Short
Terjebak Tiga Iblis di Bus Malam

Terjebak Tiga Iblis di Bus Malam

By:  GoldhourCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
7Chapters
13views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Jangan, Kak, aku nggak sanggup ...." Sandra, si bunga kampus yang polos ini sedang naik bus malam, tapi dia malah ditekan di barisan belakang oleh para mahasiswa olahraga dan dilampiaskan secara membabi buta tanpa ampun. Sandra menangis pelan, terus-menerus memohon ampun. Namun, hal itu justru membuat para mahasiswa olahraga makin kasar padanya ....

View More

Chapter 1

Bab 1

Namaku Sandra Beira, bunga kampus yang diakui semua orang di kampus karena kepolosanku.

Namun, bertolak belakang dengan wajah polos dan menggoda ini, aku memiliki jiwa yang liar.

Tumbuh di keluarga orang tua tunggal, aku pernah melihat dengan mata kepala sendiri Ibu membawa laki-laki yang berbeda-beda ke rumah.

Mereka bersenang-senang dengan leluasa di setiap sudut rumah tanpa peduli ada aku di dekat situ, hingga membuatku memahami urusan intim terlalu dini.

Beribu-ribu tengah malam, aku harus berbaring di kasur sambil menjepit selimut erat-erat, hanya untuk meredakan rasa gatal yang membakar dan membuatku hampir gila.

Pemuasan yang tanpa batas membuatku mengidap kecanduan yang sulit diungkapkan, aku selalu berimajinasi dimainkan dengan kasar oleh laki-laki.

Begitu masuk kuliah, aku tidak sabar untuk segera mencari pacar.

Pacarku orangnya sangat baik, pelayanan dirinya luar biasa, hampir setiap malam dia menekanku di kasur untuk memuaskanku habis-habisan.

Namun, hari-hari bahagia selalu singkat, tanpa terasa akhir semester sudah tiba.

Para mahasiswa olahraga di kampus harus pergi mengikuti pertandingan.

Sementara aku, sebagai tamu undangan penari acara pembukaan, juga harus pergi bersama mereka.

Pacarku menahan rasa berat hati dan mengantarku ke titik kumpul, tapi siapa sangka baru saja duduk, penyakitku kumat lagi, rasanya seperti ada ribuan ular merayap di sana, gatalnya minta ampun.

Walaupun pacarku tidak tahu aku mengidap kecanduan, dia tahu kebutuhanku cukup besar.

Melihat tatapanku yang sayu dan kedua kakiku saling menyilang, dia tahu aku sedang kambuh lagi, lalu dia menatap ke sekeliling, lingkungan yang terbuka ini bisa terlihat jelas sampai ke ujung tanpa ada ruang pribadi sedikit pun.

Hanya ada satu belokan dengan pohon kecil di sampingnya yang bisa menutupi sedikit.

Pacarku membimbingku ke sana. Tidak jauh di atas rumput ada seorang mahasiswa olahraga berkulit gelap berpakaian seragam tim sedang duduk di tanah berbantalkan tas punggung sambil memejamkan mata beristirahat.

Melihat pacarku masih agak sungkan, aku menyemangatinya, "Nggak apa-apa, kita pelan-pelan aja, nggak bakal bikin dia bangun kok."

Sambil berbicara, aku langsung meraih tangan pacarku dan memasukkannya ke dalam.

Teknik tangan pacarku sudah sangat lihai karena berlatih siang dan malam, tidak berapa lama aku sudah merasa nikmat sampai mengeluarkan desahan yang tertahan, tanganku yang tidak terkendali mulai meraih ritsleting celananya.

"Sayang, aku udah nggak tahan, aku mau, cepetan kasih aku!"

Pacarku dengan panik menahan tanganku dan menoleh ke sekeliling, "Nggak boleh! Kamu gila ya, ini 'kan di kampus, sebentar lagi orang-orang akan datang."

"Pakai tangan aja udah cukup."

Tidak bisa, seminggu ke depan nggak akan ada laki-laki, aku bisa gila karena gatal.

Suaraku terdengar seperti hendak menangis saat memohon, "Aku mohon, bantuin aku dong, libur semester 'kan lama banget, aku akan nggak tahan terus mati karena sakit."

Pacarku tidak tega mendengar permohonanku yang gencar, hatinya melunak dan cengkeramannya di tanganku pun terlepas.

Kami berhadapan muka, dengan begini tubuhku bisa tertutupi oleh pacarku yang tingginya 1,8 meter, jadi orang lain tidak bisa melihat.

Namun, tubuhku terlalu sensitif, tidak berapa lama aku sudah lupa diri karena keasyikan, menengadahkan leher sambil menggigit bibir menikmati rasanya.

Saat aku menundukkan kepala, mataku yang terbuka sedikit justru malah beradu pandang dengan sepasang mata lainnya.

Tolong! Ternyata ketahuan.

Tubuhku seketika kaku, gairahku langsung sirna dengan cepat.

Ternyata mahasiswa olahraga tadi, tidak tahu sejak kapan dia terbangun, dia menatapku lurus-lurus, tidak tahu juga sudah berapa lama dia memperhatikan.

Setelah ketahuan olehku, dia bukannya memalingkan muka, malah makin berani dan tanpa ragu.

Dalam sekejap, aku langsung mengaku kalah, dengan panik mengalihkan pandangan dan berlari ke belakang pohon untuk merapikan pakaian.

Tidak lama kemudian semua orang sudah berkumpul lengkap, setelah berpelukan dan berciuman perpisahan dengan pacarku, aku kabur naik ke atas bus.

Setelah naik bus, aku memilih tempat duduk dekat jendela di barisan kedua dari belakang, saat aku berjinjit menaruh tas punggung ke rak bagasi, tidak tahu siapa yang menyenggolku dengan kasar, tubuh sensitifku yang baru saja dibangkitkan oleh pacarku seketika lemas kehilangan tenaga, tas punggung pun jatuh terhempas.

Ritsletingnya sepertinya belum tertutup rapat, sebuah alat bantu yang sangat mirip dengan aslinya terlempar keluar, menggelinding beberapa kali di lantai dan akhirnya berhenti di depan sebuah sepatu olahraga yang agak kotor.

Aku merasa malu setengah mati, bukannya ini alat pemuas yang dipakai saat pacarku sibuk, seingatku aku tidak membawanya?

Aku bergegas membungkuk untuk mengambilnya, tidak disangka sebuah tangan lebih cepat meraih benda itu ke genggamannya, saat aku mendongak, ternyata dia mahasiswa olahraga yang tadi beradu pandang denganku.

"Ini punyamu?" Anak itu memainkan benda tersebut, lalu mengangkat pandangannya menanyaiku sambil tersenyum tipis.

Aku merasa canggung, ingin rasanya mengubur diri. Kenapa bisa begitu kebetulan, sehari mengalami kejadian memalukan sampai dua kali dan dua-duanya terpergok olehnya.

Orang yang naik ke bus makin banyak, sebentar lagi pasti akan makin banyak orang yang melihat.

Pipiku memerah merona, aku cuma bisa mengangguk pasrah mengakui hal itu.

Beruntung saat ini orang-orang di belakang sudah tidak sabar dan mulai mendesak.

Aku mengambil kesempatan untuk merebut mainan itu dari tangan anak itu, memasukkannya kembali ke dalam tas, lalu menyumbatnya ke bawah kursi dan duduk.

Kursi kosong di sekitar masih banyak, tapi anak itu malah sengaja duduk di sampingku.

Tidak lama kemudian, seluruh bus sudah terisi penuh. Aku baru sadar, dosen perempuan yang tadinya dijadwalkan juga sudah diganti dengan dosen laki-laki, kali ini di dalam bus selain aku, ternyata semuanya laki-laki!

Apalagi semuanya adalah mahasiswa olahraga berbadan tinggi besar dengan wajah yang garang.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status