibu kandungnya sendiri dan bapak sambungnya kepada seorang rentenir demi melunasi hutang. Kala itu, ia datang ke ibu kota hanya bermodalkan nyali dan sejuta harapan sederhana agar bisa bertahan hidup dan menemukan kesuksesan. Kini, semua impian itu bukan hanya menjadi nyata, melainkan melampaui apa yang pernah ia bayangkan dalam doa-doa paling rahasianya.Bita kini bukan lagi gadis pelarian. Ia telah berdiri tegak sebagai pewaris tunggal Hermanto Grup milik Pak Herman, ayah angkat yang begitu memuliakannya. Tak cukup sampai di situ, statusnya kini telah resmi menjadi Nyonya Gelar Aditama, istri dari pemilik Aditama Grup yang memayungi puluhan hotel mewah di seluruh pelosok Nusantara. Bita telah bertransformasi menjadi sosok wanita y
Malam itu, di dalam mobil yang melaju membelah dinginnya jalanan Trawas, suasana terasa sangat kontras. Di kursi belakang, Thomas dan Thomson tampak sibuk bercanda, sementara di kursi depan, keheningan yang canggung menyelimuti Gelar dan Bita. Bita sebenarnya merasa cukup kesulitan untuk memberikan penjelasan yang masuk akal kepada kedua putranya tentang siapa sebenarnya sosok pria yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan mereka ini. Ia khawatir jika ia berterus terang bahwa Gelar adalah ayah kandung mereka, anak-anak itu akan mengalami kebingungan emosional yang hebat karena selama lima tahun mereka hanya mengenal sosok ibu dan kakek angkat.Gelar yang menyadari kekalutan pikiran Bita, segera memberikan sebuah usulan saat mereka berbicara berdua setelah sampai di halaman vila. "Bita, biarkan ini berjalan perlahan. Kamu tidak perlu menceritakan tentang hubungan darah itu sekarang. Katakan saja pada mereka bahwa 'Om Baik' akan menikah denganmu. Biarkan mereka mengenal aku sebagai calon ay
Bita menggeleng pelan, lalu sedetik kemudian tangisnya pecah tak terbendung. Ia menangkupkan kedua tangan di wajahnya, berusaha meredam isak tangis yang menyesakkan dada. Pertanyaan Gelar barusan seolah menghantam benteng pertahanan terakhirnya. Selama lima tahun ini, ia selalu membayangkan momen ini dalam mimpinya, namun kenyataan yang ada di depan mata terasa jauh lebih mengaduk-aduk perasaan. Bita pun tak tahu harus menjawab apa; ia terjebak di antara rasa sakit masa lalu dan kerinduan yang membuncah.Gelar merasa hatinya tersayat melihat kerapuhan wanita di hadapannya. Ia memberanikan diri beranjak dari kursinya, lalu berdiri di samping Bita dan memegang bahunya dengan lembut namun pasti, mencoba menyalurkan kekuatan yang ia miliki."Bita, aku janji... ini adalah pernikahan terakhirku. Tidak akan ada lagi rahasia, tidak akan ada lagi orang ketiga. Kita akan menua bersama di sini, atau di mana pun kau mau, membesarkan Thomas dan Thomson sebagai orang tua yang utuh," ucap Gelar deng
Gelar mengerutkan kening, bingung dengan arah pembicaraan Bita. "Apa maksudmu, Bita? Aku ayah mereka, aku berhak—""Berhak apa?" potong Bita dengan suara yang bergetar hebat. "Aku tidak mau Thomas dan Thomson justru merusak hubunganmu dengan Mbak Rima! Aku sudah cukup menderita dengan perasaan bersalah karena telah menjadi orang ketiga. Aku tidak mau anak-anakku tumbuh besar dengan menyandang status sebagai anak hasil perselingkuhan yang menghancurkan rumah tangga orang lain! Biarkan kami di sini, biarkan mereka tumbuh tanpa tahu siapa ayahnya, asalkan mereka tenang!"Gelar tertegun, lalu ia menghela napas panjang, menyadari bahwa Bita belum tahu kenyataan yang sesungguhnya. Ia meraih tangan Bita yang sedang mencengkeram meja, menahannya dengan lembut agar wanita itu sedikit lebih tenang."Bita, dengarkan aku baik-baik," ujar Gelar dengan suara yang sangat dalam. "Tidak ada hubungan yang harus dijaga dengan Rima. Aku sudah resmi bercerai dengannya lima tahun yang lalu, tepat setelah a







