แชร์

Bab 5 Keluarga Belucci (1)

ผู้เขียน: Sasha S.Y
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-17 14:24:43

"Ini kamar Anda, Nona."

Alice membuka pintu di depanku.

Aku melangkah masuk.

Langkahku langsung terhenti.

Ruangan itu sangat luas.

Warna hitam dan abu-abu mendominasi hampir seluruh sudut. Sebuah ranjang berukuran king berdiri di tengah ruangan. Dinding kaca membentang di sisi kanan, menghadap kolam renang pribadi yang diterangi lampu taman.

Aku mengedarkan pandangan.

Ini bukan kamar.

Ini lebih pantas disebut vila pribadi.

"Apa... kau yakin aku tidak salah masuk?" tanyaku.

Alice tersenyum kecil.

"Ini memang kamar Anda."

Aku menoleh lagi.

"Di rumah ini?"

"Iya."

Aku menarik napas pelan.

Baru beberapa jam mengenal pria itu, tetapi ia sudah memberiku tempat semewah ini.

"Mari."

Alice berjalan menuju pintu lain.

Aku mengikutinya.

Ternyata sebuah kamar mandi.

Bathtub hitam menghadap dinding kaca.

Di sisi lain berjajar perlengkapan mandi yang tertata rapi.

Semuanya tampak seperti hotel bintang lima.

Belum selesai rasa kagumku hilang, Alice kembali membuka pintu berikutnya.

Aku kembali terdiam.

Walk-in closet.

Ukurannya hampir sebesar apartemen studio.

Puluhan pakaian tergantung rapi.

Sepatu.

Tas.

Perhiasan.

Bahkan parfum.

Semuanya masih tampak baru.

Aku menyentuh salah satu gaun.

"Ini milik siapa?"

"Untuk Anda."

Aku menoleh cepat.

"Untukku?"

Alice mengangguk.

"Kami sudah menyiapkannya."

"Tapi... bagaimana kalian tahu ukuranku?"

"Kami sudah menyesuaikan semuanya."

Aku semakin bingung.

Disesuaikan?

Kapan?

Aku bahkan baru beberapa jam berada di Italia.

"Apa Mattheo memang sering membawa perempuan kemari?" tanyaku tanpa berpikir.

Alice tampak sedikit terkejut.

"Tidak pernah."

"Hah?"

"Ini pertama kalinya."

Aku mengerutkan dahi.

"Lalu bagaimana dengan semua pakaian ini?"

Alice hanya tersenyum.

"Maaf."

"Saya tidak bisa menjawabnya."

Aku mengembuskan napas panjang.

Semua orang di rumah ini benar-benar pandai menyimpan rahasia.

Alice kembali mengantarku ke kamar utama.

"Kalau begitu saya pamit."

Ia menunjuk telepon di atas meja.

"Jika anda membutuhkan sesuatu, silahkan tekan angka satu."

Aku mengangguk.

Namun saat Alice hendak keluar, aku memanggilnya.

"Tunggu."

Ia berbalik.

"Iya, Nona?"

"Apa kau tahu siapa aku?"

"Tentu saja, Nona Laurent."

"Berarti kau juga tahu kenapa aku dibawa ke sini?"

Senyumnya perlahan menghilang.

Tatapannya berubah ragu.

"Mohon maaf, itu bukan ranah saya untuh menjawab Nona."

"Lalu?"

"Anda bisa tanyakan itu pada Tuan Mattheo."

Lagi-lagi Mattheo.

Pria itu seolah menjadi pertanyaan sekaligus seluruh jawaban dari pertanyaan yang ingin kuketahui.

Alice sedikit membungkuk.

"Semoga Nona nyaman di rumah ini."

"Satu hal lagi."

"Iya, Nona?"

"Apa aku boleh keluar dari kamar ini? Mungkin untuk sekedar bertemu dengan Mattheo?"

Ekspresinya berubah serius.

"Mohon maaf, Anda bisa tanyakan itu pada Tuan Mattheo."

Aku mendengus kesal. "Apa tidak ada sesuatu di rumah ini yang tanpa kata-kata 'Tuan Mattheo'?"

Alice menggeleng dan tersenyum. 

"Selamat malam, Nona."

Kali ini ia benar-benar pergi.

Pintu menutup perlahan.

Aku berdiri sendirian di tengah ruangan.

Sunyi.

Aku berjalan menuju pintu.

Perlahan kubuka sedikit.

Dua pria berbadan besar berdiri tepat di depan kamar, sedang berjaga. 

Aku kembali menutup pintu.

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

Aku berlari menuju jendela.

Dari lantai dua, aku bisa melihat hampir seluruh halaman.

Beberapa pria bersenjata berjaga di gerbang.

Dua orang berada di dekat kolam.

Beberapa lainnya berpatroli mengelilingi rumah.

Mereka membawa senjata.

Lengkap.

Aku mundur beberapa langkah.

Ini bukan penjagaan biasa.

Ini benteng.

Atau...

Penjara.

Aku terduduk di tepi ranjang.

Semua terjadi terlalu cepat.

Kemarin aku masih berada di Manhattan.

Siang harinya aku tiba di Italia.

Lalu diculik.

Diselamatkan.

Dan sekarang...

Aku berada di rumah pria yang mengaku sebagai tunanganku.

Aku memijat pelipis.

Kepalaku terasa berat.

Namun, satu pikiran terus berputar di dalam benakku.

Aku tidak boleh tinggal di sini.

Aku bahkan tidak mengenal keluarga Bellucci.

Mereka bisa saja berbohong.

Tentang undangan.

Tentang pertunangan.

Bahkan tentang penculikanku.

Aku meraih telepon rumah yang ditunjukkan Alice tadi.

Kalau mereka tidak mengizinkanku pergi...

Setidaknya aku bisa menghubungi polisi.

Atau Kedutaan Besar Amerika. 

Tanganku segera menekan angka nol.

Tidak ada nada sambung.

Aku mencoba sekali lagi.

Hasilnya sama.

Aku mengernyit.

Aneh.

Aku mencoba nomor lain yang kuingat di luar kepala.

Tetap tidak bisa.

Yang terdengar hanya suara seorang wanita.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak tersedia."

Aku meletakkan gagang telepon perlahan.

Telepon ini...

Hanya bisa digunakan di dalam rumah.

Dadaku mulai terasa sesak.

Aku berjalan mondar-mandir.

Tidak.

Aku harus keluar.

Sekarang juga.

Aku kembali membuka pintu.

Kedua penjaga itu masih berdiri di tempat yang sama.

Aku memberanikan diri melangkah keluar.

"Permisi."

Tidak ada jawaban.

"Aku ingin keluar sebentar."

Keduanya tetap diam.

Seolah aku tidak ada.

"Aku hanya ingin mengambil barang-barangku di hotel."

Masih tidak ada respons.

Kesabaranku mulai habis.

"Apa kalian tuli?"

Salah satu dari mereka akhirnya menoleh.

"Tidak ada perintah dari Tuan untuk mengizinkan anda keluar."

Setelahnya ia kembali menatap lurus ke depan.

Aku mengepalkan tangan.

Lagi-lagi perintah Mattheo.

Aku menutup pintu sedikit lebih keras dari yang seharusnya.

Baik.

Kalau lewat pintu tidak bisa...

Masih ada jalan lain.

Pandanganku perlahan beralih ke dinding kaca yang menghadap balkon.

Udara malam tampak tenang.

Kolam renang memantulkan cahaya bulan.

Di bawah sana...

Taman terlihat sepi.

Aku mendekati balkon.

Membuka pintunya perlahan.

Angin malam langsung menerpa wajahku.

Aku mengamati sekeliling.

Tidak ada siapa pun.

Aku mencengkeram pagar balkon.

Lalu menatap ke bawah.

Tingginya sekitar dua lantai.

Kalau melompat...

Mungkin kakiku akan terkilir.

Kalau tetap tinggal...

Aku bahkan tidak tahu apa yang akan dilakukan keluarga itu padaku.

Lagipula semua orang disini bersenjata.

Itu aneh. 

Aku menarik napas panjang.

"Doakan aku, Ayah."

Bisikku pelan.

Aku mengangkat satu kaki ke atas pagar balkon.

Lalu kaki yang lain.

Perlahan tubuhku turun mencari pijakan di tepian atap.

Jantungku berdegup begitu keras hingga memenuhi telingaku sendiri.

Jangan jatuh.

Jangan bersuara.

Aku berhasil berpindah ke atap kecil di bawah balkon.

Debu menempel di telapak tanganku.

Aku kembali menurunkan tubuh.

Bruk.

Kakiku akhirnya menyentuh tanah.

Aku meringis pelan.

Lututku sedikit nyeri.

Namun...

Aku berhasil.

Tanpa membuang waktu, aku berlari menyusuri taman.

Semakin jauh dari Mansion Mattheo dan berhasil melewati Mansion Don Giovanni.

Semakin dekat menuju gerbang utama.

Aku harus keluar dari tempat ini.

Gerbang besi itu kini hanya berjarak beberapa meter.

Sedikit lagi...

Sedikit lagi.

"Berhenti!"

Sebuah suara terdengar dari belakangku.

Aku langsung menghentikan langkah.

Tubuhku membeku.

"Angkat kedua tanganmu!"

Aku langsung membeku.

Perlahan kuangkat kedua tanganku.

Aku bahkan tidak berani menoleh.

"Melangkah satu langkah lagi..."

Suara pria itu terdengar dingin.

"...aku akan menembak."

Dadaku berdegup semakin cepat.

"A-aku hanya ingin mengambil barangku...."

Dor!

Suara tembakan memecah keheningan malam.

Tubuhku refleks memejamkan mata.

Sesuatu menghantam tubuhku begitu keras hingga aku terjatuh ke tanah.

Aku gemetar.

Perlahan kubuka mata.

Lalu...

Aku membeku.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 88 Mattheo

    “Siapa?”Aku yang berdiri di depan pintu akhirnya menjawab.“Aku.”Beberapa detik berlalu.Tidak ada suara dari dalam.Aku mengetuk sekali lagi.“Evelyn.”Kali ini terdengar langkah kaki mendekat.Kunci pintu diputar.Klik.Pintu terbuka.Evelyn berdiri di sana.Rambutnya sedikit berantakan. Raut wajahnya seperti tidak bahagia.Begitu melihatku, ia tersenyum.“Kau.”“Kenapa?”“Tidak apa-apa.”Aku mengangkat alis.“Aku baru bilang namaku.”Ia tertawa kecil.“Ya, aku tahu.”Aku menatapnya sebentar.Entah kenapa sejak tadi ada sesuatu yang terasa tidak beres.Namun aku tidak ingin langsung bertanya.Aku lebih memilih mendekat.Tanganku melingkar di pinggangnya dan menariknya sedikit ke arahku.Ia tidak semp

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 87 Evelyn

    Aku tidak menunggu lebih lama.Begitu suara dari dalam basement itu terdengar dan langkah kaki Mattheo mulai menjauh, aku langsung berbalik.Aku bahkan tidak memikirkan apakah ada orang yang melihatku.Aku hanya ingin pergi.Secepat mungkin.Kakiku membawaku melewati taman tanpa berhenti. Gaun rumah yang kukenakan sedikit tersangkut pada ranting bunga ketika aku melewati jalan setapak, tetapi aku tidak peduli. Aku menariknya dan terus berjalan.Sesekali aku menoleh ke belakang.Kosong.Tidak ada Mattheo.Tidak ada pengawal.Tidak ada siapa pun.Namun jantungku tetap berdetak begitu cepat.Aku mempercepat langkah.Begitu sampai di dalam estate, aku langsung menaiki tangga menuju lantai dua.Aku tidak ingin bertemu siapa pun.Tidak ingin menjawab pertanyaan.Tidak ingin tersenyum seperti biasanya.Aku hanya ingin masuk ke kamar.Pintu kututup.Lalu kukun

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 86 Evelyn

    Aku masih berdiri di balik semak-semak.Tubuhku menegang.Pandangan mataku tidak pernah lepas dari pintu tersembunyi yang baru saja dimasuki pria itu.Seorang pengawal.Membawa nampan makanan.Masuk ke tempat yang bahkan selama ini tidak pernah kuketahui keberadaannya.Basement.Aku menelan ludah.Kenapa ada basement tersembunyi di dalam estate ini?Dan yang lebih membuatku penasaran...Untuk siapa makanan itu?Aku kembali mengintip dari balik dedaunan.Tidak ada siapa-siapa.Taman kembali sunyi.Hanya suara angin yang menggerakkan daun-daun pohon dan suara air dari air mancur yang berada tidak jauh dariku.Aku menunggu.Satu menit.Dua menit.Tidak ada siapa pun yang keluar.Aku mulai berpikir mungkin aku bisa pergi sekarang.Namun rasa penasaran itu kembali muncul.Aku tahu seharusnya aku tidak ikut campur.Aku tahu tempat ini ad

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 85 Evelyn

    Aku terbangun ketika sinar matahari menyelinap melalui celah tirai.Untuk beberapa detik, aku hanya menatap langit-langit kamar.Masih setengah sadar.Aku menggerakkan tanganku ke samping.Kosong.Aku mengerutkan kening.Biasanya Mattheo sudah lebih dulu bangun. Entah pergi ke ruang kerja, berbicara dengan Anthonio, atau sekadar berdiri di balkon sambil menikmati kopi paginya.Aku menarik napas panjang.Lalu perlahan semua kejadian semalam kembali memenuhi kepalaku.Aku langsung menutup kedua mata.Astaga.Aku benar-benar melakukan itu.Dengan Mattheo.Aku menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahku.Pipiku terasa panas.Selama ini pernikahan kami hanya sebuah kontrak.Sebuah kesepakatan yang memiliki batas waktu.Namun tadi malam...Aku mengembuskan napas pelan.Tidak ada lagi yang bisa kusebut sebagai hubungan pura-pura setelah apa yang terjadi

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 84 Evelyn

    Aku masih menatapnya.Pertanyaan itu terus terngiang di kepalaku.“Kalau aku bukan suamimu karena kontrak… apakah kau masih menginginkanku?”Aku tidak tahu harus menjawab apa.Bukan karena aku tidak tahu jawabannya.Justru karena aku terlalu tahu.Masalahnya, jawaban itu terasa terlalu berbahaya untuk diucapkan.Aku menelan ludah.Mattheo masih berdiri di hadapanku.Tatapannya tidak berpindah sedikit pun dariku.Tidak ada senyum.Tidak ada nada bercanda.Ia sungguh menunggu jawabanku.“Kenapa kau bertanya seperti itu?”“Karena aku ingin tahu.”“Untuk apa?”“Karena jawabannya penting bagiku.”Aku terdiam.Tanganku yang sejak tadi berada di sisi tubuh perlahan mengepal.Aku ingin mengatakan tidak.Aku ingin mengatakan bahwa semua ini hanya karena kami terlalu sering bersam

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 83 Mattheo

    Aku menatap pintu kamar Evelyn yang sudah tertutup sejak beberapa menit lalu.Tanganku mengepal.Aku masih bisa melihat ekspresinya sebelum pintu itu ditutup.Tatapan kecewa.Bukan marah.Justru itu yang membuat dadaku terasa sesak.Aku menoleh kepada Angela.Untuk pertama kalinya sejak ia datang malam ini, tidak ada sedikit pun kesabaran tersisa dalam diriku.“Pergi.”Angela mengangkat alis.“Mattheo—”“Sekarang.”“Tapi aku hanya—”“Aku tidak peduli apa alasanmu.”Suaraku terdengar lebih rendah.Namun justru semakin tegas.“Kau sudah membuat semuanya terlihat seperti sesuatu yang tidak pernah terjadi.”Angela terdiam.Aku berjalan mendekatinya.“Dan aku tidak akan membiarkanmu membuat Evelyn salah paham.”Ia tertawa kecil.“Jadi sekarang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status