Se connecterPagi di Kota Bogor di teras belakang rumah baru mereka yang bergaya minimalis namun asri, Rina duduk bersandar di kursi malas. Sinar matahari pukul delapan pagi menyentuh permukaan kolam renang kecil di depannya, menciptakan pantulan cahaya yang menari-nari di langit-langit teras.Rina mengusap perutnya yang kini sudah membuncit nyata. Usia kehamilannya menginjak bulan kelima. Ada rasa haru yang selalu menyeruak setiap kali ia merasakan denyut kehidupan di dalam rahimnya. "Mama! Lihat, Kekey gambar apa!"Suara cempreng itu membuyarkan lamunan Rina. Kekey berlari menghampirinya dengan selembar kertas gambar yang penuh dengan coretan krayon warna-warni. Bocah itu tampak jauh lebih ceria, pipinya lebih berisi, dan binar matanya tak lagi menyimpan ketakutan.Rina tersenyum lebar, merangkul bahu Kekey saat bocah itu bersandar di lututnya. "Gambar apa ini, Sayang?""Ini Papa, ini Mama Rina, ini Kekey ... terus yang kecil di dalam perut Mama ini Adek Bayi!" Kekey menunjuk satu lingkaran kec
Kehancuran Aqila Sanjaya terjadi lebih cepat dari yang dibayangkan siapapun. Dugaan Fahmi sepenuhnya benar.Budi Sanjaya dan istrinya sama sekali tidak tahu jika putri kebanggaan mereka menjalankan bisnis haram sebagai germo daring. Selama ini, Aqila berlindung di balik bayang-bayang Ervan yang memiliki kekuatan uang dan relasi gelap yang tak terbatas. Namun, dengan tewasnya Ervan, benteng pertahanan Aqila runtuh seketika.Malam itu, setelah diusir paksa dari rumah sakit, Aqila tidak pulang ke rumah orang tuanya. Ia tahu, jika ia kembali ke sana, ayahnya yang walau sangat menyayanginya tapi sangat menjaga kehormatan keluarga akan menjadi orang pertama yang menyerahkannya ke polisi. Dengan tangan gemetar, ia mencoba mengakses beberapa rekening rahasianya, namun sebagian besar sudah dibekukan atas laporan Bram yang bergerak sangat cepat.Dalam kepanikannya, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Aqila. Dari Fahmi."Jangan pernah terpikir untuk membawa Kekey. Dia tetap akan aku rawat. Me
Wajah Aqila kini benar-benar kehilangan warna. Ia merasa tanah yang ia pijak runtuh seketika. Segalanya terbongkar. Bukan hanya perselingkuhannya, tapi kejahatan kriminalnya."Aku akan melaporkan ini ke polisi sore ini juga," sambung Bram tegas. "Kamu akan berakhir di penjara, Aqila. Tidak ada lagi perlindungan dari nama besar keluarga Haryono karena Ervan sendiri sudah mati, dan Papa Haryono tidak akan mau membela sampah sepertimu.”“Dan apa Ayahmu tau bisnis ilegal mu ini, Aqila?” Fahmi kembali bersuara. “Melihat bagaimana sikap ayahmu, sepertinya ayahmu tidak tau. Jadi, siap-siap saja kamu akan dipenjara, karena Ayahmu juga enggan membantu. … Aku sangat yakin ayahmu tidak tau, karena ayahmu sangat menyayangimu. Dia tidak akan membiarkan putri kesayangannya jadi germo, dan dia juga pasti tidak tau kalau aku bukanlah ayah biologis Kekey.”Mendengar kata penjara, Aqila mendadak jatuh berlutut di lantai. Ia mencoba merangkak mendekati tempat tidur Fahmi, berusaha menggapai tangan pria
Udara di dalam ruang VIP 12 mendadak terasa begitu tipis, seolah oksigen tersedot habis oleh amarah yang meluap dari sosok Fahmi. Kertas hasil laboratorium itu melayang di udara sebelum akhirnya mendarat di ujung sepatu hak tinggi Aqila. Hening yang tercipta begitu pekak, hanya menyisakan suara deru napas Fahmi yang berat dan tidak beraturan.Di tengah ketegangan yang nyaris meledak itu, sebuah suara isakan kecil memecah kebuntuan."Papa ... Papa kenapa marah sama Mama?"Kekey, bocah kecil yang tak tahu apa-apa itu, berdiri mematung. Buket bunga kecil yang ia bawa kini bergetar di tangannya. Matanya yang bulat mulai digenangi air mata, menatap sosok ayahnya, pria yang biasanya begitu lembut padanya, kini berubah menjadi sosok asing yang mengerikan dengan tatapan penuh kebencian.Rina yang berdiri tak jauh dari sana merasakan dadanya sesak. Ia tidak sanggup melihat wajah polos itu dihancurkan oleh kenyataan pahit orang dewasa. Tanpa pikir panjang, Rina segera melangkah mendekat dan be
"Sini, Sayang," ujar Aqila, menarik Kekey ke dalam pelukannya. Bukan karena sayang, tapi karena ia tahu, anak inilah satu-satunya tamengnya agar Fahmi tidak benar-benar meninggalkannya. "Besok kita ke rumah sakit lagi ya? Kita temani Papa sampai Papa mau pulang ke rumah sama kita."Kekey hanya mengangguk pelan dalam pelukan ibunya. Ia tidak tahu bahwa ia hanyalah sebuah alat bagi wanita yang melahirkannya.Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar VIP 12. Fahmi sudah terbangun sejak fajar. Meskipun rasa nyeri di punggungnya masih terasa seperti disayat sembilu, ia memaksa dirinya untuk duduk di tepi ranjang dengan bantuan perawat.Wajahnya tampak kaku dan dingin. Ketajaman matanya kembali, meski tubuhnya masih terbalut perban tebal.Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Namun yang muncul bukan Aqila, melainkan Bram dan Rina.Rina tampak sudah lebih segar dengan pakaian yang bersih, meski matanya yang sedikit bengkak tak bisa menutupi kesedihan semalam. Bram berjalan di belakangny
Sore berganti malam yang mulai larut. Namun udara di dalam rumah Rina terasa jauh lebih menyesakkan dari pada sebelumnya. Lampu ruang tamu yang berpendar kekuningan seolah menjadi saksi bisu atas terbongkarnya satu per satu lapisan dosa keluarga Haryono.Rina masih memegang jurnal hitam itu dengan tangan gemetar. Setelah mengetahui fakta mengerikan tentang keterlibatan Aqila dalam jaringan perdagangan manusia, ia mengira tidak ada lagi yang bisa membuatnya lebih terkejut. Namun, matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat rapi di bagian paling belakang sampul buku tersebut.Kertas itu berbeda dengan halaman jurnal lainnya. Warnanya putih bersih, seolah baru saja diselipkan atau memang sengaja dijaga agar tidak kusam."Bram ... ini apa?" bisik Rina, nyaris tak terdengar.Bram mendekat, ikut memperhatikan kertas itu. Ia mengerutkan kening. "Aku belum sempat membaca bagian itu secara detail tadi. Coba buka, Rin."Dengan gerakan perlahan, seolah takut kertas itu akan hancur atau







