تسجيل الدخولAxel memicingkan mata."Proposal proyek kerja sama dengan Grup S&D itu?"Hannah agak terkejut.Axel berkata dengan lancar, "Aku terus cari kesempatan kerja sama dengan Grup S&D. Pak Eric memberikan kesempatan bagus. Dalam kerja sama mereka dengan Grup S&D, ada tempat untuk Grup Gunawan."Mata Hannah membelalak.Tak disangka, langkah Axel begitu cepat.Benar juga, proyek yang Axel incar, tidak ada yang lolos dari tangannya.Apalagi sekarang Axel adalah menantu Keluarga Liedarto. Tentu saja Pak Eric mau menghargainya."Karena kamu sudah tahu, aku harap kamu bisa berikan kesempatan pada kolegaku."Axel memandangi Hannah dengan tatapan rumit.Hannah bahkan bisa merendahkan diri untuk memohonnya demi seorang kolega."Kamu baru kerja, nggak ada masalah, 'kan?""Pak Axel terlalu khawatir. Kolegaku sangat baik padaku." Jika Axel tidak campur tangan.Axel bisa melihat Hannah masih berwaspada terhadapnya. Dia berujar tak berdaya, "Aku bisa setujui perpanjang waktu proyek ini, dan maafkan kesalah
Renata berujar dengan nada misterius, "Brandon nggak sengaja salah masukkan data. Dia sudah tangani proyek ini tiga bulan, kenapa tiba-tiba mau berikan prestasi yang sudah di tangannya padaku? Karena dia nggak mampu tanggung tekanan dari keluarga dan pekerjaan sekaligus, cuma bisa pilih satu!"Brandon memilih keluarga, melepaskan proyek kali ini.Akan tetapi, Brandon tidak menyangka akan muncul kesalahan besar dalam data awal proyek.Renata juga memercayai kemampuan kerja Brandon sehingga tidak memeriksa kembali konten sebelumnya setelah mengambil alih.Renata melanjutkan, "Aku sudah ambil alih, berarti ini salahku! Prestasi jadi milikku, tanggung jawab juga milikku!""Renata ... kamu sangat setia kawan." "Ini bukan setia kawan, tapi pembagian tanggung jawab. Kamu pikir Pak Wayne nggak tahu siapa penanggung jawabnya? Dia tahu, tapi nggak buka kedok.""Kalau buka kedok gimana?""Brandon akan dipecat."Begitu kehilangan pekerjaan ini nanti, keluarganya juga akan ikut runtuh.Hannah tida
"Pak Jacob, kejadian malam ini ...."Jacob menggenggam gelas di tangan Hannah. "Keberatan nggak?""Hah?"Hannah tidak terlalu memahami maksud pria ini.Dia sedang menjelaskan pada Jacob.Hannah menggelengkan kepala. Jacob langsung menghabiskan sisa setengah gelas airnya.Hannah menganga kaget.Janet pernah mengatakan bahwa ayahnya punya fobia kebersihan yang sangat ekstrem. Jika ada yang tidak sengaja memakai gelasnya, tidak hanya orang itu akan masuk daftar hitamnya, tipe gelas itu juga hilang dari pasaran setelahnya.Meski saat itu Hannah merasa cerita Janet terlalu lebay, itu menunjukkan Jacob memang punya fobia kebersihan. Selama tinggal bersama Jacob di Perumahan Lestari, dia juga pernah menyaksikan sendiri standar kebersihan Jacob yang ekstrem.Tapi mengapa Jacob malah minum dari gelasnya? Itu bekasnya."Kejadian malam ini bukan salahmu. Janet nggak salah. Saat orang Keluarga Siregar di luar, yang paling penting adalah lindungi keluarga sendiri. Janet melakukannya dengan baik."J
Janet menghela napas lega. Ada kedua paman ini, seharusnya Ayah tidak akan menghukumnya lagi, 'kan?"Paman Yohan, Paman Felix, ini sahabat baikku, ehm ... juga istri muda ayahku."Istri muda.Wajah Hannah memerah.Jacob berjalan cepat menghampiri Hannah, menundukkan pandangan ke noda anggur di dadanya. "Ganti baju dulu."Hannah termangu. "Hah?"Jacob memegang pergelangan tangan Hannah yang ramping, lalu berpesan pada Yohan, "Jaga baik-baik putriku."Janet berseru, "Paman Yohan, aku nggak salah dengar? Ayahku nggak hukum aku, malah minta Paman jaga aku?"Yohan menjawab, "Ayahmu sibuk dengan ibu tirimu, nggak ada waktu buat hukum kamu."Felix sangat bersemangat. "Mereka mau sibuk apa?"Janet sontak memelototi Felix. "Paman jangan urusi ayahku. Aku dipukul di tempat Paman, Paman harusnya beri aku kompensasi, 'kan?""Si Putri, kamu yang pukul orang itu secara sepihak. Dipukul apanya? Mau tipu uang, ya?""Aku nggak mau tahu! Paman harus tanggung jawab!""Oke, oke, Paman tanggung jawab! Tapi
Pria itu dihajar habis-habisan oleh Janet sampai hidungnya keluar darah."Minta maaf! Beraninya goda sahabatku, kamu cari mati, ya!"Pasangan pria itu berteriak, "Siapa kamu? Tahu nggak siapa pacarku ini? Ayahnya walikota Belutara ...."Brak!Sebuah gelas bir pecah di dekat wanita itu.Wanita itu ketakutan sampai wajahnya pucat."Ayahku Jacob Siregar!" Janet mengangkat dagu dengan angkuh. Dia lalu membentak dengan galak, "Aku bisa bertindak seenaknya di Kota Belutara, kamu bisa?"Hannah pun maju dengan waswas dan menarik tangan Janet. "Janet, kalau ayahmu tahu kamu kelahi di luar, kartu ATM-mu akan dibekukan lagi.""Takut apa? Sudah sering dibekukan juga. Lagi pula, dia mengganggumu, itu sama saja dengan nggak hormati ayahku. Aku lindungi kamu, ayahku malah senang."Paling-paling, Hannah sudah bekerja dan punya gaji, urusan makan minumnya pasti tidak jadi masalah.Apalagi Ayah sangat dermawan pada istri. Dia dan Hannah adalah sahabat, Hannah tidak akan tega melihatnya tidak punya uang.
Felix tidak berani menjalin hubungan yang mendalam.Jika gadis itu mengejar-ngejar, menangis, merajuk, dan mengancam bunuh diri, dia tak sanggup menahannya."Kak Jacob, kapan perkenalkan istrimu ke kami? Kita sahabat karib. Kamu boleh sembunyikan dari keluargamu, tapi kalau sembunyikan dari kami, itu namanya nggak setia kawan! Kami sudah dapat info langsung dari Janet. Jangan pelit!""Kok kamu yang pusing?" Yohan meninju bahu Felix. "Nggak usah ikut campur urusan Kak Jacob!"Felix menyerangnya, "Kamu salah minum obat?"Yohan berdeham, lalu berkata dengan serius, "Kak Jacob, aku ada saran kecil yang belum matang."Jacob memandangi Yohan tanpa ekspresi.Yohan pun mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan, "Cewek nggak boleh disembunyikan. Kamu harus membiarkannya bergabung dengan lingkaran pertemananmu, biar dia lebih ngerti kamu. Kalau nggak, gimana bisa cinta tumbuh seiring waktu?"Felix berkedip! Wah, si playboy ini mau bagi pengalaman pada Kak Jacob?Felix pun menyambung, "Soal penga







