Share

Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota
Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota
Penulis: Leva Lorich

1. Dijual

Penulis: Leva Lorich
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-31 20:45:59

“Aku tidak mau tahu," seru Pak Johan dengan suara bergetar. "Karena kalian terlambat membayar utang dua ratus lima puluh juta itu, maka sekarang kalian harus membayar lima ratus juta!" teriak Pak Johan, sang rentenir desa.

Pak Kusen, ayah Bita, memohon dengan sangat. Ia melipat kedua tangan di depan dada. "Tolong, Pak Johan. Beri kami keringanan waktu agar kami bisa membayarnya."

Pak Johan merengut, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Waktu? Kalian tidak memiliki jaminan apa pun. Atas dasar apa aku berani memberikan kalian kelonggaran waktu? Bahkan, meski diberikan waktu dua puluh tahun sekalipun, kalian tidak akan mampu membayarnya!"

Bu Ita, ibu Bita, mulai menangis panik. "Kami akan berusaha, Pak. Saya mohon."

Brak!

Pak Johan menggebrak meja dengan keras, membuat seisi ruangan terhenyak. "Sudah kubilang, kan? Kalian itu tidak memiliki jaminan apa-apa. Jangan hanya bisa memberikan janji mimpi padaku!"

Sabita hanya diam, menatap dingin, tanpa ada niatan untuk ikut campur urusan utang tersebut. Baginya, itu adalah konsekuensi yang harus Ayah sambungnya tanggung karena hanya menghamburkan uang untuk mabuk-mabukan dan judi.

Pak Johan beralih menatap Bita. Tatapannya berubah total, menjadi mesum dan menjijikkan.

Ia mencolek dagu Bita, matanya berkedip menggoda. "Gadis cantik,  kenapa diam saja, hah?! Apa kau tidak ingin membantu orang tuamu untuk melunasi utang ini?“

Tiba-tiba, mata Pak Kusen berbinar sesaat. Ia seolah menemukan solusi. "Pak Johan, kami memang tidak memiliki uang, tetapi kami memiliki Bita. Bagaimana jika putri kami saja yang kamu gunakan sebagai alat pembayaran?"

Seketika Bita tersentak, menatap ayahnya dengan sorot tak percaya. "Bapak! Jangan asal bicara dong! Apa-apaan ini?!"

Pak Kusen menatap tajam Bita, tanpa sedikitpun rasa kasihan. "Buat apa aku peduli padamu? Kamu, kan, bukan anak kandungku. Apalagi selama dua puluh lima tahun aku menanggung hidupmu, seharusnya kamu menggantinya!"

Bu Ita sejenak terlihat kaget, namun tiba-tiba ia ikut mengangguk. "Bita, perkataan Bapakmu ada benarnya. Bukankah kamu nanti justru bisa hidup enak di rumah Pak Johan?"

Pak Johan manggut-manggut, menyambut ide itu dengan tawa kecil. "Hehe, orang tuamu cukup cerdas juga ternyata, Bita!"

Bita memicing, menatap Ibunya dengan perasaan tak percaya. Muncul perasaan terbuang yang seketika menyesak ke dalam jiwanya. Ia meragukan apa yang baru saja didengarnya. Lalu air mata Bita mulai mengalir deras di atas pipi. "Tidak! Ibu, aku ini anakmu, Bu. Aku memang bukan anak kandung Bapak, tetapi aku anak kandungmu, Bu!"

Bu Ita tersenyum getir, senyum yang terasa dingin. "Kehadiranmu tak diharapkan, Bita. Kelahiranmu adalah kesalahan pacar Ibu yang dulu menghamili Ibu dan pergi minggat entah ke mana. Kamu harusnya berterima kasih karena selama ini masih diterima oleh Pak Kusen, meski dia bukan ayahmu. Jadi, kali ini, tolong balas kebaikannya."

Bita menggeleng, menangis tersedu-sedu. "Ibu! Setega itu Ibu dengan darah dagingmu sendiri? Apakah nurani Ibu sudah mati?" ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Aku sudah dewasa, Bu. Aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri!”

Pak Johan yang menyaksikan pertikaian kecil tersebut merasa tak peduli. “Sepertinya diskusi kalian cukup alot. Silakan kalian rembukkan dulu urusan ini. Aku tak akan ikut campur masalah internal di keluarga kalian,” ia kemudian melangkah pergi begitu saja.

Sehari kemudian, Bita sedang menyetrika pakaiannya saat tiba-tiba terdengar panggilan keras Pak Kusen dari arah ruang tamu.

“Bitaaa!“

Bita masih merasakan api amarah yang belum padam di dalam dadanya sejak perkataan Pak Kusen kemarin yang ingin memberikan dirinya pada Pak Johan.

Dengan malas Bita melangkah masuk dan melihat Pak Kusen dan Ibunya sedang duduk di ruang tamu sambil menatapnya. “Ada apa, Pak?“ tanyanya dengan wajah enggan.

Pak Kusen berdiri, menatap tajam Bita. “Pak Johan baru saja menemui Bapak tadi pagi di ladang. Dia meminta keputusan secepatnya. Jadi, Aku dan Ibumu sepakat untuk memberikanmu pada Pak Johan sebagai pelunasan utang.”

Bita menatap tajam ke arah Pak Kusen dan Bu Ita. Ada kepedihan yang muncul dari kilat tatapannya. Ia seperti tak percaya jika kalimat itu diucapkan oleh orang yang selama ini ia panggil sebagai ‘Bapak’, orang yang sudah dua puluh lima tahun ini tinggal serumah dengannya. Bita susah payah menahan agar air mata supaya tidak jatuh dari kelopak matanya. “Itu kesepakatan kalian, bukan keputusanku. Aku tetap tidak setuju.”

Bu Ita menyela. “Bita, kau harus tahu cara berbakti pada kami. Lagipula, jika kau sudah menjadi miliknya, kesejahteraanmu dan keluarga akan terjamin. Kita akan kaya raya!” ucapnya penuh penekanan.

Bita tersenyum dingin. “Maaf, Bu. Aku tidak sependapat. Aku ini manusia. Aku adalah wanita dewasa yang memiliki akal dan martabat, bukan komoditas yang bisa diperjualbelikan.”

# #

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   147. Simpul Yang Terbuka

    Langkah kaki Bita yang sedang memapah ibunya keluar dari gedung TPI tiba-tiba terhenti. Di ambang pintu yang lebar, ia baru menyadari keberadaan sosok pria yang sedari tadi berdiri mematung di sudut yang remang. Pria itu tersembunyi di balik bayangan pilar beton besar, wajahnya tak jelas terlihat, namun auranya terasa sangat berat dan penuh gejolak emosi.Pak Herman kemudian melangkah maju perlahan. Begitu cahaya lampu neon yang berkedip di langit-langit gedung menerpa wajahnya, Bu Ita seketika tercekat. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan seluruh tubuhnya mulai gemetar hebat. Matanya membelalak, menatap wajah Pak Herman seolah-olah ia baru saja melihat hantu dari masa lalu yang paling ia hindari sekaligus ia rindukan.Bita yang merasakan perubahan drastis pada ibunya menjadi heran dan cemas. "Ibu? Ibu kenapa? Ayah, ada apa sebenarnya?" tanya Bita sambil menatap ayahnya dengan penuh tanda tanya.Pak Herman tidak langsung menjawab. Ia menatap Bita dengan tatapan yang sangat dala

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   146. Pengkhianat Cinta

    Gelar segera menekan tombol pada radio komunikasinya, memberikan sinyal hijau kepada tim luar. Tak butuh waktu lama, deru langkah kaki sepatu lars terdengar mendekat. Beberapa anak buah Pak Harto yang bertubuh kekar dan berseragam taktis masuk ke dalam gedung dengan senjata siaga. Atas perintah singkat dari Gelar, mereka langsung menyeret para penculik yang sudah tidak berdaya itu keluar gedung. Para penjahat itu dilemparkan ke dalam bak mobil terbuka untuk dibawa ke markas Pak Harto guna interogasi lebih lanjut.Di tengah ruangan yang remang, Jerry dan Sandy bergerak cepat menggunakan pisau lipat untuk memutus tali nilon tebal yang mengikat tangan dan kaki kedua korban. Begitu ikatan terlepas, pintu depan gedung terbuka lebar. Bita berlari masuk dengan napas tersengal, diikuti oleh Pak Harto yang menggendong Thomas dan Thomson di kedua lengannya."Ibu!" teriak Bita pecah.Bita langsung menghambur dan memeluk erat wanita paruh baya yang terduduk lemas itu. Bu Ita, sang ibu, seket

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   145. Gedung Pelelangan Ikan

    Iring-iringan mobil SUV hitam itu merayap pelan menembus jalanan setapak yang hanya beralaskan tanah dan kerikil. Lampu kendaraan telah dimatikan sepenuhnya, hanya menyisakan keremangan cahaya bulan yang memandu jalan mereka menuju pesisir. Di dalam kabin mobil utama, suasana terasa sangat dingin dan mencekam. Gelar, Pak Herman, Jerry, dan Sandy duduk melingkar menghadapi sebuah denah sederhana yang digambar Pak Harto di atas secarik kertas."Kita tidak bisa menyerang secara membabi buta. Gedung TPI ini memiliki struktur terbuka di bagian tengah, tapi akses masuknya sangat terbatas," ujar Pak Herman dengan suara rendah namun penuh otoritas.Gelar mengangguk, matanya menatap tajam ke arah denah. "Aku setuju. Kita harus memecah konsentrasi mereka. Jerry dan aku akan mengambil jalur utama. Kami akan masuk dari sisi depan untuk menarik perhatian jika diperlukan, atau melumpuhkan penjaga luar sebelum mereka sempat memberi sinyal.""Lalu bagaimana dengan sisi belakang?" tanya Sandy sambil

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   144. Menemui Sahabat

    Pak Herman melangkah menjauh ke sudut perpustakaan yang lebih privat, menjauh dari jangkauan pendengaran Gelar dan Bita. Jemarinya menekan rangkaian nomor yang sudah bertahun-tahun tidak ia hubungi, namun masih tersimpan rapi dalam ingatannya. Begitu sambungan terhubung, nada bicaranya berubah menjadi berat, penuh wibawa yang menunjukkan posisinya sebagai pemimpin besar."Harto? Ini Herman. Aku butuh bantuan besarmu sekarang juga," ujar Pak Herman tanpa basa-basi. "Ada sebuah van hitam yang membawa lari orang dekatku di sekitar Desa Srintil. Tolong kerahkan semua kenalan, jaringan, dan teman-temanmu di sana. Pantau setiap jalan keluar desa. Van seperti itu sangat jarang ada di daerahmu, pasti mudah dikenali oleh warga. Kabari aku secepatnya, aku akan langsung terbang ke Jawa Timur sekarang juga."Setelah menutup telepon dengan ekspresi tegang, Pak Herman berbalik menghampiri Gelar dan Bita yang telah menunggu dengan kecemasan yang terpancar jelas di wajah mereka."Barusan Ayah mengh

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   143. Dendam Mucikari

    Gelar menatap Bita dengan dahi berkerut dalam, ada kilat kecemburuan yang tidak mampu ia sembunyikan sepenuhnya meski di tengah situasi genting. "Siapa sebenarnya pria bernama Bono itu, Bita? Mengapa dia masih memiliki nomor pribadimu dan menghubungimu di saat seperti ini?" tanya Gelar dengan nada suara yang sedikit merengut, memperlihatkan sisi posesifnya sebagai seorang suami.Bita yang masih gemetar segera menggelengkan kepala, tangannya menggenggam ponsel itu dengan erat. "Mas, tolong jangan salah paham dulu. Bono tidak sedang mencoba menggodaku atau mencari perhatian. Dia adalah bagian dari masa laluku di desa, dan dia baru saja memberikan kabar yang sangat mengerikan. Ibuku... Ibu kandungku dan ayah tiriku diculik oleh sekelompok orang bersenjata tadi pagi."Mendengar penjelasan itu, Gelar dan Pak Herman secara serempak terlonjak dari kursi mereka. Rasa cemburu di wajah Gelar seketika sirna, digantikan oleh ekspresi ketegangan yang amat sangat. Mereka berdua adalah pria yang

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   142. Tanpa Bukti

    Pagi yang seharusnya tenang setelah keberhasilan konferensi pers semalam justru terasa panas di dalam ruang kerja Gelar Aditama.Dengan rahang yang mengeras, Gelar menekan tombol panggil pada ponselnya, menghubungi nomor Hendy yang sudah lama tersimpan dalam daftar hitamnya. Ia tidak ingin membuang waktu. Baginya, martabat Bita adalah segalanya, dan Hendy telah menginjak-injaknya dengan cara yang paling pengecut."Halo, Pak Hendy. Aku yakin kau sedang menonton berita tadi malam," ujar Gelar tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung. Suaranya rendah, sarat dengan ancaman yang tertahan.Di ujung telepon, terdengar suara tawa kecil yang kering dan terdengar sangat licik. "Ah, Tuan Aditama yang terhormat. Ada angin apa menelepon seorang pengusaha kecil seperti saya sepagi ini? Berita? Berita yang mana?""Jangan berlagak pening, Pak Hendy. Kau tahu persis berita apa yang aku maksud. Hanya kau yang memiliki foto-foto itu. Hanya kau yang punya akses ke masa lalu kelam yang kau ciptakan se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status