Home / Romansa / Terjebak dalam Dunia Bellucci / Bab 6 Keluarga Bellucci (2)

Share

Bab 6 Keluarga Bellucci (2)

Author: Sasha S.Y
last update publish date: 2026-06-22 12:37:13

"Selamat pagi." 

Aku bergulung di kasur dan meregangkan tubuhku. Sinar matahari yang cerah menusuk mataku. 

"Aku ingin kembali tidur. Ayah, bisakah gordennya kembali ditutup?" gumamku. 

"Selamat pagi." 

"Iyaa, Ayah. Selamat pagi," jawabku malas-malasan, masih menutup mataku dan menenggelamkan kepalaku ke bawah bantal. 

Tunggu. 

Suara laki-laki. 

Bukan ayah. 

Ah—mungkin tamu ayah. 

Aku kembali tidur. 

"Selamat datang di Mansion Tuan Mattheo." 

Kilas balik ingatanku kembali muncul. Benar, aku kan di Italia. Di rumah orang asing. 

Lalu, itu suara siapa?

"Selamat pagi!" ucapnya sekali lagi. 

Aku langsung beranjak bangun dan menoleh ke kanan-kiri. Lalu ke belakangku. 

Kulihat Mattheo Bellucci sudah duduk di sofa kecil, kakinya bersilang di satu sisi. Tangan kanannya memegang gelas kaca berisi wiski. 

Aku sedikit terperanjat dan langsung bangkit dari kasur. Bingung. 

"Kau mau ke mana?" tanyanya. 

"Ke kamarku." balasku. "Pasti aku salah kamar." 

Aku berjalan ke pintu, tapi aku melihat sepatuku di sana. 

Benar, ini kamar semalam yang ditunjukkan oleh Alice untukku. 

Berarti aku tidak salah, kan?

Tapi kenapa ada dia di kamarku? 

Aku berbalik dan mendekat padanya. 

"Kenapa kau ada di sini?" 

"Terserahku," ucapnya datar sambil meminum wiskinya. 

"Bagaimana kau bisa masuk?" 

"Ini rumahku, jadi aku bisa memasuki semua ruangan yang kuinginkan," balasnya. 

Arghhhhh—pria ini membuatku depresi. 

"Tapi ini kamar tamu," ucapku. 

"Terus?" 

Aku terperangah mendengar jawabannya. "Iya, mana sopan santunmu, kau pria, aku wanita, aku adalah tamumu di sini." 

"Tamu Don Giovanni tepatnya," balasnya, masa bodoh. 

"Tapi, tamu kakekmu ini menginap di rumahmu," sanggahku. 

"Don," ucapnya. 

"Apa?" tanyaku.

"Bukan kakek tapi Don." jelasnya. 

"Apa pun itu, aku ingin privasi. Dan kau sudah melanggar privasi itu," balasku. "Lagipula, kulihat semalam ada dua penjaga di luar. Kenapa mereka membiarkanmu masuk?" 

"Ya, karena ini rumahku, peraturanku." 

Aku tertawa melihat keegoisannya. 

"Apa yang membuatmu tertawa?" tanyanya lebih dingin. 

"Kau." balasku singkat. 

"Apa?" tanyanya, tidak percaya. Ia meletakkan gelas kacanya dan berdiri dari sofa, mendekat padaku lalu mengangkat kedua tanganku ke atas dan mendorong tubuhku sampai terpojok di antara tembok. 

"Lepaskan aku!" 

"Apakah kau sungguh berpikir kau tamu di sini?" 

"Kakekmu bilang—" 

"Berapa kali kukatakan padamu, Laurent. Don. Panggil dia Don." 

"Aku tidak tahu artinya." 

Ia mencengkeram kedua pergelangan tanganku sangat keras. "Kenapa kau datang ke negara ini?" tanyanya tiba-tiba. 

"Aku menerima undangan kakekmu—Don Giovanni—maksudku." 

"Kau berbohong padaku." 

"Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanyaku sedikit membentaknya. 

"Kau tidak seharusnya ada di sini!" bentaknya. "Kulihat dari rekam jejakmu, kau sudah hampir setahun tidak bermain musik, dan sepanjang kariermu kau selalu menolak penampilan di luar negeri. Kenapa kali ini kau mau?" 

Aku memberanikan diri menatap matanya. "Kau menyelidikiku? Kenapa?" 

"Kau tidak menjawab pertanyaanku, Laurent." 

"Aku tidak perlu menjawabmu, Mattheo," balasku. "Kau yang membawaku ke sini, kakekmu yang membuat undangan itu. Seharusnya aku yang bertanya padamu." 

Ia semakin mencengkeram pergelangan tanganku. 

"Lepaskan aku!" 

"Jawab pertanyaanku!" 

"Ada masalah di rumahku," balasku. "Ada sesuatu yang terjadi." 

"Lalu?" tanyanya. Cengkeramannya semakin kuat. "Kau tahu betul bukan itu jawaban yang kuinginkan." 

"Hanya itu." 

"Jangan berbohong padaku!" bentaknya sekali lagi. 

"Aku butuh uang," balasku. Air mata turun dari wajahku. "Aku butuh uang." 

Ia melepaskan cengkeramanku. Dan aku terjatuh ke lantai.

"Tidak ada apa pun yang tersisa di negaraku, orang tuaku, tunanganku, keluargaku, rumahku. Aku tidak punya siapa pun," ucapku. Air mataku semakin turun. "Kenapa semua orang jahat padaku? Apa salahku?" ucapku sambil mendongak padanya. 

Ia melihatku dengan setengah mata. 

"Harusnya aku yang bertanya padamu," lanjutku. "Kenapa kau menyelamatkanku? Lalu begitu dingin kepadaku? Kenapa kakekmu mengundangku kesini? Siapa orang-orang yang menculikku kemarin? Katakan padaku kenapa kalian seperti ini padaku?" 

Ia berbalik dan duduk di salah satu sofa yang cukup besar kali ini. Lalu menutup matanya sejenak. 

"Berapa uang yang kau butuhkan untuk memulai hidup baru?" 

"Apa maksudmu?" tanyaku sambil mengusap air mataku. 

"Berapa uang yang kau butuhkan untuk memulai hidup baru?" 

"Kenapa kau menanyakan itu?" 

"Kau cukup menjawab pertanyaanku. Aku paling tidak suka orang yang banyak bertanya." 

"Aku tidak tahu." 

"Apa?" 

"Aku tidak tahu," ulangku. "Aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya." 

Ia kembali terdiam dan matanya kembali terpejam. 

Cukup lama. 

Hingga aku memutuskan untuk berdiri dari lantai dan duduk di sofa tepat di hadapannya. 

Mattheo membuka matanya dan mencodongkan tubuhnya. Kedua tangannya menyangga kedua lututnya. 

"Kau menggagalkan semua rencanaku, Laurent." 

"Apa?" 

"Aku tidak pernah mengira kau akan datang ke negara ini." 

"Aku tidak tahu apa maksudmu." 

"Tidak seharusnya kau datang ke tempat ini! Tidak seharusnya kau datang ke negara ini!" 

Aku tidak bisa berkata apa pun.

"Aku akan memberikanmu uang, tapi kau harus keluar dari rumah ini dan negara ini." 

Aku menggeleng padanya. "Bukan itu yang kuinginkan. Aku ingin pekerjaan." 

"Tidak ada pekerjaan untukmu." 

"Tapi undangan itu mengatakan aku bisa tampil dalam gala itu." 

"Apa kau tidak mencurigai apa pun yang terjadi selama ini?" 

"Aku harus melakukan pekerjaanku. Hanya itu caranya agar aku bisa kembali ke negaraku. Dan mengambil kembali apa yang sudah menjadi hakku." 

Mattheo sedikit tertawa. "Apa kau tuli? Tidak ada pekerjaan apa pun untukmu di sini." 

"Aku akan berbicara kepada Don Giovanni. Pasti ia tahu apa yang sesungguhnya terjadi."

Mattheo menatapku cukup dalam, lalu menghembuskan napas panjang. 

"Undangan itu palsu, Laurent?" 

Kali ini aku yang terkejut. "Apa?" 

"Undangan itu dibuat agar kau datang ke tempat ini. Dan tak pernah kukira kau memakan umpan kakekku." 

Aku menatapnya tak percaya. 

"Kau bukanlah tamu disini, Laurent." 

"Kau berbohong padaku? Apakah karena aku membutuhkan uang? Kau katakan hal itu padaku." 

Mattheo menatapku tajam. 

"Tidak?!" Aku menatapnya tidak percaya. "Hanya pekerjaan itu satu-satunya kesempatanku. Pasti kau bercanda denganku." 

"Masih ada kesempatan agar kau bisa kembali ke negaramu lagi." 

"Tidak bagiku. Tidak ada yang tersisa di sana. Tidak sebelum aku bisa membuktikan diriku. Kau pasti berbohong padaku. Apa alasan Don Giovanni membuat undangan palsu? Aku bukanlah siapa-siapa. Kenapa kalian menjebakku seperti ini?" 

"Bukankah harusnya kau tahu alasannya?" 

"Apa?" 

 "Jangan munafik." balas Mattheo. "Ibumu harusnya sudah memberitahumu." 

"Ibuku?" 

Ia mengangguk. "Bukankah ini perjanjian yang ia buat dengan kakekku?" 

"Jelaskan padaku, Mattheo. Aku tidak tahu apa maksudmu." 

Melihat reaksiku, Mattheo semakin menatapku. Kali ini tepat di kedua bola mataku. 

"Kau sungguh tidak tahu?" 

Aku menggeleng cepat. 

"Itu sangat aneh." 

"Katakan padaku perjanjian apa yang dibuatnya?" 

Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab sebuah kata yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Satu kata yang tidak pernah terbersit satu pun di dalam pikiranku. Satu kata yang membuatku tidak mempercayai pendengaranku. 

Aku menatapnya. Mulutnya bergerak mengucapkan satu kata itu.

"Pernikahan." 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 100 Evelyn

    “Kau benar-benar mirip ibumu, Evelyn.”Aku tidak langsung memahami apa yang baru saja kudengar.Mungkin karena terlalu banyak hal yang terjadi dalam waktu singkat.Diculik.Dibawa ke tempat bawah tanah yang bahkan tidak kuketahui keberadaannya.Mendengar bahwa ayahku mungkin tidak meninggal seperti yang selama ini kukira.Kemudian mengetahui bahwa Mattheo memiliki paman yang selama ini dianggap tidak ada.Dan sekarang—Don Giovanni berdiri di hadapanku.Menatapku.Lalu mengatakan bahwa aku mirip dengan ibuku.“Apa?”Hanya itu yang berhasil keluar dari mulutku.Mattheo langsung berdiri sedikit di depanku.Tubuhnya seperti sebuah dinding yang sengaja ditempatkan untuk menghalangi siapa pun mendekatiku.Namun aku masih bisa melihat Don Giovanni dari sisi bahunya.Pria tua itu tidak menjawab.Tatapannya masih tertuju kepadaku.Terlalu lama.Seolah-olah ia

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 99 Mattheo

    “Mattheo... siapa itu?”Evelyn masih berada di bawah lenganku.Tubuhnya menempel erat padaku ketika suara tembakan kembali terdengar dari kejauhan.Dor!Aku menariknya semakin dekat ke dinding batu.“Diam di sini.”“Mattheo.”Aku menatapnya.“Aku tidak akan pergi jauh.”“Kau mengenal suara itu.”Aku terdiam.Tentu saja aku mengenalnya.Terlalu mengenalnya.Suara itu sudah mengisi masa kecilku.Suara yang membuat seluruh anggota keluarga Bellucci menundukkan kepala.Suara yang selama ini menjadi simbol kekuasaan.Don Giovanni.Kakekku.Namun bagaimana mungkin suaranya berada di tempat ini?Di bangunan tua yang seharusnya tidak lagi memiliki hubungan dengan keluarga kami.“Kau mengenalnya, bukan?” Evelyn kembali bertanya.Aku mengangguk pelan.“Ya.”“Siapa?”Aku menarik napas.“Don Giovanni.”Mata Evelyn langsung membesar.“Kakekmu?”“Ya.”“Kenapa dia ada di sini?”“Aku belum tahu.”Itulah jawaban paling jujur yang bisa kuberikan.Aku belum tahu.Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku,

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 98 Mattheo

    “MATTHEO!”Suara Evelyn kembali terdengar.Tidak keras.Namun cukup.Cukup untuk membuat seluruh tubuhku bergerak sebelum pikiranku sempat mengambil keputusan.Aku berlari.Tidak peduli apa yang baru saja dikatakan Dante.Tidak peduli siapa sebenarnya dia.Tidak peduli rahasia apa yang selama ini disembunyikan keluargaku.Satu hal lebih penting daripada semuanya.Evelyn.“MATTHEO!”Aku mengikuti suara itu melewati lorong panjang di bawah tanah.Dinding batu di kanan dan kiriku lembap.Lampu-lampu tua yang menempel di langit-langit berkedip beberapa kali.Tempat ini seperti labirin.Aku tidak tahu sudah berapa lama Dante menggunakan bangunan ini.Namun jelas, dia mengenalnya jauh lebih baik daripada aku.“Evelyn!”“Mattheo!”Aku berhenti.Suara itu datang dari sebelah kanan.Aku langsu

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 97 Mattheo

    “MATTHEO! JANGAN MASUK!”Suara Evelyn menggema dari dalam bangunan.Seluruh tubuhku langsung menegang.Tidak.Aku tidak mungkin salah mendengarnya.Itu Evelyn.“Evelyn!”Aku bergerak maju.Namun baru dua langkah, Luke langsung menarik lenganku.“Tuan!”Aku menoleh tajam.“Lepaskan.”“Jangan masuk!”“Evelyn ada di dalam.”“Kami tahu.”“Kalau begitu, apa yang masih kau lakukan?”Luke tidak melepaskan tatapannya dariku.“Pesan tadi jelas mengatakan jangan masuk melalui pintu depan.”Aku menatap bangunan tua itu.Pintu utama berada tepat di hadapanku.Terbuka.Sedikit.Gelap.Dan terlalu sunyi.Sial.Aku benci mengakuinya, tetapi Luke benar.Jika Dante benar-benar mengirimkan pesan itu, berarti pintu d

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 96 Mattheo

    “Selamat malam, Mattheo.”Aku membeku.Suara itu.Suara yang sudah bertahun-tahun tidak kudengar.Namun beberapa suara tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan.Kau bisa mencoba melupakannya.Menguburnya.Membiarkan waktu menenggelamkannya.Tapi ketika suara itu kembali terdengar...kau akan langsung tahu siapa pemiliknya.Rahangku mengeras.“Siapa kau?”Suara tawa pelan terdengar dari seberang telepon.“Kau masih sama.”“Jawab pertanyaanku.”“Tidak sabaran.”Tanganku mengepal.Di belakangku, Luke dan Anthonio saling menatap.Mereka tahu sesuatu sedang terjadi.Namun tidak ada yang berani berbicara.Aku kembali mendekatkan ponsel ke telinga.“Berikan Evelyn.”“Tenang saja.”Suaranya terdengar santai.Terlalu santai.“Dia masih hidup.”Jantungku seperti berhenti sesaat.Masih hidup.Berarti...Aku langsung membuang pikiran itu.“Kalau kau menyentuhnya—”“Ah.”Ia memotong ucapanku.“Mattheo Bellucci.”Nada suaranya berubah.“Kau masih suka mengancam orang.”“Aku akan mengulanginya s

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 95 Mattheo

    Malam itu terlalu tenang.Dan justru itu yang membuatku tidak menyukainya.Aku berdiri di depan jendela ruang kerja dengan segelas bourbon di tangan. Dari lantai dua, sebagian besar estate terlihat jelas.Lampu-lampu taman masih menyala.Beberapa pengawal berjaga di titik-titik yang sudah ditentukan.Semuanya tampak normal.Terlalu normal.Aku menyesap bourbon perlahan.Pikiranku seharusnya berada pada pekerjaan.Pada Manhattan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status