Share

Pergi ke mana?

Author: Risya Petrova
last update Last Updated: 2025-12-29 17:42:09

Fahmi berdiri di tengah ruang tamu, tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Ia sengaja menekan suaranya sedalam mungkin agar tidak menimbulkan kebisingan yang bisa membangunkan Kekey. Namun, bagi Aqila, ketenangan Fahmi justru menjadi bahan bakar untuk meledakkan amarahnya lebih besar lagi.

"Kenapa? Takut anakmu dengar?" tantang Aqila dengan suara melengking. Ia berdiri dengan berkacak pinggang, masih mengenakan gaun yang sama dengan yang ia pakai di perjamuan maut tadi. "Bagus kalau dia dengar! Biar dia tahu kalau Papanya lebih memilih membela Pelakor dari pada menjaga harga diri istrinya sendiri!"

"Jaga bicaramu, Aqila," desis Fahmi. Matanya menatap tajam, penuh kilat peringatan. "Jangan bawa-bana Kekey ke dalam urusan ini. Dan jangan pernah menyebut Rina dengan sebutan itu."

Aqila tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat dipaksakan. "Oh, lihatlah! Sang pahlawan sedang membela permaisurinya. Kamu pikir aku buta? Kamu pikir aku tidak tahu apa arti kalung itu? Kamu memberikan k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Tawaran di ujung tanduk

    Langkah kaki di teras rumah itu mendadak berhenti. Suara gesekan jas hujan plastik milik anak buah Pak Jaja terdengar sangat nyata di telinga Bram yang berdiri hanya beberapa inci dari balik pintu."Pak Jaja! Bagaimana? Ada yang mencurigakan di dalam?" teriak suara dari luar, menembus dinding papan yang tipis.Pak Jaja masih membungkuk, matanya terkunci pada tatapan memohon Rina dan sikap siaga Fahmi di bawah kolong ranjang. Tangannya yang memegang sprei tampak bergetar sedikit. Sedetik kemudian, ia berdiri tegak, menyembunyikan wajah Fahmi dan Rina kembali di balik kain kusam itu."Kosong! Tidak ada siapa-siapa di sini!" sahut Pak Jaja dengan suara lantang, berusaha menutupi getaran di tenggorokannya. "Kalian pergilah dulu ke arah gudang bawah. Periksa area sana. Aku mau mencari korek apiku yang jatuh di sekitar sini tadi. Nanti aku menyusul!""Tapi Pak, anjingnya tadi seperti mengendus sesuatu di pintu belakang," sela anak buahnya ragu."Sudah, jangan banyak tanya! Mungkin cuma bau

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Nafas yang tertahan

    Debu-debu halus menari di bawah sorot lampu senter yang tajam, membelah kegelapan kamar yang pengap. Di bawah dipan kayu yang sempit, Rina merasa dunianya seolah mengecil hingga hanya seukuran ruang antara lantai semen yang dingin dan papan ranjang di atasnya. Ia bisa mencium aroma tanah dari sepatu boot Pak Jaja yang hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahnya.Fahmi mempererat dekapannya. Lengan pria itu terasa kokoh, seolah menjadi satu-satunya benteng yang memisahkan Rina dari amukan massa atau cengkeraman Ervan. Tepat saat jemari kasar Pak Jaja menyentuh pinggiran sprei rumbai yang kusam, sebuah teriakan memecah ketegangan dari arah luar rumah."Pak Jaja! Bagaimana? Ketemu tidak? Anjingnya makin berisik di belakang, seperti mencium bau orang!" seru anak buah mandor itu dari halaman depan.Gerakan tangan Pak Jaja terhenti. Ia mematung selama beberapa detik yang terasa seperti seabad bagi mereka yang bersembunyi."Iya, sebentar lagi saya keluar! Ini sedang saya periksa teliti sa

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Terkepung di balik hujan

    Suara gonggongan anjing yang bersahut-sahutan di kejauhan terdengar seperti sangkakala kematian yang berdentang di tengah sunyinya perkebunan karet Sukabumi. Cahaya senter yang meliuk-liuk di kejauhan, menembus kabut dan rintik hujan, bergerak semakin cepat menanjak menuju rumah semi-permanen tempat mereka bersembunyi."Kita tidak punya pilihan lain, kita harus lari sekarang juga!" desis Fahmi. Suaranya rendah, namun penuh dengan desakan adrenalin yang memuncak. “Maaf Rin, bukannya aku pengecut. Tapi kita kalah jumlah dengan warga.”Fahmi segera menyambar tas ranselnya yang masih tergeletak di lantai kayu. Ia menoleh ke arah Rina yang wajahnya sudah sepucat kertas. Ketakutan yang nyata terpancar dari sepasang mata indahnya. Secara logika, mereka tidak akan pernah bisa menang melawan massa yang tergiur oleh uang seratus juta rupiah. Bagi penduduk di sekitar perkebunan ini, angka seratus juta adalah keajaiban yang bisa mengubah hidup mereka selamanya. Dan bagi Ervan, itu hanyalah rece

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Sayembara mencari Rina

    SUV hitam itu melaju menembus jalanan aspal yang semakin menyempit dan berlubang. Setelah keluar dari jalur utama yang berisiko, Bram memutuskan untuk memutar jauh, menghindari Cianjur yang merupakan basis keluarga Aqila. Ia membawa mereka ke arah selatan, menuju sebuah wilayah perkebunan karet terpencil di daerah Sukabumi.Suasana malam di sini sangat pekat. Pepohonan karet yang berjejer rapi di sisi jalan tampak seperti barisan raksasa yang mengawasi pelarian mereka. Gerimis mulai turun, menciptakan aroma tanah basah yang kuat menyusup ke dalam kabin mobil."Kita akan aman di sini untuk sementara," ucap Bram sambil memutar setir memasuki sebuah jalan setapak tanah. "Ini rumah singgah milik kenalanku, seorang mandor perkebunan yang sedang bertugas di luar kota. Tidak ada yang tahu tempat ini, bahkan Ervan sekalipun."Bram menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan semi-permanen yang didominasi kayu. Di sekelilingnya hanya ada keheningan, sesekali pecah oleh suara burung malam dan

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Melaporkan Fahmi

    DUAK! DUAK! Kaca jendela SUV itu bergetar hebat di bawah hantaman kepalan tangan Ervan. Wajah pria itu menempel di kaca, memperlihatkan sorot mata yang bukan lagi seperti manusia, melainkan predator yang baru saja menemukan mangsanya."RINA! KELUAR!" raung Ervan dari luar. Suaranya teredam kaca, tapi kebenciannya terasa menembus hingga ke tulang.Di dalam mobil, Rina mencengkeram lengan Fahmi dengan sangat kuat, hingga kuku-kukunya memutih. Napasnya memburu, matanya tidak bisa lepas dari sosok suaminya yang sedang mengamuk di luar."Kenapa dia bisa ada di sini?" bisik Rina dengan suara yang nyaris hilang. "Apa Toni menjebak kita? Apa dia sengaja kasih tahu Ervan kalau kita di sini?"Bram, yang sudah berada di kursi pengemudi, menatap layar ponselnya yang mati total dengan wajah frustrasi. "Nggak, Rin. Aku rasa Toni nggak bohong. Dia benar-benar membelot.""Terus kenapa Ervan tahu?" cecar Rina lagi, air matanya mulai tumpah."Ponselku," jawab Bram pendek sambil memukul setir. "Sinyal

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Belum aman

    Di tengah kesunyian yang mencekam dan rasa putus asa yang mulai menggerogoti kewarasan, sebuah getaran mendadak muncul dari saku celana Bram. Ia tersentak, mengira itu hanya halusinasi akibat kelelahan luar biasa. Ia yakin ponselnya sudah mati total sejak beberapa jam lalu. Namun, getaran itu nyata. Dengan tangan gemetar, ia merogoh sakunya dan mendapati layar ponselnya menyala redup, menampilkan angka 2% di pojok baterai, sebuah keajaiban kecil yang muncul di saat yang paling kritis.Layar itu menampilkan nomor yang tidak dikenal. Bram ragu sejenak, mungkinkah ini jebakan lain dari Ervan? Namun begitu, ia tetap menggeser ikon hijau."Halo?" suara Bram parau, hampir tidak terdengar."Bram? Ini Toni."Mendengar nama itu, tubuh Bram menegang seketika. Amarah dan kecurigaan bergejolak di dadanya. Ia segera menjauh beberapa langkah dari Fahmi yang sedang merangkul Rina. "Toni? Mau apa lagi kamu? Dari mana kamu dapat nomor pribadiku?""Aku tahu banyak hal dengan mudah, Bram. Itu pekerjaan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status