Share

2. Sebuah Tawaran

Penulis: Leva Lorich
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-31 20:55:28

Sabita duduk terpekur di atas ranjang kecilnya. Matanya sembab, bekas tangis luap kesedihan yang tadi ia tahan mati-matian di depan Pak Kusen dan Ibunya. Ia meratapi nasibnya yang terasa begitu pahit. Pikirannya dipenuhi amarah dan tekad.

‘Ini sudah melewati batas. Aku tak bisa terus-menerus membiarkan mereka bertindak sesuka hati untuk hidupku. Ini tak bisa dibiarkan. Aku harus mengambil langkah!’ bisik Bita dalam hati.

Bita bangkit dari ranjang, membuka laci kecil dalam lemarinya, menghitung uang tabungan yang selama ini ia kumpulkan. ‘Uang ini cukup untuk membawaku pergi dari sini. Bukan untuk menghindari masalah, namun agar mereka bertanggung jawab menyelesaikan masalah yang mereka timbulkan sendiri,’ lanjutnya.

Tanpa banyak kata, Bita mulai mengemas beberapa pakaiannya yang masih layak. Tujuannya adalah pergi ke Jakarta untuk menemukan masa depannya sendiri, terlepas dari intervensi Pak Kusen dan Ibunya.

Di Jakarta, Bita berhasil menyewa sebuah kamar kos sederhana yang ukurannya cukup kecil. Ia duduk termenung di tepi ranjang. Pikirannya dipenuhi beban berat untuk melanjutkan kehidupan.

‘Aku harus cari kerja ke mana? Tak mungkin aku hanya duduk berdiam diri saja. Aku butuh makan, bayar kos, dan lainnya. Tapi, dengan ijazahku yang hanya lulusan SMP ini, apakah ada yang mau menerimaku bekerja tanpa pengalaman sedikitpun?’

Karena suntuk memikirkan masalah tersebut, Bita memutuskan pergi berjalan-jalan sebentar ke taman yang letaknya tak jauh dari rumah kosnya. Ia membeli segelas es teh manis sambil duduk di bangku taman, menikmati udara sore yang terasa sedikit lebih segar.

Tiba-tiba, seorang pria paruh baya menghampirinya. Pria itu bertanya dengan nada ramah, "Sendiri saja, Mbak?"

Bita yang merasa takut dan waspada di kota asing hanya menjawab dengan senyum sopan. Ia memilih diam, berharap pria itu segera pergi.

Namun, pria itu kemudian duduk di kursi sebelah Bita sambil berkata, "Sepertinya Mbak ada masalah. Wajahmu kelihatan murung."

Bita semakin waspada. Dalam hati, ia berkata, ‘Orang ini maksudnya apa? Jangan-jangan dia orang jahat?!’

Pria itu menyadari kekakuan Bita dan tertawa renyah. "Mbak pasti mikir yang aneh-aneh tentang saya, ya?" ia lantas mengulurkan tangan. "Oh, perkenalkan, saya Pak Hendy. Maaf jika membuat Mbak kurang nyaman. Tapi jujur, saya tidak ada niatan apa-apa, kok."

Bita menjawab terbata-bata, tangannya gemetar saat menyambut uluran tangan Pak Hendy. "Ma-maaf ya, Pak. Saya tidak biasa berbicara dengan orang asing."

Pak Hendy mengangguk dan berkata, nadanya kembali penuh keharuan. "Kamu ini seperti mendiang anakku. Sayangnya dia sudah tiada. Dia tegas dan galak seperti Mbak ini."

Bita sedikit kaget. Ia melihat keharuan tulus di mata Pak Hendy. "Maaf, Pak. Tolong jangan salah paham. Saya hanya tidak—"

Pak Hendy segera memotong perkataan Bita. "Sudahlah, saya mengerti. Memang hidup di Jakarta ini serba dicurigai. Niat baik malah dikira yang bukan-bukan."

Bita merasa sedikit malu karena telah salah menyimpulkan niat baik Pak Hendy sebelumnya. "Maaf ya, Pak. Saya harap Bapak tidak tersinggung."

Pak Hendy berkata, "Saya hanya ingin membantu saja karena Mbak terlihat tidak baik-baik saja. Tapi jika kehadiran saya justru mengganggu, saya bisa pergi."

Bita dengan cepat menghentikannya. "Bukan begitu, Pak. Saya... Ehm, sebenarnya saya sedang kebingungan masalah uang, Pak. Saya baru merantau ke Jakarta ini dan butuh uang untuk hidup."

Pak Hendy manggut-manggut penuh pengertian. "Di Jakarta ini memang tidak mudah mencari pekerjaan. Kota yang keras. Orang bilang ini adalah kota singa. Jika kamu lemah, kamu akan dimangsa."

Bita mengangguk, tidak menjawab, membiarkan Pak Hendy melanjutkan.

Pak Hendy kemudian berkata bahwa ia memiliki perusahaan. "Jika mbak berminat, silakan bergabung. Saya butuh orang yang jujur dan tegas seperti kamu."

Pak Hendy lantas mengeluarkan segepok uang tebal dari tas kecilnya. "Ini ada uang sepuluh juta. Kamu boleh menerimanya sebagai bentuk keseriusan saya agar tidak terlihat seperti main-main. Anggap saja itu kasbon yang diambil di depan. Nanti kamu bisa mencicilnya dari potongan gaji setiap bulannya."

Bita terpana. Matanya langsung tertuju pada uang itu. ‘Uang? Dia menawarkan uang?’ ia berpikir keras. ‘Kalau dia penipu, mana mungkin dia memberikan uangnya kepadaku di awal? Tapi, aku tidak boleh percaya  begitu saja pada orang asing.’

Bita menegak wajahnya, menatap Pak Hendy. “Maaf, Pak. Saya tidak bisa menerima ini. Silakan Bapak simpan lagi saja,” tampiknya kemudian.

Pak Hendy tersenyum, dia tidak tersinggung. “Mbak, kamu jangan egois pada diri sendiri. Tadi kamu bilang butuh pekerjaan, sekarang saat ada pekerjaan menghampiri, kamu malah menolak. Sudahlah, terima saja,” Pak Hendy kembali menyodorkan uangnya.

Bita kembali berpikir keras. ‘Dia benar. Aku butuh pekerjaan, butuh uang itu. Tapi apa aku harus menerimanya?’

# #

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   121. Ketakutan Bita

    Suasana di dalam Diamond Suite Hotel JogjaJaya terasa begitu tenang dan intim. Cahaya jingga dari matahari yang mulai tenggelam di cakrawala Yogyakarta menyelinap masuk melalui jendela besar, menyiram ruangan itu dengan nuansa romantis yang hangat. Bita baru saja meletakkan koper kecilnya di dekat lemari pakaian besar yang terbuat dari kayu jati berukir, namun sebelum ia sempat merapikan isinya, ia merasakan sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggang rampingnya.Gelar memeluknya dari belakang, menyandarkan wajahnya di lekukan leher Bita yang jenjang dan berbau harum aroma vanila. Napas hangat pria itu terasa menggelitik kulitnya, membuat bulu kuduk Bita meremang seketika."Aku sangat merindukanmu, Sayang. Kamu tidak tahu betapa beratnya melewati malam-malam tanpa kehadiranmu selama lima tahun ini," bisik Gelar dengan suara bariton yang rendah dan sarat akan emosi. "Sekarang sudah sah, kan, kalau aku memanggilmu 'sayang'? Kita benar-benar sudah menjadi suami istri yang sah di ma

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   120. Diamond Suite

    Mengingat kembali lembaran masa lalu, Bita sering kali merasa seolah sedang bermimpi di siang bolong. Sabita yang dulu adalah seorang gadis desa yang malang, yang terpaksa melarikan diri ke Jakarta dengan napas tersengal karena ketakutan akan dijual oleh ibu kandungnya sendiri dan bapak sambungnya kepada seorang rentenir demi melunasi hutang. Kala itu, ia datang ke ibu kota hanya bermodalkan nyali dan sejuta harapan sederhana agar bisa bertahan hidup dan menemukan kesuksesan. Kini, semua impian itu bukan hanya menjadi nyata, melainkan melampaui apa yang pernah ia bayangkan dalam doa-doa paling rahasianya.Bita kini bukan lagi gadis pelarian. Ia telah berdiri tegak sebagai pewaris tunggal Hermanto Grup milik Pak Herman, ayah angkat yang begitu memuliakannya. Tak cukup sampai di situ, statusnya kini telah resmi menjadi Nyonya Gelar Aditama, istri dari pemilik Aditama Grup yang memayungi puluhan hotel mewah di seluruh pelosok Nusantara. Bita telah bertransformasi menjadi sosok wanita y

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   119. Luka Paling Dalam

    Malam itu, di dalam mobil yang melaju membelah dinginnya jalanan Trawas, suasana terasa sangat kontras. Di kursi belakang, Thomas dan Thomson tampak sibuk bercanda, sementara di kursi depan, keheningan yang canggung menyelimuti Gelar dan Bita. Bita sebenarnya merasa cukup kesulitan untuk memberikan penjelasan yang masuk akal kepada kedua putranya tentang siapa sebenarnya sosok pria yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan mereka ini. Ia khawatir jika ia berterus terang bahwa Gelar adalah ayah kandung mereka, anak-anak itu akan mengalami kebingungan emosional yang hebat karena selama lima tahun mereka hanya mengenal sosok ibu dan kakek angkat.Gelar yang menyadari kekalutan pikiran Bita, segera memberikan sebuah usulan saat mereka berbicara berdua setelah sampai di halaman vila. "Bita, biarkan ini berjalan perlahan. Kamu tidak perlu menceritakan tentang hubungan darah itu sekarang. Katakan saja pada mereka bahwa 'Om Baik' akan menikah denganmu. Biarkan mereka mengenal aku sebagai calon ay

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   118. Otoritas Tertinggi

    Bita menggeleng pelan, lalu sedetik kemudian tangisnya pecah tak terbendung. Ia menangkupkan kedua tangan di wajahnya, berusaha meredam isak tangis yang menyesakkan dada. Pertanyaan Gelar barusan seolah menghantam benteng pertahanan terakhirnya. Selama lima tahun ini, ia selalu membayangkan momen ini dalam mimpinya, namun kenyataan yang ada di depan mata terasa jauh lebih mengaduk-aduk perasaan. Bita pun tak tahu harus menjawab apa; ia terjebak di antara rasa sakit masa lalu dan kerinduan yang membuncah.Gelar merasa hatinya tersayat melihat kerapuhan wanita di hadapannya. Ia memberanikan diri beranjak dari kursinya, lalu berdiri di samping Bita dan memegang bahunya dengan lembut namun pasti, mencoba menyalurkan kekuatan yang ia miliki."Bita, aku janji... ini adalah pernikahan terakhirku. Tidak akan ada lagi rahasia, tidak akan ada lagi orang ketiga. Kita akan menua bersama di sini, atau di mana pun kau mau, membesarkan Thomas dan Thomson sebagai orang tua yang utuh," ucap Gelar deng

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   117. Tak Semudah Itu

    Gelar mengerutkan kening, bingung dengan arah pembicaraan Bita. "Apa maksudmu, Bita? Aku ayah mereka, aku berhak—""Berhak apa?" potong Bita dengan suara yang bergetar hebat. "Aku tidak mau Thomas dan Thomson justru merusak hubunganmu dengan Mbak Rima! Aku sudah cukup menderita dengan perasaan bersalah karena telah menjadi orang ketiga. Aku tidak mau anak-anakku tumbuh besar dengan menyandang status sebagai anak hasil perselingkuhan yang menghancurkan rumah tangga orang lain! Biarkan kami di sini, biarkan mereka tumbuh tanpa tahu siapa ayahnya, asalkan mereka tenang!"Gelar tertegun, lalu ia menghela napas panjang, menyadari bahwa Bita belum tahu kenyataan yang sesungguhnya. Ia meraih tangan Bita yang sedang mencengkeram meja, menahannya dengan lembut agar wanita itu sedikit lebih tenang."Bita, dengarkan aku baik-baik," ujar Gelar dengan suara yang sangat dalam. "Tidak ada hubungan yang harus dijaga dengan Rima. Aku sudah resmi bercerai dengannya lima tahun yang lalu, tepat setelah a

  • Terjebak Hasrat Terlarang Pria Ibu Kota   116. Jangan Harap

    Gelar menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu di kafetaria itu, matanya tak sedetik pun lepas dari wajah Bita yang tampak gelisah. Ada ribuan pertanyaan yang menyesaki dadanya, namun ia mencoba mengatur napas agar tidak menakuti wanita yang baru saja ia temukan kembali ini. Suasana kafetaria yang tadinya terasa asing, kini mendadak menjadi saksi bisu dari pertemuan yang telah ia impikan selama ribuan malam."Kamu ke mana saja selama ini, Bita? Aku sudah seperti orang gila mencari jejakmu dari Bali hingga ke pelosok Jakarta, tapi kamu seolah lenyap ditelan bumi," tanya Gelar dengan nada suara yang rendah, namun sarat akan kegetiran yang mendalam.Bita mendengus pendek, ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, enggan membalas tatapan intens pria di hadapannya. "Itu bukan urusanmu lagi, Mas. Ke mana aku pergi dan bagaimana aku bertahan hidup adalah hak pribadiku sejak aku memutuskan untuk keluar dari lingkaran masalahmu," jawab Bita dengan ketus.Gelar tidak marah, ia justru m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status