로그인Setelah sambungan telepon dengan Anjar terputus, Salma baru sadar kalau dirinya belum mengunggah pengumuman yang menyiratkan dirinya telah putus dengan Anjar. Salma ingin semuanya clear sehingga mau tidak mau ia harus segera mengunggahnya.Kenapa harus? Karena Anjar mustahil melakukannya. Untuk itu, Salma harus melakukannya sendiri. Seluruh dunia harus tahu kalau hubungannya dengan Anjar telah berakhir. Ah, lagi pula sejak awal mereka tak punya hubungan apa pun.“Aku akan mengunggah pengumumannya setelah beres-beres,” gumam Salma.Selama beberapa saat, Salma segera mengemasi pakaiannya, menyusunnya dengan se-rapi mungkin ke dalam koper besar.Kabar baiknya, ini hari Kamis sehingga besok merupakan hari Jumat—jadwal keberangkatan kapal menuju Senjaratu.Salma tahu semua akan terkejut dengan kepergiannya. Namun, seharusnya kepulangannya ke Senjaratu bukanlah hal aneh. Ia hanya ingin pulang karena sejak awal rumahnya ada di Senjaratu.Salma hanya perlu mengatakan kalau keputusannya ini bu
Salma pikir setelah Mama Li terpaksa setuju dengan keputusannya berarti semua masalah bisa dikatakan selesai. Salma akan menjalani hidup baru dengan lebih tenang. Tentunya Salma lega Rivan menolak percaya dengan fakta yang dibeberkan Septi dan Akmal sehingga saat ini pria itu bisa menjalani hari-hari dengan Nova, sesuai keinginan Salma.Septi, Akmal dan Mama Li, mereka bertiga pun bisa sesuai harapan Salma—menjaga rahasia dan telah berjanji tidak akan menyinggung soal itu lagi. Dalam kata lain, kisah Salma dengan Rivan telah ditutup rapat-rapat.Salma benar-benar telah membuka lembaran baru, meski hatinya tak bisa bohong kalau nama Rivan masih ada di sana. Namun, sebisa mungkin Salma mencoba menerima kenyataan bahwa Anjarlah yang kini menjadi mengisi hari-harinya.Bukankah dulu Salma mencintai Anjar meskipun sekadar cinta monyet? Jadi, seharusnya ia bisa lebih mudah menerima pria itu masuk lagi ke hatinya dan melupakan Rivan selamanya.Salma yang sempat berpikir untuk pulang ke Senjar
“Maaf, Nyonya. Saya gagal membuat Pak Rivan percaya.”“A-apa?” Mama Li terkejut sekaligus tak menyangka. Bagaimana mungkin Rivan tak percaya? Bukankah Septi dan Akmal membawa bukti hubungan Rivan dengan Salma?“Benar, Nyonya. Untuk itu, maafkan saya. Saya sungguh gagal membuat Pak Rivan percaya, malah sebaliknya ... Pak Rivan marah dan tidak mau bertemu kami lagi,” ucap Septi lagi, nada bicaranya kentara sekali sangat merasa bersalah.“Sekarang Rivan mana?”“Sudah kembali ke kamarnya, Nyonya. Kami juga udah pergi dari sana. Nyonya masih bersama Salma?”“Ya. Salma masih di sini,” jawab Mama Li. “Septi, kita lanjut bicara nanti, ya. Tolong atur pertemuan saya dengan Nova.”“Dengan Nova?”“Iya, kalau Rivan dan Salma sulit percaya, jalan terakhirnya adalah memberi tahu Nova soal ini.”“Baik, Nyonya. Akan saya atur pertemuan antara Nyonya dengan Nova.”“Secepatnya, ya. Bila perlu besok.”Setelah sambungan telepon dengan Septi terputus, Mama Li kembali meletakkan ponsel ke dalam tas.“Ma...
Tidak, bagaimana ini?Bisa-bisanya Salma membiarkan Mama Li sampai punya pemikiran sejauh itu. Berpura-pura hilang ingatan? Salma yakin dirinya sudah sangat hati-hati, sayangnya ia malah keceplosan mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan.Kalau sudah begini, dengan cara apa Salma menyanggah? Saking bingungnya harus menjawab apa, Salma akhirnya hanya terdiam.“Apa itu benar, Salma? Entah ingatanmu sudah pulih atau kamu memang tidak hilang ingatan, intinya sekarang kamu sebenarnya tahu faktanya. Fakta bahwa kamu dengan Rivan ... saling mencintai,” ucap Mama Li lagi.“A-aku nggak paham dengan yang Mama katakan.” Hanya itu yang bisa Salma ucapkan. “Hmm, bisakah kita pulang sekarang? Aku pusing dan butuh istirahat.”Sejujurnya itu hanya alasan Salma saja. Aslinya ia tidak mau blunder lebih banyak lagi. Makanya pembicaraan ini harus diakhiri sekarang juga.Tanpa banyak protes, Mama Li mengiyakan permintaan Salma untuk pulang. Walau ia setengah yakin kalau itu hanya alasan Salma
Ketika Rivan sedang berbicara dengan Septi dan Akmal, pada saat yang bersamaan Mama Li mengajak Salma berbicara empat mata. Awalnya Salma menolak, sampai kemudian wanita itu setuju.Bukannya apa-apa, Salma ingin tahu alasan Mama Li mengajaknya berkeliling kota menikmati suasana malam. Tentunya ... Salma juga penasaran apa yang ingin Mama Li katakan padanya.Bukankah Mama Li mustahil mengajaknya pergi tanpa alasan?“Berhubung kamu menolak mampir ke mana pun, mau tidak mau kita bicara sambil jalan-jalan malam. Di luar juga dingin, jadi ya sudah ... kita keliling kota saja sambil mengobrol,” ucap Mama Li yang akhirnya membawa pembicaraan ke arah yang lebih serius. Sejak tadi mereka memang mengobrol, tapi hanya hal-hal yang sama sekali tak berkaitan dengan inti pembicaraan yang ingin Mama Li bahas.“Sebenarnya apa yang ingin Mama Li bicarakan? Aku yakin ada sesuatu yang ingin Mama katakan.”“Kamu benar, mama memang ingin bicara,” balas Mama Li.Salma masih terdiam, menunggu sampai Mama Li
Sebelum semuanya lebih jauh, Salma dengan sekuat tenaga sebisa mungkin tak menyerah untuk melepaskan diri. Memang tidak mudah, tapi lama-lama akhirnya ia bisa melepaskan diri sepenuhnya.Entah dirinya benar-benar berhasil atau Rivan yang memang mulai mengalah melepaskannya. Apa pun itu, intinya Salma telah sepenuhnya melepaskan diri.“Jangan macam-macam ya!” Suara Salma tampak bergetar, tapi tidak sampai berteriak karena khawatir Nova mendengar.Sementara itu, Rivan masih terdiam. Ia masih mencerna potongan ingatan yang seakan terus muncul saat dirinya mencium bibir Salma beberapa saat yang lalu. Rasanya aneh sekali, seakan semuanya terlihat lebih jelas.Tadi saat di kamar, Rivan memang sempat berciuman dengan Nova. Tak hanya itu, mereka juga hampir melakukan hubungan intim yang kemudian batal karena Rivan sadar seharusnya ia menahan diri dulu sampai mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Saat ciuman berlangsung pun ... potongan ingatan bermunculan, terutama adegan dewasa di dapur
“Sinting!” gumam Salma dengan nada kesalnya. Ia memang jarang mengikuti berita artis, sekalinya melakukan pencarian dengan keyword Nova Aurelia—saudara kembarnya yang telah sukses menjadi selebritas papan atas, kok bisa kebanyakan beritanya berisi hal-hal negatif semua?Padahal Nova sebentar lagi m
Secepatnya Rivan meletakkan kembali ponsel Salma di tempat semula. Ia duduk di sofa sambil menunggu aplikasi Langit Fiksi terpasang di ponsel miliknya. Selesai memasang, mau tidak mau Rivan harus mendaftar akun lantaran penasaran dengan cerita yang Salma tulis.Terlebih judulnya Love in Contract, b
Meskipun Salma sudah mengatakan pada Rivan kalau dirinya tak ingin berdansa, pada akhirnya ia tetap melakukannya bersama pria itu. Salma tak kuasa menolak saat Rivan langsung membawanya ke lantai dansa untuk bergabung dengan pasangan-pasangan lain.Jujur saja, tatapan Rivan itu seolah penuh cinta, p
Sepuluh tahun yang lalu, orangtua Salma dan Nova memutuskan bercerai. Saat itu si kembar masih berusia 17 tahun dan sama-sama duduk di bangku kelas 2 SMA. Meskipun keduanya sempat menolak, pada akhirnya Salma setuju untuk ikut dengan sang ibu meninggalkan Jakarta dan pindah ke Senjaratu. Sedangkan







