تسجيل الدخول"Jadi bunyi semalam itu karena mereka menekan tombol alarm kebakaran?"
"Hussshhh...."
Alice menegakkan jari telunjuk di depan bibirnya. "Jangan keras-keras, Nona."
Aku kembali menghadap kaca di depan meja rias.
Alice membuka kotak perhiasan dimana kalung yang akan kugunakan berada.
Malam ini, acara penobatan Mattheo akan digelar.
Saat itu pula aku akan diperkenalkan secara resmi kepada publik.
Oleh kare
Aku masih menatap Evelyn.Pertanyaan sederhana yang baru saja ia lontarkan entah bagaimana berhasil membuat pikiranku kosong."Kalau aku jawab iya, apa yang akan kau lakukan?"Aku bahkan tidak tahu harus menjawab apa.Wanita itu sekarang duduk di hadapanku sambil memakan roti seolah-olah ia tidak baru saja melemparkan bom ke tengah meja sarapan.Ia bahkan terlihat santai.Sementara aku?Aku sedang berusaha mengingat cara bernapas."Evelyn.""Hmm?""Kau sadar apa yang baru saja kau katakan?"Ia mengunyah perlahan."Ya.""Benar-benar sadar?"Ia mengangguk.Aku menyandarkan tubuh ke kursi."Baik.""Kenapa?""Aku hanya memastikan."Ia menyipitkan mata."Kau gugup?"Aku hampir tertawa."Kenapa aku harus gugup?""Karena kau terlihat seperti orang yang baru saja ditodong.""Dan kau terlihat seperti orang yang menikmati melihatku kesulitan."Senyumnya langsung melebar."Mungkin."Aku menggeleng.Ini buruk.Sangat buruk.Aku pernah menghadapi orang-orang yang membawa senjata tanpa berkedip. Pe
Cahaya matahari menyelinap dari celah tirai dan tepat jatuh ke wajahku.Aku mengerang pelan lalu menarik selimut sampai menutupi kepala.Lima detik kemudian, aku sadar satu hal.Kepalaku berat.Bukan sakit. Hanya terasa seperti ada seseorang yang semalaman mengacak-acak isi kepalaku lalu meninggalkannya begitu saja.Aku membuka mata.Langit-langit kamar hotel menyambutku.Aku mengerjapkan mata beberapa kali.Kemudian ingatanku mulai kembali.Acara tadi malam.Musik.Lampu.Orang-orang.Tawa.Champagne.Aku memejamkan mata lagi."Oh, tidak."Potongan-potongan kejadian mulai bermunculan.Aku berbicara dengan seseorang.Aku berdansa.Aku tertawa.Aku bahkan membicarakan Akademi Bellucci dengan beberapa orang yang baru kukenal.Sejauh ini masih aman.Kemudian...Mattheo.Aku langsung membuka mata."Astaga."Aku bangkit terlalu cepat sampai kepalaku sedikit berputar.Tanganku refleks memegang dahi."Pelan-pelan, Evelyn."Aku menarik napas.Lalu mencoba mengingat lagi.Aku melihat Mattheo d
Aku masih bisa merasakan sentuhan bibirnya.Singkat. Hangat. Dan entah kenapa, cukup untuk membuat pikiranku berantakan.Evelyn masih berdiri di depanku dengan senyum kecil di wajahnya. Matanya sedikit sayu, pipinya memerah, dan tangannya masih mencengkeram dasiku seperti benda itu adalah satu-satunya alasan yang membuatku tidak bisa pergi."Evelyn.""Hmm?""Kau harus tidur.""Aku belum mengantuk.""Kau mabuk."Ia mengerutkan hidung."Sedikit.""Sedikit?"Ia mengangguk santai."Berapa gelas?"Evelyn berpikir cukup lama.Aku sudah bisa menebak jawabannya sebelum ia membuka mulut."Aku lupa.""Tentu saja."Aku mencoba menarik dasiku dari tangannya.Gagal.Ia malah menarikku mendekat.Aku langsung berhenti bergerak.Jarak kami terlalu dekat.Aku bisa mencium aroma parfumnya. Bahkan napasnya terasa di wajahku.Sial.Aku m
Aku tidak tahu sejak kapan malam itu berubah menjadi begitu menyenangkan.Awalnya aku hanya berdiri di dekat meja bersama beberapa tamu, berusaha mengikuti percakapan yang sebagian besar tidak kupahami.Namun setelah beberapa saat, aku mulai menikmatinya.Musik yang dimainkan begitu indah.Lampu-lampu di ruangan itu membuat semuanya terlihat seperti adegan dari film.Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...aku merasa benar-benar bebas."May I?"Aku menoleh.Seorang pria berdiri di hadapanku sambil mengulurkan tangannya.Aku sempat melihat ke arah Mattheo.Ia masih sibuk berbicara dengan beberapa pria di sisi lain ruangan.Aku kembali menatap pria di hadapanku."Untuk berdansa?"Ia mengangguk.Aku tersenyum."Baiklah."Tanganku menyambut uluran tangannya.Kami berjalan menuju lantai dansa.Aku tidak tahu siapa dia.Dan jujur saja, aku ti
Malam itu London terlihat berbeda.Lampu-lampu kota memantul di kaca mobil yang kami tumpangi, sementara gedung tempat acara berlangsung sudah terlihat dari kejauhan. Barisan mobil mewah memenuhi area depan gedung. Para tamu datang silih berganti, sebagian besar ditemani pengawal, asisten, atau pasangan mereka.Aku mengenali beberapa wajah.Pebisnis.Investor.Pemilik galeri.Orang-orang yang memiliki pengaruh besar dalam dunia seni dan pendidikan.Malam ini bukan sekadar acara peringatan.Bagi kami, ini adalah kesempatan.Kesempatan untuk membuka pintu yang selama ini tertutup bagi Akademi Bellucci.Aku menoleh ke samping.Evelyn sedang melihat ke luar jendela.Sejak tadi ia terlihat tenang.Terlalu tenang.Aku tahu dia sebenarnya gugup.Tangannya beberapa kali merapikan bagian gaunnya meskipun tidak ada yang salah."Berhenti."Ia menoleh."Apa?""Jan
Sejak kejadian di pesawat itu, ada satu masalah yang tidak bisa kuabaikan.Aku tidak bisa berhenti memikirkan Evelyn.Bukan hanya tentang bagaimana ia terjatuh ke pangkuanku.Bukan pula tentang wajahnya yang memerah setelah menyadari posisi kami.Melainkan tentang bagaimana tubuhku bereaksi saat itu.Aku sudah mengenal banyak perempuan sepanjang hidupku.Aku tahu bagaimana mengendalikan diri.Aku tahu kapan harus mendekat dan kapan harus menjauh.Namun Evelyn...Ia berbeda.Dan sejak kejadian itu, pikiranku menjadi kacau.Aku bahkan masih bisa mengingat jelas bagaimana tubuhnya menabrakku ketika pesawat mengalami turbulensi.Bagaimana ia panik.Bagaimana ia menyebut namaku dengan suara gagap.D







