LOGINSabita duduk terpekur di atas ranjang kecilnya. Matanya sembab, bekas tangis luap kesedihan yang tadi ia tahan mati-matian di depan Pak Kusen dan Ibunya. Ia meratapi nasibnya yang terasa begitu pahit. Pikirannya dipenuhi amarah dan tekad.
‘Ini sudah melewati batas. Aku tak bisa terus-menerus membiarkan mereka bertindak sesuka hati untuk hidupku. Ini tak bisa dibiarkan. Aku harus mengambil langkah!’ bisik Bita dalam hati. Bita bangkit dari ranjang, membuka laci kecil dalam lemarinya, menghitung uang tabungan yang selama ini ia kumpulkan. ‘Uang ini cukup untuk membawaku pergi dari sini. Bukan untuk menghindari masalah, namun agar mereka bertanggung jawab menyelesaikan masalah yang mereka timbulkan sendiri,’ lanjutnya. Tanpa banyak kata, Bita mulai mengemas beberapa pakaiannya yang masih layak. Tujuannya adalah pergi ke Jakarta untuk menemukan masa depannya sendiri, terlepas dari intervensi Pak Kusen dan Ibunya. — Di Jakarta, Bita berhasil menyewa sebuah kamar kos sederhana yang ukurannya cukup kecil. Ia duduk termenung di tepi ranjang. Pikirannya dipenuhi beban berat untuk melanjutkan kehidupan. ‘Aku harus cari kerja ke mana? Tak mungkin aku hanya duduk berdiam diri saja. Aku butuh makan, bayar kos, dan lainnya. Tapi, dengan ijazahku yang hanya lulusan SMP ini, apakah ada yang mau menerimaku bekerja tanpa pengalaman sedikitpun?’ Karena suntuk memikirkan masalah tersebut, Bita memutuskan pergi berjalan-jalan sebentar ke taman yang letaknya tak jauh dari rumah kosnya. Ia membeli segelas es teh manis sambil duduk di bangku taman, menikmati udara sore yang terasa sedikit lebih segar. Tiba-tiba, seorang pria paruh baya menghampirinya. Pria itu bertanya dengan nada ramah, "Sendiri saja, Mbak?" Bita yang merasa takut dan waspada di kota asing hanya menjawab dengan senyum sopan. Ia memilih diam, berharap pria itu segera pergi. Namun, pria itu kemudian duduk di kursi sebelah Bita sambil berkata, "Sepertinya Mbak ada masalah. Wajahmu kelihatan murung." Bita semakin waspada. Dalam hati, ia berkata, ‘Orang ini maksudnya apa? Jangan-jangan dia orang jahat?!’ Pria itu menyadari kekakuan Bita dan tertawa renyah. "Mbak pasti mikir yang aneh-aneh tentang saya, ya?" ia lantas mengulurkan tangan. "Oh, perkenalkan, saya Pak Hendy. Maaf jika membuat Mbak kurang nyaman. Tapi jujur, saya tidak ada niatan apa-apa, kok." Bita menjawab terbata-bata, tangannya gemetar saat menyambut uluran tangan Pak Hendy. "Ma-maaf ya, Pak. Saya tidak biasa berbicara dengan orang asing." Pak Hendy mengangguk dan berkata, nadanya kembali penuh keharuan. "Kamu ini seperti mendiang anakku. Sayangnya dia sudah tiada. Dia tegas dan galak seperti Mbak ini." Bita sedikit kaget. Ia melihat keharuan tulus di mata Pak Hendy. "Maaf, Pak. Tolong jangan salah paham. Saya hanya tidak—" Pak Hendy segera memotong perkataan Bita. "Sudahlah, saya mengerti. Memang hidup di Jakarta ini serba dicurigai. Niat baik malah dikira yang bukan-bukan." Bita merasa sedikit malu karena telah salah menyimpulkan niat baik Pak Hendy sebelumnya. "Maaf ya, Pak. Saya harap Bapak tidak tersinggung." Pak Hendy berkata, "Saya hanya ingin membantu saja karena Mbak terlihat tidak baik-baik saja. Tapi jika kehadiran saya justru mengganggu, saya bisa pergi." Bita dengan cepat menghentikannya. "Bukan begitu, Pak. Saya... Ehm, sebenarnya saya sedang kebingungan masalah uang, Pak. Saya baru merantau ke Jakarta ini dan butuh uang untuk hidup." Pak Hendy manggut-manggut penuh pengertian. "Di Jakarta ini memang tidak mudah mencari pekerjaan. Kota yang keras. Orang bilang ini adalah kota singa. Jika kamu lemah, kamu akan dimangsa." Bita mengangguk, tidak menjawab, membiarkan Pak Hendy melanjutkan. Pak Hendy kemudian berkata bahwa ia memiliki perusahaan. "Jika mbak berminat, silakan bergabung. Saya butuh orang yang jujur dan tegas seperti kamu." Pak Hendy lantas mengeluarkan segepok uang tebal dari tas kecilnya. "Ini ada uang sepuluh juta. Kamu boleh menerimanya sebagai bentuk keseriusan saya agar tidak terlihat seperti main-main. Anggap saja itu kasbon yang diambil di depan. Nanti kamu bisa mencicilnya dari potongan gaji setiap bulannya." Bita terpana. Matanya langsung tertuju pada uang itu. ‘Uang? Dia menawarkan uang?’ ia berpikir keras. ‘Kalau dia penipu, mana mungkin dia memberikan uangnya kepadaku di awal? Tapi, aku tidak boleh percaya begitu saja pada orang asing.’ Bita menegak wajahnya, menatap Pak Hendy. “Maaf, Pak. Saya tidak bisa menerima ini. Silakan Bapak simpan lagi saja,” tampiknya kemudian. Pak Hendy tersenyum, dia tidak tersinggung. “Mbak, kamu jangan egois pada diri sendiri. Tadi kamu bilang butuh pekerjaan, sekarang saat ada pekerjaan menghampiri, kamu malah menolak. Sudahlah, terima saja,” Pak Hendy kembali menyodorkan uangnya. Bita kembali berpikir keras. ‘Dia benar. Aku butuh pekerjaan, butuh uang itu. Tapi apa aku harus menerimanya?’ # #Langkah kaki Bita yang sedang memapah ibunya keluar dari gedung TPI tiba-tiba terhenti. Di ambang pintu yang lebar, ia baru menyadari keberadaan sosok pria yang sedari tadi berdiri mematung di sudut yang remang. Pria itu tersembunyi di balik bayangan pilar beton besar, wajahnya tak jelas terlihat, namun auranya terasa sangat berat dan penuh gejolak emosi.Pak Herman kemudian melangkah maju perlahan. Begitu cahaya lampu neon yang berkedip di langit-langit gedung menerpa wajahnya, Bu Ita seketika tercekat. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan seluruh tubuhnya mulai gemetar hebat. Matanya membelalak, menatap wajah Pak Herman seolah-olah ia baru saja melihat hantu dari masa lalu yang paling ia hindari sekaligus ia rindukan.Bita yang merasakan perubahan drastis pada ibunya menjadi heran dan cemas. "Ibu? Ibu kenapa? Ayah, ada apa sebenarnya?" tanya Bita sambil menatap ayahnya dengan penuh tanda tanya.Pak Herman tidak langsung menjawab. Ia menatap Bita dengan tatapan yang sangat dala
Gelar segera menekan tombol pada radio komunikasinya, memberikan sinyal hijau kepada tim luar. Tak butuh waktu lama, deru langkah kaki sepatu lars terdengar mendekat. Beberapa anak buah Pak Harto yang bertubuh kekar dan berseragam taktis masuk ke dalam gedung dengan senjata siaga. Atas perintah singkat dari Gelar, mereka langsung menyeret para penculik yang sudah tidak berdaya itu keluar gedung. Para penjahat itu dilemparkan ke dalam bak mobil terbuka untuk dibawa ke markas Pak Harto guna interogasi lebih lanjut.Di tengah ruangan yang remang, Jerry dan Sandy bergerak cepat menggunakan pisau lipat untuk memutus tali nilon tebal yang mengikat tangan dan kaki kedua korban. Begitu ikatan terlepas, pintu depan gedung terbuka lebar. Bita berlari masuk dengan napas tersengal, diikuti oleh Pak Harto yang menggendong Thomas dan Thomson di kedua lengannya."Ibu!" teriak Bita pecah.Bita langsung menghambur dan memeluk erat wanita paruh baya yang terduduk lemas itu. Bu Ita, sang ibu, seket
Iring-iringan mobil SUV hitam itu merayap pelan menembus jalanan setapak yang hanya beralaskan tanah dan kerikil. Lampu kendaraan telah dimatikan sepenuhnya, hanya menyisakan keremangan cahaya bulan yang memandu jalan mereka menuju pesisir. Di dalam kabin mobil utama, suasana terasa sangat dingin dan mencekam. Gelar, Pak Herman, Jerry, dan Sandy duduk melingkar menghadapi sebuah denah sederhana yang digambar Pak Harto di atas secarik kertas."Kita tidak bisa menyerang secara membabi buta. Gedung TPI ini memiliki struktur terbuka di bagian tengah, tapi akses masuknya sangat terbatas," ujar Pak Herman dengan suara rendah namun penuh otoritas.Gelar mengangguk, matanya menatap tajam ke arah denah. "Aku setuju. Kita harus memecah konsentrasi mereka. Jerry dan aku akan mengambil jalur utama. Kami akan masuk dari sisi depan untuk menarik perhatian jika diperlukan, atau melumpuhkan penjaga luar sebelum mereka sempat memberi sinyal.""Lalu bagaimana dengan sisi belakang?" tanya Sandy sambil
Pak Herman melangkah menjauh ke sudut perpustakaan yang lebih privat, menjauh dari jangkauan pendengaran Gelar dan Bita. Jemarinya menekan rangkaian nomor yang sudah bertahun-tahun tidak ia hubungi, namun masih tersimpan rapi dalam ingatannya. Begitu sambungan terhubung, nada bicaranya berubah menjadi berat, penuh wibawa yang menunjukkan posisinya sebagai pemimpin besar."Harto? Ini Herman. Aku butuh bantuan besarmu sekarang juga," ujar Pak Herman tanpa basa-basi. "Ada sebuah van hitam yang membawa lari orang dekatku di sekitar Desa Srintil. Tolong kerahkan semua kenalan, jaringan, dan teman-temanmu di sana. Pantau setiap jalan keluar desa. Van seperti itu sangat jarang ada di daerahmu, pasti mudah dikenali oleh warga. Kabari aku secepatnya, aku akan langsung terbang ke Jawa Timur sekarang juga."Setelah menutup telepon dengan ekspresi tegang, Pak Herman berbalik menghampiri Gelar dan Bita yang telah menunggu dengan kecemasan yang terpancar jelas di wajah mereka."Barusan Ayah mengh
Gelar menatap Bita dengan dahi berkerut dalam, ada kilat kecemburuan yang tidak mampu ia sembunyikan sepenuhnya meski di tengah situasi genting. "Siapa sebenarnya pria bernama Bono itu, Bita? Mengapa dia masih memiliki nomor pribadimu dan menghubungimu di saat seperti ini?" tanya Gelar dengan nada suara yang sedikit merengut, memperlihatkan sisi posesifnya sebagai seorang suami.Bita yang masih gemetar segera menggelengkan kepala, tangannya menggenggam ponsel itu dengan erat. "Mas, tolong jangan salah paham dulu. Bono tidak sedang mencoba menggodaku atau mencari perhatian. Dia adalah bagian dari masa laluku di desa, dan dia baru saja memberikan kabar yang sangat mengerikan. Ibuku... Ibu kandungku dan ayah tiriku diculik oleh sekelompok orang bersenjata tadi pagi."Mendengar penjelasan itu, Gelar dan Pak Herman secara serempak terlonjak dari kursi mereka. Rasa cemburu di wajah Gelar seketika sirna, digantikan oleh ekspresi ketegangan yang amat sangat. Mereka berdua adalah pria yang
Pagi yang seharusnya tenang setelah keberhasilan konferensi pers semalam justru terasa panas di dalam ruang kerja Gelar Aditama.Dengan rahang yang mengeras, Gelar menekan tombol panggil pada ponselnya, menghubungi nomor Hendy yang sudah lama tersimpan dalam daftar hitamnya. Ia tidak ingin membuang waktu. Baginya, martabat Bita adalah segalanya, dan Hendy telah menginjak-injaknya dengan cara yang paling pengecut."Halo, Pak Hendy. Aku yakin kau sedang menonton berita tadi malam," ujar Gelar tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung. Suaranya rendah, sarat dengan ancaman yang tertahan.Di ujung telepon, terdengar suara tawa kecil yang kering dan terdengar sangat licik. "Ah, Tuan Aditama yang terhormat. Ada angin apa menelepon seorang pengusaha kecil seperti saya sepagi ini? Berita? Berita yang mana?""Jangan berlagak pening, Pak Hendy. Kau tahu persis berita apa yang aku maksud. Hanya kau yang memiliki foto-foto itu. Hanya kau yang punya akses ke masa lalu kelam yang kau ciptakan se







