LOGINNatasha mundur perlahan. Perasaannya semakin tidak nyaman. “S-Saya rasa Bapak tidak perlu memberi saya hadiah apa-apa,” ucapnya terbata-bata.Sekarang Natasha mengerti ‘hadiah’ apa yang Bian maksud.Perlahan Bian memutar tubuhnya. Menatap Natasha dengan tatapan marah yang membuat nyali Natasha seketika menciut.“Tapi saya bukan orang yang suka ingkar janji,” ucap Bian seraya maju menghampiri Natasha. “Kalau saya sudah mengatakannya, saya akan menepati janji saya.”Natasha semakin mundur menghindarinya. Jantungnya berdegup kencang. “Bapak terlihat marah sama saya. Apa saya melakukan kesalahan?”Satu sudut bibir Bian terangkat tipis. Alih-alih menjawab, tangannya justru menarik pinggang Natasha hingga wanita itu menabrak tubuhnya.Natasha terkesiap. Belum sempat dia menghindar, Bian sudah lebih dulu menyambar bibirnya lalu menciumnya dengan kasar.Terlalu kasar sampai membuat Natasha kewalahan.Tangan Natasha memberontak, berusaha menghentikan ulah pria itu.Namun Bian semakin erat mem
“Apa yang kamu harapkan dari pertemuan ini? Pernikahan?” tanya Bian datar seraya menatap Giselle lurus-lurus.Tatapan itu membuat Giselle tidak nyaman. Giselle mengakui mata pria itu tampak begitu indah dan nyaris membuat hatinya meleleh. Namun manik coklatnya terasa mengintimidasi.Dan Giselle mengakui bahwa Bian Arkananta Wijaya adalah pria paling tampan dan berkharisma yang pernah dia temui dari keluarga kalangan atas seperti mereka.“Orang tua kita merencanakan perjodohan ini tentu saja dengan harapan kita menikah,” jawab Giselle dengan senyuman lembut.“Sayang sekali, saya tidak tertarik dengan pernikahan.”Giselle terkejut. Lalu terkekeh-kekeh anggun. “Ah, Anda blak-blakan sekali, Pak Bian.”“Saya lebih suka bicara jujur dari awal daripada memberimu harapan.”“Jadi, saya ditolak?” Giselle mengerjap, tak menyangka sosok pria yang duduk di hadapannya itu begitu dingin dan sulit ditebak.Bian tak langsung menjawab. Dia masih menatap Giselle tanpa ekspresi.Bian mengakui bahwa wanit
Hari Sabtu siang, Natasha pergi menemani Bian menghadiri pameran seni sekaligus untuk mempertemukan Bian dengan Giselle.Dari jarak yang cukup jauh, Natasha memperhatikan Bian yang kini tengah mengobrol dengan salah seorang koleganya.Bahkan, meski ruangan ini dipenuhi para pengusaha muda yang tampan dan berkharisma, sosok Bian adalah yang paling menonjol di antara mereka.Bian tampak penuh wibawa, dingin dan sulit didekati.Ngomong-ngomong, Natasha jadi teringat dengan malam saat dia tidur di penthouse Bian.Setelah ciuman yang Natasha anggap cukup lembut itu Bian tidak bicara apa-apa lagi soal keluarganya. Dan Natasha pun berakhir tidur dalam pelukan pria itu hingga pagi.Sekarang Natasha mengerti apa yang membuat Bian tidak tertarik dengan pernikahan.Bian melihat bahwa pernikahan adalah sumber ketidakbahagiaan ibunya.Natasha menghela napas pelan.Pada saat yang sama, dari kejauhan Bian meliriknya, yang membuat Natasha seketika menahan napas. Bahkan dengan tidak tahu malunya jantu
“Pak Bian, kenapa Bapak membawa saya ke rumah Bapak?”“Kamu menginap di sini malam ini.”Natasha terkejut mendengarnya. Dia langsung menatap Bian dengan tatapan penuh protes.“Pak, tapi saya harus pulang.”“Pulang?” Bian yang tengah melepas dasinya seketika berhenti, tatapannya beralih pada Natasha dengan datar. “Sejak kapan kamu menganggap rumah itu sebagai tempatmu pulang?”Pertanyaan itu membuat Natasha tertegun. Sejujurnya satu-satunya tempat untuk pulang di dunia ini hanya pelukan ibunya.Natasha tak pernah merasa benar-benar pulang ketika di rumah mertuanya. Rumah itu justru menjadi medan perang baru setelah seharian Natasha berkutat dengan pekerjaan.“Saya menantu di rumah itu, saya tetap punya kewajiban untuk pulang ke sana,” jawab Natasha pada akhirnya.Bian mengembuskan napas kasar. “Kaivan menyuruhmu istirahat. Saya yakin, kalau kamu pulang ke rumah mertuamu, kamu tidak akan istirahat dengan benar.”Kali ini Natasha membeku mendengar ucapan Bian yang di luar dugaan itu.Bia
Natasha tidak menyangka Bian akan memanggil dokter untuk memeriksanya.Padahal dia tidak mengeluhkan kondisi kesehatannya pada Bian. Tetapi tanpa banyak bicara pria itu langsung memanggil dokter, yang datang tak sampai dua puluh menit kemudian.Natasha meremas jari jemarinya. Dia tidak bisa memungkiri bahwa sikap Bian membuat hatinya terenyuh.Selama ini, selain ibunya, hampir tidak ada orang yang benar-benar memperhatikan kondisinya sedetail itu.“Apa saja keluhan yang kamu rasakan?” tanya seorang dokter muda yang tampan dan ramah, seraya menempelkan stetoskop di telinga.Posisi Natasha sendiri sudah berbaring di atas sofa. “Pusing, lemas sama kepala nyeri, Dok,” ujarnya apa adanya.“Oke. Aku periksa dulu.”Pria itu memeriksa tekanan darah Natasha seraya meraba denyut nadi di pergelangan tangannya.Bian yang berdiri di dekat mereka mengalihkan tatapannya dari wajah Natasha ke arah tangan dokter muda itu. Sudut matanya berkedut.Sorot mata Bian semakin tajam ketika dia melihat laki-la
“Bagaimana aku mengaturnya?” gumam Natasha seraya memandangi jadwal Bian di akhir pekan nanti yang terpampang pada layar iPad.Jemarinya menekan pelipis yang terasa berdenyut. Sejak bangun tidur pagi tadi Natasha merasa tubuhnya tidak sesegar biasanya.Semalaman pikirannya sibuk mencari cara untuk membawa Bian ke perjodohan yang diatur oleh Wira.Natasha mengembuskan napas. Lalu dia melihat di akhir pekan Bian hanya memiliki satu jadwal, yaitu menghadiri pameran seni dari salah satu seniman ternama di dunia.Setelah berpikir sejenak, Natasha pun meraih ponselnya lalu membuka pesan yang dikirimkan Wira pagi tadi.Wira mengirim alamat pertemuan Bian dengan perempuan bernama Giselle, serta nomor telepon Giselle sendiri.Natasha terdiam sesaat, tiba-tiba perasaan tidak nyaman itu kembali menghantuinya.‘Tidak! Aku tidak boleh begini. Aku harus membuat Pak Bian bertemu lalu menikah dengan Giselle,’ batin Natasha, sebelum akhirnya dia mendial nomor telepon perempuan itu.“Selamat siang. Maa







