LOGIN"Selamat datang kembali, Tuan."
Seorang pelayan membuka pintu mobil.
Mattheo turun lebih dulu tanpa menoleh kepadaku.
Pelayan lain segera membukakan pintu di sisiku.
"Silakan, Nona."
Aku turun perlahan.
Rumah di depanku jauh lebih besar daripada hotel mana pun yang pernah kulihat. Bangunannya didominasi oleh warna hitam dengan dinding kaca tinggi di hampir setiap sisi. Lampu taman yang menyala dengan hangat membuat seluruh tempat itu terlihat mewah sekaligus dingin.
Seorang wanita tua berjalan menghampiri kami.
Rambutnya disanggul rapi. Seragam hitamnya tampak rapi dan sempurna.
"Selamat datang di Tenuta Bellucci," katanya sopan. "Nama saya Elena."
Ia sedikit membungkuk kepada Mattheo.
"Don Giovanni sudah menunggu."
Mattheo hanya mengangguk.
Ia berjalan lebih dulu meninggalkan kami.
Aku buru-buru mengejarnya.
"Hei!"
Ia tidak berhenti.
"Mattheo!"
Tetap tidak ada jawaban.
Aku menghela napas kesal.
Elena mempersilahkanku masuk.
Begitu melewati pintu utama, aku langsung terdiam.
Rumah ini lebih mirip hotel pribadi daripada tempat tinggal. Langit-langitnya sangat tinggi. Lantainya mengilap. Semuanya terlihat mewah, elegan dan mahal.
Bahkan suara langkah kaki kami menggema.
"Ke mana Mattheo?" tanyaku.
"Beliau sedang berganti pakaian."
"Oh."
Aku kembali mengikuti langkah Elena.
Tiba-tiba ia berhenti.
Aku hampir menabraknya.
"Ada satu aturan di rumah ini."
Aku menatapnya.
"Tutup mata terhadap hal yang tidak perlu kau lihat."
Ia mengangkat satu jari.
"Tutup telinga terhadap hal yang tidak perlu kau dengar."
Jari kedua terangkat.
"Dan tutup mulut terhadap hal yang tidak perlu kau katakan."
Aku mengernyit.
"Kenapa?"
"Itu syarat agar hidupmu tetap selamat."
Jawabannya membuat bulu kudukku berdiri.
Ia kembali berjalan, dan aku mengikuti di belakangnya.
Di ujung koridor terdapat sebuah ruangan besar.
"Silakan tunggu di sini."
Elena masuk lebih dulu.
Pintunya kembali tertutup.
Aku menghela napas panjang.
Hari ini benar-benar terasa seperti mimpi buruk.
Pandanganku berkeliling ruangan.
Di sudut ruangan berdiri sebuah grand piano hitam.
Entah kenapa kakiku berjalan sendiri ke sana.
Aku duduk perlahan.
Jemariku menyentuh tuts putih dan hitam itu.
Aku tidak terlalu pandai bermain piano.
Namun, musik selalu berhasil menenangkan pikiranku.
Kuharap pemilik rumah ini tidak mempermasalahkan apabila aku memainkannya sebentar.
Aku mulai memainkan lagu sederhana.
Nada demi nada memenuhi ruangan yang sunyi.
Perlahan bayangan Ayah muncul di kepalaku.
Beliau selalu menjadi orang pertama yang bertepuk tangan setiap kali aku selesai tampil.
Kini...
Beliau sudah tidak ada.
Jemariku memainkan nada terakhir yang menggantung di udara.
Tepuk tangan terdengar dari belakangku.
Aku menoleh.
Mattheo sudah berdiri dan bersandar di salah satu tiang besar.
Setelan hitamnya sudah berganti dengan setelan berwarna biru navy yang dipadukan dengan celana hitam.
Ia menatapku tanpa ekspresi.
"Kau mengagetkanku."
"Penampilan yang menarik dari seseorang yang baru saja melewati medan perang," ucapnya dingin dengan alis yang sedikit terangkat.
Aku berdiri.
"Apa itu hal yang lucu menurutmu?"
Ia hanya menggerakkan sudut bibirnya keatas.
"Aku mencarimu tadi."
"Untuk apa?"
Aku membuka mulut.
Lalu menutupnya lagi.
Aku sendiri tidak tahu.
Ada banyak hal yang jadi tanda tanya di tempat asing ini, begitu pun dengan pernyataannya tadi. Namun ia telah menyelamatkanku.
"Ayo."
Ucapnya tiba-tiba.
"Ke mana?"
"Don Giovanni menunggu."
"Siapa?"
Ia tidak memedulikan pertanyaanku dan berbalik.
Aku mengejarnya sambil menahan kesal.
Pria ini benar-benar irit bicara.
Kami berhenti di depan pintu kayu besar di tempat Elena tadi meninggalkanku.
Mattheo membukanya.
Ruangan itu dipenuhi meja makan panjang.
Beberapa orang sudah duduk di sana.
Semuanya mengenakan pakaian formal.
Begitu aku masuk...
Semua mata langsung tertuju kepadaku.
Tidak ada yang tersenyum.
Tidak ada yang menyapaku.
Suasananya semakin membuat tengkukku merinding.
Seorang pria tua duduk di kursi paling ujung.
Rambutnya sudah memutih.
Tongkat berkepala singa emas berada di sampingnya.
"Selamat datang, Nona Laurent."
Suaranya berat.
Berwibawa.
Aku sedikit membungkuk.
"Terima kasih."
"Perkenalkan."
Ia mengangkat tangan.
"Aku Giovanni Bellucci."
Ia menunjuk wanita di sampingnya.
"Istriku, Bianca."
Lalu seorang pria paruh baya.
"Putraku, Vittorio."
Seorang wanita di sebelahnya mengangguk pelan.
"Isabella."
Terakhir...
Ia menoleh ke arah Mattheo.
"Cucuku."
Mattheo tetap diam.
Aku mengangguk kecil.
"Silakan duduk."
Aku duduk di kursi kosong.
Mattheo berada tepat di sebelahku.
Pelayan mulai menyajikan makan malam.
Harumnya langsung memenuhi ruangan.
Baru saat itulah kusadari...
Aku belum makan seharian.
"Perjalananmu pasti melelahkan," kata Giovanni.
Aku tersenyum tipis.
"Lebih tepat disebut mengerikan."
Pria tua itu mengangguk pelan.
"Aku sudah mendengar apa yang terjadi."
Aku menatapnya.
"Kalau begitu, mungkin Anda juga bisa menjelaskan kenapa semua itu terjadi."
Ruangan mendadak sunyi.
Tak seorang pun menyentuh makanan mereka.
Giovanni menyilangkan kedua tangannya.
"Aku bisa menjelaskannya padamu."
"Lalu?"
"Tapi tidak malam ini."
Aku menghela napas kecewa.
"Setidaknya katakan kenapa aku diundang ke Italia."
"Kau menerima undangan dari Bellucci Foundation, bukan?"
Aku mengangguk.
"Iya."
"Itu memang undangan dari kami."
"Oh, syukurlah. Kukira aku ditipu karena aku tidak menemukan akomodasi hotel atas namaku."
Giovanni menatapku cukup lama.
"Kami ingin bertemu denganmu secara khusus."
"Hah? Kenapa?"
Ia tidak menjawab.
Sebaliknya, ia memandang Mattheo.
"Bagaimana menurutmu?"
Mattheo meletakkan gelasnya.
"Aku sudah memberitahunya."
Aku mulai kehilangan kesabaran.
"Kalian terus membicarakan hal-hal yang tidak aku pahami."
Mattheo akhirnya menoleh kepadaku.
Tatapannya tetap dingin.
"Kau ingin jawaban?"
"Tentu."
"Kau akan mendapatkannya."
"Kapan?"
"Besok."
Aku mengembuskan napas kasar.
"Besok? Jadi aku harus kembali ke Hotel malam ini?"
Kalimatku membuat semua orang di meja itu berhenti bergerak.
Suasana berubah semakin sunyi.
Giovanni perlahan tersenyum.
Namun, senyum itu tidak membuatku merasa tenang.
Justru sebaliknya.
"Nona Laurent."
"Kurasa ada satu hal yang belum diberitahukan Mattheo kepadamu."
Aku menoleh ke arah pria di sampingku.
Ia tetap diam.
Wajahnya datar.
Giovanni menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Lusa..."
Ia berhenti sejenak.
"...seluruh keluarga mafia terbesar di Italia akan berkumpul di rumah ini."
Dadaku mulai tidak enak.
"Dan pada hari itu..."
Tatapan Giovanni bergantian antara aku dan Mattheo.
"...kami akan mengumumkan pertunangan kalian kepada publik."
Sendok yang kupegang terlepas dari tanganku.
Suara logamnya menggema memenuhi ruangan.
Aku menoleh cepat ke arah Mattheo.
"Apa yang kalian bicarakan?"
Ia menatapku dingin.
"Tidak..."
Suara itu bahkan terdengar asing di telingaku sendiri.
"Aku tidak tahu siapa kalian. Dan kalian tiba-tiba membicarakan soal pertunangan. Ini gila."
Mattheo berdiri dari kursinya.
Ia membetulkan jas hitamnya.
Lalu menatap lurus ke arahku.
"Kau tidak bisa menolak."
Ia berhenti sesaat.
"Dan mulai malam ini..."
"...kau tidak bisa keluar dari Tenuta Bellucci tanpa izinku."
“Kau benar-benar mirip ibumu, Evelyn.”Aku tidak langsung memahami apa yang baru saja kudengar.Mungkin karena terlalu banyak hal yang terjadi dalam waktu singkat.Diculik.Dibawa ke tempat bawah tanah yang bahkan tidak kuketahui keberadaannya.Mendengar bahwa ayahku mungkin tidak meninggal seperti yang selama ini kukira.Kemudian mengetahui bahwa Mattheo memiliki paman yang selama ini dianggap tidak ada.Dan sekarang—Don Giovanni berdiri di hadapanku.Menatapku.Lalu mengatakan bahwa aku mirip dengan ibuku.“Apa?”Hanya itu yang berhasil keluar dari mulutku.Mattheo langsung berdiri sedikit di depanku.Tubuhnya seperti sebuah dinding yang sengaja ditempatkan untuk menghalangi siapa pun mendekatiku.Namun aku masih bisa melihat Don Giovanni dari sisi bahunya.Pria tua itu tidak menjawab.Tatapannya masih tertuju kepadaku.Terlalu lama.Seolah-olah ia
“Mattheo... siapa itu?”Evelyn masih berada di bawah lenganku.Tubuhnya menempel erat padaku ketika suara tembakan kembali terdengar dari kejauhan.Dor!Aku menariknya semakin dekat ke dinding batu.“Diam di sini.”“Mattheo.”Aku menatapnya.“Aku tidak akan pergi jauh.”“Kau mengenal suara itu.”Aku terdiam.Tentu saja aku mengenalnya.Terlalu mengenalnya.Suara itu sudah mengisi masa kecilku.Suara yang membuat seluruh anggota keluarga Bellucci menundukkan kepala.Suara yang selama ini menjadi simbol kekuasaan.Don Giovanni.Kakekku.Namun bagaimana mungkin suaranya berada di tempat ini?Di bangunan tua yang seharusnya tidak lagi memiliki hubungan dengan keluarga kami.“Kau mengenalnya, bukan?” Evelyn kembali bertanya.Aku mengangguk pelan.“Ya.”“Siapa?”Aku menarik napas.“Don Giovanni.”Mata Evelyn langsung membesar.“Kakekmu?”“Ya.”“Kenapa dia ada di sini?”“Aku belum tahu.”Itulah jawaban paling jujur yang bisa kuberikan.Aku belum tahu.Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku,
“MATTHEO!”Suara Evelyn kembali terdengar.Tidak keras.Namun cukup.Cukup untuk membuat seluruh tubuhku bergerak sebelum pikiranku sempat mengambil keputusan.Aku berlari.Tidak peduli apa yang baru saja dikatakan Dante.Tidak peduli siapa sebenarnya dia.Tidak peduli rahasia apa yang selama ini disembunyikan keluargaku.Satu hal lebih penting daripada semuanya.Evelyn.“MATTHEO!”Aku mengikuti suara itu melewati lorong panjang di bawah tanah.Dinding batu di kanan dan kiriku lembap.Lampu-lampu tua yang menempel di langit-langit berkedip beberapa kali.Tempat ini seperti labirin.Aku tidak tahu sudah berapa lama Dante menggunakan bangunan ini.Namun jelas, dia mengenalnya jauh lebih baik daripada aku.“Evelyn!”“Mattheo!”Aku berhenti.Suara itu datang dari sebelah kanan.Aku langsu
“MATTHEO! JANGAN MASUK!”Suara Evelyn menggema dari dalam bangunan.Seluruh tubuhku langsung menegang.Tidak.Aku tidak mungkin salah mendengarnya.Itu Evelyn.“Evelyn!”Aku bergerak maju.Namun baru dua langkah, Luke langsung menarik lenganku.“Tuan!”Aku menoleh tajam.“Lepaskan.”“Jangan masuk!”“Evelyn ada di dalam.”“Kami tahu.”“Kalau begitu, apa yang masih kau lakukan?”Luke tidak melepaskan tatapannya dariku.“Pesan tadi jelas mengatakan jangan masuk melalui pintu depan.”Aku menatap bangunan tua itu.Pintu utama berada tepat di hadapanku.Terbuka.Sedikit.Gelap.Dan terlalu sunyi.Sial.Aku benci mengakuinya, tetapi Luke benar.Jika Dante benar-benar mengirimkan pesan itu, berarti pintu d
“Selamat malam, Mattheo.”Aku membeku.Suara itu.Suara yang sudah bertahun-tahun tidak kudengar.Namun beberapa suara tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan.Kau bisa mencoba melupakannya.Menguburnya.Membiarkan waktu menenggelamkannya.Tapi ketika suara itu kembali terdengar...kau akan langsung tahu siapa pemiliknya.Rahangku mengeras.“Siapa kau?”Suara tawa pelan terdengar dari seberang telepon.“Kau masih sama.”“Jawab pertanyaanku.”“Tidak sabaran.”Tanganku mengepal.Di belakangku, Luke dan Anthonio saling menatap.Mereka tahu sesuatu sedang terjadi.Namun tidak ada yang berani berbicara.Aku kembali mendekatkan ponsel ke telinga.“Berikan Evelyn.”“Tenang saja.”Suaranya terdengar santai.Terlalu santai.“Dia masih hidup.”Jantungku seperti berhenti sesaat.Masih hidup.Berarti...Aku langsung membuang pikiran itu.“Kalau kau menyentuhnya—”“Ah.”Ia memotong ucapanku.“Mattheo Bellucci.”Nada suaranya berubah.“Kau masih suka mengancam orang.”“Aku akan mengulanginya s
Malam itu terlalu tenang.Dan justru itu yang membuatku tidak menyukainya.Aku berdiri di depan jendela ruang kerja dengan segelas bourbon di tangan. Dari lantai dua, sebagian besar estate terlihat jelas.Lampu-lampu taman masih menyala.Beberapa pengawal berjaga di titik-titik yang sudah ditentukan.Semuanya tampak normal.Terlalu normal.Aku menyesap bourbon perlahan.Pikiranku seharusnya berada pada pekerjaan.Pada Manhattan.







