Share

Terjebak Tiga Iblis di Bus Malam
Terjebak Tiga Iblis di Bus Malam
Author: Goldhour

Bab 1

Author: Goldhour
Namaku Sandra Beira, bunga kampus yang diakui semua orang di kampus karena kepolosanku.

Namun, bertolak belakang dengan wajah polos dan menggoda ini, aku memiliki jiwa yang liar.

Tumbuh di keluarga orang tua tunggal, aku pernah melihat dengan mata kepala sendiri Ibu membawa laki-laki yang berbeda-beda ke rumah.

Mereka bersenang-senang dengan leluasa di setiap sudut rumah tanpa peduli ada aku di dekat situ, hingga membuatku memahami urusan intim terlalu dini.

Beribu-ribu tengah malam, aku harus berbaring di kasur sambil menjepit selimut erat-erat, hanya untuk meredakan rasa gatal yang membakar dan membuatku hampir gila.

Pemuasan yang tanpa batas membuatku mengidap kecanduan yang sulit diungkapkan, aku selalu berimajinasi dimainkan dengan kasar oleh laki-laki.

Begitu masuk kuliah, aku tidak sabar untuk segera mencari pacar.

Pacarku orangnya sangat baik, pelayanan dirinya luar biasa, hampir setiap malam dia menekanku di kasur untuk memuaskanku habis-habisan.

Namun, hari-hari bahagia selalu singkat, tanpa terasa akhir semester sudah tiba.

Para mahasiswa olahraga di kampus harus pergi mengikuti pertandingan.

Sementara aku, sebagai tamu undangan penari acara pembukaan, juga harus pergi bersama mereka.

Pacarku menahan rasa berat hati dan mengantarku ke titik kumpul, tapi siapa sangka baru saja duduk, penyakitku kumat lagi, rasanya seperti ada ribuan ular merayap di sana, gatalnya minta ampun.

Walaupun pacarku tidak tahu aku mengidap kecanduan, dia tahu kebutuhanku cukup besar.

Melihat tatapanku yang sayu dan kedua kakiku saling menyilang, dia tahu aku sedang kambuh lagi, lalu dia menatap ke sekeliling, lingkungan yang terbuka ini bisa terlihat jelas sampai ke ujung tanpa ada ruang pribadi sedikit pun.

Hanya ada satu belokan dengan pohon kecil di sampingnya yang bisa menutupi sedikit.

Pacarku membimbingku ke sana. Tidak jauh di atas rumput ada seorang mahasiswa olahraga berkulit gelap berpakaian seragam tim sedang duduk di tanah berbantalkan tas punggung sambil memejamkan mata beristirahat.

Melihat pacarku masih agak sungkan, aku menyemangatinya, "Nggak apa-apa, kita pelan-pelan aja, nggak bakal bikin dia bangun kok."

Sambil berbicara, aku langsung meraih tangan pacarku dan memasukkannya ke dalam.

Teknik tangan pacarku sudah sangat lihai karena berlatih siang dan malam, tidak berapa lama aku sudah merasa nikmat sampai mengeluarkan desahan yang tertahan, tanganku yang tidak terkendali mulai meraih ritsleting celananya.

"Sayang, aku udah nggak tahan, aku mau, cepetan kasih aku!"

Pacarku dengan panik menahan tanganku dan menoleh ke sekeliling, "Nggak boleh! Kamu gila ya, ini 'kan di kampus, sebentar lagi orang-orang akan datang."

"Pakai tangan aja udah cukup."

Tidak bisa, seminggu ke depan nggak akan ada laki-laki, aku bisa gila karena gatal.

Suaraku terdengar seperti hendak menangis saat memohon, "Aku mohon, bantuin aku dong, libur semester 'kan lama banget, aku akan nggak tahan terus mati karena sakit."

Pacarku tidak tega mendengar permohonanku yang gencar, hatinya melunak dan cengkeramannya di tanganku pun terlepas.

Kami berhadapan muka, dengan begini tubuhku bisa tertutupi oleh pacarku yang tingginya 1,8 meter, jadi orang lain tidak bisa melihat.

Namun, tubuhku terlalu sensitif, tidak berapa lama aku sudah lupa diri karena keasyikan, menengadahkan leher sambil menggigit bibir menikmati rasanya.

Saat aku menundukkan kepala, mataku yang terbuka sedikit justru malah beradu pandang dengan sepasang mata lainnya.

Tolong! Ternyata ketahuan.

Tubuhku seketika kaku, gairahku langsung sirna dengan cepat.

Ternyata mahasiswa olahraga tadi, tidak tahu sejak kapan dia terbangun, dia menatapku lurus-lurus, tidak tahu juga sudah berapa lama dia memperhatikan.

Setelah ketahuan olehku, dia bukannya memalingkan muka, malah makin berani dan tanpa ragu.

Dalam sekejap, aku langsung mengaku kalah, dengan panik mengalihkan pandangan dan berlari ke belakang pohon untuk merapikan pakaian.

Tidak lama kemudian semua orang sudah berkumpul lengkap, setelah berpelukan dan berciuman perpisahan dengan pacarku, aku kabur naik ke atas bus.

Setelah naik bus, aku memilih tempat duduk dekat jendela di barisan kedua dari belakang, saat aku berjinjit menaruh tas punggung ke rak bagasi, tidak tahu siapa yang menyenggolku dengan kasar, tubuh sensitifku yang baru saja dibangkitkan oleh pacarku seketika lemas kehilangan tenaga, tas punggung pun jatuh terhempas.

Ritsletingnya sepertinya belum tertutup rapat, sebuah alat bantu yang sangat mirip dengan aslinya terlempar keluar, menggelinding beberapa kali di lantai dan akhirnya berhenti di depan sebuah sepatu olahraga yang agak kotor.

Aku merasa malu setengah mati, bukannya ini alat pemuas yang dipakai saat pacarku sibuk, seingatku aku tidak membawanya?

Aku bergegas membungkuk untuk mengambilnya, tidak disangka sebuah tangan lebih cepat meraih benda itu ke genggamannya, saat aku mendongak, ternyata dia mahasiswa olahraga yang tadi beradu pandang denganku.

"Ini punyamu?" Anak itu memainkan benda tersebut, lalu mengangkat pandangannya menanyaiku sambil tersenyum tipis.

Aku merasa canggung, ingin rasanya mengubur diri. Kenapa bisa begitu kebetulan, sehari mengalami kejadian memalukan sampai dua kali dan dua-duanya terpergok olehnya.

Orang yang naik ke bus makin banyak, sebentar lagi pasti akan makin banyak orang yang melihat.

Pipiku memerah merona, aku cuma bisa mengangguk pasrah mengakui hal itu.

Beruntung saat ini orang-orang di belakang sudah tidak sabar dan mulai mendesak.

Aku mengambil kesempatan untuk merebut mainan itu dari tangan anak itu, memasukkannya kembali ke dalam tas, lalu menyumbatnya ke bawah kursi dan duduk.

Kursi kosong di sekitar masih banyak, tapi anak itu malah sengaja duduk di sampingku.

Tidak lama kemudian, seluruh bus sudah terisi penuh. Aku baru sadar, dosen perempuan yang tadinya dijadwalkan juga sudah diganti dengan dosen laki-laki, kali ini di dalam bus selain aku, ternyata semuanya laki-laki!

Apalagi semuanya adalah mahasiswa olahraga berbadan tinggi besar dengan wajah yang garang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Tiga Iblis di Bus Malam   Bab 7

    "Sayang, coba kamu lihat ini apa?"Ternyata bajingan ini menyimpan banyak cadangan file di cloud dan drive. Aku menangis tanpa daya, apakah masa depanku benar-benar harus terus di bawah ancamannya?Aku benar-benar menyesal, kenapa hari itu di dalam bus aku tidak bisa menahan diri, hingga akhirnya berbuntut masalah sepanjang ini.Demi reputasi dan masa depanku, aku hanya bisa menuruti kemauannya.Hari-hari berikutnya aku harus siap kapan pun dipanggil, benar-benar jatuh menjadi alat pelampiasan nafsu.Setiap kali berhubungan, dia sama sekali tidak punya rasa iba, selalu berlaku sangat kasar padaku.Namun, perasaan tidak diperlakukan seperti manusia itu justru membuatku lama-lama menjadi ketagihan, kecanduan ini makin hari makin parah hingga tahap yang sangat akut, aku menjadi bergantung pada tubuhnya sampai tidak bisa lepas sejengkal pun.Belakangan kondisinya berkembang bukan lagi dia yang memanggilku, melainkan aku sendiri yang secara sukarela datang menyerahkan diri.Aku berniat memu

  • Terjebak Tiga Iblis di Bus Malam   Bab 6

    Tonny yang mendengar ada suara orang langsung lari terbirit-birit menyelamatkan diri.Meninggalkan aku yang pakaiannya sudah terkoyak bagaikan boneka kain yang rusak.Ternyata itu pemilik ladang ini, dia mendengar kegaduhan hebat dan mengira ada yang mencuri semangkanya.Aku tidak berani sembarangan menceritakan kejadianku kepada orang lain, bagaimanapun juga kita tidak pernah tahu niat asli seseorang.Aku segera memakai pakaian dengan rapi, lalu meminta bantuan kakak ini untuk mengantarku ke lokasi acara.Aku menjanjikan imbalan sebesar 10 juta padanya. Begitu mendengar jumlah uang sebanyak itu, matanya langsung berbinar, dia segera mengajakku naik bentor miliknya.Beruntung aku masih sempat mengejar acara pertunjukan, jadi tidak sampai mengacaukan atau membuat malu nama kampus.Sementara Tonny tidak muncul, posisinya digantikan oleh pemain cadangan.Kejadian malam itu tidak kuceritakan kepada siapa pun.Selesai tampil di acara pembukaan, aku langsung pulang sendiri tanpa menonton pe

  • Terjebak Tiga Iblis di Bus Malam   Bab 5

    Tonny ikut terkejut, dia pun dengan panik merapikan pakaiannya.Aku merapikan bajuku, langsung menyambar tas dan lari turun dari bus tanpa arah. Di samping jalan ada ladang jagung yang tumbuh lebat, aku menengok ke sekeliling, dia tidak menyusul, jadi aku bersembunyi di dalam ladang jagung sebentar.Mendengar suara mesin bus kembali menyala, hatiku yang tadinya waswas baru bisa tenang.Hasrat yang baru saja dipancing membuat tubuhku terasa sangat panas membara, pohon jagung tumbuh lebih tinggi dari manusia, kali ini harusnya sudah benar-benar aman.Tapi, tepat saat aku mulai tenggelam dalam carut-marut perasaanku, sebuah suara mendadak membuatku kaku terdiam."Main sendiri mana enak dibanding sama Kakak, cewek gatal!"Ternyata mahasiswa olahraga berkulit gelap tadi!Dia ternyata ikut turun dari bus!Aku tidak sempat berpikir lagi, naluri rasa takut membuatku bahkan tidak sempat membereskan barang-barang, langsung bangkit dan berlari kencang.Karena terlalu panik, aku bahkan tidak sempa

  • Terjebak Tiga Iblis di Bus Malam   Bab 4

    Akal sehat sempat memegang kendali, tapi belum sempat aku melawan, tangan besar yang kekar itu sudah meraba naik.Panas dan membara, sentuhan kasarnya membuat seluruh tubuhku merinding. Harus kuakui, hanya dengan sekali sentuhan itu, penyakitku kumat lagi, seluruh tubuhku terasa panas membara.Tapi, dia benar-benar terlalu nekat, apa dia tidak takut ketahuan orang lain?Ini 'kan pelecehan terang-terangan.Seluruh tubuhku tegang, kulitku terasa panas seperti masuk ke dalam kuali minyak.Tonny mungkin merasakan perubahanku, nafasnya menjadi makin memburu dan kasar, cengkeraman tangannya pun makin tidak berjarak dan tanpa ragu.Tenggorokanku kering, otakku menjadi linglung, tidak tahu harus bagaimana, apa dia jangan-jangan sudah tahu dari tadi kalau aku terbangun.Tepat saat itu, ponselku bergetar, aku lupa lalu refleks malah membuka mata.Tatapan kami beradu, udara seketika terasa membeku.Setelah terdiam sesaat, Tonny mengancam dengan nada jahat, "Nurut dikit sama aku, angkat teleponnya

  • Terjebak Tiga Iblis di Bus Malam   Bab 3

    "Rest area udah sampai, yang mau ke kamar mandi cepat!"Teriakan dosen pembimbing itu langsung membangunkan semua orang di dalam bus.Gerakan Tonny terhenti, aku bergegas merapikan bajuku, lalu memanfaatkan kesempatan ini untuk turun bus dengan dalih ke toilet.Aku ingin sekali langsung mengambil barang-barangku dan kabur, tapi saat ini sudah tengah malam, aku juga tidak tahu harus pergi ke mana. Apalagi besok pagi ada penampilan acara pembukaan, aku takut tidak sempat sampai di lokasi.Ya sudahlah, nanti setelah naik bus aku tinggal pindah tempat duduk saja, harusnya tidak akan kenapa-kenapa.Saat selesai mencuci tangan dan melewati depan pintu kamar mandi pria, aku mendadak mendengar suara yang familiar, itu suara Leon."Cewek itu empuk nggak? Gimana rasanya?"Entah dia sedang bertanya pada siapa, tapi detik berikutnya aku langsung mendapat jawabannya.Tonny tertawa pelan, "Ya jelas empuklah, basah banget lagi! Nanti kamu cobain juga gih."Firasat buruk langsung menyelimutiku. Sepert

  • Terjebak Tiga Iblis di Bus Malam   Bab 2

    Aku benar-benar dikelilingi oleh aroma campuran bau keringat dan aroma tubuh laki-laki, membuatku punya firasat buruk. Lagi pula, rasa gatal dari kecanduanku yang tadi belum sempat mereda.Benar saja, tidak berapa lama kemudian, hormon laki-laki yang menyengat di depanku membuat bokongku terasa seperti terbakar, gelisah dan tidak bisa duduk dengan tenang.Saat membuka ponsel, aku baru melihat pesan yang dikirim oleh pacarku.[Sayang, penggantiku nggak kamu bawa, jadi aku masukkin ke tasmu. Pacarmu perhatian 'kan, hihi.]Ingin rasanya aku membalas ‘Perhatian kepalamu’ kenapa tidak bilang-bilang dulu padaku, bikin aku malu saja.Mahasiswa laki-laki di sampingku sudah mulai mengobrol dengan seru.Anak berkulit gelap itu bernama Tonny Jason, sedangkan di sampingnya ada pasangan saudara kembar bernama Leon Aditama dan Gerry Aditama.Makin lama mengobrol, entah bagaimana topik pembicaraan tiba-tiba beralih ke soal perempuan.Leon tertawa mengejek, "Cewek-cewek jurusan tari di kampus kita aga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status