ログイン"Selamat pagi."
Aku bergulung di kasur dan meregangkan tubuhku. Sinar matahari yang cerah menusuk mataku.
"Aku ingin kembali tidur. Ayah, bisakah gordennya kembali ditutup?" gumamku.
"Selamat pagi."
"Iyaa, Ayah. Selamat pagi," jawabku malas-malasan, masih menutup mataku dan menenggelamkan kepalaku ke bawah bantal.
Tunggu.
Suara laki-laki.
Bukan ayah.
Ah—mungkin tamu ayah.
Aku kembali tidur.
"Selamat datang di Mansion Tuan Mattheo."
Kilas balik ingatanku kembali muncul. Benar, aku kan di Italia. Di rumah orang asing.
Lalu, itu suara siapa?
"Selamat pagi!" ucapnya sekali lagi.
Aku langsung beranjak bangun dan menoleh ke kanan-kiri. Lalu ke belakangku.
Kulihat Mattheo Bellucci sudah duduk di sofa kecil, kakinya bersilang di satu sisi. Tangan kanannya memegang gelas kaca berisi wiski.
Aku sedikit terperanjat dan langsung bangkit dari kasur. Bingung.
"Kau mau ke mana?" tanyanya.
"Ke kamarku." balasku. "Pasti aku salah kamar."
Aku berjalan ke pintu, tapi aku melihat sepatuku di sana.
Benar, ini kamar semalam yang ditunjukkan oleh Alice untukku.
Berarti aku tidak salah, kan?
Tapi kenapa ada dia di kamarku?
Aku berbalik dan mendekat padanya.
"Kenapa kau ada di sini?"
"Terserahku," ucapnya datar sambil meminum wiskinya.
"Bagaimana kau bisa masuk?"
"Ini rumahku, jadi aku bisa memasuki semua ruangan yang kuinginkan," balasnya.
Arghhhhh—pria ini membuatku depresi.
"Tapi ini kamar tamu," ucapku.
"Terus?"
Aku terperangah mendengar jawabannya. "Iya, mana sopan santunmu, kau pria, aku wanita, aku adalah tamumu di sini."
"Tamu Don Giovanni tepatnya," balasnya, masa bodoh.
"Tapi, tamu kakekmu ini menginap di rumahmu," sanggahku.
"Don," ucapnya.
"Apa?" tanyaku.
"Bukan kakek tapi Don." jelasnya.
"Apa pun itu, aku ingin privasi. Dan kau sudah melanggar privasi itu," balasku. "Lagipula, kulihat semalam ada dua penjaga di luar. Kenapa mereka membiarkanmu masuk?"
"Ya, karena ini rumahku, peraturanku."
Aku tertawa melihat keegoisannya.
"Apa yang membuatmu tertawa?" tanyanya lebih dingin.
"Kau." balasku singkat.
"Apa?" tanyanya, tidak percaya. Ia meletakkan gelas kacanya dan berdiri dari sofa, mendekat padaku lalu mengangkat kedua tanganku ke atas dan mendorong tubuhku sampai terpojok di antara tembok.
"Lepaskan aku!"
"Apakah kau sungguh berpikir kau tamu di sini?"
"Kakekmu bilang—"
"Berapa kali kukatakan padamu, Laurent. Don. Panggil dia Don."
"Aku tidak tahu artinya."
Ia mencengkeram kedua pergelangan tanganku sangat keras. "Kenapa kau datang ke negara ini?" tanyanya tiba-tiba.
"Aku menerima undangan kakekmu—Don Giovanni—maksudku."
"Kau berbohong padaku."
"Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanyaku sedikit membentaknya.
"Kau tidak seharusnya ada di sini!" bentaknya. "Kulihat dari rekam jejakmu, kau sudah hampir setahun tidak bermain musik, dan sepanjang kariermu kau selalu menolak penampilan di luar negeri. Kenapa kali ini kau mau?"
Aku memberanikan diri menatap matanya. "Kau menyelidikiku? Kenapa?"
"Kau tidak menjawab pertanyaanku, Laurent."
"Aku tidak perlu menjawabmu, Mattheo," balasku. "Kau yang membawaku ke sini, kakekmu yang membuat undangan itu. Seharusnya aku yang bertanya padamu."
Ia semakin mencengkeram pergelangan tanganku.
"Lepaskan aku!"
"Jawab pertanyaanku!"
"Ada masalah di rumahku," balasku. "Ada sesuatu yang terjadi."
"Lalu?" tanyanya. Cengkeramannya semakin kuat. "Kau tahu betul bukan itu jawaban yang kuinginkan."
"Hanya itu."
"Jangan berbohong padaku!" bentaknya sekali lagi.
"Aku butuh uang," balasku. Air mata turun dari wajahku. "Aku butuh uang."
Ia melepaskan cengkeramanku. Dan aku terjatuh ke lantai.
"Tidak ada apa pun yang tersisa di negaraku, orang tuaku, tunanganku, keluargaku, rumahku. Aku tidak punya siapa pun," ucapku. Air mataku semakin turun. "Kenapa semua orang jahat padaku? Apa salahku?" ucapku sambil mendongak padanya.
Ia melihatku dengan setengah mata.
"Harusnya aku yang bertanya padamu," lanjutku. "Kenapa kau menyelamatkanku? Lalu begitu dingin kepadaku? Kenapa kakekmu mengundangku kesini? Siapa orang-orang yang menculikku kemarin? Katakan padaku kenapa kalian seperti ini padaku?"
Ia berbalik dan duduk di salah satu sofa yang cukup besar kali ini. Lalu menutup matanya sejenak.
"Berapa uang yang kau butuhkan untuk memulai hidup baru?"
"Apa maksudmu?" tanyaku sambil mengusap air mataku.
"Berapa uang yang kau butuhkan untuk memulai hidup baru?"
"Kenapa kau menanyakan itu?"
"Kau cukup menjawab pertanyaanku. Aku paling tidak suka orang yang banyak bertanya."
"Aku tidak tahu."
"Apa?"
"Aku tidak tahu," ulangku. "Aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya."
Ia kembali terdiam dan matanya kembali terpejam.
Cukup lama.
Hingga aku memutuskan untuk berdiri dari lantai dan duduk di sofa tepat di hadapannya.
Mattheo membuka matanya dan mencodongkan tubuhnya. Kedua tangannya menyangga kedua lututnya.
"Kau menggagalkan semua rencanaku, Laurent."
"Apa?"
"Aku tidak pernah mengira kau akan datang ke negara ini."
"Aku tidak tahu apa maksudmu."
"Tidak seharusnya kau datang ke tempat ini! Tidak seharusnya kau datang ke negara ini!"
Aku tidak bisa berkata apa pun.
"Aku akan memberikanmu uang, tapi kau harus keluar dari rumah ini dan negara ini."
Aku menggeleng padanya. "Bukan itu yang kuinginkan. Aku ingin pekerjaan."
"Tidak ada pekerjaan untukmu."
"Tapi undangan itu mengatakan aku bisa tampil dalam gala itu."
"Apa kau tidak mencurigai apa pun yang terjadi selama ini?"
"Aku harus melakukan pekerjaanku. Hanya itu caranya agar aku bisa kembali ke negaraku. Dan mengambil kembali apa yang sudah menjadi hakku."
Mattheo sedikit tertawa. "Apa kau tuli? Tidak ada pekerjaan apa pun untukmu di sini."
"Aku akan berbicara kepada Don Giovanni. Pasti ia tahu apa yang sesungguhnya terjadi."
Mattheo menatapku cukup dalam, lalu menghembuskan napas panjang.
"Undangan itu palsu, Laurent?"
Kali ini aku yang terkejut. "Apa?"
"Undangan itu dibuat agar kau datang ke tempat ini. Dan tak pernah kukira kau memakan umpan kakekku."
Aku menatapnya tak percaya.
"Kau bukanlah tamu disini, Laurent."
"Kau berbohong padaku? Apakah karena aku membutuhkan uang? Kau katakan hal itu padaku."
Mattheo menatapku tajam.
"Tidak?!" Aku menatapnya tidak percaya. "Hanya pekerjaan itu satu-satunya kesempatanku. Pasti kau bercanda denganku."
"Masih ada kesempatan agar kau bisa kembali ke negaramu lagi."
"Tidak bagiku. Tidak ada yang tersisa di sana. Tidak sebelum aku bisa membuktikan diriku. Kau pasti berbohong padaku. Apa alasan Don Giovanni membuat undangan palsu? Aku bukanlah siapa-siapa. Kenapa kalian menjebakku seperti ini?"
"Bukankah harusnya kau tahu alasannya?"
"Apa?"
"Jangan munafik." balas Mattheo. "Ibumu harusnya sudah memberitahumu."
"Ibuku?"
Ia mengangguk. "Bukankah ini perjanjian yang ia buat dengan kakekku?"
"Jelaskan padaku, Mattheo. Aku tidak tahu apa maksudmu."
Melihat reaksiku, Mattheo semakin menatapku. Kali ini tepat di kedua bola mataku.
"Kau sungguh tidak tahu?"
Aku menggeleng cepat.
"Itu sangat aneh."
"Katakan padaku perjanjian apa yang dibuatnya?"
Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab sebuah kata yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Satu kata yang tidak pernah terbersit satu pun di dalam pikiranku. Satu kata yang membuatku tidak mempercayai pendengaranku.
Aku menatapnya. Mulutnya bergerak mengucapkan satu kata itu.
"Pernikahan."
Masa kini. Tiga Hari Sebelum Kepulangan ke Italia. “Apa yang sedang dia lakukan?”Aku menempelkan ponsel ke telinga.“Hmm, Donna sedang membaca buku, Don Mattheo,” jawab Anthonio dari ujung telepon.“Buku apa?”“Sepertinya novel.”“Sepertinya?”“Donna tidak memberitahunya. Hanya saja sampulnya pria dewasa yang tidak memakai baju.”Aku mengerutkan kening.“Lalu kau tidak bertanya?”“Kalau saya bertanya terlalu banyak, Donna akan curiga.”Aku diam.Benar juga.“Bagaimana kondisi wajahnya?”“Masih dalam proses pemulihan.”“Apakah lukanya sakit?”“Tidak separah sebelumnya.”“Dokter sudah memeriksanya?”“Belum datang.”Aku mengangguk pelan meskipun ia tidak bisa melihatku.“Kalau sudah datang, kabari aku.”“Baik, Don.”Aku hampir menutup telepon.Namun kembali teringat sesuatu.“Anthonio.”“Ya?”“Dia sudah makan?”“Sudah.”“Berapa banyak?”Anthonio terdiam beberapa detik.“Don Mattheo.”“Apa?”“Sudah tiga puluh menit yang lalu Anda menanyakan hal yang sama.”Aku menghela napas.“Aku hany
Tiga tahun lalu. "Ini, Tuan. Bunga yang anda pesan." Aku menerima satu buket bunga lily yang dihias dengan cantik. "Terima kasih." "Wanita yang sangat beruntung," ucap penjual bunga itu. Aku hanya tersenyum tipis."Iya, dia sangat cantik." Aku membawa bunga itu keluar dari toko dan masuk ke dalam Rolls-Royce biruku.Dan meletakkan dengan hati-hati bunga itu di sisi penumpang sebelum menginjak pedal gas. Aku mengemudi di jalanan Los Angeles pada pagi hari itu. Sampai akhirnya tiba di salah satu hotel terbesar di negara itu. Aku mematikan mesin dan turun dari mobil sambil mempersiapkan semuanya, termasuk bunga yang sudah kubeli tadi. Aku merogoh saku jas-ku. Dan mengeluarkan satu buah kotak kecil dan membukanya. Sebuah cincin bertahta batu permata bertengger indah disana. "Malam ini, kau akan menjadi milikku, Angela." Aku melangkah memasuki lobi hotel itu. Lalu menekan tombol lift dan menunggunya. Ketika terbuka dan masuk, aku lalu menekan tombol angka 17. Tak berapa la
“Mattheo!”Langkahku terhenti.Suara itu.Aku mengenalnya.Sayangnya, aku mengenalnya terlalu baik.Aku berbalik perlahan.Angela berdiri beberapa meter di belakangku.Ia mengenakan gaun hitam selutut yang dipadukan dengan mantel panjang berwarna gelap. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, jatuh rapi di atas bahunya. Sebuah tas kecil menggantung di lengannya.Penampilannya tidak banyak berubah sejak terakhir kali aku melihatnya.Tetap anggun.Tetap cantik.Dan tetap membawa masalah.Senyumnya mengembang ketika mata kami bertemu.Senyum yang dulu pernah membuatku menunggu berjam-jam hanya untuk melihatnya.Sekarang justru membuatku ingin segera pergi.“Apa yang kau lakukan di sini?”Ia terkekeh.“Bukankah seharusnya kau mengatakan, ‘Aku merindukanmu, Angela’?”“Itu masa lalu.”“Masa lalu yang tidak bisa kita lupakan.”Aku mengembuskan napas pelan.“Kenapa kau berada di sini?”“Aku menyukai negara ini.”Aku menatapnya datar.“Aku tahu itu bukan alasan sesungguhnya.”Ia tersenyum.“Aku
“Evelyn Laurent.”Bola mata hijaunya langsung membelalak.Untuk beberapa detik, wanita itu hanya menatapku.Seolah baru saja menemukan jawaban dari sesuatu yang selama ini dicarinya.“Kau mengenalnya?”“Kenal?”Ia menunjuk dirinya sendiri.“Aku sahabatnya!”Nada suaranya begitu antusias sampai beberapa orang yang berjalan di sekitar kami sempat menoleh.Aku mengernyitkan kening.“Sahabat?”“Iya!”Ia mengangguk cepat.“Teman dekatnya sejak sekolah.”Aku terdiam menatapnya.“Seberapa baik kau mengenalnya?”“Aku sangat dekat sekali dan mengenalnya dengan baik.”“Definisikan.”Kelly mengedipkan matanya.“Definisi?”“Ya.”Ia tampak berpikir sebentar.“Dia orang yang akan meneleponku tengah malam hanya karena tidak tahu harus memilih gaun warna hitam atau biru.”Aku masih diam.“Dia juga orang yang pernah datang ke apartemenku hanya karena ingin makan pasta.”Aku mengangkat alis.“Dan?”“Dan kami pernah mabuk bersama.”Aku menatapnya datar.“Aku rasa aku belum puas mendengarnya.”Kelly tert
Paris selalu membuatku begitu sesak.Terlalu banyak suara.Terlalu banyak orang.Terlalu banyak pebisnis yang merasa mereka bisa membeli apa pun hanya karena memiliki cukup uang.Aku duduk di ujung meja konferensi dengan beberapa dokumen terbuka di hadapanku.Satu per satu orang di ruangan itu sudah menyampaikan pendapat mereka mengenai usulan perubahan sistem di Akademi Bellucci.Dan hampir semuanya sama.Menolak.“Proposal ini terlalu berisiko,” ujar salah seorang pria di hadapanku.“Akademi sudah berjalan puluhan tahun dengan sistem yang ada.”“Tidak ada alasan untuk mengubah sesuatu yang tidak rusak.”Aku menatapnya datar.“Tidak rusak?”Ia terdiam.Aku mengambil salah satu laporan dari atas meja.“Jumlah murid di bidang seni menurun hampir tiga puluh persen dalam tiga tahun terakhir.”Tidak ada yang menjawab.“Guru musik yang seharusnya menjadi pengajar utama j
“Donna Evelyn?”Aku menoleh mendengar Anthonio memanggilku."Iya?"Saat itulah ia menunjuk seseorang di belakang kami.Seseorang yang sangat kukenal postur tubuhnya.Wajahnya.Dan di antara kerumunan orang yang berlalu-lalang di jalanan Roma, aku melihat sosok yang selama dua bulan terakhir ini justru berusaha kuhindari dari pikiranku.Mattheo.Ia berdiri beberapa meter di hadapanku.Mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan aksen putih.Rambutnya tertata rapi seperti biasanya.Wajahnya masih sama sejak terakhir kali aku melihatnya.Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadanya selama dua bulan ini.Yang kutahu...ia ada di sana.Tepat di hadapanku.“Evy?”Suara Kelly terdengar di sampingku.Aku tidak menjawab.Mataku masih tertuju kepadanya.Pria yang selama dua bulan ini tidak pernah sekalipun datang menemuik







