LOGINBRAAAKKKK!Suara benturan logam yang mengerikan memecah kesunyian malam di kompleks tersebut. Ervan tidak menunggu gerbang itu terbuka sempurna. Ia memaksakan moncong mobilnya masuk, membuat sisi kanan mobilnya menghantam pintu gerbang besi yang kokoh itu.Percikan api keluar saat logam bergesek dengan logam. Bodi mobil sedan mahal itu tergores dalam, dan pintu gerbang otomatisnya langsung macet dengan posisi miring, mengeluarkan suara derit yang menyayat telinga sebelum akhirnya mesinnya mati total karena rusak parah.Ervan tidak peduli. Ia menghentikan mobilnya di tengah halaman dengan posisi asal-asalan, hampir menabrak air mancur di depan teras. Ia keluar dari mobil, membanting pintunya hingga bergetar, dan berjalan menuju pintu utama rumah dengan langkah yang gemetar karena amarah yang memuncak.Membiarkan pintu gerbang yang rusak itu begitu saja. Ia masuk ke dalam rumah, langsung menuju bar kecil di sudut ruang tamu. Ia menuangkan wiski ke dalam gelas dengan tangan yang bergeta
Hawa dingin Puncak mulai menyusup melalui pori-pori dinding kayu villa, namun ketegangan di dalam ruangan itu jauh lebih membekukan. Bram masih berdiri di dekat pintu, kunci mobil di tangannya bergemerincing pelan, namun kakinya seolah berat untuk melangkah keluar.Di atas, terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Rina sedang membersihkan diri, mencoba membasuh trauma yang tertinggal dari cengkeraman Ervan. Di bawah, Fahmi mengamati Bram dengan kening berkerut. "Bram, apa kamu baik-baik aja? Kamu keliatan aneh.”Bram berdeham, mencoba menetralkan raut wajahnya yang sempat mengeras. “Aku baik-baik aja. Cuman capek.”“Kalau capek … kamu tinggal di sini aja dulu. Ini kan villa kamu juga,” ujar Fahmi. "Nggak, Mi. Aku harus siap-siap ke bandara. Besok siang ada meeting sama klien yang nggak bisa dibatalkan."Meskipun bicaranya begitu, Bram justru berjalan menuju dapur. Ia membuka kulkas, mengeluarkan sebotol air mineral, lalu meneguknya dengan gerakan yang kaku. Ia seolah sedang me
Keheningan di dalam villa kayu itu terasa lebih menusuk dari pada angin malam yang merayap masuk lewat celah pintu. Rina berdiri mematung di belakang tubuh Fahmi, jemarinya mencengkeram erat pinggiran jaket parka milik Fahmi. Dunianya seolah jungkir balik saat melihat pria yang duduk di sofa kulit itu.Pria itu bangkit berdiri. Perawakannya tegap, dengan rambut sedikit gondrong yang diikat asal-asalan. Ia mengenakan kaus hitam polos yang dilapisi kemeja flanel terbuka. Wajahnya memiliki garis rahang yang serupa dengan Ervan, namun dengan sorot mata yang jauh lebih liar dan bebas."Bram?" sapa Fahmi, suaranya mengandung kelegaan namun juga keheranan. "Katanya kamu di luar kota? Tadi aku telepon nggak diangkat."Pria bernama Bram itu tersenyum tipis. "Jadwal pemotretan batal karena cuaca buruk, Mi. Ponselku mati kehabisan baterai." Pandangannya kemudian beralih ke arah Rina. Ada kilatan aneh di matanya. Sesuatu yang lebih dari sekadar rasa ingin tahu.Bram menatap Rina cukup lama. Matan
Hening kembali merayap, jauh lebih menyesakkan daripada suara raungan mesin mobil tadi. Ponsel di tangan Rina terasa seperti bongkahan es yang membekukan jemarinya. Ancaman Ervan bukan sekadar gertakan kosong, itu adalah lonceng kematian bagi ketenangan yang baru saja ingin mereka bangun."Fahmi ... dia benar-benar akan melakukannya," bisik Rina, suaranya pecah. Ia menatap Fahmi dengan mata yang basah oleh air mata yang baru. "Penculikan ... membawa kabur istri orang ... Itu hukuman penjara, Mi. Kariermu sebagai penulis, namamu, semuanya akan hancur hanya karena aku."Rina menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tubuhnya terguncang oleh isak tangis yang tertahan. "Turunkan aku di depan, Mi. Biarkan aku kembali. Aku tidak mau menghancurkan hidupmu. Biar aku saja yang membusuk di rumah itu, asal kamu tetap aman."Fahmi terdiam sejenak, menatap lurus ke arah kegelapan di depan kaca mobil. Ia melepaskan sabuk pengamannya, lalu bergeser mendekat ke arah Rina. Ia menarik tangan Rina d
Raungan mesin mobil SUV Fahmi membelah kesunyian jalan tol yang lengang. Di belakangnya, sepasang lampu depan mobil sedan mewah milik Ervan tampak seperti mata monster yang sedang kelaparan, terus mendekat dengan kecepatan yang tak masuk akal. Ervan mengemudi seperti orang gila, seolah ia tidak peduli lagi jika mobilnya harus terguling asalkan ia bisa menghentikan pelarian Rina."Dia gila, Mi! Dia benar-benar mengejar kita!" teriak Rina sembari mencengkeram pegangan di atas pintu. Wajahnya pucat pasi, matanya terus melirik ke spion samping.Fahmi tidak menjawab. Rahangnya mengeras, urat-urat di tangannya menonjol saat ia memutar kemudi untuk menyalip sebuah truk besar di depannya. Ia melirik speedometer yang kini sudah menyentuh angka 140 km/jam. Getaran mobil terasa hingga ke tulang, namun Fahmi tidak menurunkan kecepatannya."Pegang yang kuat, Rin. Aku tahu apa yang harus kulakukan," ucap Fahmi dengan suara rendah yang berusaha menenangkan.Di belakang mereka, Ervan terus mengklaks
“Pokoknya ikut saja dulu … Ayo ….”Rina mengangguk patuh. Saat ini, ia tidak punya kekuatan untuk berpikir atau menentukan arah. Ia hanya ingin mengikuti ke mana pun Fahmi membawanya. Baginya, ke mana pun Fahmi melangkah, itulah arah keselamatannya."Cepat, Rin. Jangan sampai Ervan melihat kamu ikut denganku," ucap Fahmi sembari mempercepat langkah. Matanya waspada menyisir jalanan di belakang mereka. "Bukannya aku takut sama dia. Tapi aku cuma mikirin kamu. Kalau dia melihat ini, dia pasti akan semakin brutal padamu, dan aku nggak mau kamu terluka lagi."Rina hampir berlari kecil mengikuti langkah lebar Fahmi. Ketakutan itu masih ada, membayangi setiap jengkal langkahnya. Ia bisa membayangkan wajah merah padam Ervan jika suaminya itu menyadari bahwa "miliknya" benar-benar telah dicuri oleh pria yang paling ia benci."Iya, Mi ... aku mengerti," sahut Rina parau. "Tapi ... kita mau ke mana? Kamu nggak bisa membawaku ke rumahmu, kan? Ada Aqila di sana."Fahmi berhenti tepat di depan pin







